Bismillah
Yuk baca part selanjutnya, semoga berkenan ya moms, selamat pagi semuanya.
Sesampainya di rumah segera kupanaskan air untuk suamiku mandi, tadi dia hujan-hujanan cukup lama, aku takut demam dan flu menyerangnya kalau tidak mandi dengan air panas.
"Tidak usah Sum, kamu yang harus mandi air panas, kamu kecapean kan tadi?" Pria berwajah teduh itu menatapku.
"Aku baik-baik saja Mas, kan aku enggak kehujanan," kilahku.
Dia mengusap kepalaku, sebuah tangan usapan tangan yang sangat hangat, entahlah aku selalu merasa nyaman ketika disentuh oleh tangan legam dan kasar itu, tetapi dengan kasihnya serasa sejuta kelembutan menerpa kulitku.
Lelaki yang tak pernah mengeluarkan kata-k********r, pria yang wajahnya selalu dihiasi dengan senyuman.
Ya, itu mas Kuntoku.
"Abis sholat maghrib, langsung makan ya, alhamdulillah masih ada dua bungkus mie instan pemberian pak RT, " ucapku.
"Iya Sum, ajaklah Dika dan Diki makan dulu, mas sisa mereka saja," ujarnya, pamit pergi ke mushola.
Tapi kedua anakku itu tetap mau makan, mereka bersikeras menunggu ayahnya kembali dari mesjid.
"Nanti saja bu, kita tunggu ayah pulang, makanya bareng ayah," tolak Dika, kembali khusu ke buku gambarnya.
Ternyata mas Kunto kembali setelah sholat isya, dia membawa bungkusan dalam kresek berwarna biru.
"Tumben mas, kok baru pulang?" tanyaku menyambutnya gembira, karena pasti Dika dan Diki sudah lapar.
"Mas tadi ikut acara selamatan kenaikan pangkat Mas Terry, anaknya bu de Susi yang gentengnya sering mas perbaiki itu loh, Sum," jelasnya.
"Oh, alhamdulillah ya mas, wong mas Terry itu orangnya baik, sopan, pasti cepat naik pangkat," kataku.
Mas Kunto mengiyakan.
Dengan cekatan kubuka apa yang suamiku bawa,
Subhanallah!
Ternyata tiga porsi ayam gepre, satu bungkus rendang, dan beberapa butir telur rebus, serta dua bungkus nasi yang cukup banyak, juga beberapa potong kue serta buah jeruk, pisang dan salak.
Ya Allah rejeki memang tak disangka dari mana saja datangnya.
Tentu saja kedua Dika dan Diki melonjak gembira.
Anak-anakku nampak takjub saat melihat ada beberapa potong brownis yang sama persis dengan yang mereka pinta di rumah di rumah Leni.
"Boleh ya bu?" Diki menatapku.
"Boleh sayang, ayo makan, insya Allah ini halal," ujarku memberikan potongan brownis bertabur keju itu pada keduanya.
Alhamdulillah, Allah memggantinya dengan kue yang lebih baik.
Mereka semakin senang, aku dan Mas Kunto tersenyum dibuatnya.
Kami makan dengan lahap, kusisakan satu piring nasi berikut lauk pauknya untuk Deni, anak sulungku.
.
.
"Sum, mas mau tanya, tadi kenapa kita buru-buru pulang dari rumah Leni? Apa mereka mengatakan sesuatu padamu?" Mas Kunto sepertinya penasaran dengan apa yang terjadi.
"Tidak ada Mas, sudahlah jangan dibahas lagi," ucapku.
"Mas minta maaf, kalau adik-adik mas sering menyakiti hatimu, Sum," dia menggenggam tanganku.
Mas, seandainya kamu tau aku sakit hati bukan karena mereka menghinaku, tapi aku sakit bahkan ribuan kali lebih sakit saat keluarga merendahkanmu, Mas, sakit sekali!
Mataku berkaca,
"Kok nangis sih Sum, maafin keluarga mas ya, maaf juga mas yang tidak bisa memberikan yang terbaik untukmu dan anak-anak, mas hanya menyengsarakan kalian saja," jawabnya dengan suara parau.
"Mas, bisa hidup dengan mas adalah hal terbaik dalam hidupku, adapun kekurangan harta itu semua bukan masalah, selama mas tetap berusaha, tetap bertanggung jawab, soal rejeki itu Allah yang ngatur, asal kita syukuri, semua terasa nikmat, iya kan mas?" Aku tersenyum, menenangkan hatinya.
Dia mendekapku erat.
Ya Allah, aku malu jika meminta kaya padamu, karena ibadahku tak sampai seujung kuku, tapi aku bersyukur dengan apa yang sudah ada dan kami jalani saat ini, tetaplah limpahkan kebahagiaan itu pada kami, seperti hari ini.
..
Pukul sembilan pagi saat mas Kunto sudah berangkat kerja.
Aku mencuci pakain kotor, khususnya pakaian yang dipake bekerja di rumah Leni kemarin, alhamdulillah air hujan melimpah, aku tak perlu membawanya ke MCK umum yang ada di ujung hunian kami.
Tengah asik mengucek pakaian di samping rumah, tiba-tiba saja Dika berteriak,
"Bu ada bu de Leni,"
Leni? Mau apa anak songong itu datang ke mari.
Belum juga aku menyahut sebuah suara terdengar.
"Jadi ini gubuknya mas Kunto, ampun kumuh dan bau sekali, syukur mereka tidak kudisan tinggal di sini," itu Suara Leni, aku kenal.
Enak saja, biar jelek begini, gubuk ini selalu kubersihkan, rutukku dalam hati.
Kudengar mereka bicara lagi.
"Ya mereka tidak akan kudisan lah mba, secara kan sudah kebal, kuman juga tau mana kawan mana lawan," kudengar Tri bicara, lalu keduanya terkekeh.
"Ya ampun lihat karung karung kotor itu, jijik aku melihatnya," Leni bergidik, begitu juga dengan Tri.
"Aneh ada manusia betah hidup dengan barang bekas ya, Mba?" tanya Tri.
"s****h ya habitatnya pasti di tempat s****h, Tri, gitu aja kok repot," kini keduanya tergelak.
Mungkin sebentar lagi Lina akan ikut bicara menghina gubuk kami.
Tapi sepertinya dia tak ikut serta hari ini.
Darahku mendidih seketika, mati-matian kutahan emosi agar tak melakukan hal yang merugikanku.
"Mau apa kalian ke sini?" tanyaku tanpa basa basi, karena keduanya pun masuk tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.
Tak punya ahlak memang!
"Heh Mba, kalau tak dipinta ibu pun kami tak mau datang ke sini, tau!" ucap Leni.
"Makanya kutanya untuk apa kalian datang ke mari, belum puas ngehina kami?" kuremas serbet yang tengah kupegang.
"Nih, tanda maaf dari kami," Tri melemparkan bungkusan ke atas meja.
"Kalau ibu bertanya katakan saja kami sudah datang dan meminta maaf, sebagai imbalannya kami belikan kalian pakaian baru, impas kan?" Leni tersenyum sinis.
"Oh, begitu rupanya," aku balas dengan menyeringai.
Lalu kulihat Tri memberikan uang pada Dika dan Diki masing-masing sepuluh ribu rupiah, tapi cara dia memberikan uang itu membuat dadaku memanas.
Seolah kedua anakku itu pengemis jalanan, dengan ujung jarinya Leni menaruh uang itu di hadapan kedua anakku, kesannya dia sangat jijik pada anakku.
"Ya sudah kami pamit, jangan lupa katakan pada ibu kalau kami sudah datang ke sini," lalu keduanya melangkah ke luar rumah.
"Tunggu!" Aku berteriak, kuraih uang dan bungkusan yang mereka bawa.
"Maaf kami tak bisa menerima ini,"
"Belagu amat kamu, Mba, itu pakaian baru buat kalian, harusnya kalian berterima kasih pada kami," Tri nampak kesal.
"Maaf, kami tak bisa menerima pemberian yang tak ihklas, apalagi maaf yang dipaksakan, takutnya jadi penyakit, alhamdulillah tanpa kalian beri pun kami masih berpakaian," jawabku sambil tersenyum, menyerahkan apa yang mereka beri pada kami.
"Dasar, udah miskin lagunya itu loh," dengus Leni dengan wajah masam.
"Kami memang miskin harta, tapi kamu tak miskin adab, kami tau cara berkunjung ke rumah orang, dan benar kata kamu tadi Tri, kuman saja tau mana kawan mana lawan, tau berterima kasih, sedangkan manusia seperti kalian yang katanya berilmu, berpendidikan tinggi justru sepertiini, ternyata nol ahlaknya," geramku.
Leni dan Tri tak menjawab. Aku berkata kembali sambil menunjuk tumpukan barang bekas yang sudah dikemas kedalam karung-karung besar.
"Jika barang-barang rongsokan itu kalian anggap kotor, maka apa yang kalian miliki sekarang juga kotor, karena titel, pendidikan, serta apa yang kalian pakai dan makan pun sekarang itu asalnya dari barang kotor itu, barang kotor yang suamiku ubah jadi penghasilan, dan mengirimnya pada ibu untuk biaya sekolah kalian, biaya makan dan hidup kalian, paham itu, cantik?"
Leni dan Tri saling berpandangan.
"Silahkan pergi, ambil apa yang kalian bawa tadi, sebelum aku benar-benar marah dan melempar kalian dengan karung rongsokan itu,"
Suaraku penuh penekanan.
Tak ayal Leni dan Tri langsung kabur, tanpa bicara apapun lagi.