Siapakah Orang Kaya Itu?

1166 Words
. . . Mas Kunto tiba dengan peluh yang membanjiri tubuhnya, segera kuhidangkan kopi dengan sedikit gula untuknya. "Mas, kapan Bang Jamil ngangkut barang, depan rumah kita udah penuh tuh sama karung rongsokan?" tanyaku sambil memijat leher dan pundaknya, sebuah rutinitas biasa saat aku tak ikut dengannya mencari barang rongsokan. "Mas juga ndak tau, Sum, sedangkan modal kita sudah habis di barang itu," jawabnya lebih bernada keluhan. "Apa ndak bisa kita jual lagi ke orang lain?" "Yo ndak bisa Sum, kita masih ada janji, ndak enak, kita tunggu saja siapa tau dia lagi kena musibah atau apa lah itu, sampe ndak jadi angkut barang minggu ini," jelas suamiku. Tak berapa lama, Deni pun datang, wajahnya cerah, dia langsung menyerahkan map berwarna biru pada kami. "Apa ini, Le?" Tanya Mas Kunto. "Itu surat kelulusan, Yah, alhamdulillah Deni peringkat satu di kelas, kata pak guru kalau mau lanjut ke SMA pavorit pihak sekolah akan membantu," jawabnya riang. "Alhamdulillah, terima kasih ya Allah," kami langsung sujud syukur. "Kata pak Guru Deni juga akan dapat beasiswa pendidikan, Bu, nanti dokumennya dikirim dari sekolah, sekarang ayah sama ibu tentuin saja dulu Deni mau lanjut apa tidak?" tanya Deni. "Yo lanjut to, Le, moso iyo ndak lanjut, ibu sama ayah bakal ngusahain apa aja agar kamu bisa sekolah Tinggi, kuliah, jadi orang suskes," jawabku. "Tapi ... tapi ... biaya SMA mahal bu, beasiswa tak bisa nutupin kebutuhan semuanya, seragam, buku, dan lain-lain," tukas Deni, ada awan yang mulai menyelimuti wajah cerahnya. Hatiku terasa sakit. Dulu suamiku berpikir, membiayai kedua adiknya karena dia ingin suatu saat adik-adiknya suskes, bisa bergantian membantu anaknya saat dewasa dan membutuhkan bantuan. "Biar Sum, nanti saat Leni, Lina, dan Tri sukses, mereka akan gantian membantu kita, nasib tidak ada yang tau, kita berdoa saja, mudah-mudahan adik-adikku suskes, bisa mencapai cita-citanya," ucapnya, setiap kali ibu memintanya untuk mengirimkan uang. Aku mengusap wajah, perih itu menyergap hati, melihat kenyataan yang ada, jangankan membantu, ingat pun mereka tidak pada jasanya. Ya Allah ya Robb! "Nduk, itu urusan ayah, kamu tentukan saja mau masuk sekolah kemana, ayah bakal usahakan, kamu bisa masuk ke sekolah impianmu," Mas Kunto mengelus kepala bocah enam belas tahun itu. Deni mengangguk. "Tapi Deni tak mau merepotkan ayah dan ibu, Dika dan Diki tahun ini juga masuk SD, tentu bakal nambah biayanya," bocah itu menunduk. "Le, jangan pikirkan itu, tugas ayah sebagai kepala rumah tangga lah yang mengurus itu semua, doakan saja ayahmu ini sehat, panjang umur, agar bisa terus mencari nafkah halal untuk kalian, ayah hanya berharap, kalian bisa hidup layak, sehat, bahagia, dunia akhirat," ujar suamiku. "Terima kasih, Ayah, Deni bangga sama ayah," ujarnya dengan mata berkaca-kaca, dia langsung memeluk tubuh ayahnya, aku pun ikut memeluk mereka. Ya Allah berikan kami kemudahan dalam mencari rejeki untuk menyekolahkan anak-anak agar bisa hidup lebih baik dari pada orang tuanya! . . Pagi itu kuputuskan untuk ikut keliling mencari barang bekas dengan mas Kunto, biasanya hari minggu perumahan yang ada di sekitar tempat tinggal kami mengadakan bersih-bersih, jadi kami diperbolehkan untuk masuk, ditambah lagi satpam komplek itu sahabat mas Kunto. Dengan semangat yang tinggi untuk mengais rejeki, kami tegap melangkah, walau pun matahari sudah mulai terik, kami tetap melanjutkan perjalanan. Gerobak yang dibawa mas Kunto sudah terisi setengahnya. "Kita masuk blok ini mas?" tanyaku, karena asing dengan blok yang baru saja kulihat. "Iya, nanggung, Sum, gerobaknya belum penuh, kebanyakan sampahnya s****h dapur yang dibuang pagi ini, mudah-mudahan di sini ada rejeki kita," tukas Mas Kunto tetep optimis. "Tapi kita istirahat dulu ya, mas, minum dulu, aku haus!" Suamiku tersenyum, lalu mengangguk. Kami duduk di depan sebuah rumah paling mentereng di blok itu, rumah berlantai tiga dengan pagar yang sangat tinggi. Kuberikan botol yang berisi air pada Mas Kunto, lalu setelah membaca bismillah dia pun meneguknya perlahan. Tiba-tiba, Tring ... tring! Terdengar bunyi pagar yang dipukul pukul. Astagfirullah! Mungkin yang punya rumah marah karena kami berhenti di depan rumah mewahnya. "Mas, ayo pergi, kayaknya yang punya rumah tak suka kita di sini," ujarku, bergegas bangun. Mas Kunto pun manut. Tiba-tiba pintu gerbang terbuka sedikit, seraut wajah perempuan setengah baya muncul. "Kang rosgsok, sini," dia melambaikan tangannya pada kami. Aku jadi gugup. "Maaf bu, kami numpang duduk doang, istirahat, tadi habis muter muter komplek," jawabku. "Iya gak apa-apa, sini dulu, nih ada barang bekas mau enggak?" Tawarnya. Aku kaget, pun dengan mas Kunto. "Kok malah bengong, ini udah saya masukin dus besar, tapi bawanya susah, tadi saya seret ke sini," wanita itu mendorong sebuah dus besar. "Wah alhamdulillah bu, terima kasih," mas Kunto berkata sopan. "Iya sama-sama, itu buku bekas mas, masih bagus-bagus, anak majikan saya mau masuk SMA, itu buku buku SD dan SMPnya, banyak juga buku tulis yang masih baru, pilih aja sebelum dijual, masnya punya anak sekolah kan?" tanyanya lagi. Kami mengangguk bersamaan. "Nah itu rejeki, tapi tunggu dulu ya, mau enggak saya kasih buah-buahan sisa, masih segar, karena biasanya dua minggu sekali majikan saya bersihin kulkas, ganti baru, banyak kue dan buah yang harus dibuang, saya kadang bingung kalau dibuang sayang sayang, enggak dibuang juga mau dikasih siapa, lah disini rumahnya pagarnya tinggi-tinggi, gak kenal tetangga," ucapnya. "Terima kasih Bu, saya mau kalau dikasih, alhamdulillah!" ucapku. "Tunggu sebentar ya saya ambil, ART itu pun segara pergi ke dalam rumah, kami menunggu dengan sabar. "Alhamdulillah mas, rejeki kita," kataku pada Mas Kunto. "Iya, Sum, orang baik itu masih banyak, ternyata," jawabnya. Suara klakson membuyarkan kebahagiaan kami. Sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah itu. Pasti pemiliknya, lalu bagaimana jika dia marah pada kami? Apa ART itu sudah dapat ijin dari majikannya untuk memberikan makanan dan barang sisa itu pada orang lain? Mudah-mudahan saja iya. Dadaku berdegup kencang. Pintu mobil terbuka seorang wanita muda, berambut panjang dengan warna merah muda di bagian pinggir, mengenakan kaca mata hitam turun dari sana. Dia nampak cantik dan anggun saat melangkah, dengan balutan dress biru, dan high heels hitam penampilannya makin terlihat sempurna. Subhanallah, memukau sekali ciptaanmu ya Allah! Batinku, memuji kebesaran ilahi. Betapa cantik sekali penampilan wanita muda ini, aku saja yang seorang perempuan terpesona, apalagi laki-laki. Kulirik mas Kunto, dia justru menundukan wajahnya. "Maaf nyonya, kami numpang istirahat di sini, sebentar doang," ucapku dengan rasa tak nyaman, walau bagaimana pun tadi kami tak ijin pada yang punya rumah, bisa saja ART-nya baik, Belum tentu yang punya rumah berhati sama. Apalagi ini orang kaya. Entahlah aku punya trauma pada golongan kaya seperti ini. "Ibunya Deni kan?" Wanita itu mendekat padaku dan membuka kaca matanya. Aku mengernyitkan dahi. Perasaan aku tak punya kenalan orang cantik dan kaya seperti ini, teman-temanku ya hanya sesama pemulung dan warga sekitar tempat tinggal kami. Tapi dia justru mengenalku sebagai ibunya Deni. "Siapa ya?" tanyaku gagap. "Ya ampun bu, enggak nyangka kita ketemu di sini," dia memelukkku. Asli aku makin bingung, ditambah aroma tubuhnya yang harum membuatku minder. Sedangkan tubuhku? Ah sudahlah pasti bau s****h! Tapi sepertinya wanita itu tak peduli, dia terus memelukku "Alhamdulillah, ternyata dunia sempit ya, Bu, kita bisa ketemu lagi," ujarnya, makin mengeratkan pelukannya. Siapa dia? Aku makin bingung. Bersambung Hayo siapa dia gaess???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD