Saat bel istirahat telah berbunyi Senja dan Bella berjalan bersama menuju kantin,cacing di perut mereka berdua sudah memberontak meminta jatah.
Senja membekap mulutnya tak percaya saat mereka sampai di pintu kantin, keduanya disuguhkan pandangan yang langsung membuat hati Senja merasa nyeri.
"Ja, mending kita makan istirahat ke dua aja ya," Bella menarik pergelangan tangan Senja, ia tahu hati senja pasti sakit melihat itu.
Sebenarnya Senja ingin pergi, tapi ia harus belajar untuk tegar, "gak papa kok Bel, kita makan sekarang aja. Nanggung udah sampai disini,"
"Serius gak papa?" Tanya Bella lagi memastikan.
"Iya gak papa," keduanya lalu masuk ke area kantin. Tubuh Senja terasa begitu lemas saat ia melewati meja Awan dan Raya mereka duduk berdua, tak biasa Awan melakukan itu, meski mereka bersahabat tetapi Awan biasanya akan tetap duduk bersama-sama dengan anggota Araster lainya.
Mereka terlihat semakin dekat, mungkin karena sekarang sudah tidak ada penghalang dirinya lagi.
Dan hal yang paling membuat hati Senja hancur adalah saat Raya menyuapi Awan.
"Apa ini alasan Awan pergi? Awan mau sama Raya?" Batin Senja pilu.
Sebenarnya Bella sangat ingin menghampirin meja Awan dan melabrak mereka berdua. Namun, dari sudut kantin Raga sudah memberinya isyarat untuk tidak ikut campur.
"Udah jangan dilihat terus ja, entar tambah sakit hatinya," peringat Bella.
"Kalo mau sedih jangan disini ja, mereka akan semakin merasa memang kalo lo terlihat lemah," tambah Bella lagi.
Ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Bella, Raya akan semakin merasa menang jika melihat Senja serapuh itu, meski hatinya sakit. Namun, wajahnya harus terlihat tersenyum.
Jika saat ini ada penghargaan sebagai wanita yang pura-pura tegar mungkin Senja akan mendapatkannya.
☁️?
Saat ini Senja sedikit berdecak kesal, pasalnya hanya gara-gara ia telat masuk ke kelas karena dari kamar mandi. Pak Barjo menyuruhnya ke perpustakaan untuk meminjam buku paket untuk pelajaran hari ini.
Saat Senja ingin menaiki anak tangga, langkahnya terhenti saat melihat Awan ingin menuruni tangga menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu berkumpul di lapangan, karena saat ini waktu pelajaran olahraga di kelas Awan.
Saat Senja menatap sorot mata Awan yang sangat ia rindukan. Namun, dengan cepat Awan memutuskannya, dan tanpa rasa peduli Awan melewatinya begitu saja.
Senja tersenyum kecut saat Awan melewatinya begitu saja, apa Awan sama sekali tidak merindukannya? Apa Awan sudah melupakan semuanya, dulu mereka tidak pernah melewatkan kata sapa dan senyuman saat mereka bertemu. Senja menghela nafas kasar lalu melanjutkan langkahnya ke perpustakaan.
Sepertinya Senja salah saat ia menolak bantuan Bella untuk membantunya tadi, ia menolak bukan karena apa, tapi Senja tidak mau Bella ikut terkena hukuman. Tapi sekarang ia yang menyesal sendiri, ternyata buku paket yang diminta oleh pak Barjo sangat tebal, dan senja tidak hanya disuruh mengambil satu tapi lima belas.
Lagi-lagi Senja menghembuskan nafas kasar sebelum mengangkat semua buku paket itu, tumpukan buku itu sedikit membuatnya susah berjalan karena menghalangi pandangannya, dengan sangat berhati-hati Senja berjalan menuju kelasnya.
Karena terlalu fokus saat Senja menuruni anak tangga, Senja sama sekali tak menyadari bahwa sebuah bola dengan kecepatan yang cukup tinggi terarah padanya hingga----
Bruk
Senja terduduk jatuh di lantai, buku yang semula ada di tangannya kini sudah berserakan di lantai. Lututnya juga mengeluarkan darah karena terbentur anak tangga.
"Aauh--" ringis Senja.
"Eh, sorry ja, gue gak sengaja tadi lemparnya," ucap teman sekelas Awan yang bertag nama Farhan mengambil bola yang baru saja menghantamnya.
"Iya gak papa kok," jawab Senja, saat ia ingin bangun tapi ia merasakan lututnya sangat sakit.
"Aaaa---" ringgisnya lagi, dan saat itu juga Senja merasakan tubuhnya terangkat. Senja mengodak ke atas dan melihat siapa yang mengangkatnya, ternyata Awan.
"Kalo lemah, gak usah sok-sokan kuat," tungkas Awan terdengar dingin, namun entah mengapa hati senja tiba-tiba menghangat mengatahui Awan mengkhawatirkannya.
Awan menggendong tubuh Senja ala bridal style, "ham, bawa tuh buku ke kelas ipa 2," suruh Awan pada Ilham sebelum membawa Senja ke UKS.
"Siap bos," jawab Ilham, Awan lalu berjalan sambil menggendong Senja menuju Uks, Senja sama sekali tak henti menatap wajah Awan, meski Awan terus menatap ke depan.
"Gak usah lo lihatin terus, gue tau gue emang ganteng,"ucap Awan yang langsung membuat Senja kicep terdiam.
"Dan gak usah gr gue nolong lo cuma karna minta maaf karena ulah temen gue,"
"Kalo emang karna Awan yang khawatir gak papa kok, Senja suka Awan masih khawatir sama Senja, artinya Awan masih cinta sama Senja,"
"Jadi orang jangan kepedean, gue sama sekali udah gak suka sama lo,"
Setelah sampai di Uks, Awan mendudukkan Senja di pinggir brangkar dan ia mengambil kotak P3K.
Awan berjongkok dan mulai mengeksekusi luka pada lurus Senja, pertama Awan mengoleskan alkohol pada kapas untuk membersihkan luka Senja agar tidak infeksi.
"Aaauu--" ringis Senja saat kapas itu bersentuhan pada lukanya.
"Tahan, bentar lagi selesai," Senja menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit.
Setelah Awan membersihkan darah pada luka Senja, sekarang ia berganti memberi luka Senja dengan obat merah sebelum Awan menurut luka itu dengan plester.
Awan mengodak ke atas, menatap Senja yang tengah meringis kesakitan, Awan meniup luka Senja agar obat merah itu cepat meresap ke luka Senja lalu ia tutup luka Senja. Setelah selesai Awan merapikan kembali kotak P3K dan mengembalikannya ke tempat semula.
"Entar sampai rumah lo cuma perlu ganti perbannya, tiga hari lagi juga udah kering itu lukanya,"
Setelah mengucapkan itu Awan bangkit ingin mengembalikan kotak P3K. Namun, saat Awan ingin melangkahkan kakinya Senja menahan tangannya. "Awan, Senja rindu. Tolong Awan jangan berubah," lirih Senja.
Awan melepaskan tangan Senja, "gue gini juga karna ulah lo!"