Pandu mengeluarkan sebuah pistol yang telah ia siapkan dan mengarahkannya pada kepala Senja. Semua yang ada disana kaget akan ulah Pandu, apalagi Senja.
"Tunggu! Lo mendekat kepada cewek ini hancur!"
Tubuh Senja bergetar saat ia merasa ujung pistol itu menyentuh kepalanya, keringat dingin sudah membanjiri pelipisnya. Matanya terus menatap ke arah Awan, semoga Awan akan menolongnya.
Emosi Awan meninggi, ia tidak bisa diam melihat orang lain di ikut sertakan dalam urusannya dan Pandu, terlebih itu Senja, meski mereka berdua telah putus namun bohong jika Awan tidak khawatir melihatnya.
"Lepasin dia b******k, lawan lo itu gue!!" Bentak Awan.
"Osososos, kalo ada yang lebih mudah buat hancurin lo ngapain cari yang sulit?" Ucap Pandu yang di tambah dengan senyum miringnya.
"Mau lo apa sih? Orang kok suka bikin gara-gara?" Tanya Gala.
"Mau gue? Gue mau tau seberapa berharga cewek ini di mata seorang Awan Sanjaya,"
Pandu semakin mengeratkan himpitannya pada leher Senja, Senja hanya bisa pasrah dan menutup matanya, saat pistol itu semakin
Pandu arahkan ke kepalanya.
"Aw-an to--lo-ng."
"b******k," umpat Awan sudah tak tahan dengan ulah Pandu.
"Lo harus merasakan kehilangan orang yang lo sayang Awan, agar lo sadar,"
Saat menyadari himpitan tangan Pandu mulai kendor, Awan menggunakan kesempatan itu untuk menendang bahu Pandu, alhasil pistol itu jatuh ke lantai dan langsung Awan rusak dengan injakannya.
Setelah itu, Awan menarik tangan Senja kuat hingga membuat cengkraman Pandu terlepas. Ia memberi isyarat kepada Raga dengan ekor matanya agar ia menggantikannya sebentar.
"A--wan aku takut." Ucap Senja dengan gemetar dan mata yang berkaca-kaca. Ini adalah pertama kalinya Senja terjebak dalam hal yang menyangkut hidup dan matinya.
"Awan, Senja mau pulang," tambahnya lagi.
"Ilham" panggil Awan. "Bawa senja pulang," perintahnya.
"Tapi Senja mau sama Awan, ayo Awan kita pulang," Senja menggoyang-goyangkan bahu Awan.
Awan melepaskan tangan Senja dari bahunya dan memberikannya pada Ilham. Ilham lalu membawa Senja untuk pergi dengan segera. Detik itu juga, Awan dengan segera masuk ke dalam perkelahian lagi dan menggantikan posisi Raga untuk menghajar Pandu.
Tatapan tajam Awan ke arah Pandu sungguh menyeramkan kali ini, langkah Awan sungguh telah dikuasai oleh amarah. Pandu sungguh sudah membuatnya marah, dengan membabi-buta Awan terus melayangkan pukulan pada Pandu.
Pandu sudah tidak memikirkan keadaan lawannya seperti apa saat ini, yang terpenting semua emosinya tersalurkan.
"Cukup Bos, lo bisa buat anak orang mati," peringat Raga, Raga dan Gala langsung menarik tubuhnya ke belakang. Setelah itu semua anggota Araster keluar dari gedung meninggalkan anggota Warior yang sudah lemah dan babak belur.
☁️?
Setelah montor Ilham berhenti tepat di depan rumahnya, Senja lalu turun dan masuk ke dalam rumahnya, biarlah dia membolos kerja hari ini. Rasa trauma atas kejadian tadi masih meninggalkan bekas tersendiri di dalam dirinya.
Senja lalu menaruh tas sekolahnya di kurisi meja belajar dan mendekat ke arah jendela kamarnya. Rintikan hujan mulai turun, Senja menatap sendu ke luar jendela, lagi-lagi ingatannya kala Awan meminta hubungan mereka berakhir kembali muncul di pikiran Senja.
Flashback on
Hari itu tepat tanggal peringatan Anniversary mereka ke dua tahun. So, Awan mengajak Senja untuk merayakannya, Senja tampak cantik malam itu dengan dress putih selutut, make up tipis yang membuatnya semakin cantik dan terlihat natural.
Awan membawa Senja ke sebuah restoran yang cukup mewah, hati senja sungguh menghangat disana, karna ia diperlakukan layaknya tuan putri oleh seorang Awan Sanjaya yang terkenal akan sikap dinginnya.
Namun, suasana berubah saat mereka selesai menghabiskan makanannya, jika Senja dapat memutar ulang waktu, Senja tidak akan mau Awan mengajaknya pergi malam itu jika ahkirya Awan mengucapkan kalimat yang paling Senja benci.
"Senja," panggil Awan.
"Iya Awan, kenapa?" Jawab Senja yang ditambah dengan senyuman.
"Hmmm, Awan mau ngomong,"
"Tumben Awan mau ngomong minta izin dulu? Biasanya juga langsung ngomong," hati Senja mulai merasa hal yang tidak enak, apalagi raut wajah Awan yang berubah menjadi datar.
"Aku mau kita putus, kita selesai malam ini," Awan membuang wajah saat mengucapkan itu, sungguh ia tidak sanggup melihat
Senja, tapi ini yang terbaik karena hati dan rasa percaya kini sudah berbeda arah.
Susah payah Senja menelan ludahnya sambil mencerna setiap kata yang Awan ucapkan. "Pu--tus?" Tanya Senja gemetar.
Awan mengangguk, "tapi kenapa Awan, Senja salah apa sama Awan?" Cairan bening dari mata senja sudah lolos keluar begitu saja.
"Gue salah pilih lo, lo itu cuma buat gue susah." Tangan Senja mencoba menyentuh bahu Awan. Namun, Awan melepaskannya, Awan lalu berbalik dan meninggalkan Senja sendirian.
"Jangan tinggalin Senja Awan, Senja mohon. Selama ini Senja selalu diam saat Awan pilih Raya dibandingkan Senja, Senja gak tau apa salah Senja sampai Awan tinggalin Senja. Senja mohon Awan jangan kayak gini,"
Awan sama sekali tidak menanggapi pertanyaan Senja, ia berjalan keluar meninggalkan Senja sendirian.
Flashback off
Air mata Senja kembali turun mengingat itu, Senja membuang nafas kasar lalu berjalan ke lemari pakaiannya, mengambil baju bersih dan langsung membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi.
☁️?
Setelah keluar dari gedung, Awan menyuruh semua anggota Araster mengobati luka mereka di markas Araster dan ia pergi mengarahkan montornya ke sebuah tempat yang mungkin akan membuatnya tenang. Ia sudah tidak peduli dengan rasa perih pada luka kebab di wajahnya.
Awan memarkirkan montornya di depan sebuah rumah dan langsung masuk ke dalam.
"Eh den Awan, ibu ada di kamar den," ucap seorang wanita berusia 40an yang menggunakan seragam rapi berwana putih yang kerap di panggil Awan dengan sebutan Budhe mai.
"Awan masuk ke dalam ya budhe," belum saja Awan melangkah, budhe mai kembali menghentikan langkahnya.
"Den Awan itu kenapa mukanya lebam-lebam? Budhe ambilin obat ya?" Tawar budhe mai.
"Gak usah Budhe, biasa anak laki-laki," jawabnya enteng.
Budhe mai menghembuskan nafas panjang, "jangan sering-sering atuh den, sayang nanti gantengnya luntur loh,"peringkatnya yang di balas anggukan oleh Awan.
"Budhe Mai bisa aja,"
Awan lalu masuk ke dalam sebuah kamar yang memperlihatkan seorang wanita duduk bersandar pada kepalaa kasur.
"Ma..." Panggil Awan yang mendekat dan mengambil sebuah kursi yang lalu meletakannya di samping tempat tidur mamanya.
Namun tak ada balasan, Anita-mama Awan masih diam menatap kosong ke arah tembok ruangan, Awan tersenyum kecut melihatnya,
inilah kondisi mamanya saat ini.
Awan lalu mengambil satu tangan Anita lalu ia genggam dan mengecupnya.
"Awan rindu mama yang dulu ma--"lirihnya.