Tiga malam berlalu sejak aksi tak pantasnya pada Misaki, lelaki itu sibuk merenungi perbuatannya dengan wajah merah padam tiap kali adegan itu berputar cepat di kepalanya. Apa yang kulakukan, sih? Sial! Benar-benar tidak bermoral! batinnya dengan perasaan berkecamuk. Wataru berjalan pelan di trotoar dengan pembawaan malas, kedua tangan berada di dalam saku jaket merahnya. Ia mengenakan dalaman kaos putih polos dan dipadankan dengan celana jeans biru gelap sobek-sobek. Pikirannya dipenuhi oleh banyak hal silih berganti. Akhir-akhir ini, seluruh beban yang dirasakannya semenjak kecil seolah mengedor untuk mendobrak keluar dari dalam dadanya, seolah berteriak ingin berontak melepaskan diri. Bahkan kebiasaan buruk yang dijalaninya sebagai pelarian dan pelampiasan pun juga tak mempan menena

