Bab 19: Hal yang sudah di waspadai

1222 Words
Berhenti! Xue Ze berterik sekecang yang dia bisa dan pada akhirnya suaranya habis. Hua ren dan Xue tao yang tidak lain adalah ayahnya sendiri serta orang asing yang belum lama di kenalnya berhenti bertarung satu sama lain. “Berhentilah berkelakuan seperti anak kecil. Apa kalian tidak lihat?!” tangan Xue Ze menunjuk Yi ran yang kesenangan ketika keduanya saling bertarung.   Yi ran menyeringai, “Apa? Kenapa kalian berhenti bertarung? Padahal aku sangat menantikannya.” Yi ran sepertinya sudah merencanakan sesuatu untuk mempermainkan pikirannya. Menyadari mereka Xue tao dan Hua ren di permainkan jalan pikirannya, mereka memilih berhenti.   Xue tao malah tertawa, “Dari mana kau mempelajarinya?”   Lantas saja, Yi ran malah tinggi hati dan berkata, “Tentu saja, dunia bawah masih banyak trik –trik kotor seperti ini, dan ini sudah biasa terjadi terutama untuk orang yang lemah secara fisik. Mereka sering kali menggunakan trik ini kepada lawan.”  Kemudian, Xue tao malah membuka ikatan kencang yang ada di tubuh Yi ran. Tentu saja ini membuat Yi ran bingung. “Kenapa?” tanya Yi ran raut wajah bingung masih terlihat jelas di matanya.   “Hah? Bukannya kau sendiri yang berniat untuk minta di lepaskan?” Xue tao berkata demikan, “Kalau begitu silakan, kau boleh pergi dari sini dengan bebas. Ilmu – ilmu dasar bertahan hidup sudah kau miliki sepertiny aku tidak perlu lagi untuk mengajarkannya padamu.” Demikian sambung Xue tao, “Kuda milik kakekmu ada di sana, sengaja aku pisah, sekarang terserah dirimu.   “Ayah!” sahut Xue Ze, “Ayah sudah berjanji akan membawa Yi ran pergi.” Protes anaknya mendengar keputusan ayahnya yang memilih membiakan Yi ran pergi.   “Dia sudah bisa mandiri, kenapa ayah harus menahannya?” Xue tao tampak berdebat dengan putrinya, sedangkn Hua ren yang tampak bingung memilih mendiamkan mereka berdua saat berdebat. Malah Hua ren hanya memperhatikan Yi ran, sedari tadi memnyingkirkan tali yang mengikat tubuhnya, lalu berjalan ke arah kuda, dan menaiki kuda itu dengan leluasa, Hua ren masih saja memperhatikan Yi ran. “Hei! Terima kasih.” Ucap Yi ran dan kemudian pergi begitu saja seolah tidak terjadi apa – apa. “Hei! Kemana kau mau pergi!” teriak Xue Ze yang melihat Yi ran pergi begitu saja dari tempatnya, ayah Xue Ze malah menahan gerakannya untuk tidak mengejar Yi ran. Hua ren lagi – lagi tetap hanya melihat mereka bertiga tanpa melakukan sesuatu.   *** Kepergian Yi ran tentu saja membuat Xue Ze membenci ayahnya. Maka dari itu ketika kembali memulai perjalanan, Xue Ze memilih menunggang kuda bersama dengan Hua ren. Mereka masih di dalam hutan membuat jalan setapak baru yang belum pernah di buat untuk menuju ke barat, tujuan yang sudah di tentukan oleh ayah Xue Ze sejak awal.   Keheningan keduanya membuat perjalanan menjadi sedikit lebih tenang karena mereka bisa mendengar suara hewan yang berasal dari hutan secara langsung, Hua ren sedari tadi hanya memperhatikan sekeliling, ia merasa ada yang memperhatikan mereka. Tapi sayangnya ia tidak sedikit pun mengetahui arah lokasi yang tepat.   Aaa!   Teriakan yang membuat mereka semua menengok ke arah belakang, ternyata ada Yi ran dan kuda tunggangannya berlari secepat tenaga. Lebih parahnya lagi, ada sebuah hewan buas yang sedang mengikuti mereka.   “Hua ren!” teriak Xue tao ketika melihat Yi ran yang dalam keadaan berbahaya, kuda yang di tunggangi Xue tao langsung di percepat, begitu pula dengan kuda yang di tunggangi Hua ren dan juga anaknya.   “Xue Ze pegang sebentar!” ucap Hua ren, memberikan tali yang berada di tangannya kemudian ia pun melompat tubuhnya berguling beberapa saat kemudian kembali dalam posisi menahan dirinya sendiri agar tidak berguling kembali, pandangannya langsung lurus menatap ke arah hewan buas yang tidak lain adalah Seekor beruang besar.   “Kakak Hua ren!” teriaknya terkejut melihat Hua ren yang melompat secara tiba – tiba.   “Xue Ze jangan berhenti! Hua ren yang akan mengurus semuanya!”   Hal yang menyakitkan pun baru saja terjadi, karena lari kuda yang di kendali Yi ran terlalu cepat kudanya tersandung akar pohon. Sungguh malang nasib kuda, itu yang terjatuh, begitu pula dengan si pengendara. Tubuhnya membentur pohon tumbang, bagian kepala yang terlebih dahulu mendarat. Ini terjadi karena tindakan Hua ren yang seperti itu, Hal ini di lakukan secara tidak terduga serta membuat Kuda Yi ran terkejut.   Hua ren yang melihat langsung saja menghampiri secepat mungkin secepat dia bisa. Hua ren sempat mengambil batu besar ketika mengambil ancang – ancang berlari. Batu besar baru saja di lemparkan ke arah beruang yang berniat mendekati Yi ran serta kudanya.   Bagian moncong Beruang langsung terkena batu, lemparannya Hua ren memang terkesan asal tapi tepat sasaran.   Suara bruang besar yang menggema membuat hewan yang berada di dekat merasa ketakutan. Lalu di saat Beruang sibuk merasakan sakit di area moncongnya Hua ren melompat lalu menggunakan kaki besi miliknya, dan menghajar tepat bagian wajah Beruang itu. Belum cukup sampai di situ saja, tangannya secepat mungkin mencengram wajah beruang. Memanfaatkan tubuhnya yang saat ini sedang melayang, ia langsung memutar leher beruang itu dan membantingnya. Tangan kiri Hua ren yang masih bebas langsung menyerang bagian pangkal tenggorokannya, tepat pada saat beruang itu mendarat sebelum dirinya.   Beruang itu langsung terkapar, dengan darah yang keluar langsung di mulutnya lidah yang di gigit oleh taringnya sendiri. Sesudah kejadian itu, Hu ren langsung bergegas mendekati Yi ran yang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Menampar pelan beberapa saat, tapi hasilnya ia tidak melihat respon balik terhadap Yi ran. Mendekatkan telinga ke d**a Yi ran, ia masih sedikit mendengar detak kehidupan di tubuhnya. Lantas tanpa berpikir panjang Hua ren segera memberikan napas buatan yang dimana hal itu di lakukan secara langsung.   Menarik napas panjang, lalu langsung memberikan napasnya dari mulut ke mulut, dengan menutup hidung Yi ran. Tiba di saat yang tepat setelah ia memberikan napasnya, Yi ran langsung tersadar. Wajahnya tampak syok, ia tidak sadar selama beberapa saat dan itu cukup membahayakan nyawanya. “Apa kau baik saja?” tanya Hua ren, Yi ran masih syok ia hanya memperhatikan wajah Hua ren. Lalu Hua ren menyenderkan kembali tubuhnya di dekat pohon tumbang, “Jangan bergerak. Tetaplah seperti itu.” Demikian pinta Hua ren kepadanya, setelah itu. Suara kuda terdengar merintih kesakitan. Ia segera menengok ke arah kuda.   Hal yang memilukan terjadi, Kaki bagian depan sebelah kanan mengalami patah tulang. Terlihat kuda milik Yi ran mengangkat kakinya, akan tetapi kaki kanannya menjuntai melayang – layang. Hua ren segera berdiri lalu mendekati kuda yang tampak jelas trauma dan tidak mau di dekati, menyadari hal itu. Hua ren memilih membuat kuda Yi ran tidak sadarkan diri. Tubuh kudah langsung ambruk setelah di totok pada bagian leher, sesaat ia meraba sebentar dan menggunakan ibu jarinya. Memanfaatkan kuda yang tidak sadar sementara itu, Hua ren memegang bagian kaki kuda yang patah.   Dia mengambil batang pohon kayu yang tergeletak, lalu mengikatnya menggunakan tali ikat kepalanya. Wajah datar, ini  yang sedang terjadi pada Hua ren. Ia dalam kondisi fokus, mengikat lalu memberikan tenaga dalamnya.   “Apa yang sedang kau lakukan ...” ucap lirih Yi ran melihat Hua ren sedang melakukan seusatu yang tidak dia pahami. ---=------------------------------------------------------------------------------------ Mohon tinggalkan KOMENTAR, atau LOVE jika menyukai setiap cerita yang aku buat, komentar membangun kalian sangat mempengaruhi kualitas tulisanku. Mohon di mengerti,  kemampuanku dalam menulis belum sebagus orang - orang yang sudah lama menggeluti tulisannya, jadi jika kalian menyukai setiap bab yang aku tulis mohon tinggalkan komentar, jika pun kalian malas untuk berKOMENTAR mohon tinggalkan LOVE. Riyuu Way
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD