Berpisahlah dengan Ayah, Bu.

1277 Words
"Minggir, kau wanita sialan!” kesal Hermawan. Pria itu paling tidak suka saat Rina menghalanginya. “Katakan apa yang sebenarnya kamu lakukan di luar sana. Apa benar kata Mira, bahwa banyak wanita yang mencicipi tubuhmu di luar sana?!” sarkas Rina, kali ini tatapannya tajam menyala pada suaminya. Rasa cemburu membuat Rina akhirnya memiliki kekuatan untuk bertindak. Sebelumnya Rina memang lemah berulang kali dipukul tapi hanya pasrah tapi kali ini Rina sudah terlalu sakit saat cinta yang dia pertahankan dibagi dengan banyak wanita. Api cemburu membakar jiwa Rina, sehingga wanita itu berani melawan suami kejamnya. Sementara Hermawan memasang wajah masam, tidak terima Rina membentaknya. Hermawan langsung melayangkan tatapan tajam bak singa yang siap menerkam mangsanya. Pria itu juga langsung mencengkeram rahang Rina, mendorong tubuh mungil itu hingga Rina mundur beberapa langkah. Kemudian Hermawan menghempaskan tubuh Rina di atas ranjang tanpa melepaskan cengkeramannya. Rina terbaring dengan menahan sakit, satu tangannya berusaha menahan tangan suami agar tidak terlalilu erat mencekam rahang pipinya. Hembusan nafas penuh amarah menyapu wajah Rina, ada rata takut tetapi Rina tetap bertahan dan menatap pria itu dengan tatapan mata yang menuntut jawaban. “Jelaskan padaku! Apa sebenarnya pekerjaanmu? Apa kamu menjual diri pada wanita-wanita itu?!” sarkas Rina kesekian kalinya. Mendapatkan pertanyaan seperti itu Hermawan semakin meradang, tangannya semakin kencang mencengkeram rahang Rina. “Kamu tahu? Aku bekerja setiap malam untuk mencari uang seperti keinginanmu! Apapun pekerjaanku itu bukan urusanmu!” tegas pria itu, kemudian dengan kasar menghempaskan wajah Rina. Lalu Hermawan meninggalkan kamar dan hendak pergi meninggalkan rumahnya. Namun, tiba-tiba Rina bangkit dari posisinya dan langsung menghalangi suaminya yang tetap pergi. “Aku tidak mengizinkanmu pergi ! Apalagi jika menjajakan tubuh pada wanita-wanita di luar sana, Mas! Aku memang ingin kamu bekerja tapi pekerjaan yang halal yang berkah untuk keluarga kita!” seru Rina merentangkan kedua tangannya di depan suaminya. “Halah! Kamu sok suci Rina! Jangan gurui Aku! Dasar istri tidak tahu diri, minggir!” Hermawan kembali menepis tangan Rina. Rina kembali terjatuh di lantai paving halaman rumahnya, tapi Rina kembali bangkit dan langsung merangkak mencekal kaki suaminya. Sengaja menghalangi suaminya agar tidak pergi dan melakukan pekerjaan kotornya. “Jangan melakukan pekerjaan seperti itu, Mas! Berhentilah, aku tidak mau kamu terjerumus dalam dosa!” pinta Rina dengan tatapan sendunya. Namun Hermawan justru semakin meradang dengankekuatan kakinya, Hermawan menyingkirkan Rina sehingga Rina terpental cukup jauh dan posisi semula. Sakit tubuh Rina, tapi lebih sakit hati Rina ketika membiarkan suaminya menjajakan diri pada banyak wanita. Dia hanya ingin mencegah suaminya dan menyadarkan pria itu agar tidak melakukan pekerjaan yang haram. Namun, keadaan sedang tidak berpihak padanya, sebuah mobil datang dan langsung berhenti didepan rumahnya. Hermawan yang sudah menunggu kedatangan mobil itu langsung masuk kedalam mobil dan menyuruh sang supir melesat dengan cepat meninggalkan rumah Rina. “Mas Hermawan, berhenti Mas!” teriak Rina di tengah deru mobil yang semakin menjauh dari pandangannya. Tidak diindahkan mobil itu menghilang dari pandangan Rina. Rina sangat kecewa tentunya, Rina menyadari jika suaminya itu bekerja sebagai pria panggilan setelah mendapati pesan-pesan singkat di ponsel suaminya. Juga pengakuan Mira, apalagi saat Rina mencuci baju suaminya terdapat noda lipstik dan alat pengaman di sakunya. Tentu saja Rina semakin yakin jika suaminya memang menjajakan diri pada wanita. Rina tidak sengaja melihat banyak pesan masuk di ponsel suaminya. Merasa ada kesempatan, Rina membuka layar ponsel suaminya dan mendapati pesan-pesan menjijikkan dan janji penting dengan wanita-wanita langganan suaminya itu. Bukan hanya pesan singkat, tapi juga foto-foto suami bermesraan dengan wanita. Rina hanya ingin suaminya sadar dan menyudahi semuanya kembali ke jalan yang benar dan mencari pekerjaan halal demi anaknya. Gajih kecil tidak apa, asal halal dan berkah untuk keluarganya. Namun, usaha Rina sia-sia karena suaminya sudah tidak mau mendengarkannya. Disaat bersamaan Kiara dan Tasya datang dan langsung menolong ibunya yang sedang menangis itu. "Ibu, kenapa ibu menangis di sini. Apa yang terjadi, Bu?” Kiara mensejajarkan tubuh dengan ibunya dan segera membantu ibunya berdiri dan membawa wanita itu masuk kedalam rumah. "Apa yang terjadi pada Ibu. Kenapa Ibu menangis seperti ini?" tanya Kiara saat mereka sudah duduk di kursi ruang tamu mereka. “Ayahmu. Ibu hanya menangisi ayahmu, kenapa dia melakukan pekerjaan yang tidak seharusnya?” lirih Rina di tengah isaknya. “Kenapa Ibu masih menangisi pria itu?” Kiara mengusap air mata ibunya. “Iya, Bu. Untuk apa ibu menangisi pria seperti ayah, air mata Ibu tidak pantas untuk pria sepertinya.” sahut Tasya. “Kami tahu ayah melakukan perjalanan haram, ‘kan Bu? Dia menjual diri pada wanita?" sambung Kiara. Deg. Rina terdiam dan menatap kedua anaknya, Dia sendiri belum mengatakan apapun pada anaknya, tapi dari mana mereka tahu ayah bekerja sebagai pemuas wanita? “Kenapa kalian bicara seperti itu?" tanya Rina dengan rasa penasaran.. “Kami sudah tahu ayah menjual diri pada wanita, Bu. Selama ini kami melihat ayah pergi dengan wanita-wanita seksi dan kaya bersama om Rifan juga. Mereka sering menggoda tante Mira, selain itu om Rifan juga mengatakan padaku, bahwa ayah bekerja bersamanya, menjual diri pada wanita.” terang Kiara yang di sambut anggukkan oleh Tasya. Jantung Rina seperti copot dari tempatnya, tubuhnya lemas bahkan air mata itu kembali berderai tanpa diminta. Hati Rina benar-benar pedih bahkan hancur mendengar pengakuan anaknya. Wanita mana, yang akan sudi dan menerima kenyataan bahwa suaminya sudah menjajakan tubuh pada wanita lain, gonta ganti pasangan di ranjang setiap malam? “Ibu, jangan menangis. Maafkan kami yang sudah mengatakan ini pada, Ibu. Selama ini kami menyembunyikan semua ini karena tidak ingin melihat Ibu semakin terluka,” ujar Kiara. Tasya pun mengangguk setuju dengan sang Kaka. Memang, sudah beberapa kali Kiara dan Tasya melihat ayahnya pergi dengan wanita-wanita. Mereka juga melihat ayah mereka menggoda mbak Mira. Tapi selama ini tidak pernah mengatakan pada ibunya karena mereka tidak ingin ibunya semakin menderita. Satu hal yang tidak Kiara dan Tasya katakan pada ibunya, bahwa mereka sering kali di goda om Rifan dan diajak melakukan pekerjaan yang sama seperti ayahnya. Kiara dan Tasya menolak dan menyembunyikan hal itu dari ibunya dan tidak berani mengatakannya. Biarlah hal itu menjadi rahasia mereka, pikir Kiara dan Tasya. Sementara Rina tidak lagi banyak bertanya. Dia masih sibuk membenahi air matanya, berusaha untuk tidak menangisi suaminya meskipun terasa begitu sulit untuk melakukannya. Entah sudah berapa banyak air mata yang Rina keluarkan untuk pria bernama Hermawan. Pria yang sudah dua puluh tahun bersamanya itu berubah menjadi orang asing yang sama sekali tidak pernah peduli pada perasaannya. “Ibu jangan menangis. Kami, tidak suka melihat Ibu menangis seperti ini, apalagi menangis untuk pria seperti ayah. Dia sudah tidak pantas ditangisi, Bu. Kami pun tidak sudi lagi memiliki ayah seperti dia.” Kiara memeluk ibunya. Rina semakin sedih mendengar penuturan anaknya. Selama ini Rina berusaha bertahan demi anaknya karena mereka sudah dewasa dan akan membutuhkan untuk wali nikah mereka. Tetapi pemikiran Rina salah. Hermawan tidak peduli pada kedua anaknya, begitu juga kedua anaknya sudah tidak sudi mengakui pria itu sebagai ayahnya. “Jadi, sekarang Ibu harus bagaimana?” tanya Rina dengan tatapan putus asa. “Bercerai dengan ayah. Kiara lebih setuju Ibu berpisah dengan ayah, kita bisa menjalani kehidupan kita tanpa ayah, Bu.” usul Kiara. Rina terkejut mendengarnya. “Tasya juga setuju Ibu bercerai dengan ayah. Untuk apa kita memiliki ayah jika hanya membuat kita menderita. Aku yakin kita bisa hidup bahagia tanpa ayah,” sahut Tasya. Berkali-kali Rina mengelus dadanya, mendengar penuturan kedua anaknya itu dirinya merasa berdosa. Rina merasa gagal menanamkan rasa hormat anak-anak terhadap ayahnya sendiri. Rina tidak menyangka jika kedua anaknya justru menginginkan perpisahan dengan ayahnya. Sementara selama ini Rina berjuang agar keduanya anaknya itu tetap menyayangi menghormati ayahnya meskipun pria itu tidak pernah peduli pada keluarga. Keputusan ada di tangan Rina dan Rina bingung menentukannya. "Haruskah Ibu berpisah dengan ayah?" gumam Rina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD