Bertemu Teman Lama

1452 Words
Hari ini, Rina berniat kembali bekerja setelah dua hari tidak masuk tanpa memberikan ijin pada atasannya. Setelah semua pekerjaan rumah selesai, Rina langsung berangkat bekerja karena dia juga ingin meminta maaf pada atasannya atas sikap kasar suaminya dua hari lalu. Dengan mengendarai motornya Rina tiba di tempat kerja, namun sayangnya, setibanya di sana Rina langsung di cegah oleh petugas keamanan yang menggantikan pak Imam berjaga. "Maaf, Bu Rina. Saya sudah mendapatkan perintah dari atasan bahwa Bu Rina tidak diperkenankan masuk bekerja sampai dua minggu kedepan. Ini surat peringatan untuk Bu Rina," ucap penjaga keamanan itu dengan memberikan selembar kertas dari atasannya. "Benarkah?" Rina tampak kecewa. Dia pun menerima surat itu dan membaca isinya. Wajahnya berubah pias setelah membaca bahwa dia benar-benar di skors dari pekerjaannya. Tidak ada tujuan lagi di tempat itu Rina memilih pergi meninggalkan penjaga keamanan yang masih memandanginya. Kali ini Rina tidak langsung pulang, dia berniat pergi ke rumah sakit untuk menjenguk sekaligus minta maaf pada pak Imam yang sudah menjadi korban kekerasan suaminya. Biar bagaimana, dia harus bertanggung jawab atas perbuatan suaminya. "Pak Imam, saya benar-benar minta maaf atasan perlakuan suami saya terhadap pak Imam. Karena dia, pak Imam menjadi seperti ini," ucap Rina sesampainya di ruangan pak Imam di rawat. "Tidak apa-apa. Saya tahu sikap suami kamu, Rina. Sebaiknya kamu berhati-hati dan jaga kedua anakmu jangan sampai mereka menjadi korban kekerasan ayahnya." jawab pak Imam dengan lemah karena masih ada luka di bagian bibirnya. "Terimakasih Pak Imam. Ini ada sedikit tabungan saya untuk membantu biaya perawatan pak Imam." Rina menyelinapkan segenggam uang pada pak Imam. "Tidak perlu Rin, aku tidak butuh uang ini. Ambil saja untuk anak-anakmu." tolak pak Imam, sungkan. Tapi Rina terus memaksanya, mengingat pak Imam adalah seorang perantauan yang bekerja untuk anak istrinya di kampung. Kasihan jika uang yang seharusnya dia kirim ke kampung digunakan untuk biaya rumah sakit. Meskipun mungkin biaya itu di tangung pabrik tapi tetap saja pak Imam tidak bisa bekerja selama beberapa hari. Merasa cukup menemui pak Imam, Rina bergegas untuk pulang karena tujuan lagi sekarang, pikirannya kacau, karena tidak memiliki pekerjaan selama dua minggu kedepan. "Rina! Rina!" Namun, saat berjalan seseorang memanggilnya. Rina langsung mengalihkan pandangannya pada sumber suara. Di lihatnya seorang wanita berpenampilan dokter dengan jas putih rambut sebahu yang tertata rapi. Rina mengernyitkan pandangannya memastikan siapa wanita itu. "Rina, kamu apa kabar? Kamu masih ingat sama aku?" sapa wanita itu sangat ramah, bahkan langsung memeluk Rina. Rina terlihat bingung, dengan wanita itu. "Aku, Maria!" Seketika itu, Rina teringat akan Maria -teman semasa SMA. Diapun akhirnya mengabiskan waktu bersama Maria dan menceritakan kehidupannya pada sahabat terbaiknya itu. Setidaknya dengan menceritakan permasalahannya pada sahabatnya Rina merasa lebih lega. Rina tidak sadar jika di rumah, Hermawan baru saja pulang dengan mengendarai motor matic berwarna hitam keluaran terbaru, dengan gayanya yang khas Hermawan menghentikan motor itu dan memarkir di teras rumah. “Rina! Rina!” Panggil Hermawan, mengetuk pintu rumah dengan kekuatan tangannya. Namun sayangnya, tidak ada yang menyahut panggilannya. “Rina, buka pintunya Rina!” Hermawan tampak kesal sebab Rina tidak membukakan pintu untuknya. Dia pun akhirnya kembali menaiki motor dan meninggalkan rumah untuk mencari Rina. Menit berikutnya Hermawan sudah tiba di tempat kerja istrinya saat hendak masuk seseorang mencegahnya. “Aku mencari istriku, di mana dia?!” “Istri bapak? Bu Rina?” Satpam itu bertanya. “Iya, siapa lagi?” jawab Hermawan jumawa. “Maaf Pak, tapi hari ini Bu Rina tidak datang. Istri bapak tidak ada di dalam.” Jawab satpam itu dengan nada sedikit kesal. “Halah! Bohong kamu. Pasti dia ada di dalam dan kamu berusaha melindungi dia, kan?!” “Tidak Pak, sama sekali tidak. Saya berani bersumpah hari ini Bu Rina tidak diijinkan masuk kerja." “Jadi, di mana istriku?" “Mana saya tahu, Pak. Bapak kan suaminya, kenapa tanya sama saya." “Hah! Dasar tidak bisa diandalkan!” dengus Hermawan, lalu pergi melanjutkan perjalanan mencari Rina. “Kemana wanita itu, kenapa tidak ada di rumah dan tidak juga bekerja?” gerutu Hermawan sambil mengendarai motornya mengelilingi kompleks mencari istrinya. “Sudah di kasih uang, bukanya di rumah menunggu suami pulang, malah keluyuran!” sungut Hermawan. Tidak tahan dengan perutnya yang lapar, Hermawan akhirnya menghentikan motornya di rumah makan Mira, rumah makan padang langganannya. “Bang Hermawan, tumben pagi-pagi datang?” sambut Mira saat Hermawan menghentikan motor barunya di depan warung khas Minang itu. “Aku lapar, Mir. Buatkan aku sarapan!” titah Hermawan masuk kedalam warung Mira. “Oh, baiklah Bang, mau lauk apa?” tanya Mira dengan gayanya. “Biasa, lauk rendang. Banyakin kuahnya!” Hermawan duduk pada salah satu kursi di dekatnya. “Baiklah, Bang. Minumnya?” “Teh manis jangan terlalu manis.” Sembari menunggu Mira menyajikan makanan. Hermawan mengambil ponselnya dan menghubungi Kiara. Kali saja Kiara tahu keberadaan ibunya, tapi Kiara ada di sekolah sehingga tidak bisa langsung membalas pesan dari ayahnya. “Ini Bang, makanan dan teh manisnya. Kalo kurang manis, Abang bisa sambil lihat wajah aku, ya?” goda Mira. Wanita itu merangkul bahu Hermawan dan mengusap perlahan di sana, itulah yang biasa Mira lakukan pada pria-pria seperti Hermawan. Merayunya untuk memancing pria itu agar pria itu tergoda dengannya. “Jangan goda aku, Mir. Aku lagi ngga mood.” tolak Hermawan dengan nada dinginnya. “Kenapa?” tanya Mira duduk didepan Hermawan dan berpangku tangan menatap pria yang sedang menikmati makanannya. “Aku kesal, Rina tidak ada dirumah.” “Hanya itu? Kenapa mesti kesal, sekarang kamu ada disini ada aku yang bakalan manjain kamu.” rayu wanita itu. Hermawan melirik sekilas pada Mira, tetapi Hermawan sedang tidak berselera. Wanita berbaju seksi di depannya itu sudah sering menjadi pelampiasan nafsunya. Sehingga Hermawan merasa bosan, entah kenapa dia merasa sangat rindu pada Rina. “Aku sedang tidak berselera, Mir. Aku hanya sedang ingin istirahat di rumah, semalam aku bekerja sampai pagi.” “Wah, semakin banyak langganan kamu, ya Bang. Pantesan bisa langsung beli motor.” Cletuk Mira. Sejak tadi dia sangat tertarik dengan motor baru Hermawan. “Itu motor hadiah dari pelanggan setia aku.” “What?!” Mira membelalakkan matanya. “Siapa dia. Apa dia wanita kaya? Pasti wanita itu istri orang kaya dan suaminya sudah tua renta, ‘kan?” cecar Mira, wanita itu memang selalu memiliki pemikiran luas tentang pekerjaan Hermawan. “Ya kurang lebih seperti itu lah, Mir.” Jawab Hermawan tertawa.. Memang Hermawan memiliki pelanggan wanita yang kaya, punya banyak uang dan memiliki suami lemah syahwat dan tidak bisa memuaskan mereka, jadi tidak jarang Hermawan mendapat tips besar-besaran. “Tapi.. apa Rina sudah tahu pekerjaanmu?” "Cepat atau lambat pasti dia akan tahu." “Kalau dia minta cerai bagaimana" “Ya, aku nggak bakalan mau.” “Kenapa?!” Mira melotot, sedikit tidak percaya. Mira pikir Hermawan sudah tidak mencintai Rina. Sehingga pria itu menjual diri pada wanita-wanita kaya di luar sana. Bahkan Hermawan pernah mengatakan padanya, jika sudah tidak pernah memberikan nafkah batin pada Rina. “Karena aku masih membutuhkan dia.” Mira mengernyitkan dahi, mencerna perkataan Hermawan. Mira tidak mengerti maksud perkataan itu, tapi Mira tidak ingin cari tahu tentang itu. “Kenapa kamu selalu menyiksa Rina. Kasihan Dia, sudah setahun tidak pernah dinafkahi, selalu di siksa. Padahal dia masih peduli dan sayang sama kamu. Apa kamu tidak kasihan sama dia?” tanya Mira. Hermawan yang sedang mengunyah makanan itu berhenti sesaat dan menatap Mira. Tiba-tiba ada sebuah rasa yang sulit diartikan di hati Hermawan untuk Rina. Namun, Hermawan enggan menjawabnya dan tetap melanjutkan makannya. Mira sendiri hanya diam. Sesaat kemudian, ada pelanggan yang datang dan memanggil Mira untuk keperluannya. Mira pun meninggalkan Hermawan dan membiarkan pria itu berkelana dengan pikirannya. Setelah menghabiskan semua makanannya Hermawan kembali ke rumah dengan perut kenyang. Pria itu mempercepat langkahnya ketika melihat Rina yang baru saja pulang dan sedang membuka pintu rumah. "Rina, dari mana saja kamu?!" sarkas pria itu. Rina yang sedang membuka handle pintu itu mengalihkan pandangan pada sumbernya suara. Suaminya dan juga motor matic yang di tumpangi itu mencuri perhatian Rina. Tapi Rina tidak ingin tahu itu punya siapa dan dapat dari mana. “Dari mana saja kamu, kenapa kamu baru pulang. Aku mencari mu, sejak tadi?!” Hermawan mendekati Rina. “Aku dari rumah temanku.” “Kamu memang pandai menghabiskan uang yang aku berikan!” tuduh Hermawan. Rina menghela nafasnya kesal, rasanya lelah meladeni suaminya yang kasar dan menyebalkan. Rina jengah dan ingin menutup telinga setiap pria itu berbicara padanya. “Aku tidak menggunakan uang itu untuk apapun, Mas! Jika kamu mau ambil saja semua uang itu. Aku tidak membutuhkannya!” sergah Rina. Langsung berpaling dan hendak masuk ke dalam rumah, tetapi tiba-tiba Rina memekik kesakitan sebab rasa pedih tiba-tiba menjalar di kulit kepalanya. "A .... lepaskan aku, Mas!" Rina memegangi tangan suaminya yang mencengkram kuat di kepalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD