Nafkah Batin yang di Paksakan

1216 Words
Herman menarik rambut Rina, sehingga Rina kembali berbalik badan menghadap suaminya yang masih menjambak rambutnya. “Ada apa, apa kamu akan memarahiku, lagi?!” "Kamu belagu, Rina. Kenapa kamu bilang tidak butuh uangku, apa kamu sudah tidak membutuhkan aku?” Hermawan mendekat wajahnya pada Rina. “Ya! Aku memang tidak membutuhkan uang itu, uang haram yang hanya akan menjadi dosa bagiku dan juga anak-anakku!” jawab Rina terkesan jumawa. “Apa? Dosa?!” Hermawan menertawakan perkataan Rina. “Sok Suci kamu Rina!” hardiknya. Rina menggelengkan kepalanya heran, tidak habis pikir dengan tingkah suaminya yang semakin hari semakin gila. Uang berlimpah dan motor barunya, Rina yakin semua itu dia dapatkan dari pekerjaan haramnya dan Rina tidak ingin menikmati semua barang-barang yang dihasilkan dari cara yang benar itu. “Aku lelah, Mas. Aku jengah. Aku ingin kita pisah!” kelakar Rina menentang suaminya yang masih menatap tajam padanya. “Kamu ingin pisah denganku? Kamu ingin kita cerai?!” tegas Hermawan. “Tentu saja! Siapa yang sudi memiliki suami ringan tangan dan tidak berperasaan sepertimu, siapa yang sudi memiliki suami yang tubuhnya sudah di bagi dengan banyak wanita, siapa yang sudi dinafkahi dengan uang haram?! Siapa, mas? Siapa?!” Rina menarik nafas sejenak dan menajamkan pandangannya kemudian berkata, “Hanya wanita bodoh saja yang mau menerima semua itu!” sambung Rina. Seketika itu, Hermawan mendelik tajam pada Rina. Rina tersenyum meremehkan menentang suaminya, kali ini dia mendapatkan menentang suaminya setelah menemui Maria, temannya yang seorang psikiater. Rina sudah menceritakan semua permasalahannya sehingga Rina mendapati pencerahan dan kekuatan untuk keluar dari neraka yang suaminya ciptakan dalam rumah tangganya. “Sombong sekali! Apa kamu pikir dengan bercerai dariku, kamu akan bahagia?!" Hermawan hendak mencekal rahang Rina seperti biasa. Tetapi Rina langsung menampiknya dan mencekal pergelangan tangan suaminya. “Jangan sakiti aku lagi, Mas! Aku tidak akan diam jika kamu berani menyakiti aku, lagi!” Hermawan menatap tidak percaya pada Rina. Istrinya yang lemah itu sudah berani melawan dan menentangnya. Biasanya, wanita itu begitu pasrah saat di injak-injak olehnya. “Apa yang merasukimu? Kenapa kamu berani menentangku?!” bisik Hermawan. Rina tersenyum sinis dan membalas tatapan tajam pria yang berdiri persis di depannya itu. “Tidak ada yang merasukiku! Tapi kamu yang menyadarkan aku bahwa aku sudah tidak pantas menghormati dan menghargaimu sebagai suamiku!” Rina mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan langsung menunjukkan pada suaminya. "Sekarang lihat ini. Aku sudah mulai mengurus perceraian kita!” Hermawan mengambil kertas itu dan membaca isinya, itu adalah surat tuntutan cerai ke pengadilan agama. Rina sudah mengurus semuanya setelah kepergian Hermawan hari itu dan siang tadi di bantu oleh Maria prosesnya berjalan lancar, Rina tinggal menunggu jadwal sidang. “Tidak! Aku tidak akan bercerai denganmu!” Hermawan langsung melemparkan kertas itu dan mendorong tubuh Rina. Wajah Hermawan memerah, berubah menjadi bias bak singa kelaparan yang siap memangsa buronannya. Hermawan menyeret paksa Rina kedalam kamar, mengunci kamar itu dari dalam. Rina yang ketakutan berusaha memberontak, hendak pergi dari hadapan suaminya. Tapi dengan kasar Hermawan menghempaskan tubuh Rina ke atas ranjang. Rina meringis kesakitan dan memegangi pergelangan tangannya yang terasa pedih setelah di cengkraman dengan kasar. Hermawan yang sudah dikuasai amarah itu, tiba-tiba mulai melepaskan satu per kancing bajunya. Pria itu terlihat begitu menakutkan dan membuat Rina bergerak cepat bangkit dari posisinya. “Apa yang akan kamu lakukan?!" Rina mundur menjauh dari suaminya. “Apa lagi, Rina. Kamu sudah lama tidak mendapatkan nafkah batin, bukan? Karena itu kamu kecewa dan menuntut cerai?" pikir Hermawan. "Sekarang, aku akan memberikan nafkah batin yang seharusnya kamu dapatkan!” Hermawan maju selangkah menaiki ranjang dan mendekati Rina dengan tatapan menakutkan. “Tidak! Aku tidak butuh nafkah batin darimu! Aku tidak sudi lagi di sentuh olehmu. Tubuhmu kotor, sudah banyak wanita yang menjajal tubuhmu. Aku tidak sudi mendapat nafkah batin dari pria menjijikkan sepertimu!” hardik Rina, berusaha menolak. “Apa katamu, pria menjijikkan? Bagimu, aku ini menjijikkan?” Hermawan semakin kesal. Rahangnya saling bertautan, Hermawan mencengkeram tangan Rina dan menariknya agar mendekat. Rina memberontak, berteriak, melepaskan diri dari pria yang mengancamnya. Kekuatan tangan Rina tidak seberapa, sehingga Hermawan berhasil membuatnya tidak berdaya. Rina terus memberontak dan menolak mentah-mentah tubuh suaminya, tidak sudi mendapat nafkah batin dari pria yang sudah ternoda dan di nikmati banyak wanita. Bisa saja segala penyakit bersarang di tubuh suaminya dan bisa menular jika dirinya bersedia di gauli olehnya. Selama ini, Rina memang sedih karena tidak pernah mendapatkan nafkah batin dari suaminya. Rina merasa tidak dihargai, dan di campakkan. Rina juga merasa suaminya itu sudah tidak cinta lagi padanya. Tetapi setelah mengetahui pekerjaan kotor suaminya, lebih baik Rina tidak mendapatkan nafkah batin darinya. Tetapi sialnya, hari ini saat Rina ingin lepas dan mengakhiri hubungan dengan pria itu. Pria itu justru menanamkan benih di rahimnya secara paksa. Tanpa terasa lima belas menit telah berlalu, Rina sudah lemas di penuhi peluh di sekujur tubuh, hatinya menahan pedih dan kecewa. Sementara Hermawan tersenyum puas setelah melepaskan hasrat yang bercampur amarah di tubuh Rina. Sebenarnya wanita itu tidak rela di gagahi suaminya, tapi apa yang bisa Rina lakukan setelah semua pertahanannya sia-sia. Kini hanya sisa noda yang tertinggal di tubuhnya merasa begitu kecewa Rina terbaring lemah diatas ranjang yang sudah menjadi saksi bisu kekerasan suaminya. “Bagaimana, Rina? Apa kamu masih belum puas?” bisik Hermawan di telinga Rina yang menitihkan air mata. “Kamu keterlaluan!" Rina merasa ternoda oleh suaminya yang sudah menjajakan diri pada wanita-wanita kesepian. “Sekarang, kamu tahu, kenapa aku menjual diri pada wanita? Karena aku memang memiliki kemampuan lebih untuk memuaskan mereka. Seharusnya kamu bersyukur Rina, karena memiliki suami gagah perkasa seperti aku. Kamu rasakan sendiri 'kan, bukan hanya uang banyak yang kamu dapatkan tapi juga kepuasan ranjang yang memuaskan!" Hermawan tersenyum penuh kemenangan. Rina hanya diam dengan sisa-sisa kegagalannya sekarang. Sementara Hermawan bangkit dari posisinya dan mengenakan pakaiannya dengan cepat. Setelahnya meninggalkan tubuh Rina yang tergolek di ranjang tanpa penutup itu. Hermawan begitu puas dan merasa Rina telah kalah. Dia yakin setelah ini Rina tidak akan berbuat apa-apa dan akan menurut padanya. Dengan sebatang rokok yang di sulut di sepasang bibirnya. Hermawan keluar menuju teras rumah, melihat kedua anaknya yang baru saja pulang sekolah dan tengah memandanginya motor baru yang terparkir Hermawan tersenyum ramah dan langsung mendekatinya. “Hallo Kiara – Hallo Tasya. Bagaimana, apa kalian suka dengan motor baru Ayah?” tanya Pria itu pada kedua anaknya yang langsung mengalihkan pandangannya begitu mendengar suara sang ayah. Kiara dan Tasya saling berpandangan. Mereka pikir ada tamu yang sedang berkunjung ke rumahnya ternyata itu motor ayah mereka sendiri. “Iya, Ayah motornya bagus. Itu keluaran terbaru, kan?” jawab Kiara, terpaksa mencairkan suasana yang sempat tegang di antara mereka. “Begitulah, Sayang. Ini adalah motor hasil kerja keras Ayah.” Hermawan sedikit jumawa. Lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya dan memberikannya pada kedua anaknya. “Ini, motor ini ayah hadiahkan untuk kalian. Mulai sekarang kalian bisa pergi ke sekolahnya dengan motor ini.” Hermawan tersenyum pada kedua anaknya. Sementara kedua gadis itu tampak berbinar mendapatkan hadiah istimewa dari sang ayah, motor matic keluaran terbaru yang semua teman-temannya punya. Kiara sudah lama sangat menginginkannya. Begitu juga dengan Tasya, gadis itu sering kali dihina oleh teman-temannya karena tidak memiliki motor seperti mereka. Kiara dan Tasya ingin menerima kunci itu dari ayahnya, tapi keduanya langsung mengurungkan niatnya. “Kenapa Kiara?” Hermawan menatap anaknya yang tiba-tiba berubah ragu padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD