Misteri Kebaikan Ayah

1423 Words
Hermawan menatap anaknya yang tiba-tiba mengurungkan niatnya. Kemudian mengalihkan pandangan searah dengan Kiara dan Tasya yang menatap seseorang. Rupanya di balik kaca jendela, Rina tengah memperhatikan kedua anaknya. Rina menggelengkan kepala pada Kiara dan Tasya, sebagai perintah agar mereka tidak menerima motor pemberian sang ayah. Karena Rina yakin motor itu didapat dengan yang tidak benar dan Rina tidak ingin kedua anaknya menikmati uang haram. “Jadi, Kalian akan menolak pemberian Ayah?” tanya Hermawan, menatap kembali kedua anaknya. Kiara dan Tasya sama-sama diam menundukkan kepala dalam. Tidak ada yang berani bersuara, sebab jika sudah bersuara dan menolak, ayahnya pasti akan marah. Tapi menerima pemberian itu juga akan menyakiti hati ibunya “Kiara – Tasya, apa kalian tidak akan menerima pemberian Ayah?” belum mendapatkan jawaban dari sang anak, Hermawan kembali mengulangi pertanyaannya. Kiara menggelengkan kepalanya lemah, “Kami belum bisa mengendarai motor, Ayah. Jadi percuma jika kami memilikinya.” Setelah lama bungkam akhirnya Kiara memiliki alasan yang masuk akal. Begitu juga dengan Tasya yang mengangguk setuju dengan jawaban sang Kaka. “Hmm, tidak masalah sayang. Nanti ayah akan melatih kalian,” ujar Hermawan. Pria itu sedang berbaik hati sekarang, sehingga bersikap begitu manis kepada anak-anaknya. Entah apa yang membuat Hermawan tiba-tiba bersikap begitu lembut pada Kiara dan Tasya. Yang pasti hal itu justru membuat Rina penasaran dan curiga. Tapi kedua anaknya itu tidak bisa berbuat apa-apa. Kiara dan Tasya terpaksa menerima tawaran ayahnya, karena mereka tidak bisa membantah. Rina yang masih menguping itu menahan rasa cemas yang tiba-tiba menguasai hatinya. Rina ingin melerai anaknya, tapi dia sedang kalah saat ini. Setelah kedua anaknya itu berganti pakaian dan makan siang. Rina yang masih diselimuti kecemasan itu berusaha memberikan pengertian pada Kiara agar mereka berhati-hati pada ayah mereka. “Kenapa kalian menerima motor pemberian Ayah? Apa kalian lupa dengan perkataan Ibu?” tanya Rina pada kedua anaknya itu. Kiara dan Tasya yang hendak makan siang itu menggelengkan kepalanya, mereka tertunduk didepan ibunya yang menahan kecewa. “Kami tidak memiliki alasan untuk menolak, Bu. Jika kami mengatakan motor itu didapatkan dengan cara yang haram, kami takut ayah marah.” jawab Kiara. “Tasya, juga tidak mau dipukul ayah.” Sahut Tasya. Rina memejamkan mata sejenak, jawaban Kiara benar juga. Rasa kecewa dan cemas kembali menyelimuti hatinya. Rina juga merasa bersalah karena tidak bisa melindungi kedua anaknya. Kiara dan Tasya pun menjadi merasa bersalah pada ibunya, mereka tahu ibunya kecewa. Tapi apa yang bisa Kiara dan Tasya lakukan ketika ayahnya secara tidak langsung memaksa mereka. “Baiklah, tidak apa-apa. Asalkan kalian bisa menjaga diri kalian baik-baik. Motor itu jangan kalian akui sebagai milik kalian, mengerti?” Rina memberikan pengertian. Kedua gadis itu mengangguk mengerti. Setelah makan siang usai, Kiara pergi bersama Tasya dan juga ayahnya. Mereka berboncengan motor menuju lapangan, seperti yang Hermawan janjikan bahwa akan melatih Kiara dan Tasya. Setibanya di lapangan, Kiara memulai latihannya, sementara Tasya menunggu. Hermawan melatih Kiara dengan begitu telaten sehingga hanya beberapa putaran Kiara sudah mulai lancar mengendalikan motor itu sendiri. Setelahnya giliran Tasya, gadis itu berlatih dengan ayahnya. Pria yang beberapa hari terakhir ini sering kasar dan menyakiti ibunya, rupanya bisa bersikap lembut pada kedua anaknya. Kiara dan Tasya tidak mengerti dengan kepribadian sang ayah yang sering kali berubah-ubah itu. Tapi yang pasti kali ini Kiara dan Tasya merasa nyaman dengan kedekatan ayah mereka. Hingga setelah berjam-jam berlatih, Kiara dan Tasya akhirnya bisa mengendarai motor itu. Hermawan memuji kepandaian mereka, bahkan pria itu mengajak Kiara dan Tasya jalan-jalan sebagai hadiah karena mereka langsung pandai mengendarai motor. “Kalian memang anak Ayah yang pandai. Baru berlatih langsung lancar. Sekarang sebagai hadiah, Ayah akan mengajak kalian jalan-jalan!” seru Hermawan dengan wajah sumringah. Jauh berbeda dari yang sering mereka lihat saat dirumah. “Jalan-jalan kemana, Ayah?” tanya Tasya, gadis itu tampak bahagia. Berbeda dengan Kiara yang justru menjadi ragu. Tentu saja, karena dia masih ingat pesan ibunya untuk tidak pergi dengan ayah sampai jauh. Tapi karena ayah dan adiknya begitu bersemangat, Kiara pun tidak bisa menolak sehingga Kiara terpaksa mengikuti keinginan Ayahnya. Dengan mengendarai motornya itu Herman mengajak kedua anaknya pergi menuju Mall yang ada di daerah tersebut. Jaraknya tidak terlalu jauh sehingga tidak terlalu memakan waktu. Setibanya di tempat itu, Hermawan mengajak Kiara dan Tasya melihat-lihat apa saja yang mereka suka. “Wah ... Sepatu ini bagus sekali...” gumam Tasya, saat melihat sepatu sekolah bermerek di salah satu toko sepatu. “Kenapa Sayang, apa kamu suka? Jika iya, ambil saja. Ayah akan membayarnya,” ujar Hermawan dengan memberikan senyum tipisnya pada Tasya. “Benarkah, Ayah?!” Tasya tampak berbinar mendengar ucapan sang ayah. “Iya, Sayang benar, ambil saja.” Kata Hermawan lagi, pria itu mengusap kepala Tasya. Sementara Kiara masih berdiri, ragu dengan sikap ayahnya yang tiba-tiba baik itu. Dia sendiri masih mengingat pesan ibunya untuk berjaga-jaga dan tidak menerima apapun pemberian ayahnya. Tapi raut keraguan Kiara itu di sadari oleh Hermawan, sehingga Hermawan tampak sedikit kesal tapi masih bisa menahannya. “Kiara, kamu tidak membeli sesuatu yang kamu inginkan?” tanya Hermawan menyembunyikan rasa kesalnya pada Kiara. Kiara menggelengkan kepalanya, “Tidak ayah, Kiara masih punya sepatu. Toh, sebentar lagi Kiara lulus sekolah jadi Kiara rasa tidak perlu beli yang baru.” “Oh, begitu. Kalau sepeti itu kamu bisa memilih barang lain. Mungkin tas, baju, cosmetics atau ponsel? Pilih saja, ayah akan membayar semuanya.” Tukas Hermawan dengan senyum tipisnya. Kiara menggelengkan kepalanya, menolak. Tapi sang ayah justru memaksa, menarik tangan Kiara dan membawa gadis itu untuk melihat-lihat baju, tas dan beberapa aksesoris wanita yang cantik-cantik dan menggoda iman. Sehingga Kiara yang semula menolak itu, akhirnya mulai terpengaruh, terutama saat melihat kebaya modern yang terpasang di manekin. Kiara menginginkan kebaya itu, sebab beberapa minggu lagi Kiara akan ada acara perpisahan di sekolah, dan akan menggunakan kebaya. Kiara menatapnya dengan rasa kagum, juga pada sepatu yang berjajar di sampingnya. Kiara ingin memiliki salah satu diantara deretan sepatu cantik itu. “Bagaimana Kiara, apa kamu belum menemukan barang yang ingin kamu beli?” tanya Hermawan, mengejutkan Kiara yang sedang menatap sepatu bertumit tinggi impiannya. Diperlakukan semanis itu oleh Ayahnya, Kiara pun akhirnya luluh dan menjatuhkan pilihan pada salah satu sepatu juga kebaya modern untuk perpisahan disekolahnya. Kiara tidak bisa menolak keinginannya, karena dia sangat ingin memiliki kebaya itu. Teman-teman sekelasnya sudah memiliki kebaya, mereka sering memamerkannya. Kiara juga ingin seperti teman-temannya yang tampil cantik dan modis dihari wisudanya. Hingga setelah puas melihat-lihat dan memilih Hermawan membayar semua tagihan barang-barang itu. Baju, sepatu, tas, handphone dan beberapa aksesoris lainnya, semuanya mencapai total hampir sepuluh juta. Kiara dan Tasya tampak tidak percaya saat melihat ayahnya membayar semua tagihan itu hanya dengan satu kali gesekan, semua barang-barang itu resmi menjadi miliknya. “Uang Ayah, banyaknya sekali ya, kak? Bahkan ayah menggunakan kartu debit untuk membayarnya.” Bisik Tasya ditelinga sang Kaka. “Ya, begitulah. Seharusnya kita tidak percaya pada Ayah. Aku yakin setelah ini ibu pasti akan sangat kecewa.” Timpal Kiara. Tasya pun baru teringat akan pesan ibunya, untuk tidak menerima apapun pemberian ayahnya. Tapi rupanya imam Tasya dan Kiara tidak sekuat saat dia ada di samping ibunya, mereka sudah terpengaruh oleh ayahnya. “Jadi, bagaimana kalau nanti ibu marah bagaimana?” tanya Tasya. “Ibu kalian tidak akan marah. Ayah yang akan menjelaskan semuanya pada ibu kalian.” Sahut Hermawan tiba-tiba, rupanya pria itu mendengar pembicaraan kedua anaknya. Kiara dan Tasya pun terkejut, lalu menundukkan kepalanya dalam, takut ayahnya itu akan marah. Tapi rupanya dugaannya salah, Hermawan justru memberikan semua barang belanjaan itu dan mengajak kedua anaknya untuk makan di restoran. Tentu saja, itu adalah tawaran yang menggiurkan karena selama ini kedua gadis itu tidak pernah makan di restoran, maklum mereka tidak punya uang. Tidak seperti teman-teman mereka yang sering tongkrongan dan pamer makanan saat mereka jalan-jalan. Hingga akhirnya Hermawan memilih salah satu restoran ternama di Mall itu. Pria itu menyuruh Kiara dan Tasya untuk duduk dan memilih makanan yang mereka suka. Awalnya, Kiara merasa ragu. Tapi apa boleh buat imannya terlalu lemah sehingga tidak bisa menahannya. Dia pun akhirnya mengikuti sang ayah memilih makanan dan minuman. Begitu juga dengan Tasya, yang mulai tergoda dengan makanan mahal yang tidak pernah dirasakannya. Setelah memilih semua makanan itu, mereka menunggu. Tidak ada pembicaraan diantara mereka, sebab sang ayah sibuk dengan ponselnya. Tasya sendiri tampak fokus mengedarkan pandangan melihat-lihat suasana di Mall, yang baru pertama kali dikunjunginya. Hanya Kiara yang tidak bisa duduk dengan tenang dan merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan. Sesaat kemudian, ayahnya menghubungi seseorang dan tiba-tiba melambaikan tangannya pada seseorang di ujung sana. Melihat lambaian tangan Hermawan, orang itu berjalan dengan gegas mendekati Hermawan dan kedua anaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD