Kiara Sebagai Tebusan

1366 Words
"Om Rifan?” Kiara terkejut melihat Om Rifan yang mendekati mereka. Tanpa banyak bicara pria itu langsung duduk di samping Hermawan dan menyapa Kiara dan Tasya dengan gaya khasnya. “Hallo Kiara, Tasya. Apa kabar kalian?” tanyanya sedikit sopan. “Baik, Om.” jawab Kiara dan Tasya bersamaan. Sementara Hermawan tersenyum melihat cara Rifan mengakrabi kedua anaknya. Sebenarnya, Hermawan tahu jika kedua anaknya terutama Kiara merasa tidak nyaman saat Rifan ada di dekat mereka. Namun, pria itu pura-pura tidak peduli pada Kiara dan dia memilih sibuk dengan ponselnya. Rifan sendiri terlihat santai dan biasa saja, dengan gaya pria dewasa, Rifan menatap Kiara dan tersenyum padanya. Kiara merasa sangat tidak nyaman tentunya, mengingat selama ini Om Rifan sering sekali menggodaku saat pulang sekolah. Pernah beberapa kali mengajakku berkencan tapi Kiara menolak mentah-mentah. Selama ini Kiara berusaha menghindari Om Rifan, tapi kenapa ayahnya justru mendekatnya dengan pria yang membuatnya merasa sangat risih itu? “Mmm, Ayah. Kiara pergi ke toilet dulu, ya?” ujar Kiara pada sang ayah yang langsung mengalihkan pandangan kepadanya. “Iya, silahkan, Kiara. Kamu tahu di mana tempatnya?” Hermawan bersikap biasa saja. "Iya, Ayah, aku tahu.” jawab gadis itu. "Bagus, pergilah dan hati-hati." Kiara mengangguk mengerti dan bangkit dari duduknya denhan menarik tangan Tasya agar Tasya menemaninya. Tasya tidak menolak, mengikuti sang Kakak yang menarik tangannya. Kiara buru-buru menuju toilet menjauh dari ayahnya dan om Rifan yang terus memperhatikannya itu. Sebenarnya Kiara hanya ingin menghindari Om Rifan yang semakin menatap genit padanya. Dia merasa risih dan tidak tahan dengan pemandangannya matanya. “Tasya, apa kamu tidak merasa risih dengan om Rifan? Dia terus memandangi kita dan bersikap sangat menyebalkan!” ujar Kiara saat mereka sudah ada di toilet wanita. “Ya, kak. Aku juga merasakannya. Om Rifan seperti menyukai kita, tapi aku malah jijik lihatnya.” timpal Tasya. “Jadi, sekarang kita harus bagaimana. Kamu tahu, 'kan selama ini Om Rifan sering menggoda kita saat kita pulang sekolah. Aku takut pria itu semakin kurang ajar sama kita." tukas Kiara dengan resah. "Atau Kita pergi saja, pulang lebih dulu dan meninggalkan Ayah!" usul Kiara. Namun Tasya menggelengkan kepalanya cepat, tidak setuju dengan saran sang kaka. “Itu bukan usul yang bagus kak. Nanti ayah bisa marah dan menghukum kita.” Tasya ada benarnya, mengingat ayahnya itu pemarah dan mungkin saja akan menghukum mereka jika mereka pergi tanpa izin sang ayah. “Jadi kita harus bagaimana, apa kita harus kembali ke ayah?" Kiara merasa ragu. Begitu juga dengan Tasya, tetapi kedua gadis itu sudah tidak mempunyai pilihan sehingga mau tidak mau mereka harus kembali pada ayah mereka. "Kita bersikap biasa saja, kak. Tapi kita juga harus berjaga-jaga, jika om Rifan menggoda kita seperti waktu itu." usul Tasya. Kiara pun setuju. Mereka sepakat untuk tidak terlalu dekat dengan pria yang sudah berusia seumuran dengan ayahnya itu. Tidak ingin membuat ayahnya menunggu terlalu lama dan mencarinya, kedua gadis itu akhirnya kembali ke pada ayahnya. Terlihat dari kejauhan, sang ayah sedang serius berbincang dengan Rifan dan entah apa yang mereka bicarakan, tapi saat Kiara dan Tasya sampai mereka langsung menghentikan obrolan. “Kiara–Tasya. Ayo duduk lagi dan nikmati makanan kalian. Setelah ini kita bisa pulang,” ujar Hermawan, saat Kiara dan Tasya sudah kembali. Kiara menatap semua makanan dan minuman yang ada di depannya. Makanan ala restoran yang langsung menggugah selera, rasanya sangat sayang jika semua makanan itu dilewatkan begitu saja. Tanpa basa-basi lagi kedua gadis berparas ayu itu langsung menyeruput minuman mereka. Minuman coklat dengan es krim dan beberapa toping yang belum pernah Kiara rasakan sebelumnya. Kiara sering melihat teman-temannya pamer minuman seperti itu di media sosial. Selama ini, mereka hanya menjadi bahan ledekan teman-temannya karena tidak pernah merasakan nikmatnya minuman seperti itu. “Bagaimana Kiara, apa minumannya enak?” tanya om Rifan menatap Kiara yang menghabiskan satu gelas minumannya. Kiara yang sedang mengelap bibirnya dengan tisu itu menganggur mengiyakannya, “Iya, Om. Ini enak sekali. Aku sangat suka.” jawab Kiara ramah. “Kita jarang sekali ya, Kak. Minum minuman seperti ini?” Timpal Tasya mengalihkan pandangannya pada Kiara, yang langsung mengangguk mengiyakannya. Om Rifan pun tersenyum mendengarnya begitu juga Hermawan. Pria itu terus memperhatikan kedua anaknya, yang larut dalam kebahagiaan yang belum pernah didapatkan dari ibunya. Diam-diam Hermawan merekam kebersamaan mereka dan mengirimkannya pada Rina. Berharap Rina akan merasa sakit hati melihat kedua anaknya mulai luluh dengannya. Hermawan tersenyum penuh kemenangan, membayangkan reaksi Rina setelah melihat rekamannya itu. Dia yakin Rina akan sangat kecewa pada Kiara dan Tasya. Di posisinya, tiba-tiba Kiara teringat pada ibunya. Saat Kiara ingin bicara dan mengalihkan pandangannya pada sang ayah, tiba-tiba tengkuknya terasa berat. Kiara berulang kali mengerjapkan matanya, tetapi hal itu tidak berpengaruh justru pandangannya semakin pudar. “Kakak. Kakak kenapa?” tanya Tasya yang menyadari gelagat aneh sang Kaka. “Kepala Kaka pusing, Tasya.” Kiara memegangi kepalanya. Tasya menatap bingung pada sang Kaka. Sementara Hermawan yang menyadari reaksi Kiara segera menghampirinya dan merangkul bahunya. “Kiara, kamu tidak apa-apa? Apa kamu ingin pulang?" Kiara yang semakin merasa pusing itu mengangguk mengiyakan. Kiara ingin cepat-cepat pulang karena kepalanya semakin terasa berat dan mual. “Baiklah, sekarang kamu pulang dengan Om Rifan. Ayah tidak mungkin membawamu pulang dengan motor saat kamu seperti ini. Nanti kamu bisa jatuh.” Hermawan menyarankan. Rifan sendiri tidak keberatan, pria itu tersenyum mengiyakannya. Tentu saja, dengan senang hati mengantarkan Kiara pulang. Pria itu segera bangkit dari duduknya dan membantu Kiara yang masih memegang kepalanya. Kiara sendiri tidak bisa menolak karena sudah tidak tahan ingin cepat-cepat pulang dan merebahkan tubuhnya. Sementara Tasya yang khawatir hanya menatap sang Kaka dengan cemas. Di hanya memandangi sang Kaka yang berlalu dengan om Rifan dari pandangannya. “Ayah, Tasya akan ikut dengan Kaka, ya. Tasya takut kak Kiara kenapa-kenapa.” “Tidak usah, Sayang. Kakakmu akan baik-baik saja. Om Rifan bisa diandalkan dia akan mengantar kakakmu pulang nanti.” Jawab Hermawan dengan senyum tipisnya. Tasya sendiri merasa cemas dan mengkhawatirkan kakaknya. Baru saja mereka bersepakat untuk berhati-hati pada Om Rifan tapi Kiara yang justru pergi dengan pria itu dalam keadaan setengah sadar. Tasya takut Om Rifan mencelakai Kakaknya karena itu Tasya ingin ikut dengannya. Tapi apa yang bisa Tasya lakukan saat ayahnya tidak mengijinkannya. Hingga akhirnya setelah Kiara dan Om Rifan menghilang dari pandangannya. Tasya mengikuti permintaan ayahnya untuk menikmati makanan ringan yang ada didepannya. Tasya mengiyakannya, tentu saja kali rasa rasanya berbeda tidak senikmat sebelumnya. Bagaimana akan terasa nikmat, saat hati Tasya mencemaskan kakaknya yang sudah menghilangkan entah kemana. “Kenapa Tasya?” Hermawan menyadari raut wajah Tasya. “Tasya ingin pulang, Ayah. Tasya ingin memastikan jika kak Kiara sudah sampai di rumah.” “Oh, baiklah. Ayo, sekarang kita pulang.” Hermawan segera bangkit dari duduknya. Begitu juga dengan Tasya yang meninggalkan makanannya. Dia tidak lagi berselera menikmati semua itu karena terlalu mencemaskan kakaknya. Sementara Hermawan terlihat biasa saja, pria itu berjalan dengan tertunduk menatap layar ponselnya. Tasya berjalan dengan menenteng barang belanjaannya dan berkali-kali mengedarkan pandangannya mencari sang Kakak. Tapi Tasya tidak menemukan sang Kakak Hingga setibanya di rumah, Tasya langsung turun dari motor sang ayah dan membawa masuk semua barang-barang belanjaannya. Sementara Rina yang sejak tadi cemas menunggu kepulangan kedua anaknya langsung membukakan pintu dan menghampiri Tasya. Rina mengedarkan pandangannya mencari Kiara yang tidak terlihat. “Tasya, di mana kakak kamu? Kenapa kamu pulang sendirian?” Tasya terperangah mendengar pertanyaan ibunya, “Jadi Kaka belum pulang?” “Belum, di mana dia, dan apa semua ini?” Rina mengalihkan pandangan pada barang-barang mahal yang dibawa Tasya. "Kenapa kamu belanja sebanyak ini?” “Itu adalah hadiah dari Rifan!” jawab Hermawan dengan dingin dan datar. "Dari Rifan? Apa maksudnya? Rina tampak bingung sekarang. Tasya terdiam, "Bukankah semuanya barang ini Ayah yang membelikannya, tapi kenapa Ayah mengatakan itu hadiah dari Om Rifan?" batin Tasya mulai gelisah. “Kenapa Rifan memberikan begitu banyak hadiah?” cecar Rina, sorot matanya berkaca -kaca, tentu saja wanita itu mencemaskan anaknya. “Kedua anakmu ini, menginginkan semua barang itu. Jadi aku membelikannya dengan meminjam uang Rifan. Totalnya sepuluh juta untuk tagihan belanjaan mereka, termasuk makanan yang mereka pesan di sana. Dan untuk bayarannya Kiara harus ikut dengan Rifan dan berkencan dengannya.” jawab Hermawan dengan senyum misteriusnya. “Apa?” Rina memegangi dadanya yang terasa sesak tiba-tiba.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD