Kiara Memuaskan Rifan!

1164 Words
Rina memegangi dadanya, matanya tampak berkaca-kaca dengan suaranya yang bergetar Rina mengumpulkan kekuatan untuk menghardik suaminya. "Kenapa kamu menyerahkan Kiara pada p****************g seperti Rifan?! Apa kamu tidak takut terjadi sesuatu yang buruk pada anak kita?!" pekik Rina, dalam satu tarikan nafasnya. Tapi Hermawan, si pria berhati batu itu hanya menyunggingkan senyum liciknya. Sama sekali tidak peduli pada perasaan istri dan keselamatan anaknya. Sikap masa bodoh yang di miliki Hermawan membuatnya tidak pantas di panggil ayah, sebenarnya. Rina sendiri menahan geram, melihat reaksi suaminya. Ingin amarah namun hanya air mata yang keluar melalui dua celah bola matanya. Rina tidak sanggup lagi menahan kesedihannya. “Jadi, sekarang di mana Kiara? Kemana Rifan membawanya?!" sarkas Rina menuntut jawaban. “Kiara sedang memuaskan Rifan!” ujar Hermawan kemudian. "Apa?!" Rina syok, tertegun tidak percaya, tubuhnya bergetar menahan kesal, kakinya terasa begitu lemas dengan pengakuan yang cukup menyakitkan bagi seorang ibu. "Apa maksud ucapanmu, itu Hermawan?! Apa maksudnya Kiara memuaskan Rifan?!" Rina tidak bisa mengontrol emosinya sekarang. Namun, Hermawan sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Pria itu hanya mengibarkan senyum kemenangan seolah pria itu begitu puas membuat Rina dan Kiara hancur dengan sendirinya. "Pria keterlaluan, kau, Mas! Keterlaluan!" pekik Rina dengan memukul d**a suaminya. "Jangan salahkan aku, Rina. Semua itu Kiara yang menginginkannya!" jawab Hermawan menyunggingkan senyum smriknya. Tanpa memberikan banyak penjelasan, Hermawan meninggalkan Rina yang menangis tersedu-sedu di hadapannya. Hati Rina sangat hancur jika Kiara benar-benar menjadi pemuas nafsu Rifan. Rina hanya menangis di posisinya tanpa menghiraukan lagi suaminya yang sudah menghilang dari pandangannya. Sementara Tasya, syok mendengar ucapan ayahnya. Gadis itu menjatuhkan barang-barang yang ada di genggamannya. Barang belanjaan yang totalnya sampai sepuluh juta itu tergolek di lantai. “Jadi, semua barang-barang ini dari Om Rifan. Dia yang membayarnya?" lirih Tasya sangat kecewa. Rina sendiri hanya bisa terisak menangisi kecerobohan anaknya. Wanita itu tidak bisa membayangkan bagaimana saat ini anak pertamanya diperlakukan oleh Rifan. Di mana keberadaan Kiara dan bagaimana Kiara menghadapi Rifan yang menakutkan. Hancur hati Rina, jika sampai putri pertamanya itu diperlukan dengan semena-mena apalagi sampai kehilangan kesuciannya. “Kenapa kalian harus percaya dengan ucapan ayah kalian. Bukankah, Ibu sudah memperingatkan pada kalian, agar tidak mudah terpengaruh oleh ayah?” bentak Rina, setelah lama diam. Tasya menangis tertunduk di belakang Ibunya. Dia merasa sangat menyesal dan bersalah pada ibunya. “Maafkan Tasya, Bu. Tasya tidak tahu jika ini yang akan terjadi. Tasya benar-benar tidak tahu jika ayah akan berbuat seperti ini. Benar kata Ibu, ayah sangat berbahaya dan tidak bisa dipercaya. Maafkan Tasya, sudah terpengaruh dengan iming-iming ayah.” Tasya memeluk ibunya yang menangis di lantai itu. Rina tidak dapat berkata-kata hanya tangisnya yang semakin pecah. Kecemasan terhadap anaknya akhirnya terjadi juga, sejak awal Rina sudah curiga dengan sikap suaminya yang tiba-tiba berubah baik kepada kedua anaknya. Padahal sebelumnya pria itu sama sekali tidak peduli pada mereka, kini terjawab sudah semuanya. Hermawan sudah mengatur rencana untuk menjebak Kiara. Mengimingi mereka dengan barang-barang mewah dan mahal yang mereka inginkan. Namun, pada akhirnya menjebloskan Kiara dalam pekerjaan haram yang sudah menjadi lapangan pekerjaan Hermawan. “Jadi sekarang di mana, Kiara. Kemana Om Rifan membawanya?” tanya Rina, pada Tasya yang masih memeluknya. Tasya menggelengkan kepalanya lemah, dia sendiri tidak tahu kemana kakaknya itu dibawa pergi. “Om Rifan, membawanya dengan mobil dan kak Kiara dalam keadaan setengah sadar karena kepalanya pusing, Bu.” terang Tasya. “Apa?" “Sebelumnya Kami makan es krim setelah itu kak Kiara mengeluh pusing, dan ayah menyuruh Om Rifan mengantarkannya pulang.” Mendengar penjelasan Tasya, Rina semakin cemas. Dia yakin Rifan membawanya ke suatu tempat yang sering digunakan untuk melakukan tindakan terlarang, seperti hotel atau penginapan. Dengan cepat Rina mengambilkan ponsel dalam tas dan menghubungi Maria. Rina bermaksud meminta bantuan pada Maria untuk mencarikan Kiara. Beruntung Maria berbaik hati dan mau menolongnya, setidaknya itu membuat Rina merasa sedikit lega. Meskipun sudah meminta bantuan Rina tidak hanya berdiam diri di rumah. Dengan cepat Rina menyambar tas kecilnya, bergegas meninggalkan rumah untuk mencari keberadaan Kiara. Rina mencari ke setiap hotel untuk memastikan keberadaan anaknya. Tapi sayangnya usaha Rina sia-sia. Sampai malam menjelang, Rina tidak menemukan keberadaan Kiara, bahkan Rina juga sudah meminta nomor Rifan dan berusaha melacak nomor itu tapi sayangnya Rifan mematikan ponselnya. “Dimana kamu Kiara?” Tidak membuahkan hasil Rina kembali ke rumahnya. Perasaannya begitu kecewa dan cemas, firasat buruk menghantuinya, takut Kiara sudah menjadi b***k nafsu Rifan dan teman-temannya. Merasa putus asa, Rina menangis di kursi ruang tamu, menunggu jawaban dari Maria yang sedang membantunya mencari Kiara. Sementara Tasya, memilih berdiam diri di kamar. Gadis itu sangat sedih dan menyesali keputusannya menurut pada sang ayah. Sejak pulang dari restoran tadi Tasya tidak berhenti menangis, dia menyalahkan diri sendiri. Di tatapnya barang-barang yang dibelikan ayah itu, dengan tatapan kebencian. Tas, sepatu, kebaya milik Kiara dan semuanya yang Tasya dapatkan, dilempar ke dinding dengan sangat kasar sebagai bentuk kekesalannya. Tasya menginjak-injak barang-barang itu dengan terus mengumpat ayahnya. “Ayah keterlaluan! Ayah keterlaluan!” teriak Tasya, suaranya bersahutan dengan barang-barang yang dia lempar dengan kasar. Mendengar teriak Tasya. Rina terkejut dan langsung bangkit dari duduknya, berlari menuju kamar Tasya untuk memeriksa keadaan anak keduanya itu. “Astaga, Tasya, ada apa. Kenapa kamu melempar semua barang-barang ini?” Rina langsung mendekap Tasya dan menghentikan gadis itu dari aksinya. “Tasya menyesal, Bu. Tasya menyesal! Tidak seharusnya Tasya mengambil semua barang-barang ini!" tangis Tasya langsung menjatuhkan tubuhnya pada sang ibu. “Sudah, Sayang. Sudah, kamu tidak perlu seperti ini, semuanya sudah terjadi dan kita tidak bisa menyalahkan keadaan.Ayahmu saja yang terlalu keterlaluan tidak bisa melindungi anak-anaknya. Dia terlalu serakah dan tidak berperasaan sehingga anaknya sendiri dijebak seperti ini.” Rina mengusap wajah Tasya agar gadis itu tidak terlalu bersedih. “Jadi sekarang kita harus bagaimana, Bu? Aku takut kak Kiara tidak kembali ...” lirih Tasya di sela-sela tangisannya. “Kakakmu pasti akan pulang. Dia akan baik-baik saja.” Rina menyakinkan Tasya , yang sebenarnya dia sendiri tidak yakin jika Kiara akan pulang dengan keadaan baik-baik saja. Disaat yang bersamaan tiba-tiba terdengar sebuah mobil berhenti di depan rumah. Rina langsung melepaskan pelukannya pada Tasya dan segera melihat dari jendela siapa yang datang. Betapa berharapnya hati Rina, ketika mendapat mobil Maria, yang berhenti didepan rumahnya. Rina buru-buru keluar dari kamar anaknya dan menyambut Maria, berharap sahabat baiknya itu pulang bersama Kiara. "Maria, di mana Kiara? Apa kamu menemukannya?!" Rina sangat tidak sabar saat sudah berdiri di depan Maria yang baru saja turun dari mobilnya. "Iya, Rina. Kiara ada didalam." Maria langsung membukakan pintu mobil untuk Rina. "Kiara?! Rina langsung memeluk anaknya itu. Begitu juga Kiara yang langsung terisak melihat ibunya. Gadis itu terlihat lusuh dan berantakan membuat Rina semakin cemas. "Kiara kamu baik-baik saja? Kiara hanya diam, dan tidak sanggup berkata-kata. Gadis itu hanya menangis sesenggukan di pelukan ibunya. Mungkin rasa takut dan trauma masih menghantui pikirannya. Buru-buru Rina membawa Kiara kedalam rumah, memeriksa dan memastikan keadaannya. Berharap anak pertamanya itu baik-baik saja. Namun, melihat Kiara yang hanya terisak di pelukannya membuat Rina merasa takut sesuatu yang buruk memang sudah terjadi pada Kiara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD