"Cukup...! Kau sudah terlalu banyak mengetahui tentang kebenaran ini. Sekarang kau harus menyusul saudaraku Edo!" teriak Edi yang akhirnya menunjukkan dirinya.
Ryu menghindari pukulan dari Edi dan Ariel berusaha menahan pukulan Edi dengan tangannya. Edi merasa bingung siapa yang saat ini sedang menahan pukulannya barusan.
"Aku benci dengan kesmpurnaan saudaraku itu. Dia itu tidak menyayangiku, dialah akar dari semua permasalahan ini!" teriak Edi yang terus saja menhantamkan pukulannya kepada Ryu.
"Kau salah Edi. Saudara mu Edo sangat menyayangi mu. Kau tidak tau kalau saudara mu itu sangat merasa bersalah akan kecelakaan waktu itu!" Ryu terus saja menyakinkan Edi.
"Tidak...! Edo tidak perduli kepada ku!"
"Tidak! Dia sangat memperdulikan mu. Kau tau mengapa uang dalam rekening mu setiap bulannya bertambah? Edolah yang selalu mengirimkannya" ujar Ryu.
"Apa yang kau katakan? Kau tidak usah berusaha membuat hatiku luluh!" sahut di menanggapi perkataan Ryu barusan.
Ryu terus menyadarkan Edi agar Edi berhenti dari kejahatannya, "Edo bahkan mengatakan kepada Ratna untuk memunda pernikahan mereka. Edo berharap agar kau mendapatkan pasangan terlebih dahulu. Edo bahkan rela menghadapi beberapa preman yang pernah menggangumu dan berpura-pura seolah dirinya adalah dirimu!" ujar Ryu menceritakan semua hal yang telah Edo lakukan untuk Edi selama ini.
"Diam...!! aku tidak percaya akan kata-katamu barusan!!" teriak Edi menyanggah
"Kau boleh saja tidak percaya. Tetapi yang ku katakan itu semua benar!" ucap Ryu lagi.
Semuw tertuang dari apa yang Ryu ketahui dalam penghlihatannya saat Ryu menjamah tangan Edo ketika roh Edo menjumpai Ryu.
Edi bergeming dan tidak sanggup lagi menyangkal dan mengabaikan apa yang Ryu katakan semua barusan.
"Semua itu benar Edi. Dia sangat menyayangi mu. Sebelumnya Edo telah meminta kepada manager personalia agar memberikan penghargaan itu kepada mu. Bukan kepada dirinya." ucap Ryu lagi.
Edi tertunduk dan terduduk sambil menangis lalu menutup telinganya, "Mengapa dia melakukan itu?! Padahal aku sangat membencinya...!!" teriak Edi sambil menangis.
"Edi...! saat ini Edo sedang menunggumu. Edo menantikan kata maaf darinya unuk kau terima!" jelas Ryu.
"Apa!! Kau bertemu dengan Edo?" tanya Edi terkejut.
"Iya. Edo saat ini tidak dapat pergi sebelum kau mau memaafkan dirinya atas kecelakaan waktu itu."
"Mengapa...! mengapa Edo tidak membenci ku. Setelah apa yang aku perbuat kepadanya!" isak Edi menyesali.
"Karena hanya kaulah saudaranya yang dia punya. Dia sangat menyayangi mu" sahut Ryu.
Ryu memberi isyarat perintah kepada Ariel untuk menghilang sementara. Agar roh Edo dapat menemui Edi saudara kembarnya.
"Edo...kau bisa hadir disini!" teriak Ryu mengundang roh Edo kembarannya Edi.
"Apakah dia akan datang?" tanya Edi
"Edo...! Aku minta maaf dapatkah aku bertemu dengan mu sekali saja!" Pinta Edi berharap Edo mau menemuinya.
Seketika Edo menampakkan dirinya dihadapan Ryu dan Edi.
"Edi...! maafkan aku yang sudah merenggut masa depan mu." ucap roh Edo setengah menangis.
"Kau tidak bersalah Edo. Ryu benar, semua yang terjadi kepada ku dulu adalah kecelakaan bukan kesalahan mu. Justru akulah yang bersalah telah membunuh mu" jawab Edi memeluk Edo.
"Kau tidak perlu meminta maaf Edi. Aku senang akhirnya kau mau memaafkan aku. Tolong jaga kekasih ku Ratna dan cintailah dia seperti aku mencintainya" pinta roh Edo kepada Edi.
"Apa!! Kau memberikan Ratna kepada ku? Aku tidak yakin dia mau menerima ku?" ucap Edi.
"Dia akan menerima mu. Aku sudah memintanya kepada Ratna melalui mimpinya dan dia menyetujuinya. Aku sudah menemuinya. Sekarang aku bisa pergi dengan tenang" ujar Edo sambil tersenyum.
"Sekali lagi...maafkan aku Edo! Aku juga menyayangi mu. Hanya saja rasa iri dan kebencian selalu menghasudku. Maafkan aku Edo!" tutur Edi sambil menangis.
"Aku pergi. Jaga dirimu Edi dan tetaplah selalu bahagia"
Edo terus melambaikan tangannya sampai dirinya menghilang dan kembali kedunia bawah dan alam keabadian. Sementara Edi terus menangis sedih dan menyesali perbuatannya.
"Sudahlah Edi. Sekarang saudaramu Edo sudah tenang dan bahagia." tegur Ryu dengan menepuk-nepuk pundak Edi.
"Besok aku akan menemui Ratna. Setelah itu aku akan menyerahkan diriku kepada polisi. Aku tidak akan merasakan tenang sebelum menebus semua kesalahan ku Ryu!" sahut Edi penuh penyesalan.
"Syukurlah kau akhirnya mau menyerahkan diri. Setiap perbuatan jahat yang kita lakukan haruslah kita pertanggung jawabkan akibatnya" jelas Ryu.
"Aku juga minta maaf kepada mu Ryu. Tadi aku hampir saja melukai mu"
"Aku maafkan. Niat itu muncul karena rasa ketakutan mu sendiri akan kejahatan yang kau perbuat. Aku bangga kepada keberanian mu yang mau mengakui kesalahanmu."
"Maukah kau menemani ku menemui Ratna dan membantuku menjelaskan kepadanya?".pinta Edi kepada Ryu.
"Baiklah. Besok aku akan membantumu" jawab Ryu.
Ryu akhirnya kembali pulang kerumah. Ryu merasa lega sebab Edi telah mengakui perbuatannya. Ryu tidak mengira kalau buku yang Edo pinjamkan kepadanya merupakan suatu petunjuk baginya untuk mengetahui penyebab terbunuhnya Edo.
Ryu menjalankan motornya dengan kecepatan sedang dan lagi-lagi Ariel muncul dibelakang Ryu.
"Ariel kau bisa-bisa menyebabkan aku kecelakaan lagi. Kau selalu saja datang dengan mengejutkan" omel Ryu kepada Ariel.
"Kau tenang saja Ryu. Selama aku bersama mu. Dimensi maut yang akan menyerang mu tidak akan bisa menghampiri. Kita berdua sudah digariskan berhubungan saling tarik menarik" ucap Ryu setengah tertawa.
"Terserah apa kata mu. Yang jelas bisa tidak, jika kau datang tidak dengan mengejutkan aku yang sedang mengendarai motor" pinta Ryu.
"Iya...aku tidak akan mengulangi hal tadi." sahut Ariel sambil menyeringai
"Ya sudah...aku maafkan!" jawab Ryu
Ariel tiba-tiba memeluk Ryu, "Ryu...apakah kau menyayangi aku. Seperti Edo menyayangi Edi?" tanya Ariel dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ariel...kau itu sebenarnya sudah berumur 48 tahun tidak seharusnya kau bersikap seperti anak kecil begini" ucap Ryu yang merasa Ariel sangat kekanak-kanakan.
"Iya deh...aku memang terlalu berlebihan. Tetapi yang pasti aku menyanyangi mu Ryu" Sahut Ariel sambil memeluk Ryu dari belakang.
"Terimakasih. Aku juga menyayangi mu, kau kan sahabat ku?"
"Apakah kau akan menyayangi ku melebihi Nayara kekasih mu itu?" tanya Ariel penasaran.
"Hei...apakah saat ini kau sedang cemburu dengan kekasih ku?"
"Tidak! Aku hanya bertanya saja. Sudahlah jangan kita bahas lagi!" Ariel cemberut.
"Kau sangat aneh hari ini Ariel?" tanya Ryu heran.
"Sudahlah...kau fokus saja mengendarainya" ujar Ariel.
Ryu merasa pertanyaan Ariel barusan seolah akan terjadi dalam kehidupannya suatu saat nanti. Dimana Ryu harus memilih diantara keduanya.
***
Tiga hari berlalu dan Edi sudah menyerahkan diri kepada polisi. Hukuman yang jalani Edi didalam penjara tidak terlalu berat. Karena pengadilan menilai kalau kematian Edo tidak seratus persen pembunuhan. Melainkan karena kecelakaan akibat kelalaian. Meskipun Edi sudah mengatakan kalau dirinya dengan sengaja tidak menolong Edo saat akan terjatuh. Edo terpeleset dan kepalanya membentur lantai lalu sebuah kayu balok jatuh menimpanya dan Edo mengeluarkan banyak darah. Namun Edi hanya mendiamkannya dan sengaja tidak menolongnya sehingga Edo meninggal saat itu juga. Edi berpura-pura seolah tidak mengetahui kematian Edo dan meletakkan kaca matanya pada mayat Edo. Sehingga siapapun yang melihatnya pasti mengira yang terkapar adalah Edi bukan Edo.
Edi lalu setiap harinya bersikap seolah seperti Edo. Bahkan kekasih Edo yaitu Ratna juga mengira kalau dirinya Adalah Edo bukan Edi. Namun seberapa lama pun kebohongan disembunyikan tetap akan ketahuan kebwnarannya.
***
Ryu hampir saja terlambat menjemput Nayara kekasihnya dari sanggar tari. Kegiatan Nayara disaat hari sabtu adalah kursus menari balet, "Aku pasti akan dicemberuti Nay. Aku sudah terlambat beberapa menit" Ryu terus berkata sendiri sambil memacu laju motornya.
Ryu tiba didepan gedung sanggar tari dan bertanya kepada penjaga disana. Ryu memperhatikan kalau sanggar tarinya terlihat sepi.
"Maaf pak penjaga. Apakah yang kursus menari hari ini sudah pulang?" tanya Ryu sopan.
Penjaga itu menyipitkan matanya hendak memastikan penglihatannya, "Mas nya mencari siapa? Sebagian sudah pulang. Tetapi masih ada beberapa orang yang latihan di ruang F" ucap bapak penjaga itu.
"Saya mencari pacar saya yang bernama Nayara." ucap Ryu.
"Oh...mbak Nay belum pulang. Coba mas temui diruang F!" jawab Penjaga itu.
Ryu akhirnya masuk kedalam gedung dan mencari ruangan F tempat dimana Nayara masih menjalani latihan menari.
"Ruang F. Ini ruang D terus E dan ini dia F! Kenapa pintunya tertutup? Sepertinya tidak ada orang" ucap Ryu mencoba mendekati ruangan tersebut.
Saat Ryu hendak memegang gagang pintu ruangan itu untuk membukanya. Tiba-tiba pintu ruangan E terbuka, "Sayang...! Aku diruangan ini. Ruangan yang kau tuju itu kosong" ucap Nayara setengah berteriak.
Ryu segera menghampiri Nayara dan meninggalkan ruang F tersebut, "Tadi pak penjaga mengatakan ruang F. Aku juga berpikir kenapa sepi sekali ruangannya"
"Pasti pak penjaga tidak membawa kaca matanya lagi. Aku menuliskannya ruang E bukan F. Pak penjaga matanya agak sedikit buram." jelas Nayara
"Pantas saja dia salah memberitahukan hurufnya. Ayo...sayang kamu sudah selesaikan latihannya?" tanya Ryu kepada Nay.
"Sebentar aku ambil tas ku dulu dan berpamitan kepada teman-teman dan guru menari ku!" Nayara segera bergegas masuk.
"Ya sudah aku tunggu diparkiran yah!" sahut Ryu.
Ryu segera menuju ketempat parkir motornya. dan tidak lama Nayara menyusul Ryu dan Ryu mulai melajukan motornya.
"Sayang! kenapa kamu tadi terlambat?" tanya Nayara.
"Maaf yah. Tadi itu aku ketiduran!" jawab Ryu menyeringai.
"Hmm...aku juga sempat berpikir begitu. Makanya aku ikut latihan saja bersama guru dan beberapa teman lain. Mereka akan mengikuti kompetisi menari nasional"
"Wah...keren sekali. Apakah kamu juga ikut, Sayang?" tanya Ryu kepada Nayara.
"Tidak. Aku masih belum mahir menari baletnya. Tetapi saat ini guru tarinya sedang mencari penari solonya. Untuk menggantikan penari lamanya" sahut Nayara.
"Lho...memang penari lamanya kemana?" tanya Ryu penasaran.
"Dia baru saja meninggal dunia dua bulan yang lalu. Terjatuh dari gedung sanggar tari karena penyangga panggung tempat latihannya patah"
"Kasihan sekali yah, sayang!"
"Karena itu ruang F dikosongkan dan tidak dipakai lagi. Karena kejadiannya diruangan tersebut dan sering terjadi sesuatu."
"Memangnya ada hal apa sehingga ruangan itu tidak terpakai lagi?" tanya Ryu semakin penasaran.
"Kata para penari yang pernah latihan diruangan itu. Mereka sering mendengar suara tangisan seorang wanita dan suara kotak musik yang sedang menyala. Juga beberapa penari solo setiap akan tampil sehari sebelumnya mereka akan mengalami kecelakaan kecil yang membuat mereka tidak bisa tampil di pentas"
"Mungkin itu hanya kebetulan saja" ucap Ryu namun Ryu menutupi kecurigaannya dari Nayara.
"Tidak mungkin. Sebab hampir setiap jam latihan suara itu selalu berbunyi. Sudahlah kita tidak usah membahasnya lagi. Aku jadi takut" Nayara menghentikan ceritanya tentang ruangan itu.
"Kalau kau takut peluk aku saja sayang!" celetuk Ryu bercanda.
"Malas ah...kalau aku peluk kamu nanti kamu yang gelisah" sahut Nayara setengah tertawa.
Mendengar perkataan Nayara barusan Ryu tertawa geli. Namun pikiran Ryu terus tertuju kepada ruang F tersebut. Ryu memang sempat merasakan hawa yang sangat dingin saat akan mendekati ruangan itu.
Bersambung.