Petunjuk yang membantu

1287 Words
Ryu terus memperhatikan roh yang menyerupai wajah Edo itu. Ryu mulai bertanya kepada roh itu, "Apakah kau Edi?" tanya Ryu yang merasa mungkin roh itu adalah roh Edi karena kemiripan wajahnya yang kembar itu. Namun roh itu menggelengkan kepalanya menyatakan tidak. Roh itu menunjuk kearah buku yang tertata di meja belajar milik Ryu, "Maksud mu buku ini?" tunjuk Ryu kepada salah satu buku yang berwarna biru. Namun roh itu masih menggelengkan kepalanya tetapi jarinya tetap mengarah kepada barisan buku di meja itu. Ryu semakin bingung akan maksud dari roh yang berwajah mirip temannya itu, "Apakah buku warna merah ini?" tanya Ryu lagi sambil mengeluarkan buku tersebut dari barisannya. Roh itu menganggukkan kepalanya hendak mengatakan kalau buku yang dipegang Ryu saat ini adalah buku yang roh tersebut maksud. Ryu menatap pada buku merah yang ada ditangannya saat ini, "Buku ini kan buku yang Edo berikan kepada ku. Buku modul untuk mempelajari beberapa program yang belum aku pahami." ucap Ryu sambil terus menatap pada buku itu, "Hei...apa maksud mu menunjuk pada buku ini?" tanya Ryu lagi. Roh itu mendekati Ryu yang sedang membuka halaman pertama buku tersebut. Lalu menunjuk pada tulisan yang tercatat pada sampul buku itu. Ryu merasa kalau roh itu ingin memberitahukan sesuatu kepada Ryu, "Edo...? Maksud mu apa? dengan kau menunjukan kepada ku tulisan dengan nama Edo ini?" tanya Ryu kepada roh itu. Sekejab Roh itu langsung menghilang karena Ariel memunculkan diri dihadapan Ryu, "Karena kau datang, Roh itu pun pergi!" ucap Ryu sambil mengembalikan buku yang ada ditangannya. "Siapa? Roh yang berwajah mirip Edo itu?" tanya Ariel. "Apakah roh itu ada hubungannya dengan kematian Edi kemarin?" tanya Ariel lagi, "Sudah pasti roh itu akan pergi saat aku datang. Roh penasaran itu takut kepada malaikat pembimbing seperti aku ini, Ryu!" kata Ariel dengan bangganya sambil meraih buku yang ada ditangan Ryu. Ryu terlihat bingung, "Entahlah, hanya saja roh itu sepertinya ingin memberitahukan sesuatu kepada ku. Tetapi aku masih belum memahaminya" ucap Ryu kepada Ariel. Ariel merasa kalau Roh itu bukan hanya mirip. melainkan roh itu mungkin saja adalah Edi teman sekerja Ryu yang baru saja meniggal kemarin' "Ryu aku rasa roh yang datang menemui mu itu adalah Edi. saudara kembar Edo teman sekerjamu itu?" ucap Ariel memastikan apa yang dia duga. "Tidak Ariel! Barusan aku sudah menanyakannya kepada roh itu. namun dia menggelengkan kepalanya" jawab Ryu. "Kalau begitu hari ini kau harus mencoba melihatnya melalui petunjuk mimpi mu seperti biasanya" saran Ariel kepada Ryu. "Tidak bisa. aku tidak tau kenapa. Tetapi sebelum kematian Edi aku sudah memimpikannya? Tunggu dulu aku rasa aku telah salah." sergah Ryu. "Apa maksudmu? Kau salah apa?" tanya Ariel penasaran. "Dalam mimpiku aku melihat Edi tidak mengenakan kaca matanya. Dia hanya memegangnya." jawab Ryu Ryu dan Ariel berpikir sejenak lalu keduanya seolah mendapatkan petunjuk yang sama, "Serupa tapi tak sama!" ucap keduanya serentak. "Apakah yang kau pikirkan sama dengan yang aku pikirkan Ariel?" tanya Ryu memastikan. Ariel mengangguk dan menyeringai, "Edi bukan berarti Edo!" ucap Ariel yakin dan Ryu menyambung perkataan Ariel barusan, "Dan Edo bukan berarti Edi! Sekarang aku mengerti!" ucap Ryu, lalu Ryu segera membuka kembali buku merah ditangannya. Ryu menunjuk pada nama yang tertulis pada buku tersebut, "Sekarang aku tau maksud roh itu. Dia ingin mengatakan kalau dirinya adalah Edo!" ucap Ryu. Berarti yang tewas kemarin bukanlah Edi melainkan Edo. Aku rasa Edi sudah membohongi kita semua termasuk kekasih Edo, dan Edi sengaja menutupinya dari keluarganya. Atau bisa saja sebenarnya Edo itu meninggal karena terbunuh dan pembunuh Edo adalah Edi?" Ariel menyimpulkan apa yang dia curigai. "Hmm... Kau benar, Ariel. Berarti aku harus mencari tau apa tujuan Edi untuk membunuh Edo dan menyamar sebagai Edo saudara kembarnya." ucap Ryu. Keesokan harinya seperti biasa Ryu berangkat ke kantornya bersama Nayara kekasihnya. Sesampainya di ruangan tempatnya bekerja Ryu mendapati Edo hanya seorang diri tanpa karyawan yang lainnya, "Hai Edo...team kita kemana semua? Apakah mereka tidak masuk?" tanya Ryu bingung. "Mereka semua sedang menonton siaran langsung bola di televisi kantin kantor" jawab Edo dengan sikap datar. Ryu merasa bingung sekaligus heran dengan gaya dan Sikap Edo. Namun Ryu berpikir positif, Ryu merasa sikap Edo seperti itu mungkin karena masih dalam suasana duka atas kematian Edi saudara kembarnya. Itulah yang diperkirakan Ryu dari sikap datar Edo saat ini. 'Padahal Edo sangat menyukai permainan sepak bola. Aku masih ingat saat jam istirahat dia selalu memainkan game sepak bola dalam komputernya. semua game koleksinya tentang sepak bola' ucap Ryu dalam hatinya. Ryu terus memperhatikan tingkah laku Edo dan Ryu merasa ada sedikit kejanggalan atas sikap Edo dari biasanya. Edo merasa risih dengan cara Ryu yang sejak tadi memperhatikan sikapnya. Lalu Edo beranjak dari kursi kerjanya dan melangkah keluar ruangan. Namun karena tergesa-gesa Edo menabrak salah satu karyawan yang sedang melintas di depan ruangan mereka dan keduanya terjatuh. Ryu membantu keduanya berdiri. Tetapi Edo terus saja meraba-raba lantai seolah sedang mencari sesuatu yang barusan terjatuh. "Ada apa Edo? Apa ada barang mu yang hilang?" tanya Ryu penasaran. "Ah...sudahlah. aku rasa barangku itu sudah hilang, biarkan sajalah. Sangat sulit untuk mencarinya!" ucap Edo sambil berjalan dengan sikap linglung yang seolah kehilangan arah jalan. Ryu heran dengan cara berjalan Edo, "Kamu sakit Edo. Kenapa jalan mu sempoyongan begitu?" tanya Ryu. Edo terus memegang kepalanya, "Kepala ku sedikit pusing. Sehingga penglihatan ku sedikit buram." ujar Edo tanpa menoleh kearah Ryu. "Lebih baik kamu pulang saja dan meminta ijin pada HRD. Katakan kalau kamu sedang tidak sehat." Usul Ryu kepada Edo. "Kau benar Ryu. Bisakah kau mengantarkanku keruang HRD?" pinta Edo. "Kau tenang saja. Aku akan memapah mu" sahut Ryu sambil membantu Edo berjalan. Edo akhirnya mendapatkan ijin untuk pulang, "Kau hati-hatilah Edo. Istirahatlah hingga esok hari. jangan kau paksakan dirimu untuk bekerja" ujar Ryu menasehati Edo. "Terimakasih Ryu. Maaf sudah merepotkan mu" Edo akhirnya pulang dengan menaiki taksi. Ryu merasa sepertinya dia serang berbicara bukan dengan Edo melainkan dengan Edi. Namun Ryu menepis pikirannya itu sebelum mendapatkan bukti yang kuat. Ryu kembali ke ruang kerjanya dan hendak mematikan komputer milik Edo. Ryu terkecoh saat melangkah menuju meja kerja Edo. Ryu melihat pantulan cahaya dari sebuah benda. Ryu lalu mencoba mengambilnya dan itu ternyata adalah sebuah softlens. Ryu segera menyimpannya siapa tau ada diantara teman sekerjanya ada yang merasa kehilangan saat ini. Ryu mencoba menanyakannya satu persatu tetapi tidak ada yang mengakuinya. Lagi pula tidak ada dari Teman-temannya yang memakai kaca mata maupun softlens selain almarhum Edi kembaran Edo. Ryu terkejut dan seolah tersadar saat mengingat nama Edi, "Edi?" ucap Ryu "Apakah dugaan ku dan Ariel benar kalau Edo ternyata bukanlah Edo melainkan Edi yang sebenarnya masih hidup" ucap Ryu bermonolog. Ryu lalu menyimpan softlens itu kedalam suatu kotak kaca kecil. Ryu berniat akan menanyakannya setelah pulang bekerja nanti sore. Sementara itu Ariel ternyata sedang mengikuti Edo temannya Ryu yang wajahnya mirip dengan Edi. 'Apa yang sedang dilakukan dia yah? Mengapa dia datang ke toko optik.? Aku harus segera memberitahukannya kepada Ryu!' bisik Ariel dalam hatinya saat mengikuti teman sekerja Ryu itu. Ariel segera menghampiri Ryu di ruangan tempatnya bekerja, "Ryu. Aku mau memberitahukan sesuatu?" sapa Ariel dengan berbisik. "Kenapa kamu kemari. Aku kan masih bekerja!" sahut Ryu dengan berbisik. Agar teman sekerjanya tidak bingung mendengar Ryu berbicara dengan mahkluk yang kasat mata seperti Ariel. "Maaf bukan maksudku menggangu mu. Teman-teman mu kan tidak bisa melihat ku." Ucap Ariel. "Iya...justru karena itu tau?! Ada apa kau kemari?" tanya Ryu. "Tadi aku melihat teman kerjamu, Edo. Euh bukan maksudku Edi!" ucap Ariel bingung siapa yang dia lihat sebenarnya. "Kau melihatnya dimana?" tanya Ryu. "Di toko optik. Dia sibuk memilih kaca mata!" Saat mendengar penjelasan Ariel Ryu semakin yakin kalau Edi masih hidup. Aku yakin. yang semua orang kira adalah Edo pasti itu adalah Edi. Dia tidak dapat menyembunyikan tingkah lakunya sendiri. Meskipun dirinya ingin mengubah gaya dan sikapnya dari dulu. Bersambung. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD