5 September 2010 tanggal yang tertera pada sebuah frame foto. Foto seorang pelajar SMP wanita.
"Foto siapa ini pak?" tanya ku yang merasa sedikit kenal dengan wajah pada foto itu.
"Itu Foto teman ku." jawab pak Andriansya dengan wajah ragu.
Awalnya aku hampir saja percaya. Tetapi semakin lama aku curiga. Umur gadis pada foto ini sekitar berumur lima belas tahun. Sangat tepaut jauh dengan usia pak Andriansya.
"Kita sudah lama tidak berjumpa, Ryu. Lalu sekarang apa kegiatan mu?" tanya pak Andri kepada ku.
"Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta pak. Sebagai programer biasa." jawab ku menanggapi pertayaannya.
"Bapak senang kau sudah ada perubahan. Dulu kamu sangat tidak mau diatur oleh dosen." sahutnya lagi.
"Itukan masa-masa masih kuliah pak, masih ingin bebas. Oh iya bapak tau tidak alamat rumah Amora. Mahasiswa kampus kita juga." tanya ku dengan santai agar pak Andri tidak mencurigai ku.
"Ba-bapak ti-tidak tau Ryu. Setelah para siswa angkatan kamu lulus bapak sudah jarang berkomunikasi dengan mahasiswa lainnya." jawab pak Andri setengah gugup.
"Padahal Ryu bertugas untuk memberikan undangan reuni ini pak. Tinggal Amora saja yang belum Ryu berikan undangan."
"Kamu berikan saja kepada bapak. Nanti bapak coba cari tau dan bertanya kepada dosen lainnya."
"Kalau begitu terimakasih pak, aku jadinya tidak repot lagi mencari alamat Amora." tukas ku menanggapi.
Sebenarnya isu hilangnya Amora sudah aku ketahui sejak dulu begitu juga khabar yang berhembus kalau Amora sudah tiada.
Wajah pak Andri seketika menjadi pucat saat aku membicarakan tentang Amora. Sebenarnya aku sudah mendapatkan alamat rumah Amora dari salah seorang teman kuliah ku dulu.
Aku lalu menghampiri alamat rumah tersebut dan bertemu dengan Ibu dari Amora. Aku lalu meminta Ibu Amora menceritakan kondisi Amora sebelum meninggal.
Flash Back.
Amora putri Ibu adalah gadis yang periang. Dia ramah kepada siapa saja. Baik itu teman pria atau teman wanitanya.
Suatu hari tepat pada tanggal 5 sepetember 2017 pukul 3 sore hari, saat itu hujan sangat deras. Amora menelepon ibu akan pulang sedikit terlambat sebab ada pesta ulang tahun yang diadakan salah satu teman kuliahnya dan itu atas pengawasan dosennya pak Andriansya. Amora sangat senang dan gembira menyampaikannya kepada Ibu. Sehingga ibu tidak mencurigai apapun.
Lalu pada pukul delapan malam Amora kembali ke rumah. Dengan sikap dingin dan diam, wajahnya tanpa ekspresi sedikitpun. Entah apa yang terjadi dengan Amora. Ibu melihat Amora memakai pakaian baru. Ibu belum pernah melihat Amora memakai pakaian itu sebelumnya. Pikir Ibu mungkin itu milik temannya yang dipinjamkan kepada Amora.
Seharian Amora hanya berdiam diri dikamar saja dan tidak mau makan juga tidak ingin pergi kuliah selama beberapa hari.
Ibu lalu mencoba mengajaknya berbicara dan menanyakan ada masalah apa yang terjadi kepada Amora. Tetapi Amora hanya menangis dan tidak mengatakan apa permasalahannya.
Ibu mencoba bertanya kepada pak Andriansya selaku dosennya. Pak Andriansya akhirnya datang kerumah dan mencoba mencari tau apa yang menjadi masalah bagi Amora.
Seminggu berlalu Amora tetap sama seperti biasanya. Tidak mau bicara dan hanya makan sedikit saja. Tubuhnya semakin kurus dan nampak tertekan. Lalu Ibu mulai membawa Amora ke psikiater dan dari situlah Ibu tau apa yang terjadi dengan Amora. Namun Amora tidak mau memberitahu siapa pria yang telah menodainya.
Amora terus histeris dan hanya tenang jika diberikan obat penenang dari dokter.
Keesokan harinya Amora terlihat lebih tenang ibu sangat senang mungkin terapi dari psikiater berhasil. Lalu Amora meminta ijin untuk keluar rumah. Amora memakai alasan akan pergi ke cafe bersama teman-temannya. Ibu pikir ini saatnya Amora melupakan kepahitan yang terjadi kepadanya. Ibu mengijinkannya pergi agar Amora dapat membuang masalah pahitnya itu.
Namun tante mendapati berita duka kalau Amora ditemukan dalam keadaan tewas di sebuah motel murah. tubuhnya penuh dengan luka sayatan dan pada lehernya terdapat tali yang masih terikat dan terputus dari atas seperti layaknya orang yang melakukan gantung diri. Ibu merahasiakan kejadian ini kepada teman-temanya dan menganggap kalau hal yang terjadi kepada Amora adalah bunuh diri. Semua terbukti dari surat yang ditinggalkan Amora.
Keluarga kami lalu memakamkan Amora tanpa sepengetahuan pihak luar dan hanya keluarga inti saja. Sampai sekarang kami tidak tau siapa pria yang telah menodai Amora dan membuat Amora menjadi seperti ini.
Flsah back Off.
Ryu dapat menyimpulkan kalau Amora bukanlah bunuh diri melainkan di bunuh. Namun Ryu tidak berani menyimpulkan siapa yang sudah melakukannya.
"Isi surat itu mengatakan kalau pria itu tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan bersama seorang wanita. Semua kekasihnya akan mati. Apakah ini membuktikan kalau yang membunuh Amora adalah pak Andriansya?"
Ryu berkata-kata sendiri sambil mengendarai sepeda motornya setelah pulang dari rumah pak Adriansya.
Tiba-tiba Ariel muncul tepat di bangku belakang motor milik Ryu.
"Aku juga merasa kalau yang membunuh Amora adalah pak Adrian. Sebab dia baru saja aku dengar berbicara sendiri setelah kau pergi." ucap Ariel memberitahu ku.
"Pak Adrian mengatakan apa?"
"Aku mendengar dia berbicara kepada foto gadis kecil itu. Dia mengatakan kalau dirinya tidak pernah bermaksud begitu." jelas Ariel.
"apakah dia tidak mengatakan hal yang lain yang lebih jelas?" tanya Ryu penasaran
"Tidak, aku hanya mendengar itu saja." sahut Ariel menanggapi pertanyaan Ryu.
"Aku akan mendapatkan jawabannya, setelah ini."
"Hei...kau mau mengarahkan motor mu kemana? Bukankah kita akan kembali kerumah mu?"
"Tidak! Kita akan kembali kerumah Amora untuk menemui ibunya kembali."
Ryu menambahkan kecepatan motornya sebab hari hampir senja. Setibanya kembali di kediaman Amora. Ryu meminta ijin kepada ibu Amora untuk masuk ke kamar Amora. Ryu merasa selama ini Amora tidak pergi dan masih berada dekat dengan ibunya.
Ryu mulai membuka pintu kamar Amora setelah ibunya memberikan kuncinya kepada Ryu. Saat membuka pintu tersebut benar saja dugaan Ryu. Jiwa Amora masih berada di kamarnya.
"A-Amora...maaf aku memasuki kamar mu. Ini aku Ryu teman kuliah mu dulu."
Amora menatap sinis kepada Ryu. Amora seolah menganggap semua pria adalah musuh baginya. Wajah Amora nampak sangat tertekan walau sudah menjadi roh.
"Kau tenanglah dulu. Aku datang untuk membantumu terlepas dari masalah mu ini. Aku adalah teman mu, Amora"
Amora berteriak dan matanya memerah dia sudah seperti roh yang dirasuki iblis. Ryu merasakan energi negatif yang keluar dari roh Amora. Ryu mencoba meraih tangannya untuk menetralkan energi negatif itu. Seketika Amora menjadi tenang dan menangis tersedu-sedu.
"Aku tau apa yang terjadi kepada mu. Karena itu aku datang untuk membantu mu Amora. Katakan kepada ku kejadian yang sebenarnya sebelum kau tiada."
"Pak Andrian membunuh ku. Dia memberiku minum racun dan menggantung ku sebelum nafas terakhirku berhembus."
"Mengapa dia sampai membunuh mu?"
"Awalnya aku ingin meminta pertanggung jawabannya yaitu menyerahkan diri kepolisi sebelum aku yang melaporkannya. Tetapi dia tidak mau dan dia ingin bertanggung jawab dengan menikahi ku. Aku lalu mengambil ponselku dan mencoba menghubungi polisi."
"Setelah itu apalagi? Ceritakan semua kepada ku, Amora!"
"Pak Adrian lalu mencoba menenagkan ku dengan mengatakan dia mau menyerahkan dirinya. Asal aku memaafkannya. Lalu dia membuatkan ku kopi untuk permintaan maaf. Aku tidak mengira dia akan meracuni ku dan menghabisi ku dengan sadis"
Amora terus menangis setelah menceritakan kejadian sesungguhnya. Siapa pun pasti tidak akan bisa memaafkan hal yang diperbuat pak Ardiansya itu.
Aku mengerti sekarang, aku akan membuat pak Ardian mengakui segala perbuatannya di hadapan polisi. Kau tenang saja Amora ini janjiku kepada mu.
Bersambung.