Teman Cindy pun membuat perhitungan pada Angela, mereka pun membantu Cindy dan membawanya ke rumah sakit untuk di tangani.
Aditya mencari Asry ke sana ke mari karena jejaknya sudah tidak terlihat di sana. "Kemana perginya?" Aditya celingukan tidak menemukan Asry.
"Aku di sini," sahutnya.
Aditya segera mendekat dan menanyakan keadaan sang kakak. "Apa kau tidak apa-apa?" tanyanya membolak-balikkan badan Asry. Tingkahnya itu di saksikan oleh teman-teman Aditya. Aditya tidak peduli untuk kali ini. Asry hanya menggelengkan kepalanya.
"Kau bawa mobil, Angel?" tanyanya pada Angela.
"Tidak, tuan putri. Aku tadi pergi dengan Nathan," jawabnya.
"Memangnya, kau mau kemana tuan putri?" sambung Angela.
"Aku ingin pulang," jawabnya singkat. Asry sudah merasa tidak nyaman di sana. Apalagi kondisi dirinya basah saat ini.
"Kau bawa mobilku saja jika butuh," sahut salah satu teman Aditya di sana. Asry menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak apa, kau bawa saja. Biar nanti aku dengan yang lain," sambungnya memberikan kunci mobilnya pada Asry.
"Ambilah saja, nanti biar aku mengantarkannya," ujar Aditya. Asry pun mengambil kunci mobil teman Aditya.
"Kau tekan saja remote kuncinya," ujarnya pada Asry.
"Oke, thanks. Kalian masuklah, keburu telat. Aku pulang dulu," pamitnya lalu melenggang pergi dengan wajah dinginnya menuju parkiran. Semua teman-teman Aditya pun kembali ke kelas.
Setibanya di parkiran, Asry menekan remote kunci tersebut. Setelah tau di mana letak mobil itu, Asry segera mendekat lalu masuk. Tanpa berlama-lama dirinya langsung saja melajukannya.
Asry benar-benar merasa kesal kali ini karena dia terus-terusan di usik padahal tidak berbuat salah. Dirinya terus saja melajukan mobil tersebut dengan kecepatan penuh hingga tiba di mension.
Setibanya di mension, Asry segera masuk ke dalam untuk berganti baju dan mengeringkan rambutnya yang basah semua.
Maid yang ada di sana pun bingung bagaimana nona mudanya itu bisa pulang dalam keadaan basah semua. Nona, kenapa basah semua?" tanyanya menghampiri Asry.
"Tidak apa, bi. Mami di mana?" tanya Asry.
"Nyonya sepertinya di kamar, nona."
"Yasudah, jangan beritahu mami, ya." Ujar Asry lalu melangkahkan kakinya lagi menuju kamarnya sebelum sang mami melihatnya basah semua.
"Kau sudah pulang, Asry." Suara Ana terdengar di telinga Asry sebelum dirinya meraih gagang pintu kamarnya, Aditya dan Asry memilih kamar yang berada di lantai bawah.
Asry menggigit bibir bawahnya, ia bingung harus menjawab apa jika sang mami bertanya-tanya padanya.
"Di mana adikmu, Asry?" sambung Ana bertanya pada Asry.
Ana memerhatikan penampilan Asry yang basah, "kenapa kau basah semua, sayang? Apa terjadi sesuatu padamu?" imbuh Ana.
"Tidak apa-apa, mi. Tadi teman Asry bawa air waktu di kantin ke sanding mengenai Asry. Jadi basah semua deh." Bohong Asry pada sang mami, tidak mungkin jika dirinya mengatakan jika dirinya di siram air oleh Cindy.
"Ya ampun, ya sudah kamu ganti. Nanti kamu masuk angin." Ujar Ana yang tanpa curiga pada Asry. Asry bernafas lega karena sang mami percaya padanya. Mungkin kalau sang papi tidak akan mudah percaya padanya.
Skiippp....
Aditya sudah pulang ke mension bersama teman-temannya tadi, tentu saja Angela dan Nathan ikut ke sana. Mereka sudah biasa datang ke sana, kecuali Celine yang tidak ikut ke sana.
"Lah, mobilku kenapa bisa di mensionmu, Aditya? Bukannya Asry tadi yang membawanya, ya?" tanya temannya bingung karena mobil miliknya yang di bawa oleh Asry tadi berada di halaman mension Aditya.
"Udah masuk saja, nanti juga tahu sendiri." Jawab Aditya.
"Ma...."
"AUNTYY....." sebelum Aditya berteriak, Angela sudah mendahului berteriak di sana. Semua yang ada di sana menutup telinga karena mendengar teriakan Angela yang sangat cempreng.
Aditya memberikan jendulan pada Angela setelah dirinya berteriak, "jangan teriak-teriak di rumah orang, tidak sopan." Sengal Aditya padanya.
"Kenapa kau ini?" kesal Angela yang tidak terima mendapat jendulan dari Aditya.
"Memangnya kau juga bagaimana kalau bertamu, hah?" Angela tak kalah membentak Aditya. Karena kebiasaan Aditya juga suka berteriak-teriak jika datang bertamu ke kediamannya dan Nathan. Ia berteriak sesuka hati seperti di hutan.
Teman-teman Aditya hanya bisa memandang heran pada keduanya. Kalau Nathan, dia sudah biasa melihat kedua orang itu bertengkar. Mereka memang tidak pernah akur sedari kecil.
"Sudah jangan rebut, cepat masuk. Ajak teman-temanmu, Aditya." Suara Ana terdengar. Dirinya tadi segera keluar setelah mendengar teriakan suara yang sangat ia kenal.
Aditya pun mengajak teman-temannya masuk ke dalam mension, Angela berlari terlebih dahulu mencari Asry yang ada di dalam. Ia sepertinya tidak bisa jauh-jauh dari Asry.
Mereka semua yang memang baru pertama kali datang ke mension Aditya itu terkagum-kagum melihat kemewahan dan kemegahan di sana. Selama masuk di gymnasium, memang baru pertama kali ini Aditya membawa teman-temannya ke mensionnya. Bukannya apa, karena memang tidak bisa sembarang orang untuk datang ke sana.
"Ini rumah atau istana?" gumam salah satu teman Aditya.
"Jangan malu-maluin," sahut salah satunya. Teman-teman Aditya terdiri dari tidak orang di sana.
Salah satu dari mereka yang melihat foto keluarga cukup besar terpajang di sana itu pun memukul pundak teman yang lainnya.
"Apa siihh.." sengalnya karena bahunya mendapat pukulan.
"Lihat foto itu?" tunjuknya. Ia melihat foto di sana yang terdiri dua lelaki dan tiga perempuan.
"Aditya... bukankah perempuan yang satunya itu Asry? Apa kalian memang ada hubungan khusus, sampai-sampai dia ada di foto keluarga kalian?" tanyanya pada Aditya.
"Kita duduk dulu, nanti aku jelaskan," ajak Aditya pada teman-temannya. Beda lagi dengan Angela yang sudah bercengkrama asyik dengan Asry di ruang berkumpul di sana.
Aditya dan semua teman-temannya duduk di sofa yang ada di sana. Mereka melihat perbedaan Asry saat di sini dan di sekolah. Asry terlihat lebih hangat saat berbicara dengan Angela di sana.
Para maid membawakan minuman dan beberapa cemilan untuk Aditya dan teman-temannya. Ana memilih untuk menuju ke taman belakang untuk melihat bunga-bunganya. Ia membiarkan Aditya bersama teman-temannya agar lebih leluasa.
"Aditya... Aditya... coba jelaskan foto tadi," ucapnya yang memang benar-benar penasaran.
"Foto mana?" Aditya berlagak lupa.
"Jangan pura-pura lupa," kesal salah satu temannya pada Aditya.
"Memang apa yang harus aku jelaskan pada kalian?"
"Itu... kenapa bisa foto Asry ada di foto keluarga kalian?"
"Ya kan dia saudara kembar gua, ya pasti lah dia ada di foto keluarga sana," jawabnya dengan santai. Salah satu temannya yang sedang meneguk minuman itu pun menyemburkan keluar mendengar jawaban dari Aditya.
"Gila ni anak." Marah mereka yang terkena semburan.
"Sorry-sorry..." ujarnya menyengir kuda.
"Apa yang kau katakan serius?" lanjut mereka dalam perbincangan.
"Heh, bisa pelan tidak kalau ngomong. Beriissiikkk," ketus Angela karena dirinya terganggu dengan kebisingan teman-teman Aditya.
"Iyaa-iyaa santaiii..." sengalnya pada Angela.
"Jadi...???" tanya mereka bersamaan.
"Iya... Asry sebenarnya saudara kembarku. Dia kakakku, memang papi sengaja menutup identitasnya selama ini. Mereka memang tahu kalau papi dan mami memiliki anak perempuan, tapi papi tidak pernah menunjukkan kak Asry di depan publik. Dia juga selama ini tinggal bersama grandma dan grandpa," jelas Aditya pada teman-temannya.
"Kenapa seperti itu?" tanya mereka yang penasaran.
"Kau tanyakan saja pada Papi," jawab Aditya yang sangat mengesalkan.
"Pantas saja kalian sering pergi bersama, belum lagi kalau lo sangat marah."
"Jelas lah gue marah, orang gue, mami dan papi saja tidak pernah berbuat kasar pada dia," sengal Aditya.
"Ehh... tapi, gimana Cindy nanti kalau tau jika Asry sebenarnya saudara kembar lo. Dia kan mengancam mengeluarkan Asry tadi."
Aditya pun mengingat-ingat ucapan yang Cindy katakan, apalagi tadi Asry sudah mematahkan tangan Cindy.
"Kau benar juga, papi pasti akan merobohkan sekolah itu kalau tau permasalahannya," jawab Aditya membayangkan bagaimana sang papi nanti yang akan marah jika tahu Asry sudah mendapat perlakuan kasar dari orang lain.
Aditya berfikir keras kali ini, bagaimana nanti jika sang papi tahu. Tapi, Aditya juga tidak mungkin membiarkan sang kakak di keluarkan begitu saja karena memang dia tidak bersalah. Meskipun dirinya tidak tahu apa yang terjadi sebelum-sebelumnya, tapi Aditya sangat tahu bagaimana sang kakak. Dia tidak akan bertindak jika tidak ada yang mengusik dirinya.
Malam hari...
Aditya datang ke kamar Asry untuk membicarakan sesuatu. Asry yang tau kehadiran sang adik itu pun menaikkan sebelah alisnya, karena tidak biasanya jika Aditya datang ke kamarnya.
"Apa?" tanyanya singkat.
"Kau ketus sekali," ucap Aditya dengan komuknya yang tidak bisa di kondisikan. Asry memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Aku mau bertanya padamu," Asry menaikkan sebelah alisnya lagi.
"Jawab jujur. Apa orang yang kau maksud kemarin bermain-main denganmu itu, Cindy?"
"Kau bisa kira sendiri," jawab Asry singkat.
"Kenapa kau tidak pernah bilang padaku jika dia selalu mengganggumu?" kali ini Aditya sedikit meninggikan suaranya.
"Aku bisa menanganinya sendiri,” jawabnya.
"Ya... bukan begitu, Asry. Aku di sini saudaramu, payah sekali aku jika tidak tahu apa yang terjadi denganmu selama tidak bersamaku," terang Aditya yang merasa jika dirinya tidak berguna untuk sang kakak.
"Jangan salahkan dirimu, aku tidak mengatakan padamu karena memang aku bisa mengatasinya sendiri."
"Tapi, bagaimana jika papi tahu akan hal ini? Pasti dia akan sangat marah," ujar Aditya.
"Kau jangan bilang masalah ini pada papi, aku tidak mau merepotkannya."
"Tapi, Cindy akan mengeluarkanmu. Bagaimana aku bisa diam saja ketika melihat dirimu di keluarkan, padahal bukan dirimu yang salah."
"Percaya padaku, oke. Aku akan mengatasi hal ini, jangan beritahu papi. Ini adalah masalahku sendiri, Aditya," Asry memohon pada sang adik.
"Tapi, aku tidak janji," jawab Aditya.
"Aaahh... ayolah, Aditya. Kau kan adikku yang baik hati dan tidak sombong," Asry mengedipkan kedua matanya pada Aditya. Bukannya terpengaruh, justru Aditya merasa ngeri ketika Asry bersikap seperti itu.