"Aku tidak amnesia ya. Dan aku juga tidak tuli," jawab Aditya yang semakin memperkeruh. Asry melototkan matanya pada Aditya agar tidak membahasnya lagi di depan sang papi.
Aditya yang tahu arti tatapan Asry itu pun tidak peduli, "jangan dengarkan kak Asry, pi. Dia sendiri yang bilang padaku tadi." Aditya mengadu pada sang papi kali ini.
Asry semakin melototkan matanya lebar pada sang adik tapi tak di indahkan.
"Asry... coba jujur sama Papi dan Mami," desak sang mami kali ini.
"Tidak ada, mi, pi. Hanya masalah kecil saja, Asry bisa mengatasinya sendiri, kok. Percaya deh, yaaah...," jawabnya pada mami dan papinya.
Asry kembali melototkan matanya dan menunjukkan wajah kesalnya pada Aditya, sepertinya ia akan membuat perhitungan untuk sang adik yang memang tidak bisa diam.
Kali ini, Aditya tidak merasa takut. Karena pasti ada papi dan maminya yang akan membela dirinya. Jika saja tidak ada papi dan maminya, mungkin dia sudah kicep duluan.
Sean dan Ana pun memerintahkan kedua Anaknya dan keponakannya untuk beristirahat, dirinya juga memutuskan beristirahat karena lelah dalam perjalanan.
Besok paginya...
Diva sudah berada di kampus tempatnya mengemban ilmu. Dirinya saat ini berada di kantin dengan teman-temannya dekatnya. Diva menikmati makan siangnya karena sudah sangat kelaparan.
"Divaa, aku terkadang-kadang bertanya-tanya. Kenapa kau tidak mengambil perkuliahan di luar negeri yang terkenal. Biasanya kalangan sepertimu ini kan pasti sudah ke luar negeri?" tanya salah satu temannya.
Diva yang mendapat pertanyaan dari temannya itu pun menghentikan makannya dan memasang wajah yang di buat Seolah-olah dirinya sedang kebingungan.
"Iyaa.. ya... kenapa, ya?" bukannya menjawab justru dirinya malah bertanya dengan dirinya sendiri.
"Harusnya yang bingung itu kita, Diva. Bukan dirimu," sahut salah satu dari mereka yang melihat muka Diva seperti orang kebingungan.
"Yaa karena aku juga sendiri bingung kenapa," jawabnya yang terdengar konyol.
"Terserah kau saja, Diva. Terdengar konyol sekali aku mendengar jawabanmu," sengal temannya yang ada di sana. Tanpa peduli banyak hal mereka kembali melanjutkan makan.
Kali ini, Angela mengajak Asry untuk bergabung bersama dirinya dan teman-teman dari Aditya. Awalnya Asry menolak ajakan dari Angela, tapi dirinya di paksa habis-habisan oleh Angela. Tidak lupa juga Angela mengajak Celine di sana. Celine yang memang tidak pernah berinteraksi dengan siapapun itu terlihat ragu-ragu dan
canggung untuk berkumpul di sana.
"Udah kak Celine gak usah kaku," ujar Angela yang melihat Celine sangat canggung. Celine pun tersenyum kikuk.
Salah satu teman Aditya yang merasa kepo itu pun memandang Asry dan Aditya bergantian. "Kau itu kenapa?" sengal Aditya melihat temannya bergantian melihat dirinya dan kakaknya.
"Aku hanya bertanya-tanya, kalian ada hubungan tidak sih. Kenapa kalian terkadang pulang dan pergi barengan, wajah kalian juga sedikit mirip. Apa kalian berjodoh?" celetuknya.
"Ohh... kita ya ada hubungan sepesial dooong, ya kan, Asry." Jawab Aditya sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Angela yang melihat Aditya bersikap seperti itu mencebikkan bibirnya. Memang dirinya yang selalu sewot dengan Aditya.
"Hah, seriusan?" jawab serentak teman-teman Aditya. Angela dan Nathan sudah tidak kaget lagi dengan Aditya yang memang terkadang berbicara asal nyeplos.
Tapi, jika di fikir-fikir, memang mereka mempunyai hubungan khusus. Hubungan saudara kembar.
"Serius, laaahh. Kau tanyakan saja padanya," jawab Aditya. Teman-teman Aditya pun menoleh serentak ke arah Asry.
"Tidak penting untuk kalian tau," jawabnya dengan menunjukkan tatapan dinginnya. Mereka semua pun kicep tidak jadi bertanya pada Asry yang terlihat begitu dingin dan sedikit garang.
Tadinya mereka ingin bertanya banyak hal, tapi mereka mengurungkan niatnya setelah mendengar suara Asry. Terdengar lembut, tapi penuh dengan penekanan. "Kenapa dia sepertinya galak sekali?" bisiknya di telinga Aditya.
"Berarti kau tidak tampan, makanya dia seperti itu," jawab Aditya ngasal. Temannya itu memicingkan bibirnya.
Tiba-tiba saja, ada yang mengguyur Asry dengan air dari arah belakang. Rambut dan bajunya basah karena tumpahan air tersebut. Semua gumbulan Aditya dan Angela pun melototkan mata tidak percaya dengan apa yang sudah di lakukan orang itu pada Asry.
"Sudah berapa kali aku berkata padamu, jangan mendekatinya lagi," bentaknya pada Asry. Aditya yang melihat itu pun langsung berdiri bangkit dari duduknya, ia terlihat marah jika sang kakak yang tidak bersalah mendapat perlakuan seperti itu.
"Apa yang kau lakukan, hah?" bentaknya menggema sampai seisi kantin. Semua orang terkejut mendengar suara Aditya yang menggelegar. Aditya yang selama ini di kenal jahil dan petakilan ternyata bisa semarah itu.
Urat-urat di lehernya sampai terlihat karena ia marah besar. Asry masih bersikap santai dan duduk di kursinya. "Mampus, Leopard bangun dari tidur," gumam Nathan melihat kemarahan dari Aditya di sana.
Orang yang mendapat bentakan dari Aditya itu pun juga ikut terkejut mendengar suara Aditya. "Psst... psstt..." panggil Angela pada Nathan. Nathan mendekatkan telinganya ke Angela
"Sepertinya, Aditya Copers akan menunjukkan taringnya," bisiknya pada Nathan.
"Sudah, diamlah. Kita lihat saja," tegur Nathan.
"Aku tidak mengira jika Aditya bisa semarah itu," ujar Celine yang melihat kemarahan dari Aditya. Semua orang berbisik-bisik dengan kemarahan Aditya dan apa yang sudah di lakukan orang itu pada Asry.
"A-aku..." ucapnya terbata.
"Apa alasanmu menyiramnya, hah?" belum juga orang tersebut melanjutkan ucapannya, Aditya sudah memotongnya.
Aditya mendekat ke arah orang tersebut dengan wajahnya yang merah padam. Dia yang tidak pernah melihat Aditya marah seperti itu pun ketakutan.
"Duduk kembali ke kursimu, Aditya," perintah Asry.
"Tidak, dia sudah berani bermain-main." Tidak Aditya.
"Aku bilang kembali ke tempatmu!!" sarkas Asry. Mau tidak mau Aditya kembali duduk di kursinya dengan raut wajah yang terlihat sangat marah. Mereka yang di sana menenangkan Aditya agar tidak marah lagi.
Asry pun berdiri dan memandang tajam ke arah orang tersebut. "Apa aku harus mematahkan tanganmu terlebih dulu agar kau tidak mengusikku?" ucapan Asry penuh dengan intimidasi.
"Apa kau kira aku akan takut dengan ancamanmu itu, aku sudah mengadukan hal kemarin pada papaku. Kau pasti tidak lama lagi akan di keluarkan dari sini, kau tau siapa aku bukan?" ucapnya terlalu menyombongkan dirinya. Dirinya juga terlihat sangat menantang Asry, sepertinya, ketakutannya karena bentakan Aditya tadi sirna seketika.
Aditya yang mendengar perkataan orang itu pun kembali berdiri tapi teman-temannya mencoba menarik dirinya kembali untuk duduk. Tangannya mengepal kuat di bawah meja.
"Heh, dan apa kau kira aku juga takut dengan ucapanmu itu?" Asry tersenyum remeh pada orang itu.
Siapa lagi orang itu kalau bukan Cindy dan teman-temannya, dia tidak suka melihat jika Asry bisa dekat dengan Aditya dan gerumbulannya. Dia pun akhirnya menyiramkan air yang ia bawa pada Asry.
Asry pun mendekat ke telinga Cindy dan mengatakan sesuatu, "apa kau tau, nyawa papamu saja bisa berada di tanganku. Jangan pernah bermain-main denganku," bisiknya lalu tersenyum jahat. Cindy yang mendengar hal itu pun seketika marah pada Asry.
"Beraninya, kauu..." jeritnya lalu menjambak rambut Asry.
"Ehh... eehh..." pekik Angela dan lainnya di sana. Asry pun segera mengambil tindakan hingga keadaan berbalik di sana. Asry menendang kedua lutut Cindy hingga dirinya bersimpuh.
"Aku bilang jangan pernah bermain-main denganku. Aku tidak peduli siapa dirimu dan dari mana asal dirimu," sarkas Asry di sana.
Teman-teman Cindy yang ingin menolong pun mendapat tatapan tajam dari Asry yang membuat mereka takut dan mundur.
Asry pun menyetarakan dirinya dengan Angela, “kau belum tahu siapa aku bukan, sebaiknya jaga sikapmu. Dan untukmu, tidak ada hak jika aku dekat dengan Aditya. Itu bukan urusanmu," Asry tersenyum sinis pada Cindy.
Cindy yang sudah sangat kesal itu pun mengangkat tangannya ingin menampar Asry. Sebelum tangan itu menyentuh pipi mulusnya, Asry sudah menangkap tangan Cindy. Asry kembali melintir tangan Cindy, kali ini lebih dalam dari kemarin. Cindy di sana meringis kesakitan karena tangannya kembali di pelintir oleh Asry.
"Kau cukup berani, nona. Tapi jangan salahkan aku jika tangan ini tidak berada di tempatnya lagi," sinisnya lalu kembali melintir tangan Cindy hingga suara tulangnya terdengar.
Kali ini Asry benar-benar mematahkan tangan Cindy. Cindy menjerit kesakitan karena tangannya di patahkan oleh Asry. Semua yang ada di sana terkaget dengan apa yang di lakukan oleh Asry. Asry cukup berani melakukan hal itu pada anak orang yang berpengaruh di kota itu.
Teman-teman Aditya menganga tidak percaya dan bergidik ngeri membayangkan rasanya tangannya di patahkan oleh Asry.
Angela, Nathan dan Aditya hanya terlihat santai di sana. Bahkan mereka bertiga tidak terlihat kasihan pada Cindy. Semua teman Cindy mendekat untuk menolong Cindy menangis kesakitan.
"Sudah aku katakana padamu, bukan. Jangan pernah bermain-main denganku atau tanganmu aku patahkan." Asry kembali tersenyum sinis lalu melangkahkan kakinya pergi dari sana.
"Heh... dasar wanita tidak tahu diri. Kau pasti akan di keluarkan dari sini besok," teriak salah satu teman Cindy pada Asry.
Asry pun berhenti dan berbalik memandang mereka. "Silahkan, aku menunggu dengan senang hati," senyumnya terlihat jahat. Asry kembali melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Semua orang berbisik-bisik dengan tindakan Asry, ada yang berbisik bagaimana Asry yang akan di keluarkan dan ada yang juga senang dengan tindakan Asry karena Cindy terkadang suka seenaknya dengan orang lain. "Aditya, tolong Cindy, Aditya," ucap salah satu teman Cindy.
Aditya menaikkan sebelah alisnya, "aku tidak ada urusan dengan kalian. Bawa saja temanmu itu ke rumah sakit," jawab Aditya dengan cuek. Dirinya pun berdiri lalu melangkahkan kakinya pergi menyusul sang kakak.
Langkah Aditya di ikuti oleh teman-temannya, tak lupa juga dengan Angela dan lainnya. "Makanya, jadi orang jangan reseh," ucap Angela pada Cindy dan teman-temannya. Cindy terus saja menangis dan memegangi tangannya yang seperti mati rasa.
Tap love ya Readers