Detik berikutnya, tubuh yang lembut itu masuk ke dalam pelukan Fernando, Fernando pun dapat mencium wangi tubuh gadis tersebut.
“Apakah kamu baik-baik saja?” Fernando bertanya cemas sambil memegangi tubuh gadis itu dengan erat.
"Lepaskan aku! Kalau bajuku kotor, memangnya kamu bisa menggantinya?!"
Gadis itu meraung-raung dengan marah seperti kucing yang ekornya terinjak, dia berusaha lepas dari pelukan Fernando.
"Baiklah, baiklah, akan kulepaskan. Buat apa kamu berteriak begitu keras?"
Fernando mengerutkan kening, dia sudah berniat baik untuk menolong gadis itu, tetapi malah diperlakukan seperti ini, Fernando benar - benar kesal.
Fernando pun langsung melepaskan gadis itu begitu saja.
"Aw!"
Gadis itu menjerit dan jatuh ke tanah karena dilepaskan secara tiba-tiba.
Untungnya gadis itu merespon tepat waktu dengan menopang tubuhnya di tanah memakai kedua tangan, kalau tidak dia pasti sudah jatuh.
"Dasar br*ngsek, laki - laki macam apa kamu! Mana ada laki - laki yang memperlakukan seorang gadis seperti ini?!"
Gadis itu berteriak frustasi. "Sama sekali tidak gentleman!"
"Benar juga, kamu adalah orang miskin yang tidak mampu menghidupi dirinya sendiri, bagaimana mungkin bisa bersikap gentleman!"
"Sepertinya kamu tidak pernah menggandeng tangan seorang pun wanita!"
Nadia masih ingin melanjutkan ucapannya, tetapi ketika dia mengangkat kepalanya, Fernando sudah pergi jauh tanpa melihat ke belakang.
...
"Ini yang namanya niat baik tidak dihargai, kalau tahu begini jadinya, aku tidak akan mau membantunya."
Fernando sedikit kesal, kebetulan ada seorang pelayan yang berjalan ke arahnya, Fernando pun mendekatinya dan menanyakan lokasi Aula Naga.
Pelayan itu agak terkejut ketika melihat pakaian Fernando, tetapi pada akhirnya dia tetap memberitahu Fernando di mana Aula Naga berada.
Saat itu, di Aula Naga Restoran Danau Zamrud.
Semua makanan telah siap dihidangkan di meja panjang, ada lobster dari Australia, oseng pepaya muda, sashimi abalone, sirip hiu…...meja tersebut dipenuhi jajaran hidangan yang memesona, wangi harum masakan pun memenuhi udara, sangat menggiurkan sampai membuat orang - orang meneteskan liur.
Kedua sisi meja panjang dipenuhi deretan manusia, masing-masing dari mereka menunjukkan ekspresi gugup, seolah sedang menunggu tamu kehormatan.
"Kenapa Pak Fernando belum datang?"
Casril, Direktur Cabang Timur Indonesia, terus menerus melirik ke arah jam tangannya dengan cemas.
Tahun ini Casril berusia lima puluh tahun, dia telah bekerja keras siang dan malam selama bertahun - tahun demi memimpin Cabang Timur Indonesia, akibatnya rambutnya pun memutih, membuatnya tampak seperti berusia enam puluhan.
Meskipun begitu, dari tubuhnya masih terpancar wibawa yang sangat kuat, membuat orang lain menjadi segan. Ini adalah wibawa yang hanya bisa dimiliki oleh orang yang sudah lama menjabat di posisi tinggi.
Kreek…...
Tepat pada saat itu, pintu Aula Naga terbuka dan seorang pria muda masuk dengan ekspresi tenang.
"Pak Fernando!"
Mata Casril berbinar, dia pun segera berdiri, dan membungkuk dengan ekspresi penuh hormat.
"Pak Fernando!"
"Pak Fernando!"
"Pak Fernando!"
Deretan manusia yang ada di kedua sisi meja juga berdiri dan membungkuk kepada Fernando.
"Maaf, saya datang terlambat."
Fernando memandang semua orang dan tersenyum.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa, Pak Fernando berkenan untuk datang saja sudah merupakan kehormatan bagi kami di Cabang Timur Indonesia. Sebenarnya, saya tidak memiliki kepercayaan diri dapat mengundang Anda datang!"
Casril tersenyum, sikap Fernando yang seperti ini membuatnya merasa sangat senang.
Pak Fernando benar-benar orang yang rendah hati!
“Pak Fernando, silakan duduk, mari kita mulai makan!” Casril berkata dengan hormat.
Fernando pun tidak sungkan - sungkan, dia langsung duduk di meja.
“Direktur, Nona masih belum datang.” ketika Casril makan, sekretarisnya datang dan berbisik ke telinga Casril.
"Gadis ini, berani - beraninya dia datang terlambat! Bukankah aku memintanya untuk datang lebih awal demi menyambut Pak Fernando?! Kalau dia sampai berani mengabaikan Pak Fernando, lihat saja bagaimana aku memberinya pelajaran!"
Casril berkata dengan dingin sambil mengerutkan keningnya.
Sekretaris itu sangat ketakutan sampai mematung di sana dan tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.
Casril hanya ramah di hadapan Fernando, di hadapan orang lain dia selalu menunjukan ekspresi sangar, terutama saat dia marah, ekspresinya akan membuat orang lain ketakutan.
Kreet…...
Pada saat ini, pintu Aula Naga terbuka kembali, dan masuklah seorang gadis.
Gadis itu berambut panjang bergelombang, dia mengenakan kaos yang memperlihatkan pusar indahnya, penampilannya sangat memesona, kulitnya halus serta cerah, dan sosoknya memancarkan gairah gadis muda.
"Nadia, kenapa kamu baru datang sekarang!"
Melihat gadis itu, Casril langsung memarahinya. "Ayah sudah bilang padamu untuk datang lebih awal demi menyambut Pak Fernando, kamu malah membiarkan Pak Fernando menunggu begitu lama, bagaimana kalau kamu sampai membuat Pak Fernando marah?!"
Gadis itu adalah putri bungsu Casril yang baru berusia 20 tahun, namanya Nadia Sawad, dia sangat cantik mempesona dan merupakan gadis muda yang manis.
"Ayah, aku juga ingin datang lebih awal! Tapi dalam perjalanan aku bertemu dengan orang miskin, dia membuatku tersandung, aku sangat kesal! Kalau tidak, aku juga tidak akan datang terlambat untuk bertemu Pak Fernando!”
Nadia pun cemberut, teringat kejadian saat bertemu laki - laki miskin yang pakaiannya tidak lebih dari empat ratus ribu rupiah itu, Nadia seketika merasa kesal.
"Oh, iya, di mana Pak Fernando?"
Mata Nadia pun bersinar lagi, dia melihat ke arah ujung meja.
Detik berikutnya, gadis itu tercengang.
"Mustahil, kenapa orang miskin ini ada di sini?!"
Nadia tidak bisa memercayainya, yang duduk di ujung meja adalah orang miskin yang dia temui barusan!
Mengapa orang miskin tersebut bisa duduk di posisi itu?
Untuk sesaat, Nadia tidak bisa memberikan reaksi.
"Orang miskin?"
Casril sangat marah ketika mendengar hal ini.
"Nadia, kenapa kamu berbicara seperti itu kepada Pak Fernando!"
"Cepat minta maaf kepada Pak Fernando!"
"Pak Fernando? Tidak mungkin! Ayah ingin bilang bahwa dia adalah Pak Fernando yang Ayah undang untuk makan malam? Pemimpin masa depan Keluarga Lukman?" Nadia menutup mulutnya dan masih tidak bisa percaya.
"Apa maksudmu? Apakah kamu mempertanyakan identitas Pak Fernando?!"
Casril tampak sangat marah, biasanya putrinya sangat pintar, mengapa di saat penting seperti ini otaknya tidak jalan! Beraninya dia meragukan identitas Fernando!
Jika masalah ini sampai di telinga Bapak Yasri, jangan harap Casril bisa menjadi Direktur Cabang Timur Indonesia!
“Jika kamu bukan putriku, aku sudah menamparmu dari tadi untuk mengajari kamu sopan santun!” Casril berseru, dia sangat marah sampai menghentakkan kakinya.
Melihat kemarahan Casril, Nadia akhirnya mengerti bahwa yang ada di depannya adalah tamu terhormat sang ayah, yaitu Pak Fernando!
Nadia sering ikut Casril menghadiri banyak jamuan makan dan mengerti soal tata krama, gadis itu langsung mengambil segelas anggur dan berjalan ke arah Fernando, dia mengucapkan sesuatu dengan wajah penuh penyesalan.
"Pak Fernando, maaf atas kelancangan saya tadi, sebagai permintaan maaf, saya menghukum diri dengan meminum segelas anggur!"
Usai berbicara, Nadia meminum segelas anggur sampai habis.
“Tidak apa-apa, ini bukan masalah besar.” Fernando tersenyum tipis, dia tidak begitu peduli.
“Pak Fernando benar-benar murah hati!” Casril mengagumi.
Kemudian, mereka melanjutkan makan.
Semua orang bergantian bersulang untuk Fernando dengan penuh hormat, mereka tidak berani mengabaikan Fernando sedikit pun.
Meskipun semua orang meminumnya sekaligus, tetapi Fernando hanya mencicipinya sedikit. Walaupun demikian, semua orang tidak berani protes sama sekali.
Dalam pandangan mereka, bisa makan bersama orang seperti Fernando saja sudah merupakan sebuah kehormatan.
“Pak Fernando, bagaimana pendapat Anda tentang putri kecil saya, Nadia?” Casril mendekat sambil menuangkan segelas anggur, dia memandang Fernando sambil tersenyum.
Fernando terkejut, dia melirik Nadia sembari tersenyum. "Putri Anda tidak hanya cantik, tetapi juga tahu tata krama, dia sangat kalem dan melakukan segala sesuatu dengan tenang."
Fernando mengatakan yang sebenarnya, semua itu dapat terlihat dari perilaku Nadia barusan.
“Haha, putriku pasti melakukan banyak kebaikan sehingga beruntung bisa mendapatkan pujian dari Pak Fernando!” Casril tertawa bahagia.
"Nadia, Pak Fernando telah memujimu, bukankah kamu seharusnya berterima kasih kepada Pak Fernando?"
“Terima kasih, Pak Fernando!” Nadia menjawab dengan pipi merona merah.
“Tidak masalah.” Fernando berkata sambil melambaikan tangannya.
“Pak Fernando, jika Anda tertarik pada putri saya, apakah Anda bersedia menerimanya?” Casril tiba-tiba berkata ragu.