Bab.16 Fernando Yang Senang Bersaing

1089 Words
  "Bapak Qadir, Anda terlalu sungkan!"   Hadi berkata sambil tersenyum, dia masih sedikit bingung, bagaimanapun juga Bapak Qadir adalah seorang direktur di rumah sakit umum, ditambah lagi tempat ini adalah rumah sakit terbesar di Kota Lautan Timur, setiap hari pasti banyak orang yang meminta bantuannya.   Tetapi hanya terhadap Hadilah Bapak Qadir bersikap begitu baik, dia berusaha menyenangkan Hadi!   “Apakah ini karena Bapak Qadir memiliki hubungan dengan Bapak Zamri?” Hadi diam-diam bertanya di dalam hatinya.   “Syukurlah bila Anda merasa lebih baik!” Qadir tersenyum dan melanjutkan. “Bapak Tazuddin baru saja sembuh dari penyakit serius, saat ini membutuhkan beberapa suplemen untuk memulihkan kondisi badan. Hei, ini…...”   Tiba-tiba saja, Qadir melihat kotak hadiah berisi teripang di tempat sampah, matanya melotot lebar, dia merasa sedikit terkejut, seperti teringat akan sesuatu.   “Itu hadiah dari menantu saya, tetapi saya tidak menyukainya, jadi saya buang ke tempat sampah.” meskipun Tazuddin tertawa, tetapi dalam hatinya dia merasa marah dan kesal.   Fernando yang tidak berguna itu, dia bukan hanya mempermalukan Keluarga Yasmudi di hadapan para kerabat, sekarang bahkan Bapak Qadir pun melihat teripang murahan tersebut, benar-benar memalukan!   Semua kerabat Fernando juga ikut menatap Fernando dengan tatapan dingin.   "Ehm, Pak Tazuddin, apakah saya boleh melihat hadiah ini?"   Tazuddin menatap kotak hadiah berisi teripang, dia menggosok - gosok tangannya karena malu.   "Um…...tentu saja." Tazuddin tertegun sejenak. "Hadi, ambil kotak hadiah itu dan perlihatkan kepada Bapak Qadir."   "Tidak perlu, bagaimana mungkin saya merepotkan Pak Hadi untuk melakukan hal semacam ini, saya bisa melakukannya sendiri!"   Qadir melambaikan tangannya, dengan cepat dia mengambil kotak hadiah itu dan melihatnya dengan hati - hati, dia kemudian bertanya.   "Pak Yasmudi, bolehkan saya membukanya?"   “Tentu saja.” Tazuddin berkata sambil tersenyum.   Qadir pun tidak sungkan lagi, dengan penuh keahlian dia membuka kotak tersebut, dokter itu kemudian memeriksa dua teripang di dalamnya dengan saksama.   Kemudian, wajah Qadir menunjukkan ekspresi tidak percaya, dia pun menarik napas.   "Ini…...saya tidak menyangka ada teripang seperti ini di Indonesia!"   "Ah? Apa maksud Bapak Qadir?"   Semua orang di kamar terkejut begitu mendengar hal ini.   “Bapak Qadir, itu hanyalah sebuah teripang, apakah perlu sampai terkejut seperti itu?” Tazuddin bertanya penasaran.   "Barang seperti ini sangat banyak ditemukan di pasar, sama seperti sampah. Nilainya jauh lebih rendah dari ginseng yang diberikan menantu tertua saya. Ginseng itu harganya lebih dari sepuluh juta rupiah per buah!"   "Pak Tazuddin, apa yang Anda katakan…...astaga!"   Qadir menghela nafas, dia sangat menyayangkannya. "Ini bukan teripang biasa, ini adalah teripang khusus dari Pelabuhan Morsman Arktik di Russland, tidak bisa dibandingkan dengan teripang kualitas rendah di negara ini! Perbandingan kualitasnya sangat jauh bagaikan langit dan bumi!”   “Ah? Benarkah?” Tazuddin dan semua kerabat tercengang.   "Tentu saja benar!"   Qadir mengangguk. "Dua tahun lalu, ada seorang menteri yang dirawat di rumah sakit kami, dan salah satu suplemen yang dikirim para bawahannya adalah teripang ini, saat itu saya sampai mencari informasinya.”   "Harga teripang ini dua puluh juta rupiah!"   "Dua puluh juta rupiah? Kalau begitu tidak terlalu mahal! Bila membandingkan ginseng yang suami saya beli dengan teripang ini, perbedaan harganya masih sangat jauh.” Yana mengerucutkan bibirnya, tapi jika dia sendiri disuruh mengeluarkan uang dua puluh juta untuk membeli teripang, tentu saja dia tidak akan rela.   "Memang harga satu buah teripang adalah dua puluh juta rupiah." Qadir berkata sambil melirik Yana. "Di dalam kotak ini ada dua teripang, ditambah kemasan, biaya transportasi udara, pajak dan biaya lainnya, mungkin total uangnya sekitar delapan puluh juta rupiah."   "Delapan puluh juta rupiah!"   Mulut Yana terbuka, sulit baginya untuk percaya, benarkah dua teripang murahan ini harganya mencapai delapan puluh juta rupiah?   "Bapak Qadir, Anda tidak sedang bercanda, ‘kan?"   Tazuddin pun tidak dapat memercayainya, lain halnya jika Hadi yang memberikan hadiah itu, Tazuddin pasti akan memercayainya.   Intinya, teripang ini adalah hadiah dari Fernando si miskin yang tidak berguna, mana mampu dia memberikan hadiah seharga delapan puluh juta rupiah?   "Saya tidak bercanda." Qadir berkata dengan serius. "Saya memiliki pengetahuan terhadap produk-produk kesehatan, saya sangat yakin bahwa teripang ini asli."   “Sungguh tidak kusangka bahwa Fernando, si miskin yang tidak berguna ini, ternyata bisa menghabiskan delapan puluh juta rupiah demi membeli hadiah untuk Ayah!” Yana melirik Fernando dan bergumam dalam hatinya.   "Tidak, anak ini tidak punya pekerjaan, bagaimana mungkin dia bisa mengeluarkan begitu banyak uang? Sudah pasti Sarah yang menyuruh Fernando membeli teripang ini dan membayarnya, semua ini demi menyelamatkan kehormatan Fernando di hadapan para kerabat!"   "Wah, aku tidak menyangka Sarah masih memiliki sisa tabungan, aku pikir dia sudah kehabisan uang setelah membayar dua ratus juta rupiah, tapi sepertinya tabungannya sangat banyak! Saat itu dia bilang bahwa dia sampai tidak punya uang naik kendaraan gara-gara menolongku, sepertinya itu semua bohong!"   “Benar-benar egois!” Yana semakin membenci Sarah.   “Pak Hadi benar-benar murah hati sampai bisa memberikan teripang yang begitu berharga!” Qadir memandang Hadi dengan ekspresi kagum.   Menurut Qadir, hanya orang seperti Hadi yang mampu membeli teripang dengan kualitas seperti ini.   Bahkan pegawai Biro Kesehatan Mahmud pun bersedia membantunya!   “Um…...bukan saya yang memberikannya.” Hadi tersipu malu.   "Ah? Kalau begitu siapa yang memberikannya?" Qadir tercengang.   "Itu adalah pemberian dari menantu kami yang tidak berguna!"   Tazuddin memicingkan mata ke arah Fernando sambil berkata dengan nada dingin "Teripang seharga delapan puluh juta rupiah? Itu benar-benar mewah! Kamu bersedia memberikan hadiah yang sangat berharga ini kepada keluarga, rupanya kamu benar-benar senang bersaing!"   "Betul, Fernando, walaupun kamu punya uang, kamu juga tidak boleh boros seperti ini!"   "Kamu sangat senang bersaing, tukang cari muka!"   Semua kerabat Fernando setuju.   “Lagi pula, nutrisi apa yang dimiliki teripang? Apakah bisa dibandingkan dengan ginseng liar yang dikirim oleh suamiku?” Yana bertanya lagi. “Tidak peduli seberapa mahal harganya, apa gunanya bila tanpa nutrisi? Ginseng liar yang kami berikan barulah suplemen yang bagus."   "Ginseng liar memang suplemen yang sangat bagus, tetapi tidak cocok untuk orang yang baru sembuh dari penyakit serius seperti Pak Tazuddin, suplemen yang terlalu kuat seperti itu malah mungkin dapat membahayakan kesehatan Pak Tazuddin," kata Qadir.   "Lain halnya dengan teripang itu, teripang adalah suplemen yang tidak terlalu kuat, sehingga tidak berbahaya bagi tubuh, sangat cocok untuk kondisi Pak Tazuddin sekarang."   Mendengar ini, Yana tidak dapat berkata-kata lagi, wajahnya terlihat sangat masam.   Pada saat ini, Qadir memandang Fernando.   Pemuda di depannya ini memiliki pandangan dan ekspresi yang tenang, seolah-olah dia tidak mempermasalahkan semua ini.   Qadir kembali menatap Hadi lagi.   Melihat tatapan Qadir, Hadi pun tersenyum, senyumnya semakin lebar, penuh sanjungan seolah-olah ingin menyenangkannya.   "Mungkinkah…..."   Sebuah ide tiba-tiba muncul di benak Qadir.   Begitu ide tersebut muncul, Qadir pun tidak dapat mengontrolnya lagi, dia sangat panik sampai seluruh tubuhnya gemetar.   "Mungkinkah…...petinggi yang sebenarnya adalah Fernando, si menantu kedua?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD