"Tidak pantas naik BMW?"
Ketika mendengar hal ini, Nadia yang berada di sisi Fernando, mengerucutkan bibirnya karena tidak senang.
"Pak Fernando, apakah itu kerabat Anda? Kenapa dia sangat tidak sopan? BMW tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Rolls-Royce, beraninya dia mengatakan bahwa Anda tidak pantas naik sebuah BMW…..."
Fernando mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada Nadia untuk tidak berbicara.
Nadia pun menelan kembali semua kata-katanya dan dengan patuh menutup mulutnya, tapi dia masih merasa agak marah.
“Sebentar lagi aku akan kesana.” Fernando berkata kepada Hadi.
"Baik, di sini banyak kerabat yang datang, kamu sekalian beli buah-buahan, hadiah, dan lain - lain untuk diberikan kepada Ayah. Anggap saja berbakti kepada Ayah, meskipun kamu merasa tidak rela dan tidak menganggap Ayah kami sebagai Ayah kandungmu, setidaknya berpura-puralah!" Hadi tertawa lagi.
Fernando mengerutkan kening, dia terlalu malas untuk membantah. "Baiklah, aku mengerti."
Setelah menutup telepon, Fernando meminta Nadia untuk mengantarnya ke Rumah Sakit Umum Kota Lautan Timur.
Ketika hampir sampai di Rumah Sakit, Fernando berkata. "Berhenti disini saja, aku akan berjalan kaki masuk."
Rolls-Royce terlalu mencolok, mobil itu bisa menarik perhatian banyak orang di jalan, Fernando merasa lebih baik dirinya tidak terlalu mencolok.
"Baik, Pak Fernando."
Nadia tentu saja tidak berani melawan keinginan Fernando, dia pun dengan patuh menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Fernando turun dari mobil, kemudian masuk ke rumah sakit, dan tiba di kamar Tazuddin.
Walaupun tidak sebanyak kemarin, tetapi di dalam kamar masih ada beberapa kerabat Fernando.
"Fernando, si orang yang tidak berguna, sudah datang!"
Paman Fernando berseru ketika melihat Fernando, semua orang pun menoleh.
Ayah Mertuanya, Tazuddin, sedang berbaring di ranjang rumah sakit, warna mukanya sudah membaik. Ketika melihat Fernando, Tazuddin tidak bisa menahan diri untuk tidak mendengus, dia lalu membuang muka dan menganggap Fernando seperti udara kosong.
“Ayah, aku datang untuk menjenguk Ayah.” Fernando berjalan mendekati tempat tidur.
“Ah, ternyata kamu masih paham untuk datang melihat Ayah.” Yana berkata sebelum Tazuddin sempat berbicara sepatah kata pun.
"Ayah dirawat di rumah sakit, kita lupakan masalah keterlambatanmu kemarin, tapi hari ini aku sampai harus menelepon kamu dulu baru kamu bersedia datang! Sungguh tidak tahu diri!"
"Betul, Fernando sama sekali tidak berbakti!"
“Bagaimanapun juga dia hanya seorang menantu laki-laki, dia tidak menganggap Keluarga Yasmudi sebagai keluarganya sendiri!"
"Dua-duanya sama-sama menantu laki-laki, tapi perbedaannya jauh sekali! Kudengar Hadi bahkan memberikan hadiah!"
Semua kerabat menuding Fernando.
“Kamu masih bisa datang ke sini rupanya.” Tazuddin memandang ke arah Fernando. “Apakah kamu berharap aku mati disini?”
"Bukan begitu, Ayah, hari ini aku ada urusan." Fernando menjelaskan.
"Urusan?" Tazuddin tersenyum dingin. "Kamu itu pengangguran, setiap hari hanya makan dan menunggu untuk mati, kalau tidak sedang tidur, pasti sedang makan, orang sepertimu memang punya urusan apa? Apakah makan dan tidur lebih penting daripada menjengukku?"
Fernando merasa tidak berdaya, sadar bahwa dia tidak dapat membantah Tazuddin, Fernando hanya bisa berkata.
"Maaf, Ayah, ini semua salahku."
“Hmph, baguslah kalau kamu mengakui kesalahanmu.” Tazuddin mendengus. “Lihatlah Hadi, dia membelikan aku hadiah, tidak mungkin kamu datang kesini dengan tangan kosong, bukan?”
“Ayah, aku juga membawakanmu hadiah.” Fernando mengambil kotak hadiahnya.
“Apa ini?” Tazuddin melihat ke bagian atas dan bawah kotak hadiah, tertulis banyak huruf yang tidak dia mengerti.
“Di dalamnya berisi teripang,” jawab Fernando.
“Teripang?” Muka Tazuddin penuh kecurigaan. “Berapa banyak teripang yang ada dalam kotak sebesar ini?”
"Dua." kata Fernando dengan jujur.
“Kamu menggunakan kotak yang begitu besar hanya untuk membungkus dua teripang murahan?” Tazuddin memandang Fernando seperti memandang orang bodoh.
"Fernando, apakah kamu bodoh? Berapa harga teripang ini? Satu teripang murahan harganya hanya puluhan ribu! Kotak di tangan kamu harganya lebih mahal daripada teripang di dalamnya! Apakah hadiah kamu ini harganya lebih dari 100 ribu rupiah?"
Begitu Tazuddin selesai berbicara, semua orang tertawa.
"Hahaha, Fernando benar-benar bodoh, tidak memberikan hadiah yang lain, malah memberikan teripang!"
"Berapa harga teripang ini? Teripang murah yang kulihat di internet harganya hanya puluhan ribu rupiah!"
“Hanya hantu yang tahu apa yang dipikirkan Fernando!”
"Dia mengirim teripang, tapi yang Hadi kirimkan adalah ginseng!"
"Jauh! Jarak di antara kedua menantu ini sangat jauh!"
Semua orang berbicara sambil melihat Fernando dengan tatapan penuh ejekan dan hinaan.
“Hmph, Fernando telah membuat malu Keluarga Yasmudi di depan para kerabat!” Yana menatap Fernando sinis.
"Hadi!" Tazuddin berteriak. "Bawa ginseng itu ke sini, aku lapar, buatkan semangkuk sup ginseng untukku!"
"Baik, Ayah!"
Hadi menjawab, tidak lama kemudian dia membawa semangkuk sup ginseng panas untuk Tazuddin.
"Ginseng liar memang sangat berbeda, warna sup ginsengnya sangat pekat, aroma ginsengnya pun sangat kuat, ini barang bagus yang sangat berharga!"
Tazuddin mengambil sendok sup, mengambil sesendok sup ginseng, meniupnya dan memakannya, decak kagum terucap dari mulutnya.
Sambil memakan sup ginseng, Tazuddin memandang Fernando dengan penuh penghinaan.
"Fernando, kamu juga menantu di keluarga ini, aku akan sangat lega jika saja kamu memiliki sepersepuluh rasa bakti seperti Hadi. Lihat apa yang Hadi berikan? Ginseng liar! Itu mahal sekali dan merupakan suplemen yang bagus!"
"Lihat dirimu, kamu memberi teripang! Hadiahmu ini bila ditotalkan juga tidak sampai seratus ribu rupiah"
Tazuddin dengan terang-terangan mengejeknya.
Hadi, yang mendengar ini, berdiri dengan bangga sambil berkata.
"Ayah, itu semua adalah hadiah yang melambangkan niat hati, jangan melihat dari harganya. Selain itu, Fernando tidak memiliki pekerjaan dan sumber pendapatan, bisa membeli hadiah seharga seratus ribu saja sudah bagus! Aku rasa untuknya, uang seratus ribu sudah merupakan uang yang besar!"
"Lagi pula, ginseng liar yang aku berikan juga tidak mahal, harganya hanya 10 juta lebih, tidak mahal sama sekali!"
“Fernando, lihat betapa baiknya Kakak iparmu, dia masih membantumu bicara demi menjaga kehormatanmu!” Tazuddin menyipitkan mata ke arah Fernando.
"Kedepannya kamu harus banyak belajar dari Hadi, belajarlah bagaimana menjadi manusia yang baik. Bisa mempelajari sedikit pun sudah cukup untuk kamu gunakan di seluruh sisa hidupmu!
"Buang saja teripang murahanmu itu, aku tidak mau!"
Tazzudin mengayunkan tangannya, melemparkan kotak hadiah berisi teripang yang diberikan oleh Fernando ke tempat sampah.
"Fernando bukan hanya miskin, tetapi dia juga tidak tahu bagaimana menjadi manusia yang baik, dia memberikan teripang dengan menggunakan bungkusan yang sangat bagus, membuat orang lain merasa itu adalah barang yang mahal! Di atasnya juga tertulis serangkaian huruf asing, mereka yang tidak tahu akan berpikir kalau itu adalah produk luar negeri!”
Paman Fernando berkata. "Untungnya kita tahu kemampuan Fernando, bagaimana mungkin dia dapat membeli barang dari luar negeri! Sangat jelas dia hanya pura - pura dan ingin membodohi Ayah mertuanya!"
"Ini bukan hanya soal bagaimana menjadi orang yang baik, tapi juga soal karakternya yang bermasalah!”
"Tukang cari muka!"
"Benar!"
Kerabat Fernando itu mulai membicarakannya lagi.
Tepat pada saat itu, seorang dokter dengan senyuman di wajahnya masuk ke dalam kamar.
Dokter itu kira-kira berusia lima puluhan, memakai kacamata tebal, kharisma terpancar dari tubuhnya.
"Bapak Qadir sudah datang!"
Hadi langsung berkata heboh saat melihat orang itu.
Orang tersebut adalah Qadir Latif, Direktur Rumah Sakit Umum.
“Pak Hadi!” Bapak Qadir mengangguk ke arah Hadi, matanya dipenuhi sanjungan, dia kemudian bertanya.
"Bagaimana kesehatan Bapak Tazuddin?"
“Saya merasa lebih baik sekarang, dan saya harus berterima kasih kepada Bapak Qadir atas bantuan dari Bapak!” Tazuddin tertawa.
"Oh, tidak, tidak, merupakan kehormatan bagi saya bisa melakukan sesuatu untuk Pak Hadi!"
Qadir lekas-lekas bicara, dia tampak tersanjung.