11. tertolak dan ketahuan

3481 Words
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *   Agas sedang di kantin bersama tiga pengikutnya—haha, kalau yang lain tahu bahwa mereka disebut pengikut, pasti mereka akan mengernyit jijik. Ini adalah jam istirahat kedua, yakni jam 12 tepat. Dimana jam istirahat berlangusng empat puluh lima menit sedangkan jam istirahat pertama yang berlangsung pukul sembilam tepat itu hanya sampai dua puluh menit saja. Jelas perbedaannya jauh karena waktu makan siang digabung dengan jam sholat dhuhur.   Dengan empat pop mie soto di meja dan minuman kemasan dengan merk berbeda, kini Agas, Deril, dan Andi sedang mendengarkan Dava yang bercerita tentang permainan sepak bola minggu lalu antara kelasnya dan alumni SMA Delite jurusan IPS yang berakhir sengit. “Padahal cuman main biasa, anjir. Bukan tanding di classmeet. Ngapa pakai licik segala, coba?” ujar Dava menggebu-gebu. Cowok itu jelas gak terima karena dia jadi korban dijegal dan membuat punggungnya sakit sampai empat hari. “Kayak gak apal aja, sih, lo sama kelakuan anak alumni.” Deril mengangguk setuju dengan kalimat Andi. “Yang pas classmeet kita kelas 10 inget gak, sih? Mentang-mentang kita anak baru, mereka licik banget anjir mainnya.” “Oh, yang ngasih sepatu lo pake oli?” tebak Agas. Kejadian kala itu memang tidak terlupakan. Alumni SMA Delite khususnya anak IPS 1 dan 3 memang dikenal jadi kakak kelas yang paling kejam. Suka tawuran, keluar masuk BK, bahkan angkatan Agas pernah mendengar bahwa Brandon—salah satu kakak kelasnya dari IPS 3—pernah menghamili anak baru. Juga pernah teman Brandon yang satu lagi, kalau Agas tidak salah ingat namanya adalah Londo, dia pernah ditangkap polisi karena transaksi sabu-sabu dan berujung di drop out dari sekolah. Tapi gak tahu kenapa Londo masih punya muka buat beberapa kali keluar masuk SMA Delite pas bukan hari aktif—seperti misalnya pas class meet atau acara ulang tahun sekolah. Memang gak punya malu. “Lo juga, Njir.” Agas meringis. “Iya. Tapi gue, kan, gak sampai kepleset di lapangan kayak lo.” “Tapi lo ujungnya malah tonjok-tonjokkan sama mereka.” Disudutkan Deril begitu, Dava jadi buka suara lagi. “Gak bisa nyalahin Agas, lah. Orang mereka yang mulai dorong-dorong. Kalau lo gak lagi dibawa anak PMR ke UKS, lo pasti juga bakal ngasih bogem.” “Betol!” Agas menyahut setengah berseru. “Harusnya Andi gak usah ngelerai-ngelerai. Kan mumpung gak ada guru sekalian aja kita balas dendam.” “Mata lo gak ada guru,” Andi jadi menyahut juga. “Pak Hari ngelihatin dari balkon kelas atas, Njir.” “Lah, masa?” Andi memutar bola matanya. “Lo gak tahu aja gue sebenernya udah mau bantuin lo sama Dava buat nonjokin mereka, tapi gue gak sengaja ngelirik ada Pak Hari sama Pak Danang mantau dari atas sambil bawa buku item.” Mendengar kalimat itu muncul dari bibir Andi, jelas saja tiga yang lain jadi langsung diam karena terpukau. “Ngibul ya lo?” Agas memicingkan mata. Andi mengernyit. “Apanya ngibul? Pak Hari sama Pak Danang di atas? Gak, Njir, asli.” “Bukan. Soal lo bilang lo sebenernya mau ikut nonjokin.” “Asli, sih, kalau beneran Andi waktu itu ikut turun tangan, gue bakal bangga setengah mati. Ini Andi, woi! Akhirnya dia ikut ribut-ribut begini.” Andi cuman menghela nafas tak peduli, lalu lanjut meneguk minuman rasa jeruknya. Lalu percakapan mereka berhenti beberapa saat karena sama-sama cepat-cepat menghabiskan pop mie masing-masing—yah, walaupun jam masuk kelasnya masih lama juga, sih. “Eh, ngomongin soal class meet, kita bentar lagi juga udah class meet lagi, kan, yak?” Agas menatap teman-temannya satu persatu menuntut jawaban. “Ini bulan apa, sih?” “April.” “Oh, berarti bener bentar lagi class meet.” Andi mengusap bibirnya dengan tisu lalu menatap Agas muak. “Class meet aja yang lo pikirin. UPRAK dulu, gublu.” Dava terbahak. “Iya juga. b**o lo, Gas. Yang UPRAK, nih, malah udah di depan mata.” “Lah, ngapain mikirin UPRAK? Otak lo tuh harus dibuat mikir sesuatu yang bisa bikin bahagia. UPRAK, mah, bikin pusing.” Dava menjentikkan jemarinya. “Sepakat. Gue retweet kata-kata lo, Gas.” “Ye, bangke. Tadi belain Andi. Sekarang ngeretweet gue.” “Suka-suka, lah.” “Eh, by the way. Kalau UPRAK-nya anak IPS, tuh, apa aja, dah?” “Olah raga—“ Deril menatap Agas malas. “Ya selain olah raga, kesenian, sama Agama Islam.” “Yang mata pelajaran IPS-nya?” tebak Andi. Deril mengangguk. “Iye. Lo ada bocoran belum Ndi dari guru?” Nah, kalau mendekati ujian-ujian sekolah begini, biasanya Andi Pramana memag mendapat bocoran kisi-kisi soal dari guru-guru. Biasalah, karena Andi adalah murid kesayangan banyak guru. Jadi hal kayak gini bisa terjadi. Atau kalau gak gitu, karena kerjaannya Andi adalah keluar masuk ruang guru dan ruang kurikulum, biasanya ketika dia ke meja salah satu guru, dia melihat kertas soal ujian atau kisi-kisinya saja di sana. Walaupun cowok itu tergolong pinter banget dan jenius, bukan berarti dia gak mau memanfaatkan kesempatan yang ada dong? Jadi, ya... begitu. Andi menggeleng. “Gue dari sebulan yang lalu, kan, udah gak pernah ikut apa-apa. Gak ada ngobrol atau tea time sama guru-guru. Jadi ya gak dikasih bocoran.” “Hmm, sayang sekali.” “Ngeri gak lo pada ngebayangin kalau Ekonomi ada UPRAK, disuruh nyelesaiin soal tabel akuntansi langsung di papan tulis terus di count down?” Agas menatap teman-temannya dengan mata yang perlaha melebar. Lalu bergidik. “Anjir, amit-amit.” “Jangan sampe, lah, Njir. Gue b**o banget Ekonomi.” “Ya elah, Dav, elo mah gak b**o di Ekonomi doang kali.” Dava mengumpat. Lalu kemudian mereka berempat saling diam, menimbulkan hening di meja tersebut, hanya suara berisik dari meja lain saja yang mampir di telinga. Pikiran Agas melayang ke hal lain, lalu tak lama, senyum—atau tampaknya itu lebih seperti seringai—muncul di bibirnya. Deril yang gak sengaja ngelihat Agas jadi langsung menabok pundak Agas sedikit keras membuat cowok itu terkejut dan berjengit dari kursi. “Ngelamun aja lo.” “Bang—astaghfirullah.” “Siang bolong ngelamunin yang jorok-jorok, ya, dirimu?” Agas memutar bola matanya. “Elo kali yang lagi mikir jorok.” “Alah, ngaku!” “Kagak, anjing. Gue lagi kepikiran sesuatu aja.” Dava menyeruput tetes terakhir di teh botolnya. “Spill.” “Mau tau aje lo urusan gue.” “Ye anjir.” Percakapan mengenai itu berhenti disana. Selanjutnya yang didengar Agas adalah Andi yang berpamitan pergi ke toilet sedangkan Deril dan Dava membahas mengenai Cinta yang dicurigai udah punya pacar padahal masih bocah—gak bocah juga, sih, orang cuman beda dua tahun dari sang kakak, tapi Deril selalu bilang Cinta ini masih terlalu kecil untuk tahu cinta-cintaan. Dasar Deril. Emang protektif banget anaknya. “Gue cabut dulu, ye.” ujar Agas usai melihat jam tangannya yang menunjukkan waktu jam istirahat masih ada lima belas menit lagi. Dava dan Deril otomatis langsung mengangkat kepala karena Agas yang berdiri dari duduknya. “Heh? Mau balik ke kelas? Lo belum ngerjain Prakarya?” Agas menggeleng sambil memasukkan dompetnya ke saku seragam celana abu-abu yang ia pakai. “Pasti mau nyamperin Ana, sih, kalau gue tebak.” Kali ini cowok itu memberi seringai sebagai jawaban. “Ye, dasar bucin!” “Ngaca, ya, kawan-kawan.” ucapnya sambil berlalu dari sana. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *   Sebenarnya, pas Agas berpamitan ke kedua temannya untuk menghampiri Aya, itu adalah sebuah kejujuran. Ia tidak berbohong. Tapi masalahnya, dia aja gak tahu Aya dimana. Dari awal bel istirahat berbunyi, dia udah ngirim pesan buat nanyain dimana keberadaan Aya, tapi gak dijawab. Sialnya, Agas juga gak tahu apa Aya sengaja gak membalas atau Aya memang belum membaca pesan masuk darinya. Ingatkan Agas buat segera membelikan ponsel baru buat kekasihnya biar Aya pakai Whats App. Bukan pakai SMS begini. Agas bukan mempermasalahkan hp kolot milik Aya, tapi jelas ini buat kenyamanan bersama. Eak. Agas menaiki banyak anak tangga sampai akhirnya ia bisa memasuki lorong kelas 10. Karena hafal letak ruang kelas Aya, Agas langsung mempercepat langkahnya—tidak memperdulikan banyak yang melihat Agas degan tatapan aneh –mungkin karena ngapain banget anak kelas 12 ke sini, juga ada yang melihat dengan tampang biasa aja cenderung gak peduli—ini biasanya dari cowok-cowok, atau ada yang menatapnya dengan muka caper—ini jelas dari anak-anak kelas 10 yang dandanannya udah kayak senior dengan rok di atas lutut, kaos kaki warna-warni serta bibir yang memakai liptint padahal sudah jelas di SMA Delite tidak boleh memakai pewarna bibir. Tok tok tok. Dengan tangan kiri di saku celananya, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk mengetuk pintu kelas yang terbuka dan menampilkan hanya ada beberapa anak yang stay di dalam ruangan padahal ini jam istirahat. Ketukan pintu membuat semua manusia disana menoleh. Agas melalukan scanning cepat dengan matanya untuk mencari keberadaan Aya tapi nihil. Cewek itu gak ada disana. “Aya Analisanya kemana, ya? Ada yang tahu?” Enam atau tujuh perempuan di meja yang sedang makan bekal menggeleng serentak, membuat Agas mengalihkan wajah ke arah dua cowok—satunya lagi baca buku dengan kaca mata tebal, satu nya lagi sedang menghapus papan tulis dengan wajah lumayan. Tegas dan kelihatan bukan anak culun. “Tadi, sih, katanya dipanggil ke ruang guru nemuin Pak Afif.” Agas mengangkat alisnya tinggi, menuntut penjelasan lebih lanjut dari kalimat yang keluar oleh bibir si cowok penghapus papan tulis. “Bahas persiapan lomba.” “Oh, oke, kalau gitu. Thanks, ya.” Si cowok penghapus papan tulis mengangguk sekilas lalu Agas pergi dari sana. Langkahnya ia percepat menuju barisan ruang guru, ruang BK, ruang kurikulum, ruang administrasi, ruang kepala sekolah, dan ruang-ruang lainnya yang letaknya ada di paling depan—artinya jarak dari kelas 10 ke sana, tuh, jauh banget, man. Agas menghela nafas, bisa-bisa belum sempet nemuin pacarnya, jam istirahat udah keburu abis. Tapi tidak. Ternyata tebakannya salah. Karena tepat ketika langkah kakinya mendekat pada ruang guru, gadis yang dari tadi ia cari muncul keluar dari ruang itu sambil mengucap salam berpamitan, dengan dua buku tebal yang ia rangkul dan ditaruh di depan d**a. Agas tersenyum lebar sambil mendekat. “Gue cariin elo ke kelas lo gak ada.” Aya berjalan lurus, yang mana Agas langsung mengikuti dan menyamakan langkah. “Kenapa nyariin?” Kalau dulu awal-awal setiap kali istirahat Agas sering kali menghampiri Aya untuk menghabiskan waktu bersama—yang padahal sebenarnya berujung Agas ngelihatin Aya baca buku di perpustakaan doang, belakangan ini sudah tidak begitu lagi. Selain karena Aya yang disibukkan sebagai sekretaris kelas yang harus mengantar buku absen dan lain sebagainya, Agas juga kadang jam istirahatnya telat karena ada kelas tambahan. “Bentar. By the way tadi gue tanya temen kelas lo, katanya lo lagi ngurusin lomba. Lomba apa? Kok gue gak tahu?” “Ooh, lombanya emang baru diumumin minggu lalu. Dan pengumumannya baru tadi pagi, katanya aku lolos seleksi.” “Lomba apa?” “Olimpiade Matematika.” Agas memutar bola matanya jengah. “Ya, ya, ya. Harusnya gue tahu.” Aya mengernyitkan dahi, matanya memicing. “Apa, tuh, maksudnya?” Agas cuman nyengir. “Ini kita mau kemana, sih?” tanya cowok itu mengalihkan pembicaraan. “Aku mau ke perpustakaan. Kakak mau kemana?” “Ikut lo. Jangan ke perpus, kek. Kantin aja, yuk?” Aya menggeleng. “Aku mau baca buku. Kalau kakak mau ke kantin, ya udah, sih, ke kantin aja.” Agas cemberut. Tapi tak urung juga tetap mengikuti kemana langkah kekasihnya pergi. “Aya.” “Hm?” “Gue bentar lagi udah UPRAK.” Aya menoleh. “Oh ya? Kapan?” “Gak sampai dua minggu lagi, sih, kayaknya.” “Ooh...” Agas berdecak. Bisa-bisanya cuman di-oh doang. “Ya udah, belajar yang rajin.” Cowok itu berdecak lagi. “Gini, gini. Gue, kan, eum... lo tahu... agak gimana gitu, ya, kalau suruh belajar sendirian. Gue payah kalau suruh mahamin materi kalau gak ada yang ngajarin,” cowok itu ngeles seribu cara. “Jadi gimana kalau... elo... ngajarin gue? Belajar bareng gitu maksudnya. Kan lo juga mau lomba. Sekalian, lah. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.” Maksud Agas sebenarnya adalah dia belajar sekalian buat UPRAK, plus bonus bisa pacaran sama ceweknya. Tapi ia gak mau, dong, Aya tahu niat aslinya. Jadi ia bilang gitu merujuk biar Aya mikirnya Agas punya maksud cewek itu belajar buat lomba, sekalian bantu Agas belajar. “Gak jelas.” Sayangnya, malah dua kata itu yang keluar dari bibir sang gadis. Agas melotot gak terima. “Duh, apanya yang gak jelas?” “Kakak, lah,” jawabnya sambil melirik singkat. “Pertama, aku harus fokus buat olimpiadeku sendiri. Belajar buat lombaya aja aku butuh waktu semaleman karena sorenya harus ke toko. Kenapa kakak malah nyuruh aku belajarin kakak? Gak ada waktu, lah. Yang kedua, aku ini kelas 10 jurusan IPA. Kakak kelas 12 jurusan IPS. Mana bisa aku ngajarin kakak?” Agas diam. Hatinya jadi dongkol sendiri, deh. Kenapa, sih, Aya selalu bisa mendebatnya dan membuat dia bungkam yang berakhir perdebatan dimenangkan oleh Aya dan bukan Agas? “Yah, Ay...” “Udah, deh, gak usah ngerengek gtiu. Kali ini bener-bener gak bakal mempan, kak.” “Jahat banget, sih, lo.  Ngajarin pacar sendiri aja gak mau.” Aya menghela nafas. “Bukan gak mau. Gak bisa.” “Sama aja.” “Beda lah.” “Terserah lo.” “Ya udah, emang itu terserah aku. Makanya keputusanku adalah menolak tawaran Kakak.” ujar Aya lalu menghentikan langkah kakinya tepat di dinding perpustakaan karena cewek itu akan segera masuk. “Udah, kan? Sekarang aku mau masuk. Kalau kakak mau ke kantin, ya udah ke kantin aja.” “Ini benera lo gak mau ngajarin?” Aya menggeleng. “Maaf, Kak, tapi aku gak bisa. Lomba ini juga harus aku prioritasin.” “...” “Aku boleh masuk sekarang?” Agas mengangguk. Ia menepuk kepada Aya lembut beberapa kali lalu mempersilahkan Aya ke dalam ruang perpustakaan. “Jangan bolos pelajaran, loh.” Aya mewanti-wanti. Agas nyengitr. “Iya, iya, enggak. By the way nanti pulangnya gue tungguin di parkiran langsung, ya.” Aya memberi jempolnya sebagai jawaban lalu benar-benar berlalu dari hadapan Agas. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *   Ketika Aya mendapati Agas duduk tenang di atas motornya, ia juga mendapati para kakak kelas teman-teman cowok itu bersama para pacar masing-masing. Dava dengan Gisel, Shara dengan Deril, dan Intan dengan Andi. Mereka bertujuh tidak terlihat seperti hendak pulang segera, padahal ini sudah sepuluh menit sejak bel sekolah berbunyi dan semua siswa berhamburan keluar gerbang. “Hai, Ayaaa.” sapa Shara, Intan, dan Gisel bersamaan. Aya tersenyum canggung, memang masih belum bisa membaur dengan baik. “Hai, Kak.” “Baru keluar kelas?” Agas bertanya sambil menyurunhnya mendekat. “Iya, maaf. Tadi ke ruang guru dulu.” “Oh, katanya Agas kamu mau ikut Olimpiade, ya?” Aya menoleh pada Intan lalu mengangguk. “Keren, deh. Gue mah apa gak pernah ikut lomba-lomba selain Modern Dance.” Aya meringis. Harusnya Intan tahu bahwa banyak perempuan di SMA Delite yang pasti juga iri kepada Intan karena bisa ikut lomba Modern Dance sampai menang kejuaraan berkali-kali. Aya pun juga. Tapi apalah daya kalau dia aja kaku disuruh joget. Ya kali mau masuk modern dance. “Semoga dilancarin dan bisa sampai nasional, ya.” ujar Intan lagi. “Internasional, lah. Kenapa nasional doang?” “Oh, iya. Bener juga.” Aya memasang senyum tulusnya sambil bilang amin dalam hati. “Makasih, Kak Intan.” “Ay, kamu ke toko jam 4, kan?” Aya mengangguk. Ia membalas tatapan si penanya, Agas. “Kenapa?” “Mau ikut aku ke Mak Ijah dulu?” “Hm? Ngapain?” By the way, soal Mak Ijah, Aya memang tahu warung itu karena Agas  sering bercerita bahwa warung itu adalah temoat nongkrong favorit mereka beremot—Agas, Deril, Dava, dan Andi. “Lama gak nongkrong disana aja, sih.” Aya menggigit bibir bawahnya, berpikir. “Aku pulang langsung aja gimana? Gak papa, kok. Kakak nongkrong aja.” “Ya jangan, dong. Ikut aja, ya? Gak ada sejam, janji.” “Setengah jam doang? Emang cukup?” tanya Aya dengan dahi mengernyit gak percaya. Omong-omong mereka berdua bicara dengan sedikit berbisik, jadi yang lainnya gak dengar. Lagi pula yang lain juga lagi ngomong sendiri-sendiri. Gak ada yang menaruh fokus tepat di Aya dan Agas jadi aman. Agas meringis. “Dicukup-cukupin. Ya? Ikut, ya?” “Ya udah iya. Eh tapi aku gak cewek sendiri, kan?” “Ada Gisel, kok.” “Kak Shara sama Kak Intan?” “Mereka ada jadwal les.” Aya ber-oh ria. “Udah selesai belum, Gas, mojoknya? Kalau udah hayuk ke Mak Ijah sekarang,” ujar Deril setengah meledek karena Aya dan Agas dari tadi memang seperti punya dunia sendiri. “Mojok apanya, njir. Diskusi ini.” Aya meringis tak enak. “Ya udah  ayok berangkat. Taruh motor di sini aja atau parkir Mak Ijah?” “Parkir Mak Ijah aja.” Kemudian Deril dan Andi terlihat berpamitan pada Intan dan Shara yang sudah hendak menjauh untuk menunggu jemputan supir agar diantar ke tempat les. Kemudian Aya naik ke atas motor besar Agas dan meninggalkan parkiran sekolah. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “...Halah udah biasa, sih. Kayak gak tahu Agas aja lo,” ujar Deril ikut berceletuk kala para cowo ramai-ramai membahas Agas yang kemarin siang didatangi oleh adik kelas di tingkat 11 dengan alasan cewek itu gak terima tiba-tiba dighosting Agas. Cowok itu meringis. Tatapan melotot yang ia berikan diam-diam dengan memunggungi untuk Deril dan Dava nyatanya sama sekali gak digubris. Sebenernya Aya juga gak bakal marah, sih—ralat, kemungkinan besar emang gak bakal marah, cuman tetep aja Agas was-was dan gak enak sendiri. “An, pacar lo, nih, masih suka siul-siul kalau ada cewek cantik.” Agas melempar kacang pada wajah Deril. “Semabarangan lo kalau ngomong! Enggak, Ay, sumpah enggak!” Yang lain terbahak melihat wajah panik Agas. Padahal Aya yang duduk di sampingnya malah terlihat biasa aja. Sesekali ikut tertawa atas apa yang dilontarkan teman-teman  pacarnya. “Terus ya, An, kapan lalu tuh gue sempet liat Agas ngobrol sama adek kelas terus matanya ngedip-ngedip gitu!” Dava ikut kompor, membuat Gisel di sampingnya jadi menepuk kencang pahanya, menyuruh Dava diam saja dari pada Agas makin panik seperti sekarang. “Sumpah ya lo Dav tega banget sama gue,” ujar Agas lalu memegangi dadanya seolah ia baru tertikam pedang disana. Membuat tawa di dalam warung jadi terdengar semakin keras dan menjadi-jadi, Aya adalah salah satu yang menyumbang suara tawa tersebut. Tangan bebas Aya juga mengusap punggung Agas dengan pelan, tapi berbanding kontras dengan bisikan yang kemudian Agas dengar di telinganya. “Kalau mereka cuman bohong aja, harusnya kakak gak usah panik-panik amat, lah. Kenapa? Mereka ngomongnya beneran, ya? Kakak beneran masih suka gitu-gitu?” “Ay...” Agas memejamkan matanya, menarik nafas dan menghembuskannya. Tahu gini gue gak ngajak Aya ke Mak Ijah dan gabung sama temen-temen brengskinya. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD