* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Sesuai dengan tebakan Aya Analisa bahwa pacarnya gak akan cukup tiga puluh menit buat nongkrong sedangkan makan pisang goreng dan ngehabisin es teh aja bisa lebih dari itu, jadilah Agas harus ngebut nganterin Aya ke rumahnya buat ganti baju, lalu nganterin Aya lagi ke toko roti. Agas keberatan dengan rutinitas antar-jemput Aya selama ini? Jelas enggak. Dia lebih baik begini dari pada harus ngeliat Aya jalan kaki kemana-mana. Atau lebih parahnya nebeng Chandra ke toko, haduh, mending enggak, deh. “Kakak abis ini mau di apartemen aja?” tanya Aya usai turun dari motor besar Agas. “Iya, kali.” “Emang ada janji sama orang?” “Gak ada, sih. Cuman kala

