Valery berdecak kesal, ketika mendengar seringan ponsel Shaka yang tidak berhenti sejak setengah jam yang lalu. Wanita itu mendorong tubuh Shaka yang berada di atasnya hingga menggulingkan di sampingnya. Permainannya baru saja dimulai, tapi yang ada ponsel itu terus menerus berbunyi sejak tadi dan membuat Valery terganggu.
“Angkat dulu gih, siapa tahu penting dari istrimu!!” ucap Valery dengan nada cemburu.
Shaka menghela nafasnya panjang, mencoba menetralkan apa yang baru saja dia lakukan. Jangan sampai orang yang berbicara dengannya munafik curiga dengan deru nafas Shaka yang naik turun ini. Meraih ponselnya Shaka pun menahan layar ponselnya sejenak, benar saja yang menelpon dirinya sejak tadi adalah Sophia. Ada apa? Pikir Shaka.
Pria itu menatap Valery, seolah tatapan itu meminta izin pada Valery jika dia ingin menerima panggilan masuk dari Sophia. Tapi yang ada Valery malah membuang muka, seolah dia tidak peduli dengan apa yang akan Shaka lakukan. Sedikit menjauh untuk menghargai perasaan Valery, Shaka pun langsung menerima panggilan masuk itu.
“Ada apa sih!! Aku sudah bilang bukan, malam ini aku tidak pulang. Aku ingin menginap di rumah kekasihku, apa itu kurang jelas?” kata Shaka kesal sambil mengusap dahinya yang penuh dengan keringat.
“Shaka tolong dengarkan aku dulu—”
“Apa yang perlu aku dengar? Sialan! Kamu lupa dengan kontrak kita? Kamu tidak boleh—” Shaka menghentikan ucapannya, ketika merasakan sesuatu menyentuh perut telanjangnya. Apalagi dia hanya menggunakan celana pendek dan telanjang d**a di depan cermin kamar Valery.
“Aku— Sophia apa Shaka bisa dihubungi? Aku sudah menghubunginya berkali-kali dan tidak bisa.” kata seseorang di seberang sana membuat Shaka mendelik sempurna.
“Papi di rumah?” tanya Shaka akhirnya sambil melepas pelukan Valery.
“Itu yang ingin aku katakan. Kamu terus memotongnya, papi berada di rumah aku sudah bilang kamu lembur. Tapi papi mencoba menelponmu dan tidak bisa, itu sebabnya aku menelponmu karena papimu yang minta. Maaf jika aku mengganggu waktumu dengan Valery, tapi aku tidak bermaksud seperti itu.”
Shaka berdecak kesal, dia pun segera mengakhiri panggilan Sophia dan melihat panggilan masuk yang ada. Dan ya, ayahnya menelponnya lebih dari sepuluh kali. Ayahnya juga mengirim pesan pada Shaka jika ayah dan ibunya datang untuk makan malam bersama, itu sebabnya ayahnya meminta Shaka untuk segera pulang cepat dan membawa sisa kerajaannya ke rumah. Lagian ayahnya juga bisa membantu jika dibutuhkan.
Memunguti baju yang dipakai sejak lagi, Shaka pun langsung menggunakan asal. Wajahnya terlihat panik dan gelisah, dan tentunya hal itu membuat Valery langsung tidak suka. Seolah dia tahu akan yang sedang terjadi antara Shaka dan juga istrinya.
“Istrimu meminta kamu pulang lagi? Dan kamu membatalkan janjimu untuk menemaniku?” kata Valery tidak enak.
Shaka menatap sejenak sambil mengancingkan kemejanya, “Maaf sayang, tapi aku harus pulang.”
“Kenapa sih setiap aku ingin denganmu istrimu itu selalu saja mengganggu? Apa dia tidak bisa mengatasi sendiri keluargamu? Dia bisa beralasan jika kamu sibuk, kamu lembur atau bahkan dia bisa bilang kamu menginap di kantor dan besok lagi harus keluar kota!! Aku pikir mencari alasan tidak sesusah itu!!”
Shaka mencoba menenangkan Valery. Dia meminta Valery untuk mengontrol emosinya, ini hanya sementata setelah ini Shaka akan wn jadi seutuhnya. Shaka dan Sophia sedang merencanakan sesuatu untuk perpisahan mereka, dan tentunya hal itu tidak bisa di gatal secara gegabah. Yang ada ayah Shaka akan curiga dan mengetahui semua rencana Shaka dan juga Sophia. Cara agar perpisahan ini tidak menimbulkan aroma yang menyengat, untuk sementara waktu Shaka harus mengalah. Ini satu-satunya cara, dan Shaka meminta Valery untung bersabar sedikit lagi.
“Ini demi hubungan kita, Sophia tahu hal itu. Makanya dia merencanakan hal ini, dia juga ingin melihat aku bersama dengan wanita yang aku cintai. Tolong ya, bersabar sedikit saja untukku.” kata Shaka menangkup kedua pipi Valery.
“Mau sampai kapan? Sampai aku mati bunuh diri baru kamu mau kembali sama aku?”
“Sayang … hei … aku tetap menjadi milikmu bukan milik orang lain. Untuk ala juga aku harus kembali? Aku bahkan tidak meninggalkanmu sedikitpun, tolong mengerti.”
Menepis tangan Shaka, Valery pun mengambil jubah mandinya. Setelah menikah Valery memiliki sedikit waktu untuk bertemu dengan Shaka, tidak seperti dulu yang dimana Shaka suka sekali memiliki banyak waktu untuk Valery. Bisa menemani wanita itu belanja, makan siang, pergi keluar kota untuk liburan. Bahkan Shaka juga dulu sering menginap di rumah Valery. Bisa sampai satu minggu bahkan sebulan penuh pun juga pernah. Hingga Valery menganggap jika dirinya adalah seorang istri. Shaka juga berjanji pada Valery untung menikahi wanita itu, tapi yang terjadi Valery gagal menjadi nyonya Admaja.
“Baiklah. Tapi aku tetap menjadi nomor satu untuk kamu, apapun yang terjadi kamu harus lebih mengutamakan aku ketimbang istrimu itu.” kata Valery mengalah.
Shaka tersenyum dan mengecup kening Valery, “Iya sayang, janji!! Kamu yang selalu menjadi nomor satu di hidup dan hati aku. Jangan khawatir, wanita cacat itu tidak bisa menggeser posisi kamu di hidup aku.” Valery mengangguk, seolah yakin dengan ucapan Shaka. Memang seharusnya seperti itu, yang ada di hidup Shaka hanya Valery saja tidak dengan yang lain. Bahkan Valery bisa melakukan apapun untuk mempertahankan Shaka dihidupnya. “Aku pulang dulu ya, nanti aku hubungi kalau sudah sampai rumah.” pamit Shaka dan mengecup kening Valery.
“Hati-hati di jalan. Jangan dekat dengan istrimu, jangan tidur seranjang, dan jangan sampai menyentuh nya. Aku tidak suka!!”
Shaka terkekeh geli melihat Valery yang cemburu, “Siapa Nyonya Admaja.” godanya dan membuat Valery tertawa kecil.
Melihat kepergian Shaka, Valery pun mendengus. Dia pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Hallo!!”
***
Uhuk!!
Shaka tersedak dengan makanan yang baru saja mampir di mulutnya. Dia pun segera memasak Petra yang saat ini menatap dirinya dengan penuh harap.
“Apa Pi? Tadi nggak begitu dengar.” kata Shaka meyakinkan jika dia tidak salah dengar dengan apa yang di ucapan oleh Petra.
“Papi ingin cucu cepat, kapan dong kamu buat Phia hamil, Shaka.” ucap Petra mengulang.
Shaka menarik nafasnya panjang, lalu menatap Mia sang ibu yang seolah tidak setuju dengan apa yang baru saja Petra katakan. Bahkan sampai detik ini Shaka tidak memikirkan tentang bayi, jangankan itu, untuk menyentuh Sophia saja tidak terlintas dipikiran Shaka. Jika Petra ingin bayi yang jelas bayi itu harus lahir dari dari rahim Valery bukan Sophia.
Pria itu menatap ibunya dengan memelas, seolah dia meminta ibunya untuk angkat bicara. Shaka yakin jika ibunya bisa mencari alasan yang tepat untuk pertanyaan Petra. Shaka tidak ingin punya anak dari sophia, yang jelas Shaka ingin berpisah dari Sophia.
“Papi apaan sih, dipikir punya bayi itu gampang apa? Pernikahan mereka belum genap setahun, ya mana mungkin Sophia langsung hamil. Papi kan tahu kalau Shaka sibuk banget di kantor pulang larut malam. Pas pulang ke rumah juga Sophia udah tidur, melakukan hubungan begitu juga pasti jarang Pi. Mana mungkin sekali coblos langsung jadi bayi?” celetuk Mia tiba-tiba.
Petra mendengus, dia pun menatap Mia dengan tatapan yang sulit diartikan. Petra tahu jika istrinya tidak suka dengan Sophia, tapikan setidaknya jangan memberi jawaban seperti itu. Seolah Mia tidak menginginkan calon cucu dari putra satu-satunya, padahal Mia bermimpi jika Shaka menikah Mia ingin memiliki cucu banyak agar rumahnya terus ramai anak kecil. Lalu sekarang kenapa memberi jawaban yang nantinya akan membuat Sophia Shaka hati?
“Apa yang dikatakan Mami benar Pi. Kita masih belum mengenal sepenuhnya, dan Phia juga masih belum siap menjadi ibu. Tapi Phia pikir—”
“Apa yang perlu kalian pikirkan kembali? Kalian sama-sama subur, masalah ekonomi? Papi pikir kamu nggak lupa siapa suami kamu. Masalah kebersihan rumah? Kamu bisa sewa pembantu Sophia, uang suami kamu nggak akan habis untuk gaji pembantu. Masalah kios bunga? Papi pikir ayah kamu tidak akan tinggal diam, saat tahu anaknya main program hamil.” sela Petra cepat dan membuat Sophia langsung diam.
Sophia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya bisa menunduk dan menghabiskan makanannya dengan cepat. Lalu berpamitan pergi ke dapur untuk mengambil makanan penutup.
Tentu saja Shaka tidak tinggal diam, dia pun langsung mengejar Sophia hingga ke dapur dan menarik tangan Sophia untuk berhenti.
“Kenapa begini!! Katamu kalau kita menunjukkan hubungan kita baik-baik saja papi tidak akan curiga. Kenapa malah meminta kamu untuk hamil!!” cerocos Shaka.
“Aku sendiri juga tidak tahu kenapa seperti ini. Tapi sungguh, aku tidak ingin hamil.”
“b******k!! Siapa juga yang ingin menyentuhmu!! Dilihat dari bentuk tubuhmu saja aku sudah tidak selera, jalan saja ribet apalagi hamil. Bahkan aku berpikir jika anak kita nanti akan cacat sepertimu!!” ejek Shaka.
Jika saja bukan suami sudah dipastikan Sophia akan menampar Shaka saat ini juga. Dia terlalu penurut, dia ingat janji pernikahannya dengan Shaka. Melawan suami sama halnya melawan Tuhan, dan Sophia tidak ingin hal itu terjadi. Meskipun ibadahnya banyak sekali bolong dan tidak tepat waktu, bukan berarti dia harus melawan suaminya ‘kan? Selain tidak ingin durhaka, Sophia hanya ingin memiliki dosa yang nantinya akan ditanggung suaminya di akhirat saja.
Sophia meminta Shaka untuk kembali ke meja makan sambil membawa buah yang Shaka beli sebelum dia pulang ke rumah. Sesuai rencana, Shaka harus bersikap manis seolah dia sedang merasakan indahnya jatuh cinta. Indahnya masa perkenalan mereka. Makanya dia rela membeli banyak buah, dan juga kue untuk makanan penutup. Tidak hanya itu Sophia juga memotong puding yang dia dapat tadi sore dari orang misterius.
Merasa sudah siap, Sophia pun menarik nafasnya panjang dan kembali ke meja makan. Dia tersenyum ketika Petra menatapnya dengan senyuman yang mengembang, tidak mungkin jika Sophia menunjukkan wajahnya cemberutnya di depan ayah mertuanya.
“Bagaimana Phia? Mau ya hamil cepat, Papi beneran pengen gendong cucu cepat layak teman Papi.” kata Petra kembali.
“Papi apaan sih, kenapa masih dibahas juga. Dia kan juga udah jawab, nggak mau punya anak cepat karena masih pengen mengenal Shaka, jangan dipaksa dong Pi!!” geram Mia menepuk tangan Petra untuk diam dan tidak membahas hal ini kembali.
“Mi, nggak ada salahnya kok. Kalau mereka masih gila kesian biarin aja, yang penting Sophia hamil anaknya kita yang urus.”
Mia hanya mampu menggeleng, yang ada dia tidak sudi jika harus mengurus anak dari wanita cacat.
Melihat pertengkaran mereka, Sophia pun tertawa dan berkata, “Sepertinya aku sudah siap untuk hamil, Mas.” ucap Sophia menatap Shaka dengan kerlingan matanya.
“APA!!!”
To be continued