Episode-09

1648 Words
Sejujurnya Sophia masih tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Shaka. Apa yang membuat pria itu tidak suka ketika Sophia bersama dengan Shaka. Bukannya terlalu percaya diri atau berbunga-bunga tapi sungguh, Sophia tidak tahu maksud dari ucapan Shaka. Dia ingin bertanya lebih jauh lagi, tapi melihat raut wajah Shaka saja langsung membuat Sophia malas. Hingga pagi ini Sophia lambung pergi ke toko bunga untuk mengambil beberapa tanaman yang ingin dia bawa pulang ke rumah. Hari ini Sophia berniat untuk pulang cepat, dan meminta Sion untuk menutup toko bunganya. Sophia ingin berkebun di rumah, dia juga sudah membeli beberapa benih sayuran untuk ditanam. Sophia juga membawa beberapa kompos dan juga tanah agar cepat subur. “Sebanyak ini yakin Mbak mau dibawa pulang?” tanya Lala pemasaran. Sophia mengangguk, “Iya lah, pengen tanam di rumah. Di depan rumah gersang gak ada apa-apa.” cerita Sophia Lala hanya mampu mengangguk, dari dulu Sophia suka sekali dengan bunga dan dia tidak bisa melihat ada lahan kosong di depannya. Tidak hanya di kios, di rumah pun juga ada banyak sekali tanaman yang Sophia tanam dan tumbuh dengan bagus. Lalu membawanya ke kios untuk dijual dengan harga mahal. “Emang bisa lihat lahan kosong?” goda Lala. Sophia pun tertawa kecil, dia mulai mengaduk pupuk di depannya hingga tercampur rata. Lalu memasukkan pada polybag satu persatu hingga rata. “Emang iyaaa?” Hanya dengan dua kata saja yang keluar dari bibir Sophia membuat Lala tertawa terpingkal di hadapan Sophia. Padahal hampir setiap hari mereka mengatakan hal itu, tapi entah kenapa kali ini bisa membuat mereka tertawa kencang tanpa beban. Sampai-sampai Sophia pun lupa dengan apa yang baru saja dia pikirkan. Tak terasa sambil saling melemparkan candaan, Sophia bisa menghabiskan lima puluh polybag yang diisi oleh tanah dan juga kompos. Kali ini Sophia ingin menanam bunga pompom dahlia dan juga fuchsia, dua tanaman yang mampu menarik perhatian Sophia. Bunga yang terlibat sangat cantik dengan memiliki banyak warna. Apalagi Sophia paling suka dengan warna putih, yang memiliki arti kesucian dan juga kesetian bagi Sophia. “Mbak nyadar gak sih itu mobil dari tadi disana. Kayaknya yang punya lagi merhatiin kita deh.” ucap Lala. Sophia lambung mengedarkan pandangannya ke seberang jalan dan melihat apa yang diucapkan Lala. Benar saja disana ada satu mobil hitam mengkilap entah milik siapa. Tapi yang Sophia ingat mobil itu sering kali berada di sekitar kios Sophia. Jika Sophia mendekat, mobil itu segera pergi. Kalaupun itu mobil Alcand, sudah pasti pemiliknya pun akan turun dari mobilnya. Ah ya, ngomong-ngomong soal Alcand. Sophia jadi ingat tentang kerjasama yang terjalin diantara mereka. Sophia pikir Alcand ingin membuka kios bunga yang dimana Alcand akan mengambil beberapa jenis bunga dari tokonya. Tapi yang ada Sophia malah dikejutkan dengan Alcand yang mengajak Sophia datang ke tengah terbengkalai beberapa hari yang lalu. Alcand bilang dia ingin membuat sebuah cafe kekinian, dia ingin Sophia yang mengatur dekorasi dan juga tema apa yang akan mereka gunakan untuk cafe Alcand. Ini kali pertama dan Alcand kurang paham dengan tipe-tipe cafe. Sedangkan dari pakaian mahal yang Alcand pakai menandakan jika pria itu sejujurnya pemimpin, tapi entah kenapa malah percaya sekali dan yakin jika Sophia bisa. Tidak hanya itu, Alcand juga meminta Sophia untuk merangkai bunga untuknya setelah sekali dalam seminggu. Alcand ingin cafe yang dia miliki memiliki nuansa yang berbeda, apalagi Sophia tahu banyak hal tentang bunga. Beda dengan Alcand yang menyukai bunga tapi tidak tahu ada berapa jenis bunga di dunia ini. Alcand ini setiap seminggu sekali Sophia mengganti bunganya di cafe. Ini memang cukup berat, Sophia sampai pusing memikirkan tema apa yang cocok untuk cafe Alcand. “Biarin aja mungkin orang parkir.” kata Sophia mencoba untuk berpikir positif. “Harus setiap hari ya Mbak? Keliatan banget loh kalau sebenarnya dia disana cuma ngincer toko bunga kita. Takutnya orang jahat Mbak, apalagi gak cuma sekali aja dia di sana pas satu hari itu.” Sophia tahu, setidaknya kali dia buka, makan siang hingga menjelang tutup pun Sophia selalu melihat mobil itu. Tapi anehnya, jika pemilik mobil itu berbuat jahat kenapa waktu Sophia pulang dia juga ikut pergi? Dia mengikuti kemanapun Sophia pergi, sampai di rumah barunya pun, dia tahu. Keesokan harinya melihat toko bunga yang baik-baik saja juga membuat Sophia merasa curiga. Itu tandanya pemilik mobil mengkilap itu tidak mengincar hartanya, tapi apa yang dia incar? “Mbak kali yang dia pengen.” kata Lala kembali. “Hust ngawur aja!! Nggak mungkin dia mau sama aku La, tau sendiri kan kondisi aku kayak apa?” Sophia seolah ingin menyadari apa yang dikatakan oleh Lala. Tidak mungkin orang lain menginginkan Sophia, Shaka saja terus menghinanya apalagi orang lain. “Apanya yang nggak mungkin! Mbak itu cantik, secara fisik memang nggak sempurna. Tapi secara hati, Mbak itu jagonya. Udah baik, pengertian kurang apalagi coba? Yang berani ninggalin Mbak itu hanya laki-laki bodoh yang nggak punya otak!!” Sophia hanya menggeleng dan meminta Lala untuk diam. Tugas ini tidak akan selesai jika mereka banyak sekali berbicara. Jika membahas tentang fisik, yang jelas Sophia kalah jauh. Shaka saja memilih wanita lain ketimbang dirinya apalagi orang lain. Yang ada orang itu akan memanfaatkan Sophia saja tidak untuk mencintai wanita itu. *** Sesuai dengan apa yang Sophia katakan, jika dia pulang cepat hari ini untuk menanam bunga yang dibawa dari kios. Kali ini Sophia menggunakan lahan kosong depan rumah dan juga samping rumah. Tidak masalah jika tidak bisa seleksi hari ini, masih ada hari esok untuk Sophia bertanam dan meminta Sion untuk membuka toko bunga lebih dulu. Jenis bunga yang dia bawa lumayan banyak begitu juga dengan tanah dan kompos yang sudah jadi satu. Kali ini Sophia ingin menanam bunga mawar dan juga bunga lainnya. Sedangkan sayur Sophia ingin menandatangani sayur bayam, kol dan juga beberapa jenis sayur lainnya termasuk cabe. Dia ingin berkebun, dan memiliki sayur yang dipetik kita sudah saatnya. Sungguh impian yang diinginkan oleh Sophia sejak dulu. Terlalu asik menanam bunga di depan rumah, Sophia dikerjakan oleh kedatangan seseorang yang terus memanggil nama Sophia. “Ada apa ya Pak?” tanya Sophia heran, sambil menyeret kakinya mendekati orang itu.. Jangan tanya bagaimana reaksi orang itu, yang jelas dia terkejut bukan main ketika melihat Sophia mendekatinya. Lalu, setelah itu dia pun memberikan satu kantong plastik berwarna putih pekat pada Sophia. “Ada paket Kak untuk Kak Sophia.” katanya kembali. “Tapi saya nggak pesan apapun, Pak. Salah alamat kali Pak.” “Sophia Eleanor, perumahan candra kasih nomer dua belas Kak?” Alamat yang di ucapkan itu benar, namanya juga benar meskipun di perumahan ini ada nama Sophia lain juga. Tapi sepertinya orang ini tidak salah kirim makanan. “Ini dari siapa ya Pa?” ucap Sophia membolak-balikan makananya. “Dari dapur mama, Kak.” Itu tandanya si pengiriman merahasiakan identitasnya dari Sophia kan? Tapi siapa ya kira-kira yang mengirim makanan ini untuk Sophia? Membawa masuk makanannya, Sophia pun mengintip isinya apa. Ternyata hanya sebuah puding dan juga beberapa bungkus kue keju kesukaan Sophia. Jika ini dari Shaka jelas saja tidak mungkin, Shaka tidak tahu apa yang disukai oleh Sophia dan tidak. Jika ini dari Petra juga tidak mungkin, mertuanya ini memang perhatian pada dirinya, suka pada dirinya tapi jika sedalam ini hanya karena bangga memiliki menanti juga tidak mungkin. Jika ini dari Sion, untuk apa juga ayahnya mengirim beginian sedangkan mereka sering bertemu di toko. Dan yang jelas ini bukan tipe ayahnya, sesayang apapun ayah pada anak dia tidak mungkin melakukan hal ini tanpa mengabari lebih dulu. Lalu siapa yang mengirim puding ini yang Sophia? Terlalu asyik dengan pikirannya, tanpa sadar seseorang telah masuk ke rumah Sophia dan menepuk bahu wanita itu. Sophia terjingkat kaget, dia pun langsung membalik badannya dengan cepat dan melihat siapa yang datang. “Papi, Mami.” pekik Sophia kaget. “Kamu ini kenapa kok kaget banget? Itu depan rumah kenapa berantakan. Kenapa pintu nggak ditutup terus dikunci?” tutut Petra. Sophia menggeleng cepat, dia pun menatap ke arah pintu dengan cemas. Shaka bilang hari ini dia tidak pulang, dikatakan kekasihnya rewel dan minta ditemani. Itu sebabnya sebelum pulang Shaka memberitahu lebih dulu, tapi jika begini yang ada Shaka bakalan marah kembali dengan Sophia. “Dimana Shaka kok nggak kelihatan?” tanya Petra kembali. “Shaka ya Pi?” Sophia mendadak gugup mendengar pertanyaan itu, pasalnya dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. “Hmm, Shaka–” “Jelas Shaka nggak mungkin mau di rumah dong Pi. Masa iya Papi masih mau tanya alasannya apa?” timbal Mia, yang seolah tahu alasan Shaka tidak ada di rumah. Petra memutar bola matanya malas, dia pun mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Shaka beberapa kali. Dan nyatanya tidak ada jawaban sama sekali dari Shaka, padahal jika tahu ayahnya yang menelpon Shaka paling cepat untuk menerima panggilan ayahnya. Tapi kali ini … Sophia sendiri juga meremas tangannya, dia tahu jika Shaka pasti akan marah padanya setelah kedatangan Petra. Tapi mau bagaimana lagi, Sophia juga tidak berdaya dengan keadaan seperti ini. Melihat kepergian Petra, Sophia pun mencari keberadaan ponselnya. Dia ingin mencoba untuk menghubungi Shaka tapi yang ada Mia menahannya. “Jangan ganggu anakku, cacat!!” cetus nya dengan mata melotot. “Saya hanya—” “Hanya apa? Memangnya anak saya bakalan betah punya istri cacat kayak kamu? Saya itu tahu anak saya tertekan karena menikah dengan kamu, makanya dia lebih suka diluar rumah ketimbang pulang ke rumah bertemu dengan kamu. Perempuan cacat seperti kamu apa untungnya? Yang ada bikin malu aja!! Nggak salah dong kalau anak saya lebih suka diluar rumah ketimbang di rumah!!” potong Mia marah. Hanya mampu menundukkan kepalanya Sophia pun meminta maaf pada Mia. Dia memang tidak pantas untuk Shaka, menikah pun juga karena tanggung jawab Shaka pada Sophia. Bahkan jika bisa memilih, Sophia tidak ingin hal ini terjadi pada hidupnya. Ucapan Mia sangat menyayat hatinya kali ini. “Sophia tolong kamu telepon Shaka untuk segera pulang. Bilang kalau Papi ada di rumah untuk makan malam dengan kalian.” ucap Petra tiba-tiba. To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD