Ia pulang dengan gamang. Ya lagi-lagi tak menemukan tempat untuk aborsi. Tak akan ada yang berani. Meski ia sampai menangis darah sekalipun. Begitu ia masuk ke dalam taksi dan menyandarkan tubuhnya, Ferril justru bergerak masuk ke dalam klinik dokter yang baru saja ia datangi. Shabrina tak tahu kalau Ferril sedang berusaha keras menyelidikinya. Banyak pertanyaan di dalam benak Ferril. Kalau memang perempuan ini ingin bersama abangnya, kenapa harus menggugurkan kandungan? Untuk apa digugurkan? Apakah ada sesuatu? Kalau kehamilan digunakan untuk memperjuangkan agar pernikahan ini terjadi. Lalu tujuannya apa kalau digugurkan? Usai bertemu dengan dokter yang tadi dihampiri oleh Shabrina, ia segera beranjak pergi ke kantor. Ia mendapat laporan dari anak buahnya yang mengikuti taksi Shabrina

