Tok ... tok....
Suara ketukan pintu menginterupsi Rian yang tengah berkutat dengan berkas-berkas di depannya.
“Masuk,” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan.
“Papa!” teriakan yang sudah sangat familier terdengar saat pintu telah terbuka.
Rian mengalihkan tatapannya dari berkas saat suara yang sudah sangat dihafalnya terdengar. Di sana, terlihat kedua anak kembarnya dan istri yang sangat disayanginya.
“Udah pulang sekolah?” tanya Rian melepas kacamata bacanya.
“Udah, Pa.” Fina berlari mendekati Rian, memeluk laki-laki itu dengan erat.
Lain halnya dengan Fani yang langsung berjalan ke sofa di pojok ruangan dekat pendingin, menjatuhkan dirinya ke atas sofa lembut itu. Matanya terpejam, dia terlihat sangat lemas. Dina yang melihat itu ikut duduk di sebelah Fani yang memejamkan mata, mengelus rambutnya dengan sayang.
“Mama,” ucapan tak bersemangat itu keluar dari bibirnya diikuti dengan mata yang terbuka.
Fani menumpukan kepalanya ke pangkuan Dina. Kembali memejamkan mata, tubuhnya terasa sangat lemas dan letih.
“Kamu kenapa? Kok kelihatan lemas banget gini?” Dina memegang dahi Fani yang langsung membuatnya tersentak.
Badan Fani begitu panas, hingga kelopak matanya terlihat sangat merah. Bibirnya juga terlihat pucat. Fani tidak menjawab, dia hanya diam. Kepalanya terasa sangat sakit, perutnya juga masih terasa tidak nyaman. Entahlah, Fani jadi merasa seluruh badannya pun ikut menjadi sakit.
“Mama, tadi Fani pingsan waktu upacara,” ucapan Fina sontak membuat Dina dan Rian terkejut.
“Kenapa kamu bilang sama Mama, sih?” Fani dibuat kesal karena kembarannya itu memberitahu Mamanya.
“Kenapa bisa pingsan?” Rian menyuarakan kebingungannya lebih dulu.
“Kata Bunda Nana gara-gara Fani enggak sarapan, Pa.”
Fina terlihat semakin menjengkelkan di mata Fani, tapi dia tidak bisa berbuat lebih. Tubuhnya benar-benar tidak mau diajak untuk lebih energik sedikit.
“Salah sendiri tadi pagi enggak sarapan. Masih syukur bisa makan, malah enggak mau makan.” Rian berucap malas.
Fani yang telah duduk hanya bisa menundukkan kepalanya dalam. Bukan perhatian yang ia dapatkan, tapi malah omelan Papanya. Sungguh, dia merasa sangat sedih hingga tanpa sadar air mata mulai menetes dari kedua matanya. Fani mengusap air matanya dengan cepat, meski kembali turun.
Dina melihat anak pertamanya hanya menunduk dengan tangan yang mengusap mata berulang kali. Dina sadar, Fani menangis. Dia mendekap Fani dengan erat, berusaha membuat Fani tenang.
“Udahlah, Pa. Fani lagi sakit ini. Badannya panas banget. Jangan diomeli.” Dina mengelus rambut Fani.
Dalam dekapan Mamanya, Fani tersenyum. Setidaknya, saat Papanya marah masih ada sosok Mama yang memeluknya dengan sayang. Perlahan mata Fani terpejam dan dia tertidur. Dina yang menyadari Fani telah tertidur, membaringkan Fani ke sofa. Mereka keluar dari ruangan Rian untuk makan siang. Meninggalkan Fani yang tertidur dengan nyenyak. Melupakan anak kecil itu yang tertidur sendirian. AC yang memang dinyalakan dengan suhu yang begitu rendah dan tanpa selimut yang menyelimuti tubuh kedinginannya.
Ya, dia kedinginan tanpa ada yang tahu. Bahkan tubuhnya sudah sangat dingin dan menggigil hingga terdengar gemeletuk giginya yang beradu.
Malam sudah semakin larut, di luar juga sedang hujan deras. Dan suhu di ruangan itu sangatlah dingin. Bagaimana tidak? AC di dalamnya dinyalakan dengan suhu terendahnya. Fani meringkuk di atas sofa, memeluk tubuhnya yang kedinginan. Masih dengan menggunakan seragam sekolah merah putih yang tipis. Benar, Fani belum keluar dari ruangan Rian dari siang sepulang sekolah. Jadi, terbayang sudah bagaimana kedinginannya Fani, bukan? Berada dalam ruangan bersuhu sangat rendah selama 10 jam tanpa selimut, tanpa pakaian tebal, ditambah malam sudah larut dan angin bertiup kencang serta hujan deras di luar.
Memang, Rian, Dina, dan Fina setelah makan siang mengantar Fina pulang ke rumah. Rian dan Dina sendiri mengadakan meeting dengan klien. Hingga tersisalah Fani yang kedinginan dan kelaparan. Bagaimana tidak lapar? Dia belum makan siang dan malam. Untunglah ketika Fani pingsan, Bunda Nana memberinya makan nasi, tapi itu tadi pagi dan sekarang sudah larut malam.
“Ma-ma, Pa-pa,” suara terbata-bata keluar dari bibir Fani yang sudah pucat.
“Di-dingin, a-ku ma-u pu-lang.” Air mata mulai mengalir dari mata Fani yang memerah.
Ayolah, dia tengah demam, belum makan, dalam ruangan bersuhu rendah pula. Fani terisak, ditemani rasa sakit di kepalanya, perutnya, dan dalam keadaan kedinginan.
Masih dengan menangis, Fani duduk. Dia haus. Mengambil botol minumnya, tapi isinya sudah kosong. Fani mengalihkan pandangannya. Dia melihat ada dispenser air. Dengan tertatih Fani berjalan ke arah dispenser air itu dan mulai menekan kerannya. Namun, airnya tak kunjung keluar yang sudah dipastikan tidak terdapat air lagi. Fani terduduk, tenggorokannya terasa kering. Tidak ada air.
Fani berdiri dan mulai berjalan lagi meski dengan tertatih ke arah pendingin. Membukanya, membuat tubuh yang telah menggigil kedinginan itu bertambah menggigil. Di dalam kulkas hanya ada coca cola satu botol besar dan fanta dengan botol kecil.
Karena Fani haus, dia terpaksa mengambil fanta dingin itu lalu segera menutup kulkas dan meminumnya. Baru satu tegukan botolnya sudah terjatuh bersama dirinya yang terduduk. Menimbulkan bunyi nyaring di tengah malam hujan.
Rok merah yang dikenakan Fani basah karena dia duduk di genangan air fanta yang tadi terjatuh dan botolnya menggelinding ke bawah sofa. Baju putihnya juga sudah berubah warna menjadi merah.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka secara paksa dari luar. Menimbulkan bunyi kuat yang membuat Fani mendongakkan wajahnya dengan tatapan kosong.
Malam ini Didi, seorang Office Boy di kantor Rian, lembur. Karena pekerjaannya ada yang belum selesai. Sebagai OB yang bertanggung jawab, Didi menyelesaikan pekerjaannya malam ini juga.
Saat pekerjaannya telah usai, Didi segera pulang, melewati ruangan bosnya, Friansyah Alfarizi. Entah gerangan apa yang membuat pria paruh baya itu lewat lorong sana. Karena biasanya dia lewat depan ruangan keuangan. Namun, saat berjalan di depan ruangan Rian, Didi seperti mendengar suara isak tangis seseorang. Suara tangis perempuan. Mendengar itu, bulu kuduk Didi berdiri.
Dia merinding, karena memang ini sudah jam pulang kantor. Jadi, tidak ada orang yang masih berkeliaran di lantai atas. Bila pun ada yang lembur, paling itu tidak di lantai ini. Karena ini lantai khusus ruangan bos.
Suara tangis yang semula membuat Didi merinding berubah menjadi tangisan pilu. Didi ikut merasa sedih mendengar suara tangis itu. Sampai tak lama kemudian terdengar suara benda jatuh yang sangat nyaring di dalam ruangan Rian.
Tanpa pikir panjang lagi, Didi masuk ke dalam ruangan itu dan mematung setelahnya. Dia melihat seorang gadis kecil menggunakan seragam merah putih, sudah tidak bisa dibilang putih karena baju anak gadis itu telah berwarna merah. Wajahnya juga sangat pucat dan tatapan matanya begitu kosong.
Bulu kuduk Didi kembali berdiri. Dia berjalan mendekati gadis kecil yang terduduk di lantai dengan warna merah seperti darah. Bulu kuduk Didi semakin meremang manakala Didi merasakan ruangan Rian yang dinginnya bukan main. Ditambah angin kencang dan hujan deras di luar. Dia heran bercampur takut. Dalam benaknya timbul pertanyaan yang sangat mengganggu.
“Kenapa anak perempuan ini tahan berada di dalam sini? Jika dia memang manusia, seharusnya mana tahan. Apa jangan-jangan dia bukan manusia?” Didi bergidik ngeri memikirkan pemikirannya.
Hingga tiba-tiba dia merasa ada yang menyentuh tangannya dan itu sangatlah dingin. Sontak Didi melihat ke arah tangannya dan dia terkejut bukan main saat tangan anak perempuan itu belum menyentuh kulitnya, masih di atas kulit tangan Didi. Didi melihat ke arah anak perempuan itu yang sudah berdiri di depannya. Didi sadar, wajahnya sangat pucat.
“Aura dingin di tubuhnya sampai terasa di kulitku. Tadi saja, tangannya belum menyentuh kulitku, tapi aku sudah merasa dia menyentuhku,” batin Didi.
Sadar akan pemikirannya yang terakhir, Didi sontak melompat ke belakang hingga terjengkang. Keringat dingin mulai mengucur dari dahinya yang sudah mulai bergaris-garis.
Terlebih lagi saat mendengar suara tawanya yang mengerikan. Wajah Didi kian pucat pasi menyaingi anak perempuan dengan baju yang berwarna merah darah di tengahnya. Persis seperti hantu, atau memang hantu? Apalagi, saat anak perempuan itu tertawa, dia membuka mulutnya yang berwarna merah.
Anak perempuan itu berjalan mendekati Didi, dengan tangan terulur. Didi sudah berpikir anak perempuan itu akan mencekiknya.
Pintu yang terbuka dengan kasar membuat Fani mendongakkan kepala. Karena terkejut dan berpikir itu hantu. Fani jadi menatap kosong ke arah pintu. Dia terkejut melihat seorang laki-laki paruh baya. Bahkan, Fani sampai menatapnya tanpa berkedip.
Laki-laki yang tak lain adalah Didi itu berjalan masuk ke ruangan Rian. Namun, baru beberapa langkah lagi mendekati Fani dia berhenti dan tampak melamun. Fani berdiri mendekati Didi, berdiri di depannya dan menyentuh tangan Didi sebentar.
Saat tangan Fani akan bergerak menjauhi tangan Didi, Fani heran. Dia melihat wajah pria itu tiba-tiba memutih. Didi menatap ke arah Fani yang memang sedang menatapnya dan seketika melompat ke belakang hingga terjatuh. Fani tertawa melihat itu, tetapi ketika dia tertawa tenggorokannya yang sakit membuat suara tawa berbeda dan lagi dia tengah memikirkan sesuatu. Dia takut Papanya akan marah saat dia menertawakan orang yang sedang dalam kesusahan.
Fani berjalan mendekat sambil mengulurkan tangannya. Ingin membantu Didi yang terjatuh untuk berdiri. Karena Didi tak kunjung menyambut uluran tangannya, Fani memegang tangan Didi. Mata Didi melotot ke arah Fani, membuat dia sedikit takut. Namun, mulutnya yang terbuka tidak membuat Fani takut.
“Berdiri.” Fani akhirnya berucap setalah lama terdiam.
Mendengar suara Fani, Didi berdiri meski dengan bantuan tenaga Fani yang tidak seberapa. Dia menatap Fani dengan kening mengerut. Fani sadar, Didi yang berdiri di depannya ini sudah tua seperti Kakek dan Neneknya. Fani ingat perkataan Nenek dan Kakeknya yang mengatakan bahwa orang yang di wajahnya memiliki garis-garis artinya orang itu sudah tua.
“Kakek.” Fani tersenyum.
“Eh? Kakek?” Didi mengernyitkan dahinya heran saat Fani memanggilnya Kakek.
“Iya, Kakek.”
“Kenapa panggilnya Kakek?”
“Kata Nenek sama Kakek, kalau orang yang udah punya garis-garis yang ngebuat wajah jadi jelek, itu tandanya udah tua.” Fani menjawab dengan polos.
“Hahaha.” Didi tertawa mendengar jawaban polos anak perempuan di depannya yang sempat dikiranya hantu.
“Kakek kenapa ketawa?” Dia mengerjapkan matanya polos.
“Enggak, saya enggak kenapa-kenapa. Nama kamu siapa?”
“Nama aku Fani, Rara Fanisha Alfarizi. Nama Kakek siapa?” Fani mengulurkan tangannya.
Didi sempat tertegun beberapa saat, menyadari bahwa anak perempuan di depannya ini adalah anak dari Rian, bosnya.
“Cantik ya namanya, Fanisha. Nama saya Didi.” Didi menyambut uluran tangan Fani.
“Fani Kek, bukan Fanisha.” Fani menggembungkan pipinya.
“Saya maunya panggil Fanisha, boleh?” Didi tersenyum lembut pada Fani. Sebenarnya dia merasa lucu karena Fani adalah penggalangan dari Fanisha. Artinya sama saja, bukan, apa pun panggilannya?
“Boleh, Kek, tapi kenapa Kakek panggil aku Fanisha?” Fani menatap Didi bingung.
“Anggap aja Fanisha itu, panggilan sayang saya buat kamu.”
“Jadi, Mama, Papa, Opa, Oma, Kakek, Nenek, Om Heru, Tante Disa, Om Dava, Tante Mila, Lili, Fina, temen-temen aku, enggak sayang sama aku ya, Kek?” Fani menatap Didi dengan sedih.
“Eh? Bukan begitu, semua orang yang panggil kamu Fani sayang kok sama kamu. Saya cuma mau panggil kamu Fanisha aja. Enggak ada maksud lain-lain, kok.” Didi jadi kikuk sendiri dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Kayak Fero yang panggil aku Rara ya, Kek?”
“Iya.”
Fani mengangguk-anggukan kepalanya dengan gaya orang dewasa padahal dirinya tidak begitu mengerti. Yang Fani tau, bahwa orang-orang yang memanggilnya Fani juga sayang sama dia.
“Oh iya, kamu ngapain di sini? Enggak dingin?” Didi baru ingat bahwa di sini sangatlah dingin.
“Tadi siang aku sama Fina ketemu Papa dulu sebelum pulang ke rumah, tapi badan aku panas. Kata Mama aku sakit. Terus aku ketiduran. Waktu bangun, Mama, Papa, sama Fina udah pulang. Aku ditinggal sendirian di sini.” Fani jadi teringat bahwa dia ditinggal sendirian di ruangan Papanya.
Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Fani. Didi yang melihat itu, menarik tangan Fani. Didi merasakan suhu badan Fani begitu dingin.
“Kita keluar, yuk? Di sini dingin, nanti kamu tambah sakit.” Baru tiga langkah keluar dari pintu, Fani berhenti.
“Fanisha kenapa? Kok berhenti?” Didi bersimpuh di depan Fani, bertumpu dengan lututnya.
“Kalau Papa datang buat jemput aku gimana, Kek? Nanti Papa enggak ketemu aku, dong. Terus Mama sama Papa bakal marahin aku, deh.” Fani menatap Didi dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
“Jadi, kamu mau gimana? Di sini dingin, kamu bisa tambah sakit. Badan kamu juga udah dingin banget.” Diusapnya air mata yang keluar dari sudut mata Fani.
Fani hanya menggeleng lemah. Dia enggak mau di sini karena dinginnya membuat tubuhnya seperti beku. Namun, jika dia pergi dan Papanya datang dia tidak ada, Papanya pasti akan memarahinya lagi. Dia tidak ingin dipukul. Apalagi dikunci di kamar mandi. Fani hanya ingin pulang dan tidur di kasurnya dengan selimut tebal membalut tubuh.
“Ya udah, kita tunggu sepuluh menit ya. Kalau Papa kamu enggak datang, kita keluar.”
Akhirnya, mereka berdua masuk kembali ke dalam ruangan Rian. Namun, dengan AC yang dimatikan. Didi ke pantri membuatkan s**u cokelat hangat untuk Fani dan teh hangat untuknya sendiri.
“Kakek, tadi aku pingsan loh di sekolah.” Fani menampilkan cengiran kudanya.
“Ha? Kenapa bisa pingsan?”
“Aku tadi pagi enggak sarapan, Kek. Makanya pingsan.” Fani menyesap s**u cokelat hangatnya perlahan.
“Kenapa enggak makan?”
“Aku enggak suka sama sarapannya.” Fani menunjukkan wajah tidak sukanya. “Mama enggak masak, jadinya cuma makan roti pakai selai srikaya sama s**u doang.”
“Masalahnya apa? Bukannya itu enak?"
Fani mengubah tatapannya menjadi sendu dan Didi menyadari itu. Dia heran ada apa dengan Fani.
“Aku enggak suka selai srikaya,” ucapan lirih itu masih dapat didengar Didi.
“Memangnya salah ya Kek, kalau aku enggak suka sama selai srikaya? Kata Bu Guru, semua orang punya rasa suka dan ketidaksukaannya masing-masing. Berarti selai srikaya itu yang enggak aku suka dan selai stroberi sama cokelat yang aku suka.”
Meski terdengar polos, tapi itu memang benar adanya, bukan? Bahwa setiap individu memiliki pilihannya masing-masing untuk memilih apa yang disukai dan tidak disukai.
Fani bercerita tentang banyak hal. Sampai tanpa mereka berdua sadari, waktu yang tadi disepakati telah melenceng jauh. Sekarang sudah satu jam dari waktu yang disepakati. Fani juga sudah mengantuk dan tertidur tanpa mengganti pakaiannya. Didi pulang ke rumahnya saat jam sudah menunjukkan pukul 12:00 p.m. Terpaksa meninggalkan Fani yang tertidur sendiri di ruangan bosnya. Karena dia juga punya tanggung jawab di rumah. Anak dan istrinya.
Paginya, Fina terbangun dengan perasaan gelisah. Tadi malam dia tidak tidur dengan nyenyak karena memikirkan kembarannya. Begitu pagi menjelang, Fina berlari ke kamar Fani yang berada di lantai dua. Fina terkejut melihat kamar Fani yang kosong. Namun, saat melihat jendela yang sudah terbuka membuat Fina sedikit lega. Meski perasaan khawatir dan gelisah itu masih melekat di dirinya.
Memutuskan untuk mandi dan Fina akan kembali lagi ke kamar Fani atau bertanya pada Papa dan Mamanya. Selesai mandi, Fina kembali ke kamar Fani dan masih sama dengan keadaan sebelumnya, kosong.
Ketika akan ke meja makan, Fina bertemu Papanya yang baru keluar dari kamar dengan kemeja putih polos dan dasi putih bergaris hitam.
“Papa!"
“Iya, sayang. Kenapa?” Papanya menggendong Fina ke meja makan. Di sana sudah ada Dina yang sedang menyiapkan nasi goreng.
“Fani mana? Kok enggak sekalian diajak turun? Ini udah Mama buatkan nasi goreng sesuai permintaannya kemarin, loh." Dina menatap kedua orang di depannya.
“Mama, kamar Fani kosong. Aku pikir Fani udah ada di meja makan.” Fina berucap dengan suara bergetar menahan tangis.
“Fani ke mana?” Pertanyaan itu yang ada di benak Rian dan Dina.
“Bu Siti, Fani ke mana, ya? Ibu ada lihat Fani?” Dina bertanya pada ART-nya yang kebetulan lewat ingin menjemur pakaian.
“Saya belum ada lihat Fani dari kemarin, Bu. Awalnya saya pikir waktu Fina diantar Kang Deni, Fani bareng Ibu sama Bapak. Eh, Ibu sama Bapak pulang enggak bareng sama Fani.” Siti menjawab sopan.
“ASTAGFIRULLAH!” pekikan kaget dari Dina dan Rian membuat Siti ikut terkaget.
“Aya naon, Bu, Pak?”
“Fani masih di ruangan kantor saya.” Secepat kilat Rian dan Dina pergi ke kantor.
Fina tidak ikut, dia harus sarapan. Setelah sarapan akan diantar Deni, sopir mereka, ke sekolah. Fani nanti menyusul atau malah tidak berangkat sekolah.
Sampai di kantor yang masih sangat sepi, Rian berlari duluan dan Dina di belakangnya. Masuk ke ruangan dan melihat anaknya tidur di sofa tanpa selimut dan dengan baju kotor, kening dikompres. Eh tunggu, dikompres? Siapa yang mengompres? Pertanyaan itu yang ada di benak Rian. Dia juga heran, seingatnya semalam AC di ruangannya dalam keadaan suhu yang begitu rendah dan ini sudah mati.
Rian menggendong Fani yang masih tertidur dengan nyenyaknya. Wajah anaknya itu juga masih pucat. Rian membawa Fani pulang ke rumah dan mengirimkan surat izin sakit ke sekolah anaknya.