04. Pingsan

1926 Words
04:00 pagi Masih terlampau pagi bagi orang yang malas bangun pagi untuk memulai aktivitas. Namun, tidak dengan Fani yang tengah membuka jendela dan menghirup udara pagi dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya. “Semoga hari ini lebih baik dari kemarin, Tuhan,” kata itu yang keluar dari bibirnya sebelum dia beranjak mengambil handuk dan pergi mandi. Fani menghabiskan waktu setengah jam untuk mandi. Karena dia tidak hanya mandi, tapi juga bermain-main. Memang, inilah yang masukan Fani ketika dia bangun pagi. Dia bisa mandi dengan berlama-lama, hal yang sangat tidak, Papanya. Setelah mandi, Fani melaksanakan salat Subuh karena sudah masuk waktu Subuh. Barulah kemudian dia mengganti bajunya dengan seragam sekolah merah putih kebanggaannya. “Fani, bangun. Udah siang, ntar kamu terlambat sekolahnya.” Pintu kamar terbuka setelah suara Dina terdengar. “Eh, udah bangun ya? Udah rapi lagi anak Mama.” Dina masuk dan melihat Fani telah siap dengan seragam sekolahnya. Berjalan ke arah meja rias dan mengambil sisir, pita, serta bedak. “Udah dong, Ma. Aku rajin, 'kan? Enggak kayak Fina," sindir Fani. “Fina juga udah bangun dan lagi mandi kok. Ya udah sini, Mama ikat rambutnya.” “Iya, Fina udah bangun karna Mama bangunin dan paksa mandi.” Fani mencibir. “Udah, ah. Enggak usah ngomongin Fina. Dia kembaran kamu, enggak boleh gitu. Kamu sama Fina punya sifat yang beda, jangan disamain. Fina emang lebih susah kalau buat bangun pagi, enggak kayak kamu yang gampang bangun pagi, sayang." Dina beranjak dari kasur setelah selesai dengan urusan ikat-mengikatnya. “Ya udah, Mama tinggal dulu. Mama mau ke kamar buat siap-siap. Nanti kamu jangan lupa turun, kita sarapan bareng," titah Dina. "Iya, Ma. " Begitu pintu kamar kembali tertutup, Fani menghela napas dalam dan beranjak ke balkon kamar. Duduk di kursi putih, menatap langit yang masih terlihat biru gelap. Tangannya memilin rok sekolahnya hingga terlihat kusut. Fani hanya duduk diam di sana sampai pintu kamar kembali dibuka, kali ini oleh Fina yang sudah rapi. Mata Fani melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 5:15 pagi Fani langsung mengambil tas berwarna biru bergambar beruang dari meja belajar dan mengikuti Fina turun ke bawah. Buku? Jangan salah, Fani telah menyiapkan buku-bukunya kemarin siang setelah belajar dan mengerjakan PR. Sampai di meja makan, sudah ada Rian dan Dina dengan pakaian kerja yang rapi. Pagi itu, mereka sarapan roti dengan selai srikaya dan s**u. Karena hari ini Dina sedang malas memasak. Memang, untuk sarapan Dinalah yang memasak. ART mereka hanya memasak untuk makan siang dan malam. Fina melahap makanannya dengan tenang dan senang karena dia memang lebih suka roti dengan selai, apalagi selai srikaya dan s**u dibandingkan makanan berat. Lain dengan Fani yang lebih suka makanan berat. Menurut Fani, jika tidak makan makanan berat sama saja dengan tidak makan. Dia tidak akan merasa benar-benar sekenyang makan makanan berat. Benar-benar people +62 Fani ini. Fani sama sekali tidak menyentuh rotinya, hanya melihat saja dengan wajah lesu tidak bersemangat. Masalah utama juga terletak pada selainya. Dia tidak suka selai srikaya, yang dia suka selai cokelat dan stroberi. Mereka semua selesai makan, tentu saja kecuali Fani yang hanya meminum s**u cokelatnya dengan wajah cemberut. “Kamu enggak makan, Fan?” Dina mengernyitkan dahi saat akan mengangkat piring ke wastafel, roti di piring Fani belum tersentuh. "Enggak, Ma. " "Kenapa?" Rian yang tadi hanya diam bertanya sambil berdiri membawa kunci mobil, tas kerja Dina yang akan membawanya karena Dina sekretaris Rian di kantor. "Enggak suka sama selainya." Fani menunduk dengan suara pelan. “Ya udah, terserah. Ayo cepat, Papa pagi ini ada meeting." Rian berjalan lebih dulu meninggalkan meja makan, disusul Fina, Fani, dan Dina yang baru selesai meletakkan piring di wastafel yang akan dicuci oleh ART mereka. Di dalam mobil, hanya keheningan yang terjadi. Hanya suara mesin yang terdengar. Kemudian, suara perut. Dina dan Rian saling tatap-tatapan. “Laper, 'kan? Tadi sarapannya siapa suruh enggak dimakan," ucap Rian saat sadar itu suara perut anak pertamanya. "Aku enggak suka selai srikaya, Pa." Fani bersuara, tapi pandangannya keluar jendela menatap kendaraan yang berlalu-lalang. “Selai srikaya enak tau, lebih enak daripada selai kesukaan kamu itu. Cokelat sama stroberi. Enggak enak!” Fina menyahut sambil menatap Fani dengan lidah yang menjulur. “Enggak! Lebih enak selai stroberi sama cokelat dari pada srikaya.” Tak mau kalah, Fani menatap Fina dengan jengkel. “Iiih enggak. Selai srikaya lebih enak. Iya, 'kan, Pa?” Fina meminta bantuan pada Rian untuk membelanya. “Iya, selai srikaya lebih enak,” jawab Rian tanpa sadar membuat hati seorang gadis kecil begitu tertohok. Fani diam, menatap keluar dengan pandangan sedih. Entahlah, Papanya selalu membela Fina, entah kapan dia akan dibela begitu.  Lagi pula dia heran, bagaimana orang-orang bisa merasa kenyang hanya dengan makan dua lembar roti dengan selai di tengahnya dan s**u? Sungguh, Fani tidak habis pikir. Tiba-tiba, Fani terpikirkan sebuah ide yang menurutnya sangat bagus. “Mama, beli nasi goreng di restoran yang biasanya itu dulu, boleh?” Fani menampilkan wajah memelasnya. “Enggak bisa, Papa pagi ini ada meeting. Nanti terlambat masuk kantornya. Kamu juga harus cepat. Ini Senin, upacara bendera." Rian menyahut cepat. “Tapi-“ “Dengerin kata Papa, ya. Mama janji, sarapan besok Mama masakin nasi goreng buat kamu.” Mendengar Mama berjanji besok akan membuatkan nasi goreng, sukses membuat Fani sedikit bersemangat dan menerimanya. “Tadi salah siapa yang enggak mau sarapan? Sekarang baru sibuk lapar," suara Rian membuat senyum cerah di wajah Fani hilang seketika. “Kamu itu banyak tingkah ya, Fan, kalau mau makan. Enggak mau inilah, enggak mau itulah, apa-apa enggak mau. Kamu itu harus bersyukur masih bisa makan. Di liar sana banyak orang-orang yang enggak bisa makan. Mau makan harus kerja dulu, banting tulang. Kamu tinggal makan aja susahnya minta ampun!” Fani memandang keluar dengan ait mata yang mulai jatuh membasahi kedua pipi tembamnya. “Kamu itu harus bisa kayak Fina. Dikasih makan apa aja ya dimakan, enggak banyak tingkah. Enggak kayak kamu yang banyak tingkahnya kalau mau makan. Cobalah belajar jadi kayak Fina." Tentu saja Fina mau makan apa saja yang dikasih. Sebab yang dikasih memanglah semua makanan yang disukai Fina. Tidak seperti dirinya. Mama dan Papanya sering memberi apa yang tidak dia suka. Kenapa Papanya tidak juga mengerti? Dia tidak suka selai srikaya. Seperti Papanya yang tidak menyukai selai kacang. Semua orang punya kesukaan dan ketidaksukaannya masing-masing, bukan? Tapi, kenapa Papanya menganggap ketidaksukaan Fani seakan-akan adalah sebuah dosa besar? “Iya, Fani. Cobalah belajar jadi seperti Fina.” Dina yang ikut-ikutan membuat Fani ingin berteriak sambil berteriak kencang. “Padahal, baru tadi pagi Mama bilang kalau aku sama Fina emang beda, jangan disamain, tapi Mama sama Papa selalu aja nyamain aku sama Fina,” gumam Fani sambil mengusap air matanya yang sempat menetes. Menyalami tangan kedua orang tuanya setelah mendapat uang jajan, Fani beranjak turun tanpa menyadari gumamannya didengar Dina dan Rian. Fina tidak dengar karena dia telah turun dari mobil lebih dulu. Rian dan Dina yang mendengar gumaman Fani kompak merasa tertohok. Dina, karena memang saat mengikat rambut Fani, dia berujar bahwa Fani dan Fina memiliki sifat yang berbeda, jangan disamakan. Fina merasa aneh dengan kembarannya. Hatinya begitu sakit saat melihat Fani yang baru melangkahkan kakinya keluar dari mobil. Dia ingin menangis, tapi dia sendiri juga tidak tau alasannya.  Fani melangkahkan kakinya ke gerbang sekolah dengan nama besar yang terpampang di atas gerbangnya, SD Swasta Alfa. Sekolah itu diambil dari nama keluarganya, Alfarizi. Ya, sekolah itu adalah sekolah milik Opanya. Tidak hanya SD, tapi juga ada TK, SMP, SMA, serta Universitasnya. Upacara bendera baru berlangsung selama 10 menit, tapi seorang anak perempuan sudah terlihat pucat pasi. Keringat jagung membasahi dahinya. Peluh itu sudah berulang kali diusapnya, tapi tetap saja ada lagi dan lagi. Pusing dan sakit di perutnya bertambah menyiksa. Sungguh, dia merasa tidak sanggup lagi. Kepalanya semakin terasa berat. Kembaran yang memang meminta berbaris di sebelahnya meski berbeda kelas menoleh dan terkejut melihat dirinya yang pucat pasi. “Fani, kamu kenapa?” tanya Fina berupa bisikan. Fani tidak menjawab. Dia hanya memejamkan mata, berharap rasa pusing dan sakit di perutnya dapat segera hilang. Namun, bukannya menghilang, rasa pusing dan sakit di perutnya semakin menggila. “Fan, Fani. Kamu kenapa?" Fina bertambah bkhawatir saat melihat Fani tidak menjawab dan hanya memejamkan mata erat. Sakit di perut dan di kepalanya sudah tidak dapat Fani kontrol. Dia membuka matanya. Namun, baru beberapa detik dia membuka mata, pandangannya mengabur. Perlahan, kesadarannya mulai menghilang. Yang terakhir kali didengarnya adalah teriakan nyaring Fina. Mendengar suara teriakan Fina, seorang guru laki-laki berlari mendekat dan segera menggendong Fani. Membawa anak perempuan yang pingsan itu ke UKS untuk dirawat. Fina tidak mengikuti upacara lagi, dia ikut menyusul guru yang membawa Fani ke UKS, ingin tau bagaimana keadaan Fani. “Ibu Dokter, gimana sama Fani? Dia baik-baik aja, 'kan?" tanya Fina dengan wajah serius yang sebenarnya terlihat sangat imut. Memang, di sekolah mereka setiap hari ada dokter penjaganya yang akan senantiasa mengontrol jika ada murid yang sedang sakit. Seperti saat ini. “Fani enggak kenapa-kenapa, sayang. Dia baik-baik aja. Tadi Fani belum sarapan, ya?" “Iya, Bu Dokter. Fani tadi enggak sarapan. Karena tadi pagi Mama enggak masak, cuma ada roti sama selai srikaya dan s**u. Fani enggak suka sama selai srikaya, jadi dia enggak makan. Cuma minum s**u aja. Lagi pula, Fani lebih suka kalau makan nasi, katanya lebih kenyang. Kalau enggak makan nasi, dia enggak ngerasa kenyang." Dokter yang mendengar penjelasan panjang lebar Fina tersenyum hangat. Memang, Fina anak yang sangat terbuka dan ramah. “Bu Dokter, kenapa, sih, Fani enggak suka selai srikaya? Padahal selai srikaya enak, Bu Dokter.” Fina duduk di bangku yang ada di UKS. “Sekarang saya tanya, makanan apa yang enggak kamu suka?” Bukannya menjawab, perempuan cantik itu malah balik bertanya. “Aku enggak suka wortel,” jawab Fina dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa dia sangat tidak suka wortel. “Wortel enak, loh. Kenapa kamu enggak suka? Wortel mengandung banyak manfaat baik untuk tubuh dan kesehatan, selain itu vitamin A di wortel juga sangat bagus untuk mata," jelasnya dengan nada lembut. “Tapi aku enggak suka.” "Begitu juga sama Fani. Fani enggak suka selai srikaya sama kayak kamu yang enggak suka wortel." Dengan cekatan, si dokter membuatkan Fani teh hangat. Beliau juga telah memerintahkan orang untuk membelikan nasi di kantin. “Tapi selai srikaya enak, Bu Dokter. Enggak kayak wortel yang enggak enak. Enggak ada rasa!" “Itu menurut kamu selai srikaya enak, tapi enggak menurut Fani enggak. Wortel juga enak kok. Saya aja suka sama wortel. Apalagi jus wortel ditambah madu. Huuuum enak." Selesai membuat dan meletakkannya di atas nakas, dokter perempuan itu mendudukkan dirinya di kursi sebelah ranjang. Fina mengangguk mengerti dengan penjelasan Ibu dokter yang menurutnya sangat cantik dan baik. “Nama Ibu Dokter siapa? Nama aku, Fina.” Fina menatap dokter tersebut dengan bibir yang melengkung ke atas, membentuk senyum manis. Dia juga mengulurkan janji yang dibalas oleh sang dokter. “Nama saya Elfrina.” “Aku panggilnya Ibu Dokter Elfrina?” Fina bertanya sambil memiringkan sedikit kepalanya ke kanan yang membuat Elfrina terkekeh. Belum juga Elfrina menjawab, mereka dikejutkan dengan suara ringisan Fani yang sedang memegang kepalanya. Dia masih merasakan pusing. “Eh, udah sadar rupanya. Sini, minum dulu teh hangatnya.” Elfrina segera membantu Fani duduk dengan bersandar di kepala ranjang. Fani meminum teh hangatnya dibantu oleh Elfrina. “Makasih, Bun.” “Iya, sama-sama. Gimana? Ada yang sakit?” “Kepala aku sakit, perut aku juga, Bun,” keluh Fani. Fani sudah mengenal Elfrina saat pertama kali dia diajak Opa dan Omanya jalan-jalan mengitari sekolah ini. Saat itu Fina lebih memilih ikut jalan-jalan dengan Papa dan Mamanya. “Kok kamu panggil Ibu Dokter Bunda, sih?” Fina mengerutkan dahinya. “Karena Bunda Nana, Bundanya aku.” Fani menjulurkan lidahnya ke arah Fina. “Aku juga mau panggil Bunda. Boleh ya, Bu Dokter?" Fina memelas wajah memelasnya pada Elfrina atau Nana. “Ikut-ikutan aja,” cibir Fani pelan. “Fani enggak boleh gitu.” Nana mengingatkan Fani. "Maaf, Bunda." Fani memilin rok sekolahnya. “Iya, enggak apa-apa. Saya maafin, tapi lain kali enggak boleh gitu lagi, ya?" Nana tersenyum lembut dan mengusap kepala Fani. Inilah yang membuat Fani sangat menyayangi Bunda Nana. Bunda Nana enggak marah, padahal dia salah. Bunda Nana hanya menasihati dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD