03. Cerita Fani

1779 Words
Fani duduk tenang di bangku yang terletak di bagian dalam pagar rumah kelinci. Memandangi kelinci-kelinci lucu itu dengan senyum yang tak lekang dari wajahnya sejak pertama dia datang. Perasaan senang terasa begitu membuncah dadanya.  Karena terlalu fokus memandangi kelinci-kelinci yang berlarian itu, Fani tidak sadar bahwa Trisha sudah duduk di bangku sebelah Fani yang dipisahkan oleh meja, meletakkan puding cokelat dan jus jeruk yang tadi dibawanya ke atas meja tersebut. Selesai menata apa yang dibawanya, Trisha memperhatikan wajah tersenyum Fani dengan lekat. Kedua sudut bibirnya perlahan turut tertarik ke atas membentuk sebuah senyum teduh. “Cucu Nenek kenapa? Dari tadi Nenek perhatiin, senyum-senyum terus. Ada apa, sih? Hem?” Akhirnya, suara itu keluar juga dari bibir Trisha untuk memecah keheningan yang melanda. “Eh? Nenek? Kok Nenek ada di sini?” Fani berjengit kaget sekaligus heran. “Jadi, enggak boleh Nenek ada di sini?” tanya Trisha memasang wajah sedih. “Maaf, Nenek.” Fani menunduk menatap kakinya yang menggantung, tidak menyentuh rumput. “Kenapa jadi minta maaf?” Trisha dibuat bingung dengan permintaan maaf Fani. Pasalnya Fani tidak berbuat kesalahan. “Aku udah buat Nenek jadi sedih. Aku minta maaf, Nek. Maaf.” Fani mendongak, menatap Trisha dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Trisha tentu saja terkejut melihat Fani yang hampir menangis. Tak tega, Trisha menarik tangan Fani lembut, mendekap Fani dengan hangat. Fani terisak. Dia tidak bermaksud berkata begitu, dia tidak ingin membuat Neneknya merasa sedih hanya karena perkataannya, dia juga takut kalau Papanya akan memarahi dan memukulnya lagi. “Udah sayang, jangan nangis. Nenek tadi cuma bercanda.” Trisha mengusap rambut panjang Fani dengan sayang untuk menenangkan gadis manis itu. “Aku enggak maksud buat Nenek jadi sedih. Aku takut, Nek. Kalau Mama sama Papa tau aku buat Nenek sedih, nanti aku dimarahi dan dipukul pake gesper atau rotan lagi sama Papa. Sakit, Nek.” Fani mencoba menjelaskan meski masih terisak. Satu kata yang Trisha rasakan sekarang. Terkejut. Dia tidak menyangka cucu pertama dari anak keduanya akan merasakan hal yang tidak seharusnya anak seumurannya rasakan hanya karena masalah kecil. “Udah ya, sayang. Jangan nangis. Kalau Fani nangis, Nenek jadi sedih, loh. Mau Nenek sedih?” Trisha berharap perkataannya bisa menghibur Fani. “Enggak, Nek.” Fani masih saja sesenggukan. “Makanya Fani berhenti dong, nangisnya. Nenek minta maaf ya, sayang. Tadi Nenek cuma bercanda.” Kalimat yang keluar dari bibir Trisha berhasil membuat hati Fani lega. Fani benar-benar takut jika Papa dan Mamanya akan memarahi dia lagi. Bahkan memukul atau lebih parahnya lagi, menguncinya di kamar mandi. Fani tidak mau itu. Isak tangis Fani sudah tidak sehebat tadi, hanya suara samar dan sesekali yang terdengar. Fani menghadapkan badannya ke depan, memandang ke arah kelinci-kelincinya yang sedang bermain. Bersandar ke badan Trisha yang masih memeluknya dari belakang. “Nenek, aku mau kasih makan kelincinya. Boleh?” Fani berbalik, memandang Trisha dengan wajah penuh harap. “Boleh dong, sayang, tapi harus cium Nenek dulu,” ucap Trisha sedikit menunduk. Fani mencium pipi kanan dan kiri Trisha dengan sayang. Sedangkan Trisha mencium kening Fani. Langsung saja Fani berlari keluar pagar menuju dapur untuk mengambil wortel dengan riang. Fani kembali dengan membawa keranjang kecil yang berisi beberapa buah wortel. Dengan senang hati, Fani meletakkan keranjang yang berisi wortel-wortel itu di bawah dan Fani pun berjongkok di dekat keranjang yang berisi wortel. Tanpa menunggu lama, sudah banyak kelinci yang datang untuk memperebutkan wortel. Kelinci berbagai warna itu langsung memakan wortel yang diberikan Fani, membuat gadis kecil itu terkekeh geli saat para kelinci berebut wortel. Terlihat seekor induk kelinci putih datang dan membawa satu buah wortel ukuran kecil sedikit menjauh guna memberikannya pada kelinci putih kecil. Namun, tiba-tiba ada kelinci kecil berwarna coklat muda yang datang dan malah merebut wortel tersebut lalu membawanya pergi menjauh. Kelinci besar tadi kembali ke keranjang wortel untuk mengambil wortel baru. Setelah mendapatkannya, kelinci besar segera memberikannya pada kelinci putih. “Enak ya jadi kelinci itu.” Telunjuk Fani mengarah ke kelinci kecil cokelat muda yang tengah memakan wortel hasil rampasannya sedikit lebih jauh dan menyendiri. “Enak kenapa, sayang?” Trisha yang sedari tadi memperhatikan mengernyitkan dahinya heran. “Iya, enak. Padahal kelinci besar ‘kan kasih wortelnya buat kelinci putih, tapi malah direbut sama kelinci cokelat. Terus kelinci besar enggak marah ke kelinci cokelat itu, malahan kelinci besar ambil wortel yang baru. Enak jadi kelinci cokelat, dia enggak perlu capek buat ngambil wortel dan enggak perlu takut dimarahi atau dipukul.” Trisha diam mendengarkan. “Aku pernah kayak kelinci kecil cokelat itu, Nek, tapi aku malah dihukum.” Fani cemberut, menggembungkan pipi dan mengerucutkan bibirnya. “Oh ya? Kok bisa? Gimana ceritanya?” Sikap dan kata Trisha dibuat seantusias mungkin. “Waktu itu, Mama sama Papa baru pulang dari minimarket sama Fina. Mama beli es krim dua, yang satu Fina makan dan satunya lagi dimasukkan ke kulkas. Aku minta ke Fina, tapi dia enggak mau kasih. Ya udah, aku rebut aja es krim dia. Eh, Fina nangis. Aku disuruh balikin dan ambil di kulkas. Karena sebel, aku lempar aja es krimnya ke lantai. Mama sama Papa langsung marahin aku karena Fina nangisnya makin kenceng. Fina ngedorong aku sampai aku jatuh, aku balas ngedorong Fina pelan.” Senyum dan wajah cemberut itu perlahan lenyap, menampilkan wajah muram. Fani kembali duduk di bangku yang tadi didudukinya. Menatap lurus ke depan dengan pikiran yang melayang pada kejadian kala itu. “Mama sama Papa makin marah sama aku, ngebentak-bentak aku. Papa pukul aku pakai rotan. Sehabis mukulin aku, Papa tarik aku ke kamar mandi. Mandiin aku dan rasanya sakit banget, Nek. Terus Papa ngunciin aku di kamar mandi. Padahal, aku udah nangis dan mohon-mohon sama Papa. Minta ampun, supaya Papa bukain pintunya.” “Tapi Papa enggak mau dengarin aku. Sampai aku ketiduran di kamar mandi. Waktu aku bangun pagi, aku udah di tempat tidur. Pakai jaket sama kompresan. Kata Mama, aku demam. Karena itu, aku enggak berani lagi ambil punya Fina.” Cairan bening yang mengalir di pipi tembam Fani bertambah banyak. Trisha tidak menyangka bahwa Fani diperlakukan begitu. Trisha berdiri di depan Fani, mendekapnya dengan erat. Tanpa sadar, air mata Trisha juga sudah menetes. “Nenek,” isak tangis Fani terdengar samar. “Iya, sayang. Kenapa?” tanya Trisha lembut, menahan laju air matanya agar tidak semakin menetes. “Kenapa, sih, Mama sama Papa suka banget ngebandingin aku sama Fina? Fina lebih ini, Fina lebih itu. Fina terus yang disayang! Aku enggak! Enggak ada yang sayang sama aku, Nek.” Fani menunduk dan bersuara begitu lirih. Trisha melepas dekapannya, bersimpuh dengan bertopang pada lutut di depan Fani. Menangkup wajah Fani dengan kedua tangannya. “Papa, Mama, Kakek, Nenek, Tante Disa, Om Heru, Tante Mila, Om Dava, Lili, Fero, Fina, teman-teman kamu, semuanya itu sayang sama kamu. Enggak ada yang enggak sayang.” Sungguh hati Trisha merasa tercubit mendengar Fani berucap begitu. “Nenek, Kakek, Tante Disa, Om Heru, Tante Mila, Om Dava, Lili, Fero, teman-teman aku, memang sayang sama aku, tapi Mama, Papa, sama Fina enggak sayang sama aku, Nek.” Fani menatap Trisha sendu dengan air mata yang masih setia mengalir dari kedua matanya. “Siapa yang bilang? Papa, Mama, dan Fina sayang sama kamu, Fani.” Trisha menghapus air mata di pipi Fani, meski air mata itu mengalir lagi. “Papa sering pukul aku. Kalau enggak pake rotan, ya pake gesper. Mama sering bentak dan marahin aku. Fina, dia senang kalau aku lagi dipukul, dibentak, atau dimarahin Mama sama Papa, Nek.” Fani terisak, bahu anak itu bergetar hebat. “Itu karena Papa sama Mama sayang sama kamu. Papa dan Mama enggak mau kamu jadi anak yang nakal, enggak nurut, pembangkang, dan malas, sayang. Lagian, Papa sama Mama marah pasti karna kamu ngelakuin kesalahan, ‘kan? Fina bukan senang, tapi Fina sedih lihat kamu dipukul dan dibentak. Hanya saja, Fina enggak mau terlihat sedih di depan kamu. Agar kamu kuat dan enggak sedih. Fina cuma mau nguatin kamu, sayang.” Tangan Trisha perlahan menuntun Fani turun dari kursi dan memeluk Fani erat, mereka berdua duduk di bawah sekarang. Jujur, Trisha merasakan hatinya begitu sakit mendengar penuturan Fani. “Tapi kenapa kalau Fina yang salah, Mama sama Papa enggak pernah pukulin bahkan sampai ngunciin Fina di kamar mandi? Padahal Fina pernah ngedorong aku sampai kening aku berdarah.” Fani bersuara lagi, tapi kali ini Trisha tidak membalas, hanya pelukannya yang semakin mengerat. “Aku cemburu sama Fina, aku iri sama dia. Fina selalu dapat apa yang dia mau. Sedangkan aku enggak, Nek.” Perlahan, suara isakan Fani mulai melemah. “Sayang, dengerin Nenek. Kasih sayang Papa sama Mama bukan dari barang apa yang dikasih ke kamu, tapi perhatian apa yang diberi Papa dan Mama buat kamu. Bukan dari barang-barang yang dikasih. Mengerti?” “Nenek, yang aku maksud bukan mainan. Kalau sama Fina, Mama sama Papa bakal nurutin apa yang dimau Fina. Kayak waktu itu aku, Mama, Papa, dan Fina lagi di taman. Aku mau es krim, tapi enggak dibolehin karna aku sama Fina lagi batuk. Aku nangis, minta es krim. Bukannya dibeliin, aku malah dimarahin Papa. Disuruh pilih yang lain aja. Ya udah, aku pilih roti bakar aja, tapi Fina enggak mau roti bakar, dia maunya es krim. Sampai nangis-nangis kayak aku. Karna Fina nangis, kami jadi boleh beli es krim. Padahal, waktu aku yang nangis enggak dibolehin. Giliran Fina dibolehin. Semua mau Fina dituruti, aku enggak.” Bibir Fani mengerucut, tanda bahwa dia kesal. “Aku mau kayak Fina yang selalu disayang, apa yang mau dituruti, walaupun salah gak pernah sampai dipukulin, dikunciin, dibentak lagi. Palingan kalau salah cuma dimarahin sama dibentak aja. Bahkan, kadang cuma dinasehatin. Aku iri, Nek.” Fani bergumam, Trisha hanya mampu terdiam dengan laju air mata yang deras. Fani dengan tiba-tiba melepaskan pelukannya saat mendengar isak tangis pelan yang keluar dari bibir Neneknya. Pelukan yang dilepas Fani tiba-tiba membuat Trisha terkejut sekaligus bingung. “Ada apa, sayang?” Trisha bertanya dengan air mata yang masih ada di pipinya dan sedikit sesenggukan. “Nenek nangis? Kenapa?” Tangan kecil itu dengan perlahan menghapus jejak air mata di pipi keriput Trisha dengan lembut. “Jangan nangis, Nek. Aku aja enggak nangis.” Fani mengusap air matanya sendiri dengan cepat. “Nenek cengeng.” Fani mengecup pipi kiri dan kanan Trisha bergantian dan berulang-ulang. “Nenek enggak cengeng. Kamu kali yang cengeng.” Trisha terkekeh pelan dan mengusap pipinya pelan, menghilangkan jejak-jejak yang ditinggalkan air matanya. “Aku enggak cengeng. Nenek yang cengeng,” rengek Fani. “Iya-iya, Nenek yang cengeng. Oh iya, pudingnya di makan dulu itu, Fan,” ucapan Trisha menyadarkan Fani akan puding cokelat kesukaannya. Trisha kembali berdiri dan duduk di tempat semula. Sedangkan Fani, dia telah duduk tenang menyantap puding cokelatnya dengan lahap, sesekali meminum jus jeruk. “Nenek, mau?” Fani menyodorkan sesendok puding cokelat ke Trisha. Trisha menggeleng sambil tersenyum. “Buat kamu aja. Makan yang banyak, ya.” Fani hanya sebatas mengangguk dan fokus pada puding cokelat buatan Neneknya. “Kamu anak yang baik dan pintar, sayang. Enggak seharusnya kamu dapat perlakuan yang enggak adil dari Mama dan Papamu. Nenek selalu berdoa yang terbaik buat kamu, Fani. Nenek harap, kamu selalu bahagia, bisa selalu buat orang-orang yang ada di sekitar kamu bahagia melihatmu,” batin Trisha sedih memandangi Fani dengan pandangan teduh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD