Pintu ruangan serba putih itu terbuka. Dani yang tengah berkutat pada layar laptop-nya yang menampilkan beberapa foto seorang desainer mungil pada akun sosial medianya, mendongak dan menemukan Ando yang melenggang masuk tanpa permisi. Lelaki itu duduk di hadapan Dani dengan santai tanpa memperdulikan tatapan tajam Dani. Hal itu justru membuat Ando semakin menyengir lebar, menampilkan rentetan giginya yang rapi. “Keluar,” tukas Dani dengan penekanan tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop-nya. Ando berdecak. Ia tahu benar sahabatnya yang satu ini begitu cuek dan bisa kapan saja menerkam siapa pun yang mengusik kegiatannya. Ando juga tidak ingin mengganggunya, namun beribu pertanyaan dalam benaknya seakan mendorong dirinya untuk menampakan batang hidungnya di hadapan Dani saat ini.

