Lima

1194 Words
Daisy menyilangkan tangannya di depan d**a. Ia merengut sebal ke arah Dani di sampingnya. Kedua matanya terus menyipit, menatap Dani yang tengah mengemudi dengan tenang, namun tidak ada yang tahu lelaki itu tengah menahan senyum. “Ngapain sih bilang sama orang-orang tadi saya keponakan Dokter!” Ia memalingkan wajah, memandangi pemandangan luar kaca saat Dani melihatnya dengan datar. “Bukannya kamu sendiri memanggil saya om di depan mereka?” Dani menaikan satu alisnya. Ia menahan senyum saat gadis itu menoleh dengan cepat dan melotot penuh ke arahnya. Lelaki itu bahkan sampai takut leher gadis itu copot dan kedua matanya keluar. “Hiiiyyy! Itu kan karena saya lagi marah sama Dokter! Kenapa sih jadi manusia nyebelin banget!” Daisy berkacak pinggang, ia mengembungkan pipinya. “Siapa coba yang nggak marah dipeluk-peluk gitu depan umum!” Daisy masih mengingat jelas kejadian di tempat parkir tadi. Dani yang memutuskan mengantar Daisy pulang dengan santainya memapah tubuh Daisy sampai ke tempat parkir. Daisy merasa jengah tatapan penuh tanya staf rumah sakit lain yang mengenal siapa Dokter Dani, sang pemilik rumah sakit. Dan seolah menjawab semua pertanyaan yang berseliweran di kepala staf rumah sakit, Dani dengan santai memberi tahu bahwa ia adalah keponakannnya. KEPONAKAN. Memangnya tampangnya semuda apa hingga orang-orang itu percaya ia adalah keponakan Dokter Dani. Kalau saja ia bisa mengatakan kepada para staf ini, yang sebagian besar merupakan penggemar Dani, betapa menyebalkannya kelakuan om-om p*****l ini.  “Saya tidak memeluk, hanya membantu kamu berjalan. Kamu ingin terjatuh dengan kondisi kakimu seperti itu, kan?” Ia mencondongkan badannya ke arah Daisy, membuat gadis itu semakin merapat pada sandaran. “Tapi kan—” “Kamu bisa berjalan? Baiklah, kita sampai. Silakan turun sendiri,” ujar Dani tanpa menoleh ke arahnya. Kini mereka telah sampai di depan rumah Daisy yang minimalis bergaya modern. Daisy menggigit bibirnya, ia ragu turun dari mobil yang cukup tinggi itu bila tanpa dibantu Dani. Tapi ia juga tidak mau Dani menampakan seringai puas yang selalu ditunjukkannya bila merasa menang darinya! Ia membuka pintu mobil dengan ragu. Dani tersenyum miring, mengamati gadis mungil itu dari sudut matanya. Tanpa sadar, ia sedang berharap cemas supaya gadis itu tidak terjatuh. Daisy menoleh, ia menatap Dani dengan mata bundarnya yang menyiratkan sesuatu. Dani membalasnya dengan sebelah alis terangkat serta senyuman tipis di bibirnya. Matanya menatap geli tingkah gadis mungil itu yang terlihat begitu menggemaskan saat bibir mungil itu terbuka dan kemudian terkatup kembali, seperti ingin mengatakan sesuatu, membuat Dani tidak sabar menunggu! “Om, nggak kasihan sama keponakannya, ya?” Gelak tawa menguasai lelaki itu. Bahunya terguncang hebat. Daisy yang melihat itu terpesona sekaligus kesal. Terpesona karena Dani terlihat begitu tampan saat tertawa lepas seperti itu, ia akui. Namun ia kesal karena penyebab tawa lelaki itu adalah dirinya! Oh Gosh! Sungguh, ia malu! Saat tawanya mereda, lelaki itu menatap lembut Daisy. Lagi-lagi gadis itu terpesona, bahkan bibir mungilnya sedikit terbuka. Tatapan itu membuatnya sesak bernapas. “Jika kamu menyetujui perjanjian kita.” ***   Dani membungkukan badannya, menurunkan Daisy dengan hati-hati. Gadis itu berdecak, tangannya berkacak pinggang melihat tubuh menjulang Dani saat lelaki itu kembali berdiri tegap. Dani yang melihatnya pun membalas dengan menyilangkan tangannya di bawah d**a. Matanya tersenyum geli saat gadis itu mendengus kecil. “Mau masuk?” “Tidak perlu.” Dani tersenyum simpul. “Ya udah gih,” sungut gadis itu. Sebelah alisnya terangkat, lelaki itu berdecak pelan. “Anak yang tidak sopan.” Daisy terbelalak, “Kan sudah perjanjian, Om!” pekiknya tertahankan. Dani mengangguk, kedua matanya tersenyum geli melihat Daisy merengut sebal. “Ya sudah, aku pulang dulu.” Lelaki itu tersenyum dan menepuk ringan puncak kepala Daisy sebelum akhirnya berlalu. Saat deru mobil lelaki itu terdengar menjauh, Daisy mendekap dadanya. Ada perasaan yang sama seperti saat dirinya bersama Dokter Panji. Ah, bahkan sekarang nama itu tidak termasuk daftar pemacu semangatnya untuk berada lebih lama di rumah sakit itu lagi. Kenapa? Bahkan Daisy juga tidak tahu alasannya. Dani? Bukankah itu terlalu cepat? Bahkan pertemuan pertama mereka bukan sesuatu hal yang menyenangkan, boleh dikatakan, begitu memalukan! Dani… Duh! Ia merutuki dirinya sendiri. Dengan bersungut-sungut ia membuka pintu dan terbelalak lebar melihat mamanya dan kedua kakak iparnya yang memandang dengan tatapan curiga. “KALIAN NGAPAIN?!” ***   Dani mengempaskan tubuhnya, menatap langit-langit kamarnya yang putih pucat namun kini terlihat lebih terang seperti terpantul binar bahagia dari kedua matanya. “Jika kamu menyetujui perjanjian kita.” Daisy mendelik, ingin sekali Dani mengigit puncak hidungnya itu. “Huh, syarat mulu! Kayak dokter aja.” “Saya memang dokter, Daisy.” Ujung bibirnya tertarik. “Tau dari mana nama saya?” Daisy mengerutkan hidungnya. “Ng… tukang majalah?” jawabnya ragu dengan sebelah alis terangkat. Daisy meringis, “Ya ampun, si Abang menghancurkan sebuah perkenalan! Nggak keren banget tahu gitu.” Ia berdecak keras. Dani tersenyum geli, “Kalau begitu, kita mulai dari awal.” Lelaki itu mengulurkan tangannya. “Pratama Dani Rahardian.” Daisy menyambut uluran tangannya dengan antusias, “Daisy El Vanisha!” Ia menyengir lebar. Menyebutkan nama lengkapnya termasuk salah satu kegemarannya. Ia bahkan sampai mengayunkan genggaman mereka begitu kencang. “Jadi… perjanjian apa?” Ingat gadis itu pada syarat yang diajukan Dani. Lelaki itu tersenyum jahil. “Pertama, jangan memanggilku dengan sebutan ‘Om’ apalagi p*****l! Kedua, mulai saat ini jangan berbicara begitu formal denganku. Paham?” Daisy meringis, “Pertama, masih bolehlah. Nah yang kedua itu, memangnya Dokter nggak risih, ya?” Ia mengerjapkan matanya. “Tidak untuk kamu.” Dani mencolek puncak hidung Daisy. Lelaki itu turun dan memutari bagian depan mobilnya untuk membantu Daisy yang masih mengerjap-ngerjap karena sentuhan pada ujung hidungnya. Gadis itu bahkan baru tersadar dari lamunannya saat dirasakan tubuh mungilnya terangkat dengan bantuan dari Dani. Dengan sigap gadis itu melingkarkan tangannya dengan erat pada leher Dani. “Kamu ternyata baik, ya? Tapi pelang-pelan jalannya ya. Lagian panjang-panjang amat sih langkahnya. Heran.” Gerutu gadis itu kecil.   Tidak ada yang tahu, bahkan Dani sendiri pun tidak menyadari bahwa ingatan akan kejadian itu sanggup membuatnya tersenyum layaknya kehilangan akal. Dani berdecak keras. Ia mengacak rambutnya gusar. Ada apa dengan dirinya?! Selama ini ia tidak pernah merasa begitu antusias berdekatan dengan lawan jenis. Ah, tidak. Bukan antusias, namun bahagia! Ia merasa begitu senang dan terhibur dengan kehadiran gadis itu. Seakan dapat mengubah warna dunianya dalam waktu yang singkat, gadis itu mampu membuat tarian liar dalam benaknya. Terlalu cepat? Ia tidak tahu. Ia hanya tahu bahwa ia sangat menikmati setiap detik yang dihabiskannya bersama gadis itu. Ia juga belum pernah mengalami hal seperti ini untuk menilai apakah semua proses ini terlalu cepat. Hanya gadis itu, Daisy. Mengapa saat waktu mempertemukannya dengan gadis itu, hidupnya yang selama ini membosankan seketika berubah menjadi begitu menyenangkan? Ia percaya pada takdir Tuhan. Mungkin memang beginilah hidupnya, tidak pernah mengenal seorang perempuan lebih dalam. Ia selalu acuh dan tidak peduli. Namun begitu Daisy muncul, ia merasa seperti bukan dirinya! Tuhan memang adil. Mungkin dirinya sudah ditakdirkan dengan gadis itu, sehingga perempuan luar biasa pun tidak terlihat menarik dimatanya. Dan saat mempertemukannya dengan Daisy, gadis biasa yang begitu menggemaskan, ia mengetahui jawaban dibalik rencana Tuhan. Oh, benarkah begitu? Mungkinkah? Terdapat secercah harapan dihatinya. Semuanya telah ia dapatkan. Semoga untuk satu hal ini, ia juga mendapatkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD