“Kamu! Berani-beraninya kamu membuat onar di sekolah yang sudah mau menampung anak seperti kamu!” ucap Pak Handoko sambil menggerakkan tangan kanannya yang ia kepal, menyisakan tulunjuk yang ia acungkan ke wajah Cakra.
Seluruh sekolah tak dapat bersikap tak acuh akan situasi ini, semua murid dari kelas sepuluh hingga dua belas berusaha mengintip dari kejauhan begitu mengetahui Pak Handoko datang ke sekolah. Itu artinya Cakra si anak baru kemungkinan akan diusir dari sekolah ini.
Terutama seluruh siswa yang berada di kelas yang sama dengan Cakra, perasaan mereka tak karuan. Ada yang iba, ada yang merasa bersalah, ada yang merasa bahwa Cakra pantas dikeluarkan karena telah mengganggu ketertiban, ada pula yang tidak peduli seperti Mia.
Seluruh siswa yang ada di sekolah itu berbondong-bondong mengintip ke ruangan kepala sekolah, mereka tidak berani berada lebih dekat dari ruangan kepala sekolah. Karena, selain takut akan Steven, mereka juga dibubarkan oleh para guru dan juga petugas sekolah.
Para guru pun bersikap bijaksana, untuk tidak ikut penasaran mengenai kejadian ini. Karena, setelah masalahnya terselesaikan, pasti mereka akan membahasanya bersama Pak Handoko. Lantaran memang Pak Handoko selalu hadir dalam setiap rapat dan keputusan sekolah.
“Pak Andi!” kini Pak Handoko memalingkan tatapan kejinya ke Pak Andi.
“Saya mau anak ini dikeluarkan sekarang juga! Bikin malu!” Steven tanpa segan menunjukkan rasa bahagianya, hal itu ia tujukkan terang-terangan dengan menyeringai licik ke arah Cakra.
Sedangkan Cakra berusaha menahan emosi, ia mencoba menahan diri untuk tidak membuat bapak tua itu berakhir di rumah sakit. Lagipula, tamparan Pak Handoko tidak begitu menyakitkan. Hanya terasa perih sedikit, dan yang menjadi alasan utama Cakra tak menampar balik pria itu karena beliau tetap saja orang tua yang harus dihormati.
“Tapi Pak!” Pak Andi berusaha menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
“Kenapa?”
“Dia anak baru Pak, baru kemarin dia masuk! Nggak mungkin langsung dikeluarkan… Nanti…. Apa kata pihak yayasan Pak?!” Pak Andi berusaha membuat Pak Handoko sadar akan posisinya.
“Saya ketua yayasan, jadi saya berhak! Lagipula kenapa bisa ada murid baru tanpa sepengetahuan saya?” sepertinya kata-kata Pak Andi percuma. Padahal, niat hati Pak Andi tulus supaya Pak Handoko tidak akan berurusan dengan dewan direksi, yang menaungi sekolah mereka. Namun, usahanya ditolak mentah-mentah oleh arogansi bapak tua yang kini seperti tidak suka ucapannya dibantah oleh Pak Andi.
Cakra yang mendengar itu semua, tak kuasa menahan diri untuk tidak mengejek Pak Handoko.
“Berani-beraninya kamu mengejek saya!” ucap Pak Handoko begitu melihat raut muka Cakra yang menyunggingkan senyum ejekan padanya.
“Kamu dari anak panti mana? Kenapa dia bisa jadi murid baru!?” Pak Handoko tak dapat lagi menahan amarahnya. Ia selaku ketua yayasan merasa harga dirinya terinjak-injak, karena tidak mengetahui bahwa ada yang memasuki daerah kekuasannya tanpa meminta izin.
“Dewan direksi yang memerintah langsung Pak! Cakra ini tim olimpiade Fisika yang akan mewakili Indonesia ke olimpiade fisika internasional Pak! Saya pikir Pak Handoko tau!” Pak Handoko sedikit bergidik kemudian memandang Cakra dengan tatapan menelisik.
Wajah Steven yang semula penuh dengan rona kebahagiaan berganti menjadi rasa takjub, ia tak menyangka Cakra sehebat itu. Akan tetapi sedetik kemudian rona wajahnya berubah menjadi rasa tak suka, cenderung iri.
“Baik, itu sesuatu yang harus kita punya!” ia akhirnya menyetujui agar Cakra tetap dipertahankan. Steven sedikit kesal dengan keputusan ayahnya, ingin sekali ia membantah dan meminta Ayahnya untuk mengeluarkan Cakra, akan tetapi ia tahu bahwa ayahnya tidak dapat melakukannya karena keberadaan Cakra di sekolahnya berkat dewan direksi.
Ia sedikit tahu bahwa sekolah ini sepenuhnya bukan milik ayahnya, namun karena sikap ayahnya yang menjadikan sekolah ini seolah-olah miliknya, membuat kenyataan itu tersamarkan hingga hilang dari benaknya.
Para guru, kepala sekolah hingga seluruh karyawan sekolah juga tak pernah ada yang mengingatkannya, mungkin karena mereka sendiri tidak mengetahui pasti posisi Pak Handoko. Lagipula selama ini yayasan sepenuhnya dipercayakan kepada ayahnya, tanpa diganggu oleh pihak dewan direksi.
Sehingga, membuat Pak Handoko menjadi besar kepala.
Buktinya, saat acara-acara penting yang diikuti atau diselenggarakan oleh pihak sekolah, tak satupun pihak dewan direksi hadir. Bahkan untuk ikut campur pun tidak. Hanya diwakilkan oleh ayahnya. Jadi, wajar bila seluruh siswa, guru, dan karyawan di sekolah tersebut beranggapan bahwa Pak Handokolah pemilik dari sekolah mereka.
Ditambah, dengan fasilitas kusus yang diberikan oleh Pak Handoko kepada Steven. Mulai dari tempat khusus untuk Steven memarkirkan mobilnya, hingga ruang istirahat khusus Steven di saat jam istirahat ataupun pulang sekolah. Ruangan tersebut luas dilengkapi tempat tidur, sofa, televisi hingga permainan konsol. Bagaimana tak ada yang salah sangka dengan itu semua?
“Tapi kejadian ini nggak bisa dibiarkan! Dia tetap harus dihukum. Kamu… Hubungi oran tua kamu! Masih punya kan?” bentaknya dengan nada penuh ejekan sembari berjalan menuju tempat Pak Andi. Lalu mendorong tubuh kepala sekolah itu, kemudian mendaratkan tubuhnya dengan penuh keangkuhan, ke sofa tempat yang semula di duduki Pak Andi.
Cakra sudah tak dapat membiarkan sikap congkak Pak Handoko.
Awalnya, ia tidak akan menggunakan ayahnya dalam rencananya menjebak Steven. Akan tetapi, karena sudah mendapatkan perlakuan kasar dari orang tua itu tanpa mengetahui terlebih dahulu akar permasalahnnya, membuat Cakra tak sungkan untuk meminta ayahnya turun tangan.
“Ok!” tantang Cakra sambil mengeluarkan ponselnya. Kemudian, memerintahkan jarinya bekerja di atas layar kaca datar berukuran tak lebih dari 5 inci, untuk menghubungi ayahnya.
“Yah?” ucapnya begitu nada dering yang ia dengar berubah.
“Kenapa Dek? Tumben telepon pas kamu lagi sekolah? Masalah di sekolah udah beres?” Steven mengangkat alis dan berbisik pada teman-temannya, mengejek Cakra yang merupakan anak manja, saat mendengar perkataan ayah Cakra sayup.
Ia merasa bangga dan menang karena selama ia mengusik Cakra, anak itu selalu mengadu pada ayahnya. Ia sempat tersenyum mengejek disaat mengetahui fakta bahwa Cakra tak semenakutkan itu. Ia sempat cemas bila ternyata Ayahnya tak jadi mengeluarkan Cakra dan harus terus menerus bersekolah dengan anak baru itu. Senjata Cakra sebagai perwakilan IPhO berhasil membuat ayahnya untuk teteap mempertahankan Cakra. Serta, menggoyahkan pendirian ayahnya.
Ia paham, bahwa sekolah ini membutuhkan anak-anak seperti Cakra untuk mendongkrak poularitas sekolahnya. Agar, yayasan tempat ayahnya bekerja terus mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Perkelahian yang baru saja terjadi, juga membuatnya sedikit ragu untuk terus mengusik Cakra.
Mengingat, Cakra lebih kuat darinya. Sempat terpikir untuk berdamai dengan Cakra dan menjadikan Cakra aliansinya. Namun, saat mengetahui bahwa Cakra adalah anak manja yang suka mengadu pada ayahnya. Membuat Steven menghilangkan rencana itu, ia yakin Cakra dapat ia taklukan dan mungkin akan menjadi pesuruhnya kelak.
“Itu dia masalahnya Yah, Cakra dipanggil ke ruang kepala sekolah, Ayah disuruh dateng ke sekolah!”
“Oh yaudah, Ayah ke sana habis anterin Bunda ya! Kira-kira setengah jam lah Ayah baru nyampe, gapapa kan?”
“Iya Yah!” Cakra kemudian duduk kembali sambil menatap wajah Pak Handoko tajam setelah mengakhiri percakapan dengan ayahnya.
“Kurang ajar kamu ya! Tidak sopan kepada orang tua! Berani kamu menatap saya seperti ini? Nggak diajarkan sopan santun kamu sama orang tua kamu? Penasaran saya, seperti apa ayah kamu!? Perlu saya tegaskan juga dia biar bisa ngajarin kamu jadi anak yang bener! Atau kayanya saya harus benar-benar mengeluarkan kamu!” Steven seketika senang, ia berharap ayahnya benar-benar akan mengeluarkan Cakra dari pandangannya selama-lamanya.
“Sudah Pak! Sudaaah... Pak Handoko kan belum mengerti titik awal permasalahan ini!” lagi-lagi Pak Andi berusaha menenangkan Pak Handoko.
Ia membungkuk sedikit agar tangannya dapat mengelus pelan lengan Pak Handoko yang mulai bergerak ke wajah Cakra. Posisinya yang berdiri di antara sofa yang di duduki oleh Pak Handoko dan Cakra, sedikit menguntungkan bagi Cakra. Paling tidak, Pak Andi akan menjadi perisai baginya.
“Emang apa lagi yang harus dimengerti? Jelas-jelas dia membuat anak saya menjadi seperti itu!” bentak Pak Handoko sambil tangannya diarahkan ke Steven. Steven memanfaatkannya dengan berdesis sambil memegangi wajah dan tubuhnya yang terdapat jiplakan sepatu Cakra.
“Saya...” Cakra berusaha membela tapi langsung dibentak oleh Pak Handoko.
“Diam kamu!! Mau saya gampar lagi?” Cakra terpaksa diam sambil menahan napasnya yang semakin tidak tertatur.
Dia sungguh ingin cepat-cepat ayahnya datang untuk membungkam mulut orang tua ini. Pak Andi langsung berusaha mendinginkan emosi Pak Handoko, sambil berusaha menjelaskan akar permasalahan kejadian ini.
“Tadi sudah saya tanyakan Pak… Persoalannya seperti apa, tapi karena tidak ada bukti yang kuat maka belum ditemukan titik terangnya!”
“Emang mau bukti apa lagi? Jelas-jelas anak saya bentuknya sudah seperti itu gara-gara dia, masih sukur nggak saya laporkan ke polisi langsung!” Pak Handoko mengatakan kata polisi sambil menatap Cakra tajam, seolah-olah itu bukan hanya ancaman belaka.
Namun Cakra tak gentar sekalipun, ia hanya membuang muka. Lagipula kalau pun ternyata dirinya memang harus berurusan dengan polisi, ia tak sungkan akan membuat gugatan. Dalam pikiran Cakra terlintas beberapa gugatan yang akan ia layangkan kepada Steven dan Pak Handoko.
Namun, pikiran itu langsung ia singkirkan.
Ia tak ingin siswa yang merupakan anak didik dari yayasan yang dimiliki oleh ayahnya masuk penjara karena persoalan sepele, terlebih anak itu harus satu tahanan dengan ayahnya yang merupakan ketua yayasan yang sudah membantu orang tuanya mengurusi yayasan itu. Sungguh bukan pemandangan yang dapat dinikmati, namun cukup lucu jika dapat terjadi.
“Iya Pak, saya tahu… Tapi menurut Nak Cakra, dia hanya berusaha melindungi diri Pak! Dari keterangannya, Stevenlah yang telebih dahulu mengganggunya!” Pak Andi berusaha memberikan penjelasan yang netral kepada orang tua yang jauh lebih berumur darinya.
Ia heran mengapa orang seperti ini dapat memimpin sebuah yayasan.
“Bah... alasan apa itu! Kamu tau sendiri sesopan apa anak saya! Nggak mungkin dia gangguin teman-temannya! Dia anak yang baik!” bela Pak Handoko.
Pak Andi tak ingin berargurmen, ia tidak begitu mengenal Steven selain Steven anak yang cukup pintar, sopan terhadap guru, dan rajin. Sebelum Steven bersekolah di sini pun ia hanya bertemu dengan Steven sesekali pada acara yayasan, itu pun mereka tidak pernah bertatapan muka.
Namun, sejak laporan mengenai tingkah Steven dari beberapa siswa mengenai pembulian Steven kepada mereka, membuat opininya tehadap Steven sedikit bergeser. Apalagi tidak sedikit yang mengadu.
Bukan sekali dua kali perkelahian kecil terjadi antara Steven dengan siswa lain, namun baru kali ini ada yang melawan balik.
“Lagian kan ada CCTV! Memangnya belum kalian cek kejadiannya bagaimana?”
“Sudah Pak! Tapi itu dia Pak... saat kejadian berlangsung CCTV mati Pak! Nggak tahu kenapa! Dan bukan sekali ini saja Pak…. Setiap ada kejadian heboh yang menyangkut Steven pasti CCTV mati Pak!” ucap Pak Andi berusaha membuka pikiran Pak Handoko. Ia berharap orang tua siswa sekaligus atasannya itu dapat pokok permasalahan yang sebenarnya. Di mana, Stevenlah akar dari permasalahan ini.
Bukan CCTV!
Karena, Pak Andi yakin bahwa entah bagaimana caranya, setiap siswa yang tersangkut paut dengan Steven, pasti berkahir dengan CCTV yang bersamalah. Tak ada alasan lain kecuali Stevenlah yang menjadi biang keroknya. Tapi tentu saja Pak Anda tak dapat menuduhnya secara langsung. Karena, bukti yang hanya berupa opini, spekulasi dan juga prasangka.
“Alasan saja kamu! Orang CCTV-nya baru kok! Udah kamu pastikan CCTV-nya nggak bisa?”
“Sudah Pak!”
“Yah mau gimana lagi, selagi menunggu orang tuanya, saya mau bawa Steven ke rumah sakit, kamu urus teman-temannya di UKS, dan jaga dia! Jangan sampai dia keluar dari ruangan ini! Kalo orang tuanya sudah datang hubungi saya!” ucap Pak Handoko seraya berdiri sambil menyuruh Steven megikutinya, meninggalkan Cakra dan teman-temannya bersama Pak Andi.