11. Adipramana

2170 Words
Selang tiga puluh menit Cakra menunggu di kantor kepala sekolah sendirian, sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba Pak Adipramana, ayah Cakra masuk diikuti Pak Andi di belakangnya. Cakra hanya menoleh ke ayahnya, sambil memamerkan senyuman kemenangan. “Kenapa kamu senyam-senyum begitu?” tanya Pak Adipramana berjalan menghampiri Cakra kemudian duduk di sebelahnya. Menyisakan sedikit ruang di sebelah kanan dan kiri mereka. “Gapapa!” jawabnya masih menyeringai. “Maaf dengan Pak....?” tanya Pak Andi begitu mendaratkan tubuhnya di singgasananya. “Adipramana Pak!” jawab ayah Cakra ke arah Pak Andi, sambil merentangkan tangannya untuk mengajak Pak Andi berjabat tangan. Entah mengapa Pak Andi menjadi sungkan dan seakan kecil, begitu ia melihat Pak Adipramana turun dari mobil mewah. Awalnya, ia bingung kenapa ada mobil mewah yang sering ia lihat pada film-film luar negeri, namun tak pernah ia temukan di dunia nyata, masuk ke area sekolahnya ketika ia baru saja keluar dari UKS. Diperhatikannya mobil tersebut, sambil melangkah menuju mobil itu. Pak Andi pikir, mungkin orang di dalam mobil itu salah alamat. Atau mungkin sedang mencari alamat, dan ingin bertanya mengenai alamat yang ia cari. Namun begitu hampir sampai di tempat tujuannya, ia semakin tak percaya dengan penampilan akan orang yang baru saja keluar dari mobil mewah tersebut. Dalam bayangannya, orang yang berada dalam mobil mewah itu akan menggunakan setelan jas, rambut klimis, serta sepatu mengkilap. Namun, penampilan Pak Adipramana jauh dari kesan mewah. Sehari-hari, ia hanya memakai sweater rajutan dengan kancing tarik sepanjang sepuluh sentimeter yang terdapat di antara di bawah leher depannya. Serta, celana kain yang menutupi kakinya hingga atas lutut. Ia juga hanya beralaskan sandal. Penampilannya persis seperti hari itu, saat Pak Adipramana datang ketika Cakra anaknya meminta. Sejatinya Pak Adipramana jarang berpenampilan rapi, kecuali disaat tertentu saja. Keterkejutan Pak Andi bertambah, saat mengetahui bahwa orang yang mungkin seusianya yaitu empat puluh lima tahun. Merupakan ayah dari muridnya yang kini terancam akan dikenakan hukuman, bahkan bisa jadi dikeluarkan. Dengan gugup, ia mengantarkan Pak Adipramana ke kantornya sampai-sampai ia lupa memperkenalkan diri. “Oh iya, saya Andi! Kepala sekolah Cakra. Begini Pa Adipramana…! Pak Handoko, ayah sekaligus ketua dari yayasan yang menaungi sekolah ini, yang meminta Pak Adipramana untuk datang. Tapi beliau sekarang lagi mengantarkan anaknya ke klinik. Mungkin karena khawatir ada apa-apa dengan anaknya. Jadi mereka meminta Pak Adi untuk menunggu. Tadi sudah saya kabarkan, beliau juga ternyata sudah dekat. Tidak ada luka serius pada anaknya, jadi nggak ada alasan bagi beliau untuk berlama-lama di rumah sakit!” ucap Pak Andi berusaha menjelaskan secara hati-hati. “Kalau boleh tau anaknya Pak Handoko kenapa Pak?” tanya Pak Adiprama yang memang belum tahu kejadian yang sebenarnya. Cakra haya tersenyum lebar saat ayahnya menatapnya. “Kamu nggak keterlaluan kan Dek?” tanya Pak Adiprama cemas. “Ya enggak lah Yaah... kan Pak Andi udah bilang tadi kalo dia nggak kenapa-napa!” ucap Cakra enteng lalu kembali terpaku pada ponselnya. Tayangan mengenai robot lebih menarik perhatiannya, dibanding pembicaraan kepala sekolah dengan ayahnya mengenai Steven. “Jadi Pak Adi sudah tau kejadiannya?” “Belum Pak, tapi saya tau anak saya ini cukup keterlaluan kalau dia sampai diganggu. Apalagi diperlakukan semena-mena. Kalau boleh tau kejadiannya bagaimana ya Pak?” jelas Pak Adipramana sambil kanannya mengusap kepala Cakra dengan penuh cinta. Ia Sempat menepuk keras kepala Cakra, yang membuatnya sedikit menoleh pada Ayahnya dengan tatapan cemberut. “Menurut Cakra anak Bapak, Steven anaknya Pak Handoko membuat Cakra jatuh. Setelah itu bukannya minta maaf, tapi malah mukulin Cakra.” Pak Andi berusaha berucap sangat hati-hati, ia tak ingin berbuat kesahalan sedikitpun di depan orang yang baru ia kenal beberapa menit lalu. Aneh, padahal Pak Adipramana bukanlah atasannya. Bahkan, terhadap Pak Handoko sekalipun, ia tak pernah merasa sungkan dan kecil seperti ini. Aura Pak Adipramana begitu terpancar. Kharismanya, membuat siapapun yang melihatnya akan merasa bahwa Pak Adiprama harus dihormati. Walau sebetulnya, Pak Adipramana tidak menginginkan itu.  Pak Adipramana melihat gelagat Pak Andi yang sedikit canggung, hanya dapat menunggu penggalan kalimat sebelumnya. Sebaliknya Cakra, masih terpaku pada tayangan dokumenter. “Sedangkan dari pihak Steven berkata, bahwa dia tidak sengaja membuat Cakra jatuh. Saat meminta maaf, Cakra langsung memukulinya. Begitu Pak!” lanjutnya menuntaskan apa perkara yang sebenarnya sedang terjadi. “Emang CCTV-nya gimana Pak? Bukannya bisa dibuktikan lewat CCTV?” tanya Pak Adipramana sambil menatap Cakra, seakan-akan pertanyaan itu tertuju padanya. Namun, kenyataannya memang benar, ia bertanya pada Cakra karena Pak Adiprama sendiri tahu bahwa Cakra sudah memasang CCTV pribadi di seluruh penjuru sekolah. Hanya Cakra serta para karyawan sekolah yang ikut membantunya saja, yang tahu dimana letak CCTV itu berada. Bahkan, sulit untuk menyadari bahwa ada benda berteknologi tinggi, yang mengintai di sekeliling mereka. Dikarenakan, CCTV yang dipasang Cakra adalah CCTV pengintai kecil degan resolusi tinggi.  Lensanya pun dapat di-zoom in dan zoom out, bahkan saat diperbesar, tidak menurukan kualitas resolusi gambarnya. Selain itu, CCTV tersebut dapat dipantau dan dikontrol melalui situs perusahaan CCTV tersebut dengan memasukkan identitas pemilik. Serta, aplikasi yang bisa diinstal di gawai nirkabel seperti ponsel pintar. “Iya Pak, saya paham, dan mungkin saat ini masalahnya akan menjadi besar. Soalnya, CCTV sekolah kami saat kejadian berlangsung tidak beroperasi dengan baik Pak! Sehingga kami tidak mempunyai file yang bisa menayangkan kejadian itu Pak!” ucap Pak Andi menjelaskan setenang mungkin, berharap Pak Adipramana tidak marah kepadanya karena kelalaiannya sebagai kepala sekolah. Ia khawatir, Pak Adipramana akan protes padanya soal CCTV yang rusak, padahal itu bisa menjadi barang bukti agar anaknya, Cakra dinyatakan tidak bersalah. “Untuk itu saya selaku kepala sekolah meminta maaf karena tidak dapat membela Cakra, dan saya juga akan merasa bersalah kalau ternyata Cakra tidak bersalah!” ucapnya merasa tak enak hati. Iya yakin Cakra lah yang berkata jujur, dan ia takut Cakra akan mengalami hal yang sama dengan anak malang yang terpaksa dikeluarkan bulan lalu. Ia tak ingin anak berprestasi seperti Cakra harus mengalami hal yang sama. Terlebih, ia juga tak ingin Pak Adipramana merasa kerjanya tak becus. Ia berharap dengan pertemuan kedua orang tua ini, dapat menyelesaikan masalah dengan baik dengan Cakra tetap dapat dipertahankan. “Oh… begitu ya? Yaudah gapapa Pak, kita tunggu Pak Handoko saja, sudah dihubungi kan orangnya?” jawab Pak Adipramana menenangkan Pak Andi yang nampaknya sangat merasa bersalah. “Sudah Pak, mungkin sebentar lagi beliau sampe!” ia tak percaya Pak Adipramana setenang itu, ia lalu menoleh pada Cakra. Bocah itu juga nampak tenang-tenang saja, padahal ancaman dikeluarkan baru saja dilayangkan oleh penguasa sekolah ini. Ingin ia bertanya kenapa mereka berdua terlihat santai saja, akan tetapi ia urungkan niatnya.   Saat ingin berniat mengajak kembali Pak Adipramana berbicara, tiba-tiba pintu ruangan kepala sekolah dibuka paksa oleh Pak Handoko. Bapak tua itu memasuki ruangan kepala sekolah dengan langkah arogan, tanpa melihat ke arah Cakra ataupun Pak Adipramana. Steven yang ikut dibelakang ayahnya, justru melakukan hal yang berbeda. Ia menatap Cakra dengan tatapan penuh rasa tidak suka sambil tersenyum mengejek. Pak Andi seketika berdiri, untuk menyambut Pak Handoko sekaligus memperkenalkan Pak Adipramana. Akan tetapi, Pak Handoko menggubris Pak Andi dengan mendorongnya dan menyerobot sofa Pak Andi. Pak Adiprama yang melihat itu, langsung kecewa melihat sikap Pak Handoko.  Begitu ia sudah mendaratkan tubuhnya pada sofa yang berada di antara sofa yang diduduki oleh Cakra dan Pak Adipramana, serta sofa yang diatasnya terdapat Steven dan Pak Andi, Pak Handoko langsung menoleh ke Pak Adipramana degan tatapan tegas. Ia ingin mengintimidasi ayah Cakra, serta berniat menasehatinya agar mengajarkan Cakra sopan santun. Begitu juga mendidiknya dengan benar. Sekonyong-konyong tatapan itu berubah, begitu ia melihat dengan jelas bahwa orang yang berada di hadapanya adalah atasannya. Ia sempat terperanjat kaget dan mengeluarkan suara yang cukup membuat Pak Andi serta Steven kebingungan. Cakra hanya berusaha menahan tawa. “Paak... Pak Adipramana... kok bisa di sini Pak?” tanyanya bingung sembari beranjak dengan cepat dan membungkukkan badan. Steven membelalakkan matanya, raut wajahnya semakin terlihat rasa kebingungan dan keheranan atas apa yang dilakukan ayahnya. Pak Andi juga ikut belingsatan, tak tahu apa yang harus dilakukan.   “Saya di sini gara-gara disuruh sama anak saya! Apa kabar Pak Handoko, sudah lama tidak bertemu!” jawab Pak Adiprama sambil mempersilakan Pak Handoko agar duduk kembali. Namun, Pak Handoko justru berdiri mempersilakan Pak Adiprama untuk menggantikanya duduk di sofa tersebut. Sedangkan Steven semakin tak dapat membendung keheranannya, apalagi saat Pak Adiprama menyebut nama ayahnya dengan sangat akrab. “Nggak usah Pak, Pak Handoko saja yang duduk di sana!” ucapnya menolak tawaran Pak Handoko.   “Jadi Pak Adiprama ayah dari...” ucapannya terhenti saat menyadari bahwa ia tidak mengetahui nama Cakra. Pak Andi yang yakin bahwa Pak Adipramana mungkin salah satu dari orang yayasan, atau orang dari dewan direksi langsung memahami situasi canggung Pak Handoko terhadap Pak Adipramana. Dengan tangkas ia berinisitif membisikkan nama Cakra di telinga kanan Pak Handoko. “Ayah dari dari Cakra?” lanjut pria baya itu. “Iya. Saya sudah dengar kejadiannya dari versi Cakra dan Steven, apa Pak Handoko sudah mendengarnya? Lalu Steven baik-baik saja kan? Saya minta maaf kalau anak saya sedikit kelewatan, kalau memang anak saya terbukti bersalah, tolong jangan sungkan untuk menghukumnya!” “Maaf Pak, saya belum mendengar kejadiannya, saya panik sehingga langsung datang begitu Steven memberitahu bahwa dia dipukuli teman sekolahnya. Dan saya juga tanpa sadar kepancing emosi sehingga langsung menampar Cakra, tanpa mengetahui akar permasalahannya!” “Kamu menampar anak saya? Atas dasar apa kamu menampar dia?” Pak Adipramana tiba-tiba berubah, awalnya ia bersikap bersahabat dan sportif. Namun saat mendengar penjelasan Pak Handoko, serta melihat bagaimana dirinya bersikap.  Sepertinya membuat rasa hormat kepada orang yang lebih tua tiga tahun darinya hilang seketika.  Melihat perubahan sikap Pak Adipramana membuat Pak Andi ikut terintimidasi, ia merasa bahwa diriya sedang berhadapan dengan bos mafia. Aura Pak Adiprama begitu mempengaruhi Pak Handoko, ia tak pernah melihat Pak Handoko bersikap ciut seperti ini. “Maaf Pak! Saya akui saya salah, mohon ampuni saya sekali ini Pak!” pinta Pak Handoko tiba-tiba membukukkan badannya, sambil merapatkan kedua telapak tangannya kemudian menggoyang-goyangkannya. “Kita bicarakan itu nanti, sekarang yang terpenting adalah bagaimana kejadian yang sebenarnya? Coba tolong Nak Steven jelaskan?” Steven tiba-tiba terkejut begitu Pak Adipramana memanggil namanya, ia bingung harus bersikap apa. Nyalinya menciut saat melihat ayahnya begitu tunduk pada Pak Adipramana. “Saya... saya....” ia tidak dapat berkata-kata, Steven hanya menundukkan kepalanya, badannya sedikit bergetar menahan aliran darah yang tiba-tiba mengalir deras ke sekujur tubuhnya. “Steven, ayo ceritakan kejadiannya seperti apa!” desak Pak Handoko, Steven hanya terdiam. Pak Andi langsung mengambil alih agar suasanya tidak lagi kaku. “Begini Pak Handoko, dari penjelasan Cakra, Steven mendorongnya hingga jatuh. Setelah itu, bukannya meminta maaf tapi malah memukul Cakra. Cakra tidak terima sehingga dia membalas. Tapi, menurut Steven, dia sudah meminta maaf, tapi Cakra nggak terima permintaan maaf Steven, malah memukulnya. Karena nggak terima dipukul begitu saja setelah meminta maaf, akhirnya dia membalas dan terjadilah pertengkaran. Begitulah ceritanya Pak!” jelas Pak Andi berusaha se-objektif mungkin. Ia tak ingin membela siapapun sebelum ada bukti yang kuat atas kejadian pertikaian itu. “Apa betul begitu Steven?” Pak Handoko menaikkan nada suaranya. “Iya Pah, dia yang mulai duluan!” Cakra tidak percaya bahwa Steven akan sepengecut ini, namun bukan hanya dirinya saja yang tidak mempercayainya.  Steven pun menyadari bahwa dirinya pengecut, ia takut mengakui kesalahannya. Entah mengapa, semuanya seperti memojokkannya. Pak Handoko yang harusnya membelanya tiba-tiba seperti tunduk dan patuh pada ayah Cakra. Karena hal itu membuat dirinya sedikit kecewa serta marah, sedetik kemudian ia menyesali perkataannya. “Pak Adipramana sudah dengar sendiri kan, anak saya tidak bersalah Pak!” “Hmmm....” Pak Adipramana bergumam lalu menatap Steven. “Apa betul kejadiannya seperti itu?” hanya dijawab anggukan oleh Steven. “Kalau betul, kenapa kamu menunduk?” seketika Steven kaget dan langsung menatap wajah Pak Adipramana. “Saya kaget Pak, ternyata Bapak kenal ayah saya!” jawab Steven dengan suaran pelan. “Jadi kejadiannya benar seperti itu?” “Benar Pak!” “Apakah ada buktinya?” “Coba tanyakan saja sama teman-teman saya Pak!” “Bukannya ada CCTV? Kenapa kamu malah suruh saya tanya teman-teman kamu? Harusnya kamu suruh saya ngecek CCTV kan?” seketika Steven terpaku, ia sungguh merasa terpojok. “Maaf Pak Adipramana.... seperti yang sudah saya katakan, kalau CCTV saat kejadian sedang tidak berfungsi Pak! Jadi, nggak bisa dibuktikan lewat CCTV!” sela Pak Andi sekali lagi berusaha untuk tidak memihak. “Oh iya saya lupa!” ucap Pak Adipramana lalu menoleh pada Cakra. “Kamu jadi pasang CCTV-nya Dek?” dijawab anggukan oleh Cakra. “Kejadian tadi terekam nggak?” “Jelas...” ucap Cakra pamer. “Bisa kamu kasih lihat ke kita semua?” dengan cekatan, Cakra bangkit menuju meja kerja Pak Andi kepala sekolahnya. Ia meminta izin kepada Pak Andi untuk menggunakan komputernya, yang langsung menyetujuinya dengan tatapan bingung. Setelah itu, jarinya bekerja di atas papan ketik komputer kerja Pak Andi. Kemudian ia memutar layar monitor ke arah mereka. Di layar monitor, tersuguhkan kejadian saat Steven menyandung kaki Cakra dengan sengaja, hingga akhirnya pertikaian tak dapat dihindari. Semuanya tempampang jelas. Steven hanya dapat terpaku sambil terbelalak dan sedikit melongo, melihat seluruh rangkaian adegan yang baru ia alami beberapa jam lalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD