12. Sang Idola

2367 Words
Pak Handoko langsung menunduk menahan malu, begitu layar monitor usai menayangkan kejadian pertikaian yang dimulai anaknya. Dengan cepat, ia beranjak sambil mengayunkan tangannya ke arah wajah Steven. Berniat untuk menampar anaknya. Untung Pak Adipramana langsung mencegahnya. Dengan sigap ia meraih tangan Pak Handoko, kemudian menatapnya dengan tatapan tajam menahan emosi. Sedangkan Pak Andi duduk terpaku kaku, ia kebingungan harus berbuat apa. Ia pun tak paham, mengapa semua ini terjadi di sekolah yang ia emban tanpa sepengetahuannya. Seluruh spekulasi mengenai Steven pun mulai mekar dari tunasnya. Sekarang, ia tak dapat menolong Steven. Entah apa yang akan dilakukan Pak Adipramana terhadap Steven dan ayahnya. Bisa saja bocah itu harus dikeluarkan, sedangkan Pak Handoko mungkin dipecat. Tapi ia pun sangsi, apakah posisi Pak Adipramana mampu melakukan itu semua. Jikalaupun ia mampu, entah mengapa ia tak terlalu senang, jika Steven harus dikeluarkan. Namun, ia pun tak tenang bila Steven masih harus menempuh pendidikannya di sekolah ini. Apalagi, anak itu harus berhadapan terus-terusan dengan Cakra yang telah membuat Steven tak lagi berpengaruh. Pak Andi pun tak mampu membayangkan kegemparan apa yang akan terjadi, saat seluruh siswa mengetahui kebenarannya. Terutama, para siswa yang telah menjadi korban perundungan Steven. Membayangkan hal tersebut, pandangan Pak Andi berubah. Ia setuju, satu-satunya agar anak itu dapat hidup tenang adalah dengan tak berada di sekolah ini lagi. “Saya kecewa sama kamu Handoko!” ucap Pak Adipramana masih mencengkram tangan Pak Steven. Matanya memancarkan emosi yang tak terkuak. Gelombang kecewa bercampur amarah langsung dapat dirasakan Pak Handoko. Mendapatkan tatapan seperti itu dari atasanya, membuat Pak Handoko gelagapan. Bapak tua itu hanya mampu mendunduk, berusaha menyesali kesalahannya. Pak Andipramana langsung menoleh pada sisa manusia yang ada di ruangan tersebut seraya berkata. “Pak Andi, Steven, sama kamu Dek, boleh keluar dulu? Ada yang harus saya omongin ke orang ini!” tanpa disuruh dua kali mereka berjalan menuju pintu keluar dengan tenang, kecuali Steven. Ia langsung bergegas keluar dari ruangan kepala sekolah tanpa melihat mereka yang hadir di ruangan tersebut, meninggalkan Cakra and Pak Andi yang menyusulnya keluar. Setelah di luar, Steven langsung berbelok ke arah kanan menuju ujung lorong. Kemudian, ia berjongkok sambil menyandarkan tubuhnya. Pikirannya berkecamuk, sungguh ia menyesal, namun egonya yang berperan lebih tinggi tak ingin mengakuinya. Sempat ia berpikir untuk mengakhiri dan mengakui kesalahan. Akan tetapi, setelah melihat perlakuan ayahnya yang sama sekali tak membelanya, membuatnya sungguh sangat kecewa. Entah mengapa ia menjadi membenci dirinya dan ayahnya. Sedangkan Cakra, hanya berdiri tak jauh dari pintu lalu mengeluarkan ponselnya dan melanjutkan tayangan robot yang sempat ia tunda. Ia sempat melirik Pak Andi, kepala sekolahnya berjalan menghampiri Steven. Ia juga sempat melihat Pak Andi berusaha mengajak Steven berbicara namun tak ditanggapinya, bahkan Steven harus geser tiga langkah untuk menjauhi Pak Andi. Ada rasa kasihan pada Steven, tapi tentu rasa kecewa terhadap sikap pengecut Steven lebih berbicara. Cakra kecewa atas Steven yang tak lebih dari sekedar pecundang. “Pak Adipramana…. Saya sungguh minta maaf! Saya merasa malu dan terpancing emosi sehingga lepas kendali!” ucap Pak Handoko memohon, ia sungguh memasang tatapan sayu agar Pak Adipramana sudi memaafkannya. “Saya sungguh kecewa! Sikap kamu ke Pak Andi! Kamu menampar anak saya! Dan barusan kamu mau menampar anak sendiri di depan orang banyak? Sungguh keterlaluan!” Pak Adipramana tak tergoda tatapan sayu Pak Handoko, justru ia semakin tak menghormatinya. “Maaf paak... saya sungguh minta maaf Pak... Saya tidak akan mengulanginya lagi!” “Kamu perlakukan mereka seper itu juga?” tanya Pak Adipramana masih belum ingin melunak. “Siapa Pak?” “Anak-anak panti yang kamu urus!” “Tidak Pak... Sumpah saya selalu menjaga amanah yayasan Pak!” lirih Pak Handoko meyakinkan. Akan tetapi, Pak Adipramana tidak mempercayai apa yang ia ucapkan. Jelas terbukti di depannya beberapa detik lalu, bagaimana tidak bijaksananya seorang Handoko. Ada rasa penyesalan mempercayakan anak panti kepada Pak Handoko. Ia memutuskan akan menggantikan posisi Pak Handoko dengan orang yang benar-benar bijaksana, dapat menyanyangi manusia dan juga dapat memegang amanah. “Saya akan copot jabatan kamu sebagai ketua yayasan wilayah satu. Besok, kamu harus datang ke kantor saya untuk menghadiri persidangan kamu! Semoga dewan direksi masih mau memberikan kesempatan kepada kamu untuk bekerja di yayasan! Sekarang kamu panggil anak-anak dan juga Pak Andi, kita harus menyelesaikan masalah ini!” dengan langkah lesu nan lunglai, Pak Handoko berjalan menuju pintu keluar. Ia mendapati Steven berjongkok di ujung lorong yang sedang dirangkul dan ditenangkan oleh Pak Andi, yang juga ikut berjongkok di sampignya. Sedangkan Cakra masih berdiri tak jauh dari depan pintu, menyender pada tembok sambil menatap ponselnya.  “Pak Andi, Steven, Nak Cakra...! Kalian diminta masuk sekarang sama Pak Adipramana!” Steven akhirnya beranjak setelah dibujuk Pak Andi. Langkahnya sedikit terhenti, saat berada tak jauh dari pintu ruangan kepala sekolah. Pak Andi lagi-lagi harus membujuknya agar Steven mau masuk, tentu dengan bantuan tatapan Pak Handoko yang mengancam. Sedangkan Cakra, menatap Steven dengan sedikit iba. Ia tak dapat menyalahkan Steven sepenuhnya, mengapa ia  menjadi anak yang suka menindas teman-temannya, serta menjadi anak yang egois dan sedikit angkuh. Ia cukup paham bahwa sikap Pak Handoko, ayah Stevenlah yang menjadikannya seperti itu. Namun, Cakra tak mampu memperbaiki keadaan. Ia hanya dapat berharap, Steven benar-benar mengakui seluruh perbuatannya dan menyesalinya. Serta, mengakhiri rasa kebenciannya terhadap Cakra. Dengan begitu ia dapat menjalin pertemanan dengan Steven, tanpa adanya rasa tak suka pada salah satu pihak. Ia sungguh ingin menjalin persahabatan dengan anak malang itu. “Pak Adiprama silakan duduk di sini….” ucap Pak Handoko dengan sopan mempersilakan Pak Adiprama, untuk duduk di sofa yang hanya muat di duduku satu orang. Sofa yang ditujukan untuk kepala sekolah. Niat awalnya untuk menghormati dan memberikan kesan yang baik, justru terlihat tak bijaksana di mata Pak Adipramana “Lho kenapa saya yang harus duduk di sana? Kita datang ke sini sebagai orang tua murid. Sehingga, yang berhak duduk di sini Pak Andi. Selaku orang yang bertanggung jawab atas sekolah ini!” sanggah Pak Adipramana heran. Ia tak habis pikir Pak Handoko masih bersikap sepicik ini, kesimpulannya pun akhirnya berdasar. Pak Handoko menjadikan sekolah ini seolah-olah miliknya dan berlaku seenaknya. Wajar bila Steven pun berbuat demikian. Hilang sudah seluruh citra baik Pak Handoko di mata Pak Adipramana. Sangat benar, karena nila setitik rusak s**u sebelanga, bila disematkan pada situasi yang dirasakan Pak Adipramana saat ini, terhadap Pak Handoko. “Iya benar Pak, maaf saya lagi-lagi salah…” ucap Pak Handoko yang kemudian mempersilakan Pak Andi untuk duduk di tempat seharusnya. Melihat tingkah ayahnya membuat Steven menjadi semakin membenci keadaan ini. Ia muak melihat Pak Handoko yang tiba-tiba bertekuk lutut kepada Pak Adipramana. Rasa hormat kepada ayahnya tiba-tiba hilang. Sosok yang selama ini ia kagumi tak lebih dari sekedar orang yang hanya sok berkuasa. Selama ini ayahnya menyalagunakan kekuasaannya. Bertindak bagaikan orang yang hebat. Nyatanya, ayahnya tak lebih dari sekedar penjilat. Ia heran, kenapa ayahnya begitu tunduk pada Pak Adiprama. Apakah sepenting itu, orang yang duduk di hadapannya? “Baiklaah… silakan Pak Andi untuk melanjutkan kasus ini…” ucap Pak Adipramana setelah Pak Andi duduk ditempatnya dengan nyaman. Kepala sekolah tersebut sempat melirik Pak Adipramana seakan meminta izin untuk duduk di tempatnya sendiri. “Menurut saya, mungkin Pak Adipramana yang bisa memimpin pertemuan ini….” kalimatnya terpotong saat melihat pergerakan pada tangan Pak Adipramana. “Sekali lagi saya jelaskan Pak Andi… Kami datang ke sekolah ini sebagai orang tua murid. Pak Andi selaku kepala sekolah tentu harus bertindak sesuai dengan amanat yang Pak Andi emban. Walaupun Pak Handoko merupakan ketua yayasan dari sekolah ini… Akan tetapi saat ini, beliau datang sebagai orang tua murid, bukan atasan Pak Andi. Begitupun juga dengan saya… Jadi Pak Andi yang lebih berwewenang dalam hal ini….” jelas Pak Adipramana sambil memberikan senyuman hangat. “Baik Pak... Tapi sebelumnya, apakah saya boleh bertanya?” “Apa itu?” “Maaf bila lancang, tapi sebenarnya apakah Pak Andipramana salah satu dewan direksi Yayasan Asuhan Bunda?” saat hendak menjawab, Pak Handoko langsung menyela dan menjawab pertanyaan Pak Andi. “Beliau merupakan pimpinan direksi sekaligus presiden direktur Monument Group, pemilik yayasan Asuhan Bunda termasuk sekolah ini Pak!” Steven dan Pak Andi tidak dapat menutupi rasa takjub yang tersirat dari wajah mereka. Akhirnya mereka memahami alasan Pak Handoko yang langsung berubah sikap, begitu melihat Pak Adipramana. Steven yang dari awal sudah tak yakin dengan nasibnya kini menjadi tak peduli, ia sangsi bahwa besok dirinya masih dapat belajar di sini.  Sedangkan Pak Andi, justru memandangi Pak Adiprama dengan tatapan kagum. Ia akhirnya mengetahui penyebab dirinya merasa sungkan dengan Pak Adipramana. Karena, selain orang yang duduk di hadapannya adalah salah satu orang terkaya di dunia, Pak Andi pun sangat mengidolakan sosok bos besarnya.   Sosok presiden direktur dari Monument Group sering diperbicangkan. Pasalnya, ia merupakan orang nomor satu terkaya di Indonesia, serta orang nomor empat terkaya di dunia. Selain itu, ia juga dikenal sebagai sosok yang misterius. Masyarakat umum, termasuk Pak Andi tidak pernah melihat sosok di balik kursi orang terkaya nomor satu di Indonesia itu. Meraka pun bahkan tak mengetahui namanya. Karena memang, Pak Adiprama selalu meminta untuk disembunyikan identitas aslinya pada media. Ia hanya ingin dipanggil dengan menyebutkan jabatannya, saat media ingin menulis artikel mengenai dirinya. Selain itu, ia juga meminta kepada awak media untuk tidak menampilkan gambar dirinya, melainkan menggantinya dengan foto-foto perusahaan atau logo perusahaan saat awak media membicarakannya. Hal yang dibicarakan pun tak boleh mengenai kehidupan pribadi Pak Adipramana. Sebaliknya, mereka diizinkan untuk mengulas sepak terjang, kegiatan amal, hingga perkembangan perusahaan Pak Adipramana serta perkembangan dunia yang dipengaruhi oleh Monument Group. Tentu media akan menuruti keinginan Pak Adipramana, karena hampir seluruh media di dunia, ada saham Pak Adipramana di sana. Selain itu, beberapa perusahaan media dunia di bawah kepemilikan Pak Adipramana. Pak Andi begitu mengidolakan sosok dibalik Monument Grup, akan sifat dermawan dan juga sifat rendah hatinya. Hal itu tak sengaja ia dapati setelah membaca salah satu artikel mengenai sumbangan, donasi, sedekah, hingga bentuk nyata yang diberikan Pak Adiprama kepada masyarakat.  Sejak membaca artikel tersebut, Pak Andi penasaran mengenai perusahaan Monument Group, serta apa saja yang telah dihasilkan oleh perusahaan terebut. Ia tak menyangka, beberapa aspek kehidupannya sudah didukung oleh produk-produk dari perusahaan besar tersebut. Selain itu, ia juga tak menyangka bahwa pemimipin dari perusahaan itu tak banyak dikenal orang. Bahkan seluruh awak media dunia tak pernah menyantumkan, siapa pemilik perusahaan tersebut. Sehingga membuat dirinya merasa kagum atas sosok di balik Monument Group, ia sempat sangsi bahwa perusahaan ini bukanlah berasal dari Indonesia. Namun saat mengetahui bahwa perusahaan besar itu milik anak bangsa, semakin menambah rasa kagumnya dan menjadikan sosok dibalik Monument Group sebagai panutannya. Berdasarkan rasa kagum itu pula, ia melamar pekerjaan sebagai guru Matematika di sekolah SMA Berbudi Pekerti. Karena ia tahu, bahwa sekolah ini dalam naungan Monument Group. Ia berharap dapat bertemu dengan idolanya, bila bekerja di sekolah ini. Namun setelah hampir tujuh tahun bekerja di sekolah tersebut, baru pertama kali ini ia bertemu dengan sosok pemilik Monument Gruop, dengan cara yang mengejutkan. Pak Andi pikir bahwa ia akan betemu dengan sosok yang ia kagumi, pada acara sekolah atau acara besar yang digelar oleh yayasan. Akan tetapi, setiap acara yang ia hadiri, hanya Pak Handoko saja yang selalu hadir. Tak jarang anggota dewan direksi juga turut hadir, bila hal itu merupakan acara besar, serta acara gabungan dari beberapa yayasan dan sekolah Berbudi Pekerti. Ia sempat menyangka bahwa salah satu dari dewan direksi yang hadir, adalah orang di balik Monument Group.  Namun kenyataannya berbeda. Saat Pak Andi berani menanyakan dimana sosok idolanya, mereka hanya menjawab bahwa beliau sedang tidak dapat hadir karena sedang tidak berada di Indonesia. Dan, ketika ia dengan berani menanyakan siapa sosok atasannya, mereka hanya meminta maaf karena tidak dapat memberitahukan identitas Pak Adipramana. Ia pun akhirnya menyerah untuk mencari sosok idolany, dan berusaha melakukan apapun untuk tetap berada di sekolah tersebut. Agar suatu saat nanti, mimpinya bertemu dengan sang idola dapat tercapai. Maka tak heran, ia tidak mampu berlaku keras dan tegas kepada Steven bila tidak ada bukti yang kuat mengenai kenalakan anak itu. Ia takut ancaman Steven dapat keluar dari mulut Pak Handoko, karena ia paham bahwa selama ini dewan direksi mempercayakan yayasan pada Pak Handoko. Termasuk sekolah tempat ia bekerja. Akan tetapi kini mimpinya terwujud, ia tidak dapat percaya bahwa semesta akan menjawab doanya melalui cara yang ajaib. Ia masih tak percaya, orang yang selama ini ia kagumi berada di hadapannya. Ia tidak dapat membendung rasa harunya. Seketika, ia langsung menyodorkan tangannya ke hadapan Pak Adipramana. Terlihat tangannya sedikit bergetar. Pak Adiprama hanya dapat menyambut uluran tangan itu dengan kebingungan. “Saya dari dulu mengidolakan Anda Pak!” ucapnya menatap Pak Andi dengan tatapan bahagia, terlihat ia berusaha untuk tidak membiarkan matanya basah. “Sungguh kehormatan bagi saya diidolakan oleh kepala sekolah yang bijaksana seperti Pak Andi, tapi saya hanya manusia biasa seperti Pak Andi, jangan sungkan terhadap saya!” kalimat yang keluar dari mulut Pak Adipramana sukses membuat Pak Andi tersenyum lebar sambil menggoyang-goyangkan tangannya, yang masih berjabat dengan tangan Pak Adipramana. “Baiklah, bisa kita lanjutkan?” ingat Pak Adipramana, Pak Andi langsung belingsatan dan menarik tangannya. Ia sempat meminta maaf karena tiba-tiba terbawa suasana. Kemudian dengan sikap bijaksana ia mulai melanjutkan. “Begini…. Kita sudah tahu kejadian yang sebenarnya, namun saya belum mendapatkan alasan mengapa Steven melakukan itu pada Cakra. Kita bisa memutuskan, apa yang harus dilakukan setelah mendengar alasan Steven.” ucapnya berusaha tampil sebijaksana mungkin di hadapan idolanya.  Ia tak ingin idolanya kecewa atas sikapnya. Ia dapat merasakan bahwa Pak Adipramana sosok yang cinta keadilan. Walaupun sejatinya Pak Adipramana yang lebih berkuasa, namun dengan sikap rendah hati. Ia memposisikan dirinya kini sebagai wali murid, bukan pemilik. “Nak Steven, kalau boleh Bapak tau, kenapa kamu berbohong?” Steven hanya terdiam bisu, ia tidak dapat berkutik. Ia hanya menunduk, sambil menahan dirinya agar tidak meratapi keadaan. Ia berusaha mengatur napasnya, agar emosi tak dapat menguasai dirinya, ia tidak ingin terlihat lemah dan menyedihkan. “Steven...” Pak Handoko berusaha mendesak Steven sambil memegangi pahanya, tampak sedikit mencengkeram. Cakra yang melihat aksi Pak Handoko langsung menyenggol ayahnya. “Pak Handoko, tidak apa-apa... jangan terlalu...” “Karena saya nggak suka sama sikapnya dia, yang sok kenal dan sok dekat sama orang Pak!” Steven akhirnya bersuara, ia lantang mengutarakan isi hatinya, kali ini ia menatap seluruh wajah yang ada di hadapannya sambil berusaha menahan gejolak segala macam emosi yang ia rasakan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD