“Jadi kamu mengakuinya?” Pak Andi kembali mengajukan pertanyaan.
“Iya saya mengakuinya, dan saya salah. Saya meminta maaf sedalam-dalamnya kepada Cakra karena telah mengganggunya, dan juga saya meminta maaf kepada Pak Andi karena sudah berbohong!” Steven menatap mata mereka lekat-lekat, sorot matanya berkata lain, seolah-olah formalitas yang harus ia jalani.
Sama sekali tidak terlihat rasa penyesalan.
“Cuman itu doang?” Cakra ingin Steven mengakui semua kesalahannya, karena tujuannya menjebak Steven adalah, untuk mengakui perbuatannya yang selama ini suka menindas teman-teman sekolahnya hingga mengeluarkan anak yang tidak bersalah.
“Maksud lo?” tatap Steven masih tak menyukai Cakra.
“Begini Pak, saya yakin Pak Andi curiga kenapa CCTV selalu mati, setiap ada kejadian heboh. Itu karena CCTV dimatiin sama Steven! Makanya saya pasang CCTV sendiri. Buktinya, Pak Bayu sendiri yang sudah mengaku!” Cakra mengucapkan salah satu karyawan sekolah yang bertugas sebagai kepala keamanan. Pak Bayu pulalah yang ikut membantu cakra meletakkan CCTV pribadinya ke penjuru sekolah.
“Kalau nggak percaya, silakan langsung tanyakan dan cek sendiri Pak! Selain itu, ternyata anak yang dikeluarkan, karena ditemukan condom dan bungkus rokok di tasnya juga karena ulah Steven.” Cakra berusaha menjelaskannya pada Pak Andi tanpa berniat menyudutkan Steven. Ia hanya memaparkan bukti yang ada, niatnya satu. Agar Steven mengekui kesalahannya dan berubah menjadi manusia yang lebih jujur.
Tanpa jeda Cakra membeberkan kelakuan buruk Steven yang membuatnya semakin senewen.
“Steven Pak yang masukin ke dalam tasnya! Buktinya ada, karena setiap Steven menyuruh petugas keamanan untuk hapus CCTV, mereka selalu menyalinnya terlebih dahulu! Alasannya karena, kalau pas dewan direksi datang, mereka bila membela diri. Selama ini mereka menuruti kemauan Steven karena ancaman pecat Pak!” ucapnya tak gentar, seluruh mata hanya tertuju pada ucapan Cakra.
Kecuali mata Steven yang hanya terpusat pada kepalan tangannya.
“Jadi… Anak itu nggak bersalah dan saya ingin anak itu dapat kembali bersekolah di sini Pak!” Ia menyudahi kalimatnya sambil melihat Steven, ia ingin teman sekelasnya itu tahu bahwa apa yang dilakukannya hanya semata-mata untuk menyelamatkan dirinya dari kesesatan. Ia berharap, setelah kejadian ini usia dan Steven sadar bahwa perbuatannya salah.
Ia berniat akan menggandeng Steven, dan bekerjasama dengannya untuk membuat sekolah mereka lebih baik lagi. Walau belum lama berada di sekolah itu, ia sudah cukup mengetahui permasalahan sekolahnya dari Dito, satu-satunya yang mau menanggapinya saat itu.
“Apa maksudnya ini Steven?” ucap Pak Handoko tak percaya.
Namun, yang ditanya memberikan tanggapan yang tidak disangka. Steven malah tertawa seakan mengejek dirinya.
“Iya, itu semuanya ulah saya! Saya yang matiin dan hapus file CCTV! Saya yang menyebabkan anak itu keluar dari sekolah!” ucapnya lantang. Tersirat emosi yang meluap, harga dirinya terinjak. Ia merasa Cakra benar-benar menyerangnya. Steven yang awalnya berbicara tanpa melihat mereka, hanya memusatkan perhatiannya pada kepalan tangannya. Kini, ia menatap satu persatu mata orang yang menatapnya kaget.
Steven pun melanjutkan penggalannya.
“Kenapa? Karena saya nggak suka sama orang yang mendekati Mia! Puas!” ia menatap Cakra semakin tajam serta menyiratkan kebencian.
Tanpa disadari oleh mereka semua, dengan kilat Pak Handoko berhasil mendaratkan tamparan kencang pada pipi anaknya. Ia sungguh kecewa dengan perilaku Steven. Tanpa berpikir bahwa salah satu penyebab mengapa Steven berbuat seperti itu adalah karena sikap dan didikannya sendiri.
“Handoko!!” Pak Adipramana mendengking.
Steven menatap ayahnya tajam. Matanya kaku berusaha menahan agar taka da air mata yang menetes. Akan tetapi usahanya gagal, ia tak dapat menahan tangisnya. Steven langsung angkat kaki dari ruangan tersebut. Ia sungguh tak peduli lagi dengan keadaan ini, ia sudah kalah telak. Ia bahkan tak peduli bila ayahnya akan mengeluarkannya dari kartu keluarga.
“Pak Andi, Dek… kejar Steven. Tenangkan dia!” kata Pak Adipramana meminta Cakra dan Pak Andi untuk menyusul Steven yang sudah berdiri di depan pintu ruangan Pak Andi. Tanpa menunggu lama, Cakra langsung melesat menyusul Steven, begitu pula dengan kepala sekolahnya. Sedangkan Pak Handoko, masih terdiam dan tarpaku atas apa yang baru saja ia lakukan.
“Pak Handoko, sepertinya sudah jelas, saya akan meminta Pak Andi untuk mengeluarkan Steven dari sekolah ini. Lalu, saya ingin berbicara dengan Pak Handoko bukan sebagai atasan namun sebagai sesama Ayah.” Pak Adipramana sudah tidak tahan perlakukan Pak Handoko terhadap Steven.
Ia tahu bahwa perangai Steven, adalah buah dari perlakuan Pak Handoko selama ini terhadap anaknya. Ia mencurigai didikan yang terlalu memanjakan, sehingga tidak dapat berbuat tegas membuat Steven terlena. Dan, disaat Pak Handoko harus bersikap tegas. Justru ia melukai buah hatinya. Pak Adiprama paham, bahwa yang dibutuhkan oleh Pak Handoko sekarang adalah contoh bagaimana menjadi orang tua yang baik. Ia pun melanjutkan kalimat yang sempat ia jeda.
“Saya tidak ingin menggurui. Karena saya tidak ada hak untuk mencampuri urusan keluarga Pak Handoko. Tapi, dari yang saya lihat. Cara didik Pak Handokolah yang membuat Steven bersikap seperti itu. Saya tidak akan membahas kasus ini lebih lanjut. Saya harap kita bisa melupakan kejadian barusan, lagipula Cakra tidak kenapa-napa. Bahkan keadaan Steven lebih buruk walaupun dia yang memulai. Saya sangat mengenal anak saya Pak, dia tidak akan menggunakan seluruh kekuatannya bila lawannya tidak sebanding. Jadi, saya harap Pak Handoko dapat menjadi ayah yang penuh kasih, pengertian dan jadi panutan bagi Steven. Anak-anak itu masa depan negeri ini Pak.” ucap Pak Adiprama sambil beranjak dari tempat duduknya lalu keluar ruangan meninggalkan Pak Handoko yang meratapi tindakannya.
Ingatan Cakra kini berganti, memaparkan kejadian saat seluruh sekolah mendapati siapa dirinya sebenarnya.
Sejak kejadian perkelahian antara dirinya dan Steven, banyak perubahan yang terjadi di sekolah. Seluruh murid, guru dan juga petugas sekolah mengetahui bahwa Cakra adalah anak dari pemilik sekolah. Sedangkan Steven memilih untuk keluar dari sekolah SMA Berbudi Pekerti. Walaupun tuntutan untuk mengeluarkannya dari sekolah telah dicabut, setelah Cakra meyakinkah ayahnya untuk tetap membiarkan Steven melajutkan pendidikannya di sekolah itu. Namun Steven tolak mentah-metah, harga dirinya lebih berarti dibanding harus melanjutkan bersekolah dengan Cakra. Meski ia mengetahui bahwa tuntutannya telah dicabut berkat Cakra, ia sama sekali tak bersukur ataupun berterima kasih padanya.
Pikiran negatifnya menguasai.
Steven sangsi Cakra tak akan menjadikan Steven hamba pribadinya, mengingat dialah penguasa sesungguhnya di sekolah itu. Bayangan dirinya harus melayani Cakra menghantui Steven, jika ia masih berada di tempat itu. Steven pergi tanpa pamit kepada siapapun, bahkan ke kelompoknya yang selama ini sudah membantunya berbuat jahat kepada teman-temannya.
Namun walaupun demikian mereka tak merasa kecewa, hanya sedikit sedih karena sudah tidak ada lagi orang yang akan mentraktir mereka di saat pulang sekolah. Tidak ada lagi orang yang akan mengajak mereka jalan-jalan menggunakan mobil. Dan, sudah tidak ada lagi barang hibahan Steven yang mereka dapatkan, ketika Steven sudah bosan menggunakan barang tertentu. Sebut saja sepatu, baju, hingga perangkat elektronik seperti ponsel, televisi, hingga permainan konsol.
Steven tak jarang membuang barang bekasnya ke teman-temannya saat mendapatkan yang baru, dan teman-temannya pun tidak keberatan mendapatkan itu semua. Karena walaupun bekas, namun masih layak pakai. Mengingat status ekonomi mereka yang rendah membuat mereka tak sering mendapatkan pakaian baru, setahun sekali saja belum tentu.
Selain mereka, tidak ada satupun siswa yang bersedih akan kepergian Steven dari sekolah SMA Berbudi Pekerti. Justru mereka berbahagia karena sudah bebas dari perundungan, bahkan ada yang dari mereka meminta Pak Andi untuk menghukum kelompok Steven. Namun, Cakra meminta Pak Andi untuk tidak menghukum kelompok Steven, karena mereka tidak bersalah.
Mereka terpaksa melakukan hal itu karena takut beasiswa mereka terancam. Bahkan, sebenarnya mereka selalu meminta maaf kepada teman-teman yang sudah mereka siksa tanpa sepengetahuan Steven, dan teman-teman juga memaklumi. Tapi tetap saja ada yang tidak rela memaafkan mereka dan beranggapan bahwa mereka juga harus dihukum.
Tak hanya soal Steven, Cakra juga berusaha ikut campur atas perkembangan sekolahnya. Ia meminta ayahnya agar selama ia bersekolah di sana, ia harus ikut andil dalam masalah sekolah. Hal itu disetujui oleh ayahnya beserta dewan direksi dan pihak yayasan. Ia bahkan merombak sekolah, yang awalnya hanya berfokus pada pelajaran inti saja. Ia membuka kegiatan ekstrakurikuler seni dan bela diri.
Selama ini sekolah SMA Berbudi Pekerti hanya menyediakan ekstrakurikuler dalam bidang yang menunjang jurusan mereka. Yaitu, bagi jurusan IPA tersedia ekstrakuriker berupa Kelompok Ilmiah Remaja, Robotik, dan Pelatihan Persiapan Olimpiade. Bagi jurusan IPS meliputi ekstrakurikuler Debat, Komunitas Pengenalan Hukum dan Politik, hingga Jurnalistik.
Sedangkan untuk jurusan bahasa, ada kegiatan kesiswaaan seperti Komunitas Pecinta Sastra, English, Korean, Japanese, French dan German Club bagi siapa saja yang ingin belajar dan mengembangkan bahasa asing.
Setiap siswa pun diwajibkan untuk memilih minimal tiga ekstrakuikuler karena kegiatan tambahan tersebut masuk ke dalam sistem penilaian ujian akhir. Namun dengan kehadiran Cakra, kegiatan ekstrakurikuler sekolah SMA Berbudi Pekerti ditambah. Yaitu, ekstrakulikuler seni musik, seni tari, seni rupa yang menyangkup desain serta fotografi, hingga seni teater. Selain ekstrakulikuler seni, ia juga membuka ekstrakurikuler bela diri yang jadi satu dengan pramuka dan kegiatan alam. Bahkan ekstrakulikuler ini menjadi wajib bukanlah pilihan.
Keputusan ini berdasarkan pengalaman para siswa, yang sering menjadi korban kekerasan. Ia berharap semua teman-temannya dapat melindungi diri mereka sendiri, bahkan saat keadaan yang tidak disangka sekalipun. Kegiatan ini murni dimaksudkan untuk membela diri dan bertahan hidup bila terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan kendali.
Satu persatu teman sekolah Cakra mulai menyukainya.
Mereka awalnya berpikir bahwa Cakra akan menjadi seperti Steven, menggunakan kekuasaannya sebagai anak pemilik sekolah untuk memperlakukan mereka semena-mena. Tapi saat menyadari bahwa Cakra adalah manusia yang baik hati, bijaksana dan juga mempunyai sifat kepedulian yang tinggi. Mereka menjadi hormat serta menyayangi Cakra layaknya keluarga mereka sendiri. Begitu pula dengan teman-teman Steven yang sudah ikut menggangunya. Ialah Victor, Beni dan Tommy.
Bahkan, mereka menjadi sahabat yang sangat erat.
Dan mereka pun mendapatkan lebih dari apa yang pernah mereka dapatkan dari Steven. Mereka tidak pernah mendapatkan barang bekas, melainkan barang baru begitu Cakra melihat pakaian atau sepatu mereka sudah tak layak pakai. Mereka juga mendapatkan perangkat elektronik baru dari Cakra serta, mereka juga sering diundang oleh Cakra ke rumahnya. Terlebih mereka suka menginap di sana.
Bi Chleo kepala asisten rumah tangga keluarga Pak Adipramana sering dibuat pusing oleh tingkah teman-teman Cakra. Bukan hanya itu, setiap liburan semester Cakra sering mengajak mereka berlibur bersama keluar kota hingga keluar negeri.
Para guru pun juga memperlakukan Cakra seperti biasa, karena Pak Adiprama sendiri yang memerintahkan mereka untuk tidak menspesialkan Cakra. Tidak ketinggalan, para siswi pun mengidolakan Cakra. Banyak yang mendekatinya dan tak jarang ada yang sampai berpacaran dengannya. Namun dari semua siswi yang ada di SMA Berbudi Pekerti, hanya Mia yang memperlakukan Cakra dingin, cenderung sinis.
Gadis yang pertama kali Cakra ajak bicara saat memasuki sekolah ini tak pernah sekalipun ia mendengar gadis itu bersuara, bahkan hingga ia lulus. Cakra tak ingin mengambil pusing soal itu, baginya Mia gadis yang beda, tapi bukan berarti ia ingin menganggu gadis itu dengan rasa sukanya. Ia memilih memendam rasa sukanya kepada Mia, tanpa diketahui oleh satu orangpun, termasuk sahabat-sahabatnya.
Semenjak kepergian Steven sekolah semakin ceria, hal itu tak disukai oleh Steven. Di sekolah barunya ia menjadi manusia yang berbeda, ia tidak lagi berprestasi, cenderung membangkang. Bahkan, ia memprakarsai perkelahian antara SMA Berbudi Pekerti dan SMA Berbudi luhur, sekolah barunya.
Itulah rentetan memori Cakra yang ia selami dengan uruta waktu yang acak.
Namun, dari semua ingatan yang meneror Cakra, ingatan Mialah yang paling bahagia saat ini.
Kini, Cakra melihat bayangan Mia yang seolah-olah menyuruhnya untuk sadar dari tidurnya yang panjang. Seketika, Cakra membuka mata kemudian bangkit dengan tenaga penuh, bahkan ia tidak menyadari bahwa rantai yang membelenggu pergelangan kedua tangan dan kakinya hancur begitu saja.
Ia mengerjap, berusaha mengumpulkan kesadaran.
Beberapa saat kemudian, ia baru menyadari bahwa dirinya masih berada di tempatnya terkurung. Cakra yang mendapati kenyataan bahwa dirinya telah terbebas, tak dapat mempercayai apa yang baru saja terjadi. Ia melihat kedua tangannya yang ia angkat ke depan badannya, lalu kemudian melirik kakinya. Serpihan besi hitam kecoklatan masih berceceran di sekitar pergelangan kakinya.
Sedetik kemudian rantai itu menyatu kembali.
Bagaikan magnet mereka saling tarik menarik dan kembali utuh, serta bergerak seakan ingin menangkap Cakra. Cakra lalu bergegas bangkit dan menghindari rantai yang seakan menari di hadapannya, sesekali rantai itu menyerang dirinya. Dengan sigap ia memukul rantai-rantai tersebut dan rantai itu kembali lebur. Dengan cepat ia berusaha membuka pintu besi, namun tak ada hasil karena ia tak mengetahui bagaimana cara membuka pintu tersebut.
Bahkan, ia sempat memukul beberapa kali.
Hanya terlihat cetakan hasil pukulannya pada dinding pintu besi. Kemudian Cakra mencoba untuk memukul tembok merah kecoklatan, tembok yang awalnya ia kira merupakan dinding goa. Tembok yang ia pukul di samping pintu besi langsung hancur, Cakra kembali menghancurkan tembok itu hingga badannya muat untuk keluar melalui lubang tak beraturan yang ia hasilkan dari pukulannya.
Ia berhasil keluar tepat sebelum rantai kembali menjadi satu dan berusaha mengejarnya.