14. Kabur

2535 Words
Sudah hampir delapan jam Cakra dinyatakan hilang dari pantai parangtritis. Matahari yang semula hanya mengintip di ufuk timur, kini sudah menampakkan diri seutuhnya.  Mempermudah pencarian Cakra oleh beberapa kelompok. Kelompok itu datang dari penjuru dunia, mulai dari Amerika, Rusia, Inggris, China, Jepang hingga negeri tetangga Malaysia. Tak heran, mengapa para pemimpin negara-negara itu langsung mengirimkan utusannya untuk membantu menemukan Cakra, yang hanyut terseret ombak pantai selatan Jawa. Selain demi menjaga persahabatan diplomatik dua negara, nama Adipramana ayah Cakralah yang menjadi alasan utama mereka berlomba untuk menemukan Cakra terlebih dahulu. Dengan begitu, negara tersebut dapat mengikat Adipramana secara tidak langsung. Selang satu jam setelah hilangnya Cakra, orang tua Cakra langsung muncul di hadapan teman-teman Cakra setelah terbang menuju Yogyakarta menggunakan jet pribadinya yang dapat melesat hingga seribu kilometer per jam. Tentu, membuat jarak Jakarta-Yogyakarta yang kurang dari setengahnya dapat menghadirkan mereka lebih cepat. Kemudian, di susul beberapa helikopter dan juga kapal patroli pencarian untuk orang hilang, maupun kecelakaan yang terjadi di atas laut. Yang dipimpin langsung oleh Laksmana Besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut. Beberapa jam kemudian langit pantai parangtritis telah dihiasi berbagai macam helikopter, dengan berbagai macam bendera negara. Sedangkan permukaan laut, bermandikan kapal-kapal dengan berbagai ukuran yang terbubuhi bendera dan lambang berbagai negara. Tak ketinggalan di bawah laut pun digenangi oleh robot-robot pencari hingga kapal selam. Pada area sekitar pencarian, warga dan awak media berusaha mencari tahu siapa yang telah hanyut. Mengapa begitu banyak tim pencarian yang berusaha menemukan orang itu. Bagi warga, tak aneh setelah terdapat kabar beberapa orang terseret ombak dan hanyut dipantai, pihak pemerintah akan mengirimkan kelompok pencarian yang biasa mereka sebut dengan SAR. Namun ini alih-alih Tim SAR yang dikirim, melainkan TNI Angkatan Laut, hingga beberapa perwakilan negara lain. Sehingga melahirkan tanda tanya besar. “Kayanya, presidene Korea Utara sing kesilep!” banyak yang berspekulasi, bahwa yang hanyut adalah kepala sebuah negara. “Eh ora yo.. Jare anakku sing ngelihat langsung kejadiane, sek ninggal kui isih muda kok! Jare bule gitu! Anak'e presiden Amerika!” ada juga yang mengatakan, anak dari presiden negara adi kuasalah yang tenggelam. “Hooh bener, bule… tapi bukan anak presiden Amerika, tapi pangeran Inggris!” ada pula yang berpendapat, bahwa yang terseret ombak adalah seorang pengeran kerajaan Inggris. “Huuu… ngawur kabeh! Jelas-jelas sing keseret ombak trus hanyut kui mafia kok! Kriminal tingkat dunia! Makane langsung heboh!” bahkan, ada yang menyebutkan bahwa Cakra merupakan sindikat internasional. Tak salah mengapa mereka beranggapan seperti itu, karena awak media pun masih simpang siur mengenai kabar seseorang yang hanyut itu. Mengingat Cakra hanyut di malam hari, di saat keadaan pantai sudah sepi. Hanya menyisakan beberapa manusia yang terjaga, menikmati keindahan lukisan malam. Selain itu, wilayah pencarian yang sudah di jaga ketat oleh anggota kepolisian. Membuat para awak media dan warga sekitar, tak dapat menelisik dan menginvestigasi lebih jauh mengenai persoalan hilangnya orang penting di wilayah Pantai Parangtritis. Pak Adipramana juga meminta, untuk tidak meliput berita menghilangnya Cakra dari garis pantai oleh media manapun termasuk media asing. Sehingga wajar saja, isu yang beredar tidak ada satupun yang benar. Tak jauh dari garis pantai, pemerintah Indonesia dan negara lain sudah memasang tenda untuk para timnya beristirahat. Sedangkan orang tua Cakra, sedari awal sudah dipasangkan tenda yang gunanya selain untuk menunggu kabar dari para timnya, mereka juga tidak tenang bila tidak melakukan apa-apa. Paling tidak dengan menunggu di dalam tenda tersebut, mereka dapat langsung memeluk Cakra ketika para tim pencarian sudah berhasil menemukan jasad Cakra. Walaupun mereka tidak berharap tinggi untuk Cakra dapat kembali dalam keadaan  utuh bernyawa. Diajeng Pramudhita, Ibunda Cakra, hanya dapat duduk lemas dengan tatapan penuh harap ke arah lautan lepas yang kini sudah dapat ia lihat secara jelas. Panorama laut dan langit biru dengan sedikit hiasan putih bagai krim, memantul dari bola matanya yang masih bercucuran air mata sejak mengetahui anaknya hilang terseret ombak. Sedangkan ayah Cakra, memilih berada di salah satu kapal tim pencarian milik perusahaannya. Ia bersikukuh ikut turun dalam pencarian anaknya, ia tak ingin tinggal diam disaat membayangkan anaknya tak berdaya digulung ombak. Awalnya, bunda Cakra memaksa ikut mendampingi Pak Adipramana, namun dengan lantang ia melarang istrinya ikut. “Bunda nggak liat ombaknya gede? Bunda kan gampang mabok laut! Bunda di tenda, tenangin diri dan berdoa semoga Cakra ditemukan dalam keadaan utuh dan benyawa!” ucap Adipramana menahan kepedihan atas harapan yang ia sendiri sangsikan. Dan disitulah bunda Cakra, duduk dengan tatapan penuh harap dihiasi derai air mata serta mulutnya yang tak berhenti mengumandangkan doa. Di dalam tenda yang lebih mirip seperti kamar hotel, dengan konsep berkemah yang kini sedang digandrungi oleh kaum muda, tidak hanya di isi oleh bunda Cakra saja. Terdapat pula, sahabat-sahabat Cakra yang turut menyaksikan kejadian terseretnya Cakra, Victor, dan Dito ke dalam lautan. Dito dan Victor yang sudah keluar dari rumah sakit memilih kembali ke tempat kejadian, dibanding terbang ke Jakarta. Mereka bahkan, memaksa ingin ikut dalam proses pencarian yang tentu saja ditolak mentah oleh Pak Adipramana. Kini, empat sekawan itu hanya mampu ikut terdiam di dalam tenda sambil sesekali memandangi arah lautan. Sesekali mereka juga memandangi bunda Cakra dengan tatapan mengawasi. Akan tetapi, bunda Cakra hanya terduduk diam tak berkutik atas tempat duduknya. Wanita itu juga menolak, saat empat sekawan itu memintanya untuk beristirahat. Ia pun juga menolak di saat mereka memintanya untuk makan dan minum. Akhirnya mereka memutuskan untuk membiarkan wanita itu sendiri dan sesekali mengawasinya. Kadang Tommy dan Beni keluar tenda, untuk melihat keadaan sekitar lokasi pencarian yang sudah diberikan garis polisi lengkap dengan para polisi yang turut menjaga. Sehingga awak media, warga sekitar dan juga orang yang tidak berkepentingan, tidak dapat menerobos masuk. Sesekali juga, Tommy dan Beni mengecek Victor dan Dito yang terbaring di ranjang lain. Mengingat, kondisi mereka belum sepenuhnya pulih. Kini Victor dan Dito yang sudah sadar memilih untuk duduk di atas ranjang mereka. Keadaan Dito tak seburuk Victor Dito sudah mampu menyerap segala informasi yang menyerang. Seluruh indranya, berusaha mengingat kejadian yang menimpa mereka beberapa jam lalu. Berharap, informasi sekecil apapun dapat membantu proses pencarian Cakra. Sedangkan Victor, hanya menatap lautan dengan tatapan kosong, lebih mirip seperti mayat hidup. Ia juga menolak seluruh permintaan sahabatnya yang menyuruhnya untuk makan, minum dan berbaring mengistirahatkan diri. Terkadang terdengar bisikan samar yang keluar dari mulut Victor, hanya kata terputus-putus saking tidak terbukanya bibir Victor.  “Ridul” Dito sempat medengar racauan Victor menyebut kata ‘ridul’bersamaan dengan helaan napas Victor yang tak beraturan. Namun disaat mereka memaksa Victor untuk mengatakannya lebih jelas, anak remaja itu memilih untuk bungkam. “Gue yakin dia tadi bilang Nyi Roro Kidul!” ungkap Dito berbisik kepada Tommy dan Beni. “Jangan ngaco lu To! Lu makan lagi gih, lu perlu banyak makan buat balikin kondisi kesehatan lu!” ujar Beni menyangkal teori Dito. Mereka tak ingin membenarkan teori Dito, bahwa Cakra tenggelam akibat sudah menghina sang penguasa pantai selatan. “Gue liat sendiri!” tiba-tiba Victor bersuara dengan jelas namun pelan, ia tak ingin bunda Cakra yang berjarak lima meter dari mereka harus mendengarkan teori gilanya. “Gue liaat sendiriii…. Cakra dibawa Nyi Roro Kidul!” ucap Victor sambil menatap mata ketiga temannya dengan lekat. Meyakinkan bahwa apa yang dia ucapkan itu suatu kebeneran. “Vic… lu istirahat gih! Lu lebih parah tadi dibanding Dito, lu masih trauma!” Tommy berusana menenangkan Victor. Menghampirinya lalu mengusap-usap punggungnya sambil membimbingnya untuk berbaring. “Enggak!! To lu masih inget gimana caranya lu bisa selamat?” Dito mengernyitkan dahinya, berusana mengingat kejadian yang sangat cepat terjadi. Singatnya, saat ia berusaha menggapai ke tepian, ada tangan yang menariknya. Sedetik kemudian, ia sudah dibopong oleh beberapa kelompok manusia serta dua temannya. “Gue diselamatkan sama warga kaan…? Abis itu mereka balik ke laut buat nyelamatin lu!” ungkap Dito ragu dengan perkataannya sendiri. “Nah! Pas gue masih terombang-ambing, gue sempet liat yang narik tangan gue itu cewek pake baju ijo! Gue yakin itu Nyi Roro Kidul! Trus gue juga ngeliat Nyi Roro Kidul bawa Cakra ke dalam keretanya!” teman-teman Victor hanya mampu dapat menghela napas. Mereka yakin saat itu Victor sudah masuk ke fase hipoksia. Di mana saat seseorang tenggelam, mereka akan kekurangan suplai oksigen dan membuat kadar oksigen menjadi rendah.  Menyebabkan seseorang tak sadarkan diri, hal ini juga dapat memicu halusinasi. “Victor… lu tau kan? Pas tenggelam orang bakalan hipoksia gara-gara laryngospasm?” ujar Beni berusaha menyingkirkan teori Victor. Ia bahkan menyebutkan bagaimana proses reaksi tubuh manusia saat tenggelam. Yaitu saat seseorang tenggelam, mereka pasti berusaha mencari udara sehingga membuka tutup mulut mereka, membuat laryng alias pita suara mengencang sedikit kejang. Kemudian, menutup saluran udara untuk melindungi paru-paru dari masuknya air. Hal ini mengakibatkan suplai oksigen menurun dan hipoksia tak dapat terhindarkan. “Lu balik istirahat aja ya Vic…” ucap Beni berusaha membaringkan Victor. Victor sendiri akhirnya memilih untuk tidur kembali, mengingat apa yang ia alami itu mustahil. Teori hipoksia yang mengakibatkan halusinasi lebih masuk akal di dengar. “Tom, coba tawarin nyokapnya Cakra buat makan lagi Tom, udah waktunya sarapan juga kan? Terus kalo bisa minta dia juga tidur!” ucap Beni sembari menaruh bantal di bawah kepala Victor. Sesaat kemudian, Tommy menghampiri wanita yang masih duduk tak jauh dari pintu tenda. Memandang lurus ke lautan lepas yang dihiasi berbagai macam alat pencarian. Beni memandangi Tommy berharap Tommy berhasil membujuk wanita itu. Namun sesaat Tommy memutar tubuhnya, lalu berjalan menghampiri mereka yang tak jauh dari tempat tidur Victor sambil menggelengkan kepala. Beni kemudian melemparkan pandangannya kembali ke wanita itu, yang masih menatap dengan penuh harapan ke lautan lepas. Matanya sesekali mengikuti pergerakan kapal yang ditumpangi suaminya, yang masih berusaha mencari keberadaan Cakra. Tampak kekacauan tak memudar dari langit Pantai Parangtritis. Kekacauaan tak hanya terjadi di permukaan laut Pantai Parangtritis. Kekacauan juga terjadi di Gedung Pusat Pemerintahan Distrik Nor, yang berada kurang dari lima ratus kilometer dari selatan garis Pantai Parangtritis. Dengan kedalaman tujuh ribu di bawah permukaan laut. Cakra yang berhasil kabur dengan memukul tembok ruangan penjaranya, kini tengah disudutkan oleh pasukan penjaga keamanan. Untungnya penjaga itu hanya sendiri yang seketika melayang dengan kecepatan penuh, ketika mendengar dentuman keras dari arah penjara khusus yang diciptakan khusus pula untuk Cakra. Sesampainya di tempat tujuan, ia dikagetkan karena Cakra sudah berada di luar ruangan. Sedang menolehkan kepalanya kanan dan kiri, menyusuri pandangan dengan raut wajah yang menyiratkan kebingungan akut. “Tetap berhenti di sana!” suara penjaga berhasil menarik perhatian Cakra yang masih menolehkan kepalanya ke penjuru arah, yang akhirnya berhenti pada sumber suara. Cakra memicingkan matanya saat melihat sosok yang ia kenali. Penjaga itu menggunakan busana yang mirip dikenakan Mynhemeni, namun yang membedakan adalah cahaya yang bertengger bagian atas perutnya. Tertera nama Georu dengan jabatan Penjaga Keamanan Gedung Tingkat 4. Begitu melihat Georu emosi Cakra meningkat, ia ingat betul siapa orang yang baru saja menindasnya. Dengan penuh percaya diri Cakra berlari ke arahnya, ia ingin menghajar penjaga itu, membalaskan sengatan listrik yang ia derita beberapa menit lalu. Mereka kini berdiri berhadap-hadapan, hanya berjarak tak lebih dari tiga meter. Georu memiringkan kepalanya ke kiri, seketika terlihat kilatan cahaya yang membungkus dirinya, kemudian cahaya itu seakan merasuki dirinya. Setelah itu, ia memiringkan kepalanya ke arah kanan, seketika terjadi pergerakkan dari arah belakang punggung Georu. Busana yang ia kenakan seketika bergerak seperti meleleh setelah terkena suhu seribu derajat, memaparkan gelombang pembiasan cahaya. Kemudian busana itu seperti membelah diri dan muncullah sebilah tongkat menyerupai tombak sepanjang tujuh puluh lima sentimeter. Tombak itu memparkan cahaya oranye kebiruan dari bagian dalam. Bentuk tombak itu runcing seperti pena klasik. Pada gagangnya terdapat lingkaran yang lebih tebal. Tombak itu seketika langsung melesat ke hadapan Georu, dengan tangkas ia menggenggam tombak tersebut. Bagian gagang pada tombak tersebut langsung membungkus tangan Georu, seakan tombak itu akan menyatu selamanya.  Cakra sekonyong-konyong tercengang dengan apa yang ia saksikan, menurutnya ia sedang menonton potongan film aksi bertema futuristis. Cakra sempat kagum, bahkan hendak menghampiri Georu dan memintanya untuk melakukannya sekali lagi. Ia ingin melihat adegan yang baru saja ia saksikan lebih cermat. Serta kalau memungkinkan, ingin bertanya bagaiama hal itu dapat terjadi. Namun, begitu ia tersadarkan bahwa Georu kini tengah melayangkan tombak itu ke arahnya, ia tersadarkan bahwa yang harus ia lakukan bukan heboh kegirangan, melainkan kewaspadaan yang tinggi. Ia masih ragu apakah ia dapat melawan Georu dengan segala teknologi canggihnya, akan tetapi ia yakin, bahwa dirinya dapat melakukan apapun. Ia berfikir mungkin ini adalah sebuah ruang alam bawah sadarnya, ataukah ini memang dunia kematian, atau ini semua hanyalah mimpi belaka. Cakra berhasil menghindari tebasan tombak yang diarahkan Georu. Dengan tangkas, ia berlari ke arah Georu sambil mengepalkan tangannya kemudian menghadiahkan Georu satu pukulan. Namun sebelum tinjunya berhasil berdarat di pipi bagian kiri Georu, gerakannya terhenti, seakan ada tameng transparan yang menghalangi. Ia sempat melirik ke arah wajah Georu yang tersenyum mengejek padanya. “Bodoh!” bahkan ia mendengar ejekan kecil yang keluar dari mulut penjaga itu. Sejurus kemudian giliran tangan kiri Georu yang sudah berhasil mendarat di perut Cakra. Akan tetapi bukannya sakit yang ia rasakan, hanya sentuhan kecil yang tak berarti, cukup membuat Georu keheranan. Padahal besaran gaya yang dihasilkan oleh tinju Georu, setara dengan pukulan seorang tukang bangunan yang sedang memukul tembok beton menggunakan palu, dengan massa tiga kilogram dan kecepatan lima puluh meter perdetik. Kali ini senyuman Cakra yang melebar, ia kembali melayangkan pukul ke arah Georu dan kali ini dapat menghancurkan tameng transparan yang melindunginya. Sempat muncul kilatan kecil disekujur tubuh Georu sebelum akhirnya ia terlontar dengan ketinggian tiga meter. Tubuhnya melesat terpental dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam. Petugas itu sempat panik, namun amanat yang disampaikan Mynhemeni, dapat ia laksanakan sebelum tubuhnya berhasil mendarat ke lantai. Lalu terlelap tidur. Ia yakin alat yang baru saja ia tiupkan berhasil mendarat di belakang telinga kanan Cakra tapa disadari olehnya. Sedangkan Cakra tertawa puas saat penjaga cantik yang menyiksanya berhasil tersungkur jauh. Ia sempat takjub dengan kekuatan dirinya sendiri. Ia tak percaya dapat meninju orang hingga terbang jauh. Setelah yakin Georu tak dapat bergerak, Cakra berjalan perlahan menyusuri lorong panjang. Tepat sebelum lorong itu bercabang empat, tiba-tiba dari arah kanan lorong tersebut tujuh pasukan keamanan gedung sudah  yang menyusul menghadang Cakra. Cakra yang memang jago beladiri, langsung berusaha melawan mereka. Dengan lincah ia berlari dan menyerbu pasukan bersenjata tersebut. Ia tak menyadari bahwa kekuatannya bertambah berkali-kali lipat. Membuat seluruh para petugas tersebut langsung tumbang satu persatu, setelah dihajar oleh Cakra. Saat dirasa semua orang yang ia hajar sudah tumbang, Cakra berjalan kembali secara mengendap-endap dan berhati-hati. Lalu belok kanan ke tempat para pasukan yang berhasil ia kalahkan muncul. Namun tiba-tiba segerombolan pasukan kembali hadir tak jauh dari tempat berdirinya Cakra, mereka muncul dalam jumlah yang lebih banyak. Tak kurang dari lima puluh orang, beramai-ramai seperti hendak menyerbu Cakra sekaligus. Cakra langsung menyerang mereka, namun ternyata ia sempat tumbang dan akhirnya memutuskan kembali mundur dan berjalan kembali ke arah ruangan tempat ia dikurung. Ia juga sempat memukul besi rantai yang kembali menyerangnya ketika ia melewati tembok berlubang yang ia buat. Hingga ia akhirnya berhasil terpojok dan dikepung oleh seluruh pasukan bersenjata. Ia sungguh tak tahu apa yang harus ia lakukan, satu-satunya hal yang dapat ia lakukan adalah menyerang mereka. Namun mampukah dirinya sendiri melawan puluhan pasukan bersenjata itu? Ia tak yakin. Saat menimang apa yang harus ia lakukan, tiba-tiba terdengar seseorang wanita yang berbicara kepadanya di dalam kepalanya. Sedetik kemudian Cakra berhasil melumpuhkan pasukan depan dan menodongkan senjata ke leher Mynhemeni. Ia berhasil menculik komandan cantik itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD