Hotel Putra Mulia berdiri megah dengan dinding kaca tinggi dan lampu gantung kristal di lobi. Nurul merasa langkahnya mengecil begitu melewati pintu putar.
Saat ini ia mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam formal. Rambutnya disanggul rendah. Tidak berlebihan namun profesional. Map cokelat berisi CV dan foto-foto plating rendang, rawon, dan sate lilit ia genggam erat.
Seorang perempuan berusia 40-an dengan blazer hitam berdiri dari balik meja resepsionis ketika melihatnya. Tante Dinda. Nurul masih mengenalinya meski dulu hanya beberapa kali bertemu.
"Nurul Hidayah?" sapanya ramah namun tegas.
"Iya, Bu." Nurul mengangguk sopan.
"Kamu tidak berubah banyak. Saya Dinda. Tante Niken. Di sini kamu bisa memanggil saya Bu Dinda."
Nurul langsung menyalami dengan sopan. "Terima kasih, Bu Dinda. Ibu juga tidak berubah. Sekali lagi terima kasih karena sudah mau memberi saya kesempatan."
Bu Dinda menatapnya dari atas sampai bawah. Bukan menilai penampilan, tapi membaca kesiapan.
"Kita langsung ke ruangan saya." Bu Dinda memberi aba-aba agar Nurul mengikutinya.
Mereka memutar ke back office di belakang meja resepsionis. Ke sebuah ruangan khusus yang tidak terlihat oleh tamu.
"Silakan duduk Nurul. Niken semalam cerita, katanya kamu pernah tiga tahun menjadi chef di Selera Rasa?" tanya Bu Dinda setelah duduk di kursinya.
"Benar, Bu. Saya fokus di masakan Nusantara. Handling dapur untuk 120 seat per hari," jawab Nurul sambil duduk di hadapan Bu Dinda.
"Sebenarnya Niken sudah bercerita panjang lebar pada saya soal kehidupanmu. Sampai saya merasa dialah yang akan diwawancara kerja." Bu Dinda mendecakkan lidah.
"Niken memang sangat ingin membantu saya, Bu." Nurul meringis.
"Saya mengerti. Tapi saya tetap akan mewawancarai kamu sesuai prosedur. Pertama-tama saya ingin tahu kenapa dulu kamu resign?"
"Waktu itu saya memilih fokus pada keluarga. Sekarang saya siap kembali bekerja penuh dan dalam jangka panjang." Nurul menjawab diplomatis tanpa mengumbar masalah pribadinya. Selain tidak etis, ia juga tidak ingin dikasihani.
Bu Dinda mengangguk kecil. Ia suka dengan karakter Nurul. Profesional dan tidak bertele-tele.
"Ini CV saya, Bu." Nurul menyerahkan map yang berisi CV dan foto-foto masakan kreasinya. Di sana ia juga menyertakan sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi kuliner yang ia ikuti dulu.
"Bagus. Sertifikasi kamu lengkap. Atasan saya memang menerapkan standar tinggi untuk posisi chef ini."
Nawang diam saja. Ia tahu akan ada lanjutan kata-kata setelah ini.
"Cita Rasa Nusantara butuh chef yang bisa menjaga otentisitas rasa. Banyak tamu luar kota bahkan luar negeri. Dan restoran kita harus memberi yang terbaik. Kamu siap untuk kerja keras di bawah tekanan?"
"Insyaallah, siap, Bu," jawab Nurul mantap.
"Oke, jawab saya dengan jujur. Mengapa kamu tidak kembali saja melamar di Selera Rasa? Niken sudah memberitahu saya alasannya. Tapi saya ingin mendengar jawaban langsungnya dari mulut kamu." Bu Dinda menutup CV dan memfokuskan pandangan pada Nurul.
"Seperti yang pernah saya katakan pada Niken, Asti, anak Pak Ahmad yang sekarang memegang Selera Rasa pasti tidak akan menerima saya," terang Nurul jujur.
Bu Dinda menaikkan alisnya. "Karena dia masih kesal kalah lomba masak darimu di waktu lalu?" lanjut Bu Dinda.
Nurul mengangguk.
"Ada alasan lain lagi? Yang tidak diketahui orang lain?" pancing Bu Dinda.
Nurul menghela napas panjang. Bu Dinda sepertinya sudah mendapat clue yang selama ini ia simpan rapat-rapat. "Saya pernah mengadu pada Asti kalau pacarnya, sekarang suaminya sering menggoda saya di dapur."
"Alasan ini lebih masuk akal." Bu Dinda tersenyum kecil.
"Oke sekarang kita ke dapur. Saya dan head chef Cita Rasa Nusantara, chef Rudy akan mengujimu secara langsung di sana. Kamu siap, Nurul?"
"Siap, Bu."
"Baik, ayo kita praktek langsung. Keberhasilanmu selanjutnya adalah pada ujian akhir ini. Kalau kamu bisa memenuhi ekspektasi atasan saya, kamu bisa mengisi posisi chef itu."
***
Dapur restoran terasa panas dan hidup. Suara alat masak saling beradu. Aroma bermacam bumbu masak menguar di udara.
Head Chef restoran, Pak Rudy, pria berusia empat puluhan dengan sorot mata tajam, menyilangkan tangan di d**a.
"Bu Dinda bilang kamu ahli masakan Nusantara. Kita buktikan ya?"
Nurul mengangguk. Walau jantungnya berdebar, ia berusaha tampil percaya diri.
"Coba kamu masak satu menu signature. Semua bahan-bahannya sudah tersedia." Ia menunjuk ke arah meja bahan.
"Sapi, ayam, ikan, tahu, tempe, sayuran, dan berbagai bumbu. Kamu punya waktu 45 menit."
Ia menatap Nurul tajam.
"Masakan bebas. Tapi satu syarat yang harus dipenuhi. Cita rasa Nusantara asli."
Bu Dinda ikut menambahkan.
"Dan yang kami nilai bukan cuma rasa. Tapi logika dapurmu. Cara kerja, kebersihan dan manajemen waktu."
Nurul menarik napas pelan. Empat puluh lima menit. Tidak mungkin membuat rendang. Tidak mungkin juga memasak gulai yang bumbu-bumbunya harus lama agar meresap.
Ia memandang bahan-bahan di meja. Tatapannya terhenti pada ikan kembung segar, beberapa cabai merah, tomat, bawang merah, bawang putih, dan daun kemangi. Keputusan langsung terbentuk di kepalanya.
"Saya akan memasak ikan kembung sambal matah kemangi, tempe goreng tepung tipis, dan tumis kangkung bawang putih," katanya.
Chef Rudy mengangkat alis. Menu sederhana. Tapi dia tetap memberi Nurul kesempatan.
"Oke, waktumu dimulai dari sekarang."
Nurul langsung bergerak.
Langkah pertamanya adalah menyalakan dua kompor sekaligus. Satu untuk minyak menggoreng tempe dan satunya lagi untuk menumis.
Ia kemudian mencuci ikan dengan cepat di wastafel. Membersihkan bagian perut dan membuat dua sayatan di badan ikan. Ia menggosokkan garam, bawang putih halus, dan sedikit air jeruk nipis. Bumbu sederhana tapi ampuh untuk menghilangkan bau amis.
Sambil menunggu bumbu meresap beberapa menit, ia beralih ke bahan lain.
Tempe diiris tipis. Ia mencampur tepung beras, sedikit tepung terigu, bawang putih halus, ketumbar bubuk, dan garam dengan air.
Adonannya tipis namun presisi.
Saat minyak di wajan sudah panas, tempe dicelup lalu digoreng. Sementara tempe sedang digoreng Nurul sudah beralih memotong bawang, cabai dan tomat. Sebagian cabai diiris tipis untuk sambal matah. Sebagian lagi ia sisihkan. Semua hal ia lakukan dengan cepat namun tidak panik.
"Dia bekerja dengan sigap dan cepat ya?" bisik Bu Dinda pada chef Rudy.
"Iya, dia juga tidak panik," ujar chef Arman.
Nurul sendiri tidak berhenti bekerja. Setelah tempe matang dan diangkat, ia segera memotong bawang putih dan menyiangi kangkung.
"Kangkung harus cepat dimasak. Kalau lama, warnanya jelek."
"Iya, Chef." Nurul mengangguk.
Saat wajan sudah panas, Nurul menumis bawang putih. Setelah harum, kangkung dimasukkan bersama sedikit garam dan saus tiram. Ia menumisnya cepat, tidak lebih dari dua menit, agar tetap hijau segar.
Chef Rudy melihat jam.
"Masih dua puluh menit."
Nurul mengangguk sambil memanaskan minyak untuk ikan. Ikan kembung pun masuk ke wajan.
Sambil menunggu, ia membuat sambal matah versi Nusantara.
Bawang merah iris, cabai rawit,
cabai merah, tomat kecil,
sedikit gula dan garam.
Ia memanaskan sedikit minyak sampai hampir berasap, lalu menyiramkannya ke campuran cabai. Aroma pedas langsung menyebar. Terakhir, ia menambahkan daun kemangi segar.
Ikan yang ia goreng sudah matang. Kulitnya tampak sangat renyah. Nurul mengangkat dan menyusun semuanya di piring saji. Ikan kembung goreng itu lalu ia siram dengan sambal matah kemangi. Di sampingnya tempe goreng tipis yang garing dan juga tumis kangkung hijau segar.
Saat Nurul meletakkan piring di meja, jam dapur berbunyi pelan. Chef Rudy melihat arlojinya.
"Empat puluh tiga menit."
"Alhamdullilah." Nurul mengucap pelan. Ia tidak melewati waktu yang ditentukan.
Chef Rudy dan Bu Dinda mendekat. Masing-masing mengambil garpu. Mereka
mencicipi ikan terlebih dulu.
Kulitnya renyah. Dagingnya masih lembut dan tidak amis.
"Gurih dan tidak amis," Chef Rudy mengangguk. Bu Dinda melakukan hal yang sama setelah ikut mencicipi.
Chef Rudy lalu mencicipi sambal. Matanya sedikit membesar. Pedas. Segar. Ada aroma kemangi. Ia lalu mencoba tempe. "Renyah." Lalu kangkung. Bu Dinda ikut mengunyah kangkung.
"Kangkungnya tidak lembek."
Chef Rudy menatap Nurul.
"Kenapa kamu memilih menu ini?"
"Karena bisa matang dalam waktu 45 menit," jawab Nurul jujur.
"Saya bisa saja mencoba menu seperti rendang atau yang lainnya yang mungkin lebih mencerminkan masakan seorang chef. Tapi saya harus realistis. Waktunya tidak akan cukup. Makanya saya memilih menu sederhana ini, tapi tetap mencerminkan rasa Nusantara."
Ia lalu menambahkan pelan. "Masakan yang tampak sederhana itu sebenarnya juga riskan, Chef. Karena kalau salah sedikit saja, pasti langsung terasa."
Chef Rudy mengangguk. "Orang awan selalu meremehkan masakan sederhana. Padahal tantangannya ya di kesederhanaannya itu. Bahwa kita harus bisa menciptakan makanan lezat, hanya dengan bumbu-bumbu simpel. Kamu benar, Nurul." Chef Rudi setuju dengan apa yang dikatakan Nurul.
Nurul menarik nafas lega. Ternyata masakan sederhananya ini disukai oleh Chef Rudy dan juga Bu Dinda.
Chef Rudy menatap Bu Dinda.
Lalu kembali menatap Nurul.
"Ada banyak orang yang bisa masak enak," katanya datar. "Tapi tidak banyak yang bisa menghidangkannya dengan bumbu seadanya dan serta punya manajemen waktu yang tepat."
Ia lalu meletakkan garpunya dan menoleh pada Bu Dinda. "Kalau dari saya, oke."
Bu Dinda mengangguk lalu menghadap Nurul. "Dari saya juga oke. Keputusan akhir tinggal pendapat dari raja terakhir."
Nurul mengangguk. Ia tahu, nasibnya akan ditentukan oleh atasan Bu Dinda yang merupakan pemilik hotel ini juga.
"Saya akan membawa masakanmu ini padanya. Biar atasan saya yang menilai."
"Baik. Saya akan platting ulang masakan ini untuk satu orang." Nurul bergerak cepat. Menyiapkan piring yang pas untuk satu orang. Menatanya sedemikian rupa hingga tampak menarik dan menggiurkan.
"Kamu silakan menunggu keputusan akhirnya di ruangan saya." Bu Dinda membawa masakan ke ruangan atasannya. Sementara Nurul kembali ke ruangan Bu Dinda.
Sekitar lima belas menit kemudian Bu Dinda masuk ke dalam ruangan dengan wajah semringah.
"Atasan saya menyukai masakanmu, Nurul. Selamat, kamu diterima di dapur Cita Rasa Nusantara. Bekerjalah yang baik dan buat nama restoran kita seharum masakan-masakanmu berikutnya."
"Alhamdullilah." Nurul mengucap syukur. Akhirnya ia mendapat pekerjaan sesuai dengan keahliannya.
Lima belas menit kemudian Nurul keluar dari ruangan Bu Dinda dengan senyum yang masih tersungging. Ketika ponselnya berbunyi dan nama ibunya tampak di layar, Nurul segera mengangkatnya. Ia tahu ibunya pasti tak sabar menunggu kabar baik darinya.
"Hallo, Bu. Aku sudah..."
"Nurul, kamu di mana?" Suara ibunya terdengar panik. Perasaan Nurul langsung tidak enak.
"Masih di hotel, Bu. Baru saja selesai interview. Ada apa, Bu?"
"Cepat pulang, ya. Alfi jatuh dari sepeda."
"Astaghfirullahaladzim! Jatuh?" suara Nurul meninggi. "Jatuh di mana? Ada luka-luka nggak, Bu?"
"Di halaman rumah. Tadi anak-anak tetangga datang naik sepeda. Alfi ikut main. Terus jatuh. Lututnya berdarah, kepalanya juga kebentur sedikit. Sekarang sedang menangis, mencari kamu."
"Aku pulang sekarang!" Nurul memutus percakapan. Ia mempercepat langkah mencari pintu keluar.
Koridor hotel siang itu cukup ramai. Beberapa staf berlalu-lalang dengan berkas dan tablet kerja. Namun Nurul tidak melihat siapa pun. Yang ada di pikirannya hanya Alfi.
"Ya Allah... semoga tidak terjadi apa-apa pada Alfi..." gumamnya panik. Ia berbelok cepat menuju pintu keluar.
Pada saat yang sama, dari koridor berbeda, Elang berjalan keluar bersama dua orang anak buahnya, Abdi dan Rendra.
Mereka sedang membahas jadwal pertemuan klien.
Bruk!
Tubuhnya menabrak seseorang dengan keras. Nurul terhuyung-huyung, hampir kehilangan keseimbangan. Beruntung orang tersebut dengan sigap memegang bahunya. Menahannya dari jatuh terjerembab.
"Maaf... maaf... saya sedang tergesa-gesa. Maaf ya," Nurul merangkapkan tangan di d**a lalu berlari menuju pintu keluar. Ia tidak melihat wajah orang yang ia tabrak sama sekali.
Elang berdiri diam beberapa detik. Abdi yang melihat kejadian itu langsung berseru kesal.
"Hei! Mbak!"
Namun Nurul sudah berada di luar dan berlari menuju parkiran.
Abdi menggeleng jengkel.
"Dasar nggak punya sopan santun! Udah nabrak orang main ngeloyor gitu aja!"
Hendri yang sejak tadi memperhatikan mendadak mengerutkan kening.
"Eh... bentar... bentar."
Abdi menoleh. "Apa?"
Hendri menunjuk ke arah pintu keluar. "Bukannya itu perempuan yang sama di Kafe Harmoni dua hari lalu? Yang nabrak Pak Elang juga?" Rendra mengingatkan.
Abdi berpikir sejenak, lalu matanya melebar.
"Eh iya, bener! Kejadiannya gini juga." Ia menoleh pada Elang.
"Pak, itu perempuan yang kemarin juga nabrak Bapak di kafe kan?"
Hendri terkekeh kecil.
"Dua kali dalam dua hari. Kebetulan banget."
"Menurutku sih bukan kebetulan. Pasti dia tahu siapa Pak Elang dan mau mendekati dengan drama-drama murahan ala sinetron." Abdi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Kita langsung temui Pak Jaya saja. Tanyakan soal rencana kerjasama kemarin. Sudah kamu buat anggarannya kan, Hen?" Elang mengalihkan topik pembicaraan.
"Sudah. Pak. Saya gabung dengan file project dengan PT. Gemintang Cahya Mandiri." Hendri memindai jam di pergelangan tangannya.
"Pak Elang mau makan siang dulu atau bagaimana?" Hendri menanyakan agenda atasannya.
"Langsung temui Pak Jaya saja."
"Bapak nggak makan siang dulu?" tanya Abdi heran.
"Kalau kami sih tadi sudah makan bekal dari istri-istri kami. Bapak kan belum?"
"Saya juga sudah makan siang tadi." jawab Elang singkat.
Abdi dan Hendri saling pandang. Mereka tahu kalau sedari pagi Elang belum keluar kantor. Ia juga tidak makan di kantin kantor.
Yang tidak mereka ketahui, Elang memang sudah makan siang dengan menu ikan kembung sambal matah kemangi, tempe goreng tepung tipis, dan tumis kangkung bawang putih. Ya, Elang menyantap masakan Nurul hingga tandas.
"Oke. Kalau begitu kita lanjut saja." Mereka bertiga berjalan menuju area parkir.
Saat itulah Elang melihat sesuatu. Di ujung parkiran, ia melihat Nurul mengengkol sepeda motor tuanya berkali-kali. Ketika mesin akhirnya hidup, ia buru-buru memasang helm.
Mesin motor meraung lalu melaju cepat keluar area parkir.
Abdi yang melihatnya langsung mengumpat.
"Perempuan gila."
"Jangan mengumpati orang yang tidak kamu ketahui jalan hidupnya," pungkas Elang dingin seraya masuk ke dalam mobil.
Abdi langsung menutup mulutnya. Ia tahu atasannya marah.
Mata Elang mengikuti motor Nurul hingga menghilang di tikungan jalan. Seperti kemarin perempuan itu juga tampak terburu-buru. Entah apa yang sedang dihadapi oleh perempuan menawan bermata sendu itu.
Elang mengibaskan kepala. Mencoba menghilangkan perasaan sentimentil yang tiba-tiba saja mencuil hatinya. Semua perempuan itu sama saja. Pandai bersandiwara demi mendapatkan apa yang mereka incar. Dan ia benci dimanfaatkan!