5. Semesta Memang Suka Bercanda.

1916 Words
Nurul mengebut sepanjang jalan dengan jantung berdebar tidak karuan. Angin sore menampar wajahnya karena helmnya tidak terpasang dengan baik. Ia tidak menyadarinya. Karena yang ada di pikirannya hanya Alfi. "Semoga tidak ada luka yang serius ya Allah," gumamnya berulang-ulang. Inilah yang ia khawatirkan apabila Alfi berteman. Ia selalu menjadi objek bully-an. Sesampai di rumah, Nurul mematikan mesin motor dan langsung berlari masuk. Di ruang tamu, Alfi duduk di kursi dengan lutut dan siku penuh darah yang mulai mengering. Wajah dan hidungnya merah karena terus menangis. Ia menggenggam erat tangan sang nenek dengan ekspresi menahan sakit. "Ibu... jatuh. Sakit sekali." Begitu melihat kehadiran sang ibu, matanya berbinar. Ia langsung berdiri. Dengan langkah sedikit pincang, ia menghambur memeluk pinggang Nurul. Nurul berlutut dan memeluknya balik. "Ya Allah… Alfi jatuh ya?" Nurul berusaha menjaga nada suara tetap tenang agar Afli tidak panik. Ia memeriksa kepala, tangan, dan wajah anaknya. Mencari-laki luka lain selain yang tampak di permukaan. Syukurlah, tidak ada luka di tempat yang berbahaya. "Di mana lagi sakitnya, Sayang?" Alfi menunjuk lutut dan sikunya yang dioles obat antiseptik seadanya oleh neneknya. "Ini. Sakit. Jatuh... sepeda," adu Alfi dengan kosakata terbatas. "Tadi waktu Alfi pulang sekolah, dia melihat anak-anak tetangga main sepeda. Lantas mereka mengajak Alfi ikut bermain." Bu Nafisah menjelaskan. "Kok Ibu izinkan sih? Kan Nurul sudah bilang Alfi itu selalu dijahili orang." "Tadi sudah Ibu cegah. Tapi Alfinya nangis-nangis, katanya ingin ikut main. Ibu pikir, biarlah sesekali ia bermain bersama teman-teman seumurnya. Kasihan dia cuma menonton mereka dari teras." Nurul menghela napas panjang. Ia tahu maksud ibunya baik. "Anak-anak jatuh itu biasa, Nurul. Kalau kamu khawatir, bawa saja Alfi ke klinik Cinta Sehat, di depan pasar." Pak Yusuf yang baru keluar dari kamar mandi ikut memberi saran. "Iya, Yah. Nurul bawa ke sana saja. Takutnya ada luka lain yang tak terlihat." "Asalamualaikum." Tiba-tiba terdengar ucapan salam dari luar. "Ibu ke depan dulu. Ada yang mau belanja." Bu Nafisah meletakkan perban di meja dan berlalu. "Kita ke klinik ya, Alfi." Nurul mengusap rambut Alfi yang lembab karena keringat. "Nggak mau!" Alfi menggeleng cepat. "Nanti... sakit." Air matanya berderai. "Nggak sakit, Nak. Nanti luka-luka ini diobati. Diperban lho," bujuk Nurul lembut. Mendengar kata perban kedua bola mata Alfi membesar. Ia memang suka sekali dengan perban. Setiap kali terluka ia akan minta diperban. Bagian yang tidak luka pun akan ia minta perban. "Mau... perban. Mau... yang banyak!" serunya gembira. "Iya. Nanti diperban yang banyak. Sekarang kita klinik." Nurul menggendong Alfi. Bersiap membawanya ke klinik depan pasar. "Nah, ini anaknya." Bu Nafisah masuk bersama seorang wanita muda dan dua anak laki-laki berusia sekitar enam tahun. Wajah keduanya sangat mirip. Pasti mereka kembar. "Oh ini Mbak Nurul mamanya Alfi ya? Saya Sandra, mamanya Nakula dan Sadewa." Wanita muda itu menyalami Nurul sambil menunjuk kedua anak kembarnya. "Tadi Nakula dan Sadewa bermain sepeda dan mengajak Alfi bermain bersama. Terus kata Nakula, Alfi jatuh karena ia mendorong sepeda agak keras. Soalnya Alfi bilang dia belum bisa naik sepeda. Makanya Nakula mendorong supaya sepedanya bisa jalan." Sandra menerangkan kejadiannya. "Ayo Nakula, minta maaf pada Alfi," kata Sandra pada sang putra tegas. Dengan langkah takut-takut Nakula menghampiri Alfi yang sudah digendong oleh Nurul. "Kula minta maaf ya, Alfi. Kula tidak sengaja." Nakula meminta maaf dengan air muka seperti ingin menangis. Di belakangnya Sadewa juga menjebi. Wajahnya ikut mendung. Nurul menurunkan Alfi dari gendongan. Ia merasa terharu. Karena untuk pertama kalinya ada orang yang meminta maaf pada putranya. Nurul kemudian berjongkok hingga tingginya setara dengan Alfi dan Nakula. "Alfi, Nakula sudah meminta maaf. Sekarang Alfi jawab. Iya, Alfi maafkan. Ayo bilang, Nak." Nurul meminta Alfi yang tampak kebingungan untuk menjawab. Nurul tahu Alfi bingung karena ada orang yang meminta maaf padanya. "Iya ... maaf," jawab Alfi gugup. Jawaban Alfi membuat orang-orang dalam ruangan tertawa. "Jawabnya begini. Iya, Alfi maafkan. Coba ulangi." Nurul membetulkan dengan lembut. "Iya... Alfi... maafkan." Alfi meniru kata-kata ibunya. Nurul bertepuk tangan. Hati kecilnya mengatakan bahwa Nakula dan Sadewa ini adalah anak-anak yang baik. Ada satu hal yang menarik. Alfi tiba-tiba saja memeluk Nakula dan Sadewa. Ini adalah reaksi Alfi apabila ia merasa nyaman dengan seseorang. "Pinter, semua sudah saling memaafkan. Nanti kalau kalian bermain lagi, tidak boleh kasar ya, anak-anak. Alfi kan masih kecil." Sandra menekankan kata kecil untuk Alfi yang berkebutuhan khusus. Nurul sangat menghormati kebijaksanaan Sandra. "Saya juga minta maaf ya, Nurul. Anak-anak tadi baru bilang kalau Alfi jatuh. Makanya saya baru ke sini." Sandra menyalami Nurul. "Sama-sama, Sandra. Alfi memang berbeda. Ia belum bisa bermain seperti anak seumurannya." Nurul menyambut uluran tangan Sandra. "Saya sangat senang karena Nakula dan Sadewa mau bermain dengan Alfi," tambah Nurul." Ia memberi isyarat halus agar anak-anak Sandra tetap mau bermain dengan Alfi. "Pasti mau. Mereka bilang Alfi baik dan lucu. Saya permisi dulu ya, Mbak Nurul. Mau beres-beres rumah. Assalamualaikum." Sandra berpamitan bersama Nakula dan Sadewa. Kedua bocah kembar itu melambai-lambaikan tangan kepada Alfi yang tersenyum malu-malu. "Sandra ini tetangga yang sebelah mana, Bu? Kok saya tidak kenal?" tanya Nurul setelah Sandra dan putra kembarnya tak terlihat. "Oh, mereka ini orang baru. Keluarga kecil Budi dan Sandra. Tahun lalu mereka membeli rumah Pak Rusdi," jelas Bu Nafisah. "Oh, ya sudah. Nurul membawa Alfi ke klinik Cinta Sehat." "Baiklah. Hati-hati ya, Nurul. Jangan mengebut." Bu Nafisah menasehati putrinya. Nurul mengangguk dan membawa Alfi menuju motor tua ayahnya. Beberapa menit kemudian motor tua itu kembali menyala. Alfi duduk diboncengan setelah Nurul memasang sabuk pengikat berbentuk rompi agar Alfi lebih aman. "Pegangan di sini ya." Nurul meletakkan tangan kecil Alfi di pinggangnya. Motor kemudian melaju membelah jalan di siang bolong. Dalam perjalanan sesekali Alfi mengeluh kecil. "Lututnya sakit…" "Sebentar lagi sampai, Sayang. Nanti diobati sama dokter biar sembuh." Nurul menghibur Alfi. Klinik kecil di ujung jalan tidak terlalu ramai. Hanya beberapa pasien duduk menunggu. Nurul langsung membawa Alfi ke ruang pemeriksaan. Seorang dokter muda memeriksa lutut Alfi. "Hanya lecet cukup dalam, tapi tidak perlu dijahit," jelas dokter itu sambil membersihkan luka dengan antiseptik. Saat kapas menyentuh lukanya, Alfi langsung meringis. "Perih…" Tangannya refleks ingin mengibaskan tangan sang dokter. Untungnya Nurul sempat menahannya. Ia lalu menggenggam tangan mungil sang putra. "Tahan sebentar ya, Nak. Alfi kan sedang diobati. Setelah selesai nanti dipasang perban lho," bujuk Nawang lembut. "Perban... banyak?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca. "Iya. Banyak sekali. Di sini dan di sini." Nurul menunjuk dengkul, siku dan dahi Alfi. Setelah beberapa menit, luka itu akhirnya diperban rapi. Bahkan tempat yang tidak terluka pun ikut diperban. Semua dilakukan untuk menyenangkan Alfi. Kini anaknya sudah kembali ceria. Mereka pun bersiap untuk pulang. "Ibu... lepas." Alfi menghentikan langkahnya. "Apanya yang lepas, Nak?" tanya Nurul. "Ini." Alfi mengangkat kaki kanannya. Nurul menunduk. Benar saja. Sepatu kecil itu hampir terlepas dari kaki anaknya karena tadi dilepas saat dokter memeriksa luka. "Ayo kita ikat." Nurul berjongkok. "Mau duduk... minum." "Oh, Alfi haus ya? Kita cari kursi kosong dulu ya. Nanti Ibu beli minuman." Pandangan Nurul mengitari sekeliling. Ia akhirnya menemukan kursi kosong di dekat kantin klinik. Mereka pun bergegas ke sana. "Alfi duduk dulu ya. Ibu beli minuman sebentar." Setelah mendudukkan Alfi di kursi panjang, Nurul mendekati ibu kantin. Meminta sebotol air mineral beserta sedotan. Pada saat itulah Alfi tiba-tiba melihat seseorang duduk di sebelahnya. Matanya langsung berbinar dengan rasa ingin tahu yang khas. Ia memang selalu tertarik pada orang baru. Ia menatap pria berjas abu-abu di sampingnya tanpa rasa canggung sedikit pun. Lalu dengan suara polos ia pun menyapa. "Halo, Om." Nurul yang baru menerima uang kembalian langsung menoleh kaget. "Alfi… jangan menganggu orang!" Nurul buru-buru kembali ke tempat Alfi. Namun pria itu sudah lebih dulu menoleh saat mendengar seseorang menyapanya. Pria itu adalah Elang Samudra. Tadinya ia beserta Abdi dan Hendri akan menemui klien. Namun ada insiden yang tidak terduga di jalan. Seorang anak kecil tiba-tiba menyeberang sembarangan dan tersenggol oleh mobil yang dikemudikan Abdi. Mereka pun membawa anak kecil itu ke rumah sakit terdekat, yaitu Klinik Cinta Sehat ini. "Maaf ya, anak saya memang suka menyapa orang yang baru ia lihat." Nurul meminta maaf untuk Alfi. Elang mengangguk singkat. Ia kemudian mengamati bocah kecil yang menyapanya. Wajah bulat dengan mata sedikit sipit, hidung kecil yang datar, dan senyum yang sangat tulus. Tidak butuh waktu lama untuk mengenali ciri-ciri itu. Down syndrome. Namun yang membuatnya diam bukan kondisi itu. Melainkan cara bocah itu menatapnya. Tanpa prasangka. Tanpa takut. Hanya rasa ingin tahu yang polos. "Om... tinggi sekali," kata Alfi sambil mendongak menatap Elang kagum. "Alfi, sudah ya. Kamu haus kan? Ini, Ibu sudah membeli air mineral." Nurul membuka tutup botol minuman. Mencoba mengalihkan perhatian Alfi. Namun Alfi mengabaikan Nurul. Ia masih memandangi Elang. "Om... ini lepas." Alfi mengangkat kakinya yang belum terpasang sepatu. Nurul buru-buru meletakkan air mineralnya dan membungkuk. "Alfi jangan tidak sopan ya, Nak. Sini Ibu pasangkan sepatunya." Namun sebelum Nurul sempat melakukannya, Elang sudah berjongkok lebih dulu di depan Alfi. Gerakannya tenang dan terukur. Nurul tertegun. Aneh rasanya melihat seorang pria dengan aura kharismatik, berjongkok di lantai klinik kecil hanya untuk membantu seorang anak memakai sepatu. Elang mengambil sepatu kecil itu. "Yang ini sebelah kanan atau kiri?" tanyanya pada Alfi. Alfi tertawa kecil. "Kanan," katanya yakin. "Yakin ini kanan?" Elang menggoda Alfi. "Iya. Karena dekat tangan menulis," jawab Alfi sambil menggerak-gerakkan tangan kanannya seperti orang yang sedang menulis. "Alfi anak pintar." Tanpa maunya Elang memuji anak yang dipanggil Alfi tersebut. Lalu dengan gerakan lembut ia memasangkan sepatu ke kaki Alfi dan mengikat talinya. Alfi memperhatikan wajah Elang dengan serius. "Om... baik." Elang terdiam mendengar komentar polos itu. Jarang sekali ada orang yang berbicara padanya sesederhana itu. Tanpa rayuan, kepentingan terselubung ataupun basa-basi busuk. "Tidak seperti Ayah. Jahat!" Alfi membuat gestur kesal. Kedua alisnya berkerut dalam. "Eh, Alfi tidak boleh bilang begitu." Nurul akhirnya menemukan kembali suaranya. Ia terperanjat karena Alfi menganggap Erland jahat. "Ayah memang jahat. Tidak sayang... Alfi." Kini Alfi menjebi. "Tidak begitu, Nak." Dengan panik Nurul segera berdiri. Ia harus segera menjauhkan Alfi dari orang asing ini sebelum Alfi menceracau lebih jauh. Bertepatan dengan itu Elang juga berdiri. Nurul yang kaget hampir terjerembab. Seperti tadi Elang segera menahan bahunya. Nurul merasa dejavu. Ia pernah mengalami situasi seperti ini kemarin dan tadi siang. "Anda?" Mata Nurul membulat. Ia mengenali wajah laki-laki ini. Wajah yang sama dengan yang ia tabrak di pintu keluar kafe Harmoni dua hari lalu. Bertepatan dengan itu tiba-tiba terdengar suara seruan. "Wah... wah... wah... Mbak bisa dilaporkan ke polisi lho karena menguntit orang!" Suara bernada cibiran terdengar dari belakang. Nurul menoleh. Ada dua orang pemuda berpakaian rapi menatapnya dengan air muka tak ramah. "Anda siapa? Kenapa mau melaporkan saya ke polisi?" Nurul memandangi sang pemuda terheran-heran. "Anda tanya saya siapa?" Abdi mendelik. Ekspresi pura-pura polos wanita ini cukup mengagumkan. "Urusan kita sudah selesai, Abdi? Kalau sudah kita lanjut menemui Pak Jaya." Elang memberi isyarat agar Abdi tidak memperpanjang obrolan. "Sudah, Pak. Anak itu sudah diobati dan orang tuanya juga sudah datang." Abdi memberikan informasi. "Bagus. Kalau begitu, kita jalan." Elang lebih dulu melangkah keluar klinik. "Hei! Jawab dulu pertanyaan saya. Atas dasar apa Anda mau melaporkan saya ke polisi?" Nurul mensejajari langkah orang yang dipanggil Abdi. "Karena Anda terus menguntit atasan saya!" dengkus Abdi kesal. "Saya tidak menguntit. Saya hanya tidak sengaja menabraknya di kafe kemarin dulu!" tukas Nurul. "Lalu saat di pintu keluar Hotel Putra Mulia tadi siang? Ngapain Anda ke sana dan menabrak atasan saya lagi kalau Anda tidak punya tujuan lain padanya?" decih Abdi sesaat sebelum keluar dari klinik. Nurul mematung. Ternyata orang yang ia tabrak saat dia panik mendengar kabar Alfi terluka adalah laki-laki yang sama yang sama yang ia tabrak di kafe! Pantas saja anak buah laki-laki mengira ia menguntit atasannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD