"Lo yakin, Ki? Udah pikirin semua mateng-mateng?"
"Yakin, Ka. Udah nggak ada lagi yang perlu dipertahankan. Biarlah gue jalanin ini sendiri, gue yakin ini yang terbaik buat gue sama anak gue nanti."
Kirana sedang melakukan panggilan video bersama Karina, kembarannya yang kini menetap di negeri sakura mengikuti sang suami yang bertugas di sana.
Karina sempat terkejut dan tak percaya dengan cerita adik kembarnya, karena sepengetahuannya, Bima adalah sosok laki-laki yang baik dan setia sejak masih berpacaran dengan Kirana.
"Terus Mama sama Papa udah tahu?"
Perempuan berambut panjang itu menggeleng, Karina adalah orang kedua yang mengetahui kisruh rumah tangganya setelah Bi Nur. Kirana memang belum menceritakan semuanya pada orang tuanya. Seperti biasa, kesibukan kedua orangtuanya membuat Kirana merasa tak punya waktu untuk bercerita pada mereka.
"Ki? Lo kok nggak sedih atau nangis gitu kalau rumah tangga lo lagi begini?" Karina heran.
Kirana tersenyum. "Udah, kemaren-kemaren. Tapi percuma, tangisan gue nggak akan bikin Mas Bima berubah. Dan gue udah capek nangis terus, Ka."
Ibu hamil muda itu menghela napas, yang ia rasakan kini adalah kecewa berat pada suaminya. Bahkan rasa cintanya seperti sudah mati seketika melihat dengan mata kepala sendiri,Bima bersama perempuan malamnya. Sentuhan dan ciuman Bima tadi pagi pun sama sekali tak lagi menghantarkan getaran di hatinya, seolah semua terasa mati rasa.
"Sabar ya, Ki, peluk jauh dari gue. Pantesan kemaren-kemaren gue tuh mimpiin lo."
"Mimpi apa?" Kirana penasaran.
"Gue mimpi kita masih kecil gitu. Terus di mimpi gue, lo lagi nangis karena habis digangguin orang, tapi nggak jelas siapa yang gangguin lo. Dan kemaren-kemaren gue juga ngerasa kayak gelisah gimana gitu, Ki. Tapi gue nggak tahu kenapa dan apa sebabnya. Ternyata lo lagi tersiksa di sana, yah. Maafin gue nggak bisa nemenin lo ya, Ki."
Karina merasa bersalah tak bisa mendampingi sang adik yang sedang terluka, padahal dulu mereka biasanya akan saling menjaga dan menenangkan satu sama lain.
"Iya, nggak apa-apa, Ka. Minta doanya aja biar gue sama anak gue kuat jalanin ini."
"Pasti, gue doain lo, Ki."
Ingin rasanya perempuan yang wajahnya sama persis dengan Kirana itu memeluk kembarannya, tetapi apa daya jarak memisahkan mereka.
"Gimana pun juga kebahagiaan sama kesedihan datangnya dari Sang Pecinta, Ki. Manusia cuma bisa berusaha. Dan emang kita harusnya nggak boleh berharap lebih sama manusia, siapapun itu, yang ada nanti kecewa."
Kirana mengangguk mengerti.
"Gue yakin lo sama anak lo pasti kuat dan tahan banting nantinya."
Saudara kembar itu berlanjut berbagi kisah, terkadang terselip tawa di bibir tipis Kirana. Setidaknya bercengkerama dengan kembarannya membuat Kirana merasa lebih baik. Hingga seseorang masuk ke dalam kamar Kirana tanpa mengetuk dan merusak momen curhat dua saudari kembar itu.
"Kiran ...," ucap laki-laki tinggi yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Maafin Bibi, Non. Bibi udah cegah Den Bima masuk dari tadi, tapi dia tetep maksa pengen ketemu," ucap Bi Nur dengan napas tersengal usai tergopoh-gopoh mengejar Bima yang memaksa masuk ke kamar Kirana.
"Bibi boleh pergi."
"Baik, Non."
Bi Nur pergi meninggalkan pasangan suami istri yang sedang di ambang perceraian.
"Kirana, please ... aku mohon, maafin aku. Hukum aku dengan apa pun asalkan jangan bercerai."
Bima sudah menutup pintu dan mendekati Kirana yang sedang duduk di ranjang. Ia tak menyadari jika Kirana masih tersambung panggilan video dengan kembarannya.
"Hh ... buat apa aku hukum kamu, Mas? Aku bukan hakim apalagi Tuhan. Aku cuma pengen anakku suatu saat nanti ngerti, apa itu arti sebuah kesetiaan dan komitmen."
Kembali Bima dibuat mati kutu dengan sindiran Kirana. Mantan pemain band ini benar-benar menyesal tak bisa menjaga komitmen dan kepercayaan Kirana.
"Tapi, Sayang ... gimana nasib anak kita nanti, kamu tega akan biarin dia tumbuh tanpa seorang ayah?"
Bima memasang wajah memelas, berharap anak bisa menjadikan alasan istrinya mau kembali padanya.
"Dia nggak akan kekurangan kasih sayang, karena aku akan jadi ibu dan ayah buat dia." Kirana mengelus perut bawahnya.
"Sekarang silakan Mas Bima pergi dan jangan ganggu kami lagi,” usir Kirana.
Kali ini usaha Bima untuk berbaikan pupus sudah. Karena Kirana memang dikenal sebagai perempuan yang berpendirian kuat dan keras kepala. Dan sekali ia sudah memutuskan sesuatu, maka tak bisa lagi diubah.
*****
"Bima! Bagaimana bisa kamu sakitin anak Papa? Kamu pikir kamu siapa? Papa udah mati-matian jagain dia baik-baik dari kecil, kamu malah ngehancurin dia!"
Sidang dadakan dimulai. Kirana akhirnya menceritakan segala kebusukan Bima pada orang tuanya. Maka Pak Hamid segera meminta menantunya untuk datang menghadap.
"Maafin Bima, Pa. Bima sadar Bima salah. Tolong kasih kesempatan Bima buat perbaiki semua. Demi Kirana, demi anak kami, Pa." Bima kini bersujud pada ayah mertuanya, berharap masih ada keajaiban.
Pak Hamid melirik ke arah istrinya dan Kirana bergantian. Ibu Aini sudah terisak sedari tadi saat Kirana menceritakan kronologis kejadian. Sedangkan Kirana justru terlihat tegar, tak ada lagi air mata yang menetes.
"Kirana tetap mau cerai, Pa," ucap Kirana tegas.
"Kamu yakin, Nak?" tanya Ibu Aini pada putrinya.
"Iya, Kiran yakin."
Bima menggeleng tak mau menerima kenyataan, kini ia bergeser untuk berlutut pada istrinya, tetapi semua yang dilakukan Bima kini terasa percuma.
Kirana saat ini sudah berubah menjadi perempuan yang antipati dan tak peduli dengan apa pun yang dilakukan ayah dari anaknya. Baginya, Bima Yudha Pranata, suami yang dulu amat dicintainya telah mati, bersamaan dengan rasa cintanya yang terpaksa ia bunuh meski sudah belasan tahun hidup dan terjaga.
Pak Hamid sudah menelepon pengacaranya untuk mengurus perceraian Kirana dan Bima secepatnya. Ada semburat senyum dari wajah Kirana saat mengetahui keluarganya kini berpihak padanya.
Sedangkan Bima hanya bisa terduduk lesu dan menunduk. Tak ada lagi daya upaya yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan bahtera rumah tangganya yang akan karam.
Bahkan Pak Hamid meminta Bima untuk mengosongkan rumah paling lambat satu bulan dari sekarang. Karena sesuai permintaan putrinya, rumah harta gono-gini itu akan dijual.
Lagi, Bima merasa sudah jatuh tertimpa tangga. Setelah ini hidupnya pasti akan berubah 180 derajat. Karena ia harus menjalani hari tanpa Kirana dan calon anaknya.
*****
Seminggu setelah malam sidang dadakan di rumah orang tua Kirana, kini perempuan berselung pipi itu sedang mengemasi semua barang pribadi dan aneka perabotan koleksinya. Mobil box sudah terparkir di depan rumah. Beberapa orang laki-laki terlihat sibuk memasukkan barang-barang ke dalam mobil.
Kirana sedang memilih tanaman yang masih hidup dan bisa ia bawa pulang. Saat akan mengambil pot yang tergantung, Kirana kesulitan menjangkaunya. Tiba-tiba sebuah tangan kekar mengambilkan pot putih itu dan menyerahkan kepada Kirana dengan senyum yang mengembang.
Sempat bersitatap, tetapi Kirana segera memutus kontak.
"Terima kasih," ucap Kirana singkat, tak menanggapi senyum laki-laki tinggi di hadapannya. Bima kini mulai merasakan perih di hatinya.
Kirana lalu melanjutkan aktifitasnya mengumpulkan pot tanaman dan meminta kurir untuk memasukkannya ke dalam mobil box.
Saat seorang kurir hendak memasukkan satu bingkai foto pernikahan berukuran besar ke dalam kotak besi, Bima mencegahnya.
"Tunggu, Mas! Biar foto itu tetep ada di sini. Nggak usah dibawa."
Sang kurir melihat ke arah Kirana meminta persetujuan.
"Kasih aja, Mas. Lagian foto itu udah nggak ada gunanya, udah jadi sampah!" jawab Kirana ketus.
Bima mengangsur napasnya, berat. Kirana benar-benar sudah menganggapnya seperti orang asing. Dan itu sungguh membuat Bima amat tersiksa. Usai memasukkan barang ke dalam box, maka mobil angkutan itu berjalan menjauh.
Kini menyisakan dua insan yang pernah tinggal satu atap. Kirana sudah membuka pintu mobil, sampai sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Kirana ... boleh kan, nanti kalau anak kita udah lahir, aku lihat dia?"