Hari Sial

1037 Words
"Kirana ... boleh kan, nanti kalau anak kita udah lahir, aku liat dia?" Langkah Kirana terhenti, jemarinya terlepas dari handle pintu mobil kemudian ia berbalik. "Boleh, tapi hanya melihat, tanpa menyentuh," jawaban Kirana membuat hati Bima terenyuh. Kirana kemudian masuk ke dalam mobil, dan pergi tanpa kata perpisahan maupun pelukan. Bima benar-benar tak menyangka tindakan bodohnya berakibat fatal dan menghancurkan pernikahannya. Usai kepergian Kirana, Bima menatap sekeliling bangunan dua lantai bercat putih di hadapannya. Rumah yang menjadi saksi indahnya cinta mereka selama empat tahun terakhir, sebelum akhirnya badai meluluhlantakkan semuanya. Tak hanya orang tua Kirana, pun orang tua Bima sama reaksinya saat mengetahui putra sulungnya mencoreng nama baik keluarga. Bahkan ibunda Bima tak mengizinkan anaknya pulang sampai waktu yang belum ditentukan. Maka Bima terpaksa harus mulai mencari tempat tinggal baru sebelum ia diusir paksa oleh keluarga Kirana. Karena rumah yang penuh kenangan ini akan segera dipasang spanduk 'Di jual'. Perlahan, Bima masuk dan menyapu seisi ruangan yang terasa lebih lengang. Beberapa rak pot bunga, buku, sepatu dan tas koleksi milik Kirana sudah kosong. Langkah kaki Bima terhenti pada sebuah potret sepasang pengantin yang tergeletak di sofa. Laki-laki berjambang tipis itu terduduk di samping gambar dirinya bersama perempuan cantik nan anggun memakai siger di kepala. Segala rasa kini berkecamuk di d**a, hari-harinya pasti akan terasa hampa. Bima terpaksa harus merelakan istri dan calon buah hatinya pergi menjauh. Bukan sekadar fisik, tetapi juga hati. Pintu hati Kirana kini sudah terkunci rapat baginya.Tak ada lagi jalan untuk kembali bersama. Penyesalan pun kini tak ada artinya, Bima harus menerima hukuman yang setimpal atas perbuatannya yang dilakukan secara sadar dan berulang. Meski sekarang ia menyadari bahwa semuanya adalah salah. Laki-laki tinggi itu beranjak ke dapur, perutnya meronta meminta bahan bakar setelah membantu Kirana mengemasi barangnya. Namun, Bima harus sedikit kecewa, karena semua peralatan memasak telah dibawa pergi oleh Kirana. Menyisakan satu panci kecil dan satu teko untuk memasak air. Bima menghela napas saat membuka lemari atas dan hanya mendapati dua bungkus mi instan. Lelaki berkulit putih itu pun menggeleng dan menertawai dirinya sendiri yang mulai terlihat seperti gembel. Terusir dari rumahnya sendiri, ditinggal oleh istri dan dibenci keluarga. "Hh! Ngenes banget gue!" ***** Suara alarm menggema seantero kamar bertema monokrom. Untuk kesekian kali tangan Bima terulur mencari-cari keberadaan sumber suara dengan mata masih terpejam. Calon duda itu kembali terlelap setelah mematikan alarm. Tak selang berapa lama suara dering telepon terdengar nyaring. Bima pun meraba-raba kasur sampai tangannya menemukan benda pipih di bawah bantal. "Halo, Bima." "Hmm," gumam Bima tanpa membuka mata dan melihat siapa yang menelepon. "Kau tahu ini jam berapa, Bima?" Bima mengerjap mencoba mengenali suara bas yang tak asing di telinga. "Bima?!" Suara bentakan yang khas membuat Bima terlonjak dari tempat tidurnya. "I-iya baik, Pak." "Kau ini! sudah bosan kerja di sini rupanya?" Bima menelan ludah, suara Pak Sirait, Direktur Pemasaran cukup membuat Bima menciut. "M-maaf, Pak, saya kesiangan." "Cepat kau ke kantor, kutunggu kau di ruangan jam sembilan!" Bima melirik jam digital di nakas tertulis angka 08:40. Laki-laki berjambang tipis itu terbelalak hanya diberi waktu 20 menit untuk bersiap dan sampai kantor. Maka hanya dengan mencuci wajah dan berganti baju secepat kilat, Bima segera meluncur dengan sedan hitamnya membelah jalanan ibu kota yang mulai padat merayap. Kesialan seperti enggan pergi dari hari-hari Bima. Di perjalanan ia merasakan ban kanan depannya kempis. Mau tak mau Bima harus menepi dan mengganti ban. "Arrgh! Kenapa lagi, sih?! Mateng nih gue sampe kantor!" gerutu Bima. Saat sedang sibuk memasang dongkrak, sebuah mobil hatchback merah menepi tak jauh dari tempat Bima berada. Kemudian sesosok perempuan dengan setelan kerja dan sepatu hak tinggi turun dari mobil lalu menghampiri. "Bima?" Laki-laki yang menggulung lengan bajunya itu mendongak. "Selvi?" "Kenapa mobilnya? Kempes?" tanya perempuan ber-make up tebal itu. "Ya gitu, deh." Bima menanggapi dengan senyuman. "Mau gue bantuin?" "Nggak usah, Sel. Tar baju lo kotor lagi." "Nggak apa, santai aja, Bim." Selvi ikut berjongkok di sisi Bima. Tanpa mereka sadari, sebuah mobil sedan putih baru saja melewati mereka yang sedang asyik mengobrol sambil mengganti ban. Sepasang mata lentik menyipit, menyaksikan interaksi keduanya dari dalam mobil yang berjalan. ***** Bima keluar dari ruangan Direktur Pemasaran dengan wajah lesu. Dilonggarkannya ikatan dasi yang terasa melilit leher. Napasnya sudah terasa sesak sejak di dalam ruangan atasannya yang berdarah Batak. Telinganya terasa panas mendengar ceramah dan bentakan yang tak henti dari Pak Sirait. Hari ini adalah hari tersial bagi Bima. Bangun tidur kesiangan, ban kempis, datang terlambat ke kantor hingga dimarahi bos. Penampilannya sudah sangat berantakan, tak ada lagi aura positif yang terpancar. Sejak Kirana memutuskan berpisah, satu persatu hidupnya mulai tak tentu arah. "Bim, kusut amat lo?" tanya Alan menghampiri. "Makan, yuk!" Bima tak menjawab dan menyandarkan punggungnya lesu. "Duluan aja, lah. Lagi nggak mood gue." "Ck, kenapa sih, lo? Lemah banget jadi laki," ledek pria berkaca mata. "Ancur hidup gue, Lan. Nggak tahu dah habis ini ada apa lagi. Gila! Gue nggak nyangka pengaruh Kirana kuat banget di hidup gue." "Ya elah, Bim. Lo kayak nggak ada cewek lain aja. Mati satu tumbuh seribu, Bro! Lo mau cari yang kayak Kirana atau bahkan lebih juga banyak. Apa lagi lo good looking, sekali kedip juga banyak kali yang ngantri sama lo." "Ah, berisik lo! Gara-gara lo, gue jadi begini! Nyesel gue ikutan sama lo!" Alan justru terbahak, menertawakan nasib Bima. “Ya mangap, Bro. Lagian lo sih maennya nggak cantik kayak gue." Bima mendelik, Alan malah terkikik. Dering telepon menginterupsi keduanya, Bima melirik ponselnya dan mengernyit melihat nama yang menari-nari di layar. "Pssst! Hajar, Bro! Lumayan buat anget-angetan!" Alan masih tak lelah menggoda. Bima masih bergeming. "Sini gue yang angkat." Alan akan mengambil ponsel di meja, tetapi segera ditepis oleh Bima. Bima pun akhirnya mengusap layar agar telepon tersambung. "Halo, Bim, lagi sibuk nggak?" Sapa suara seorang perempuan. "Nggak kok, kenapa, Sel?" "Makan siang bareng, yuk." Alan sibuk mengkode agar Bima mengiyakan ajakan perempuan yang masih setia menyendiri itu. "Hmm ... boleh, deh." Terdengar suara antusias di ujung telepon. Alan pun ikut girang. Laki-laki berkacamata itu lalu beranjak dari duduknya dan mengeluarkan sesuatu dari saku celana. "Buat tar malem," bisik Alan di telinga Bima sambil menyerahkan satu buah karet pengaman pada Bima yang masih sibuk menelepon. Bima terbelalak melihat penampakan bungkus sachet bergambar buah strawberry. "Anjrit! Emang temen laknat lo!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD