Slow ceritanya? Iya, memang sangat lambat alurnya.
Selamat membaca, semoga berkenan.
--------
Imam Junaidi sedari tadi menahan diri untuk tidak mengetuk kepala sahabatnya. Dari cara Rahmadi memandang Ari saja dia tahu, pendar serupa kumparan elektron berwarna merah muda. Tahu apa artinya merah muda? Ketertarikan pada level akut.
Pak Imam bertopang dagu setelah menyelesaikan makan siangnya. Memandang Ari, dengan isi kepala menumpuk berbagai andaian dan pertanyaan.
Pria paling ganteng di Departemen Produksi pada zamannya itu, zaman ketika istilah unicorn, decacorn, dan hectocron belum musim. Pria itu beberapa kali membuat huru-hara agar tercipta obrolah yang mengalir.
"Nong, kalau mau nyari ganti susah, ya?Limited edition! Tajir dan ganteng. Iya, mantan kamu itu."
"Biasa saja, Pak."
Rupanya membicarakan Opick dengan para pria matang ini tidaklah semengerikan saat berbicara dengan para perempuan yang notabene teman-temannya. Mereka memandang Opick sebagai pesakitan. Sedangkan kedua orang di hadapannya lebih realiatis. Memandang semua sebagai resiko bisnis.
Nggak tanggung-tanggung, nih. Sultan gitu levelnya.”
“Bukan sultan, kok. Belum naik tahta soalnya."
"Bisaan ngelawak, ya, Ri. Jangan main serobot jobnya Nunung, dong."
"Nggak lah, Pak. Nggak mungkin lagi Ari diterima jika daftar OVJ. Lagipula, Ari punya teman saat kuliah dahulu, ibunya seorang pelawak. Ibu tunggal yang dari honor ngelawak di panggung lenong dapat memberikan pendidikan untuk putrinya sampai menara gading."
"Memang OVJ masih ada?" gurau Pak Imam. "Kasih tahu nama pelawaknya, dong? Pelawak Betawi kan nggak banyak. Kali aja, Pak Rahmadi kenal."
Ari memberengut. Pak Imam ujung-ujungnya melagakan dirinya dengan Pak Rahmadi.
Sebenarnya Ari tidak mengarang soal ini. Perihal sahabatnya yang memiliki ibu seorang pemain lenong. Ari pernah beberapa kali datang ke rumahnya dahulu. Rumah Renata berada di sebuah gang sempit. Tidak ingat letaknya secara pasti yang jelas mereka naik KRL dari Bogor dan turun di Stasiun Pasar Minggu. Perkampungan di dekat sana yang luar biasa padat itulah kediaman Renata, ibu, dan dua saudaranya. Saat ini Renata justru bermukim di Swedia karena ikut suaminya yang melanjutkan kuliah Kedokteran Hewan. Setelah tamat, justru enggan pulang dan bekerja di sana.
"Pokoknya ada, deh."
"Hmmm. Gitu. Eh, balik lagi pertanyaan tadi soal limited edition. Mantan kamu yang ganteng, tajir. Susah mau cari gantinya?"
"Kalau tajir, ganteng, mata keranjang berserakan, Pak, di tepi jalan. Yang jujur, hanif itu yang Ari cari. Tetapi, itu ntarlah. Banyak yang harus dinormalisasi, nih. Mencari pasangan, bukan prioritas utama saat ini. Toh, sepuluh tahun manis asinnya berumah tangga saya sudah rasakan.”
Ari menghela napas, meminta ponselnya kembali dari Kenyo.
"Oh, sudah sepuluh tahun," gumam Rahmadi ikut andil meski sambil lalu.
Tentu saja cara pria itu bergumam membuat Ari sebal. Kenapa rupanya dengan angka sepuluh?
“Di, Nadi belikan ponsel, napa. Gangguin punya, Ari. Eh, Nad, ponsel kamu mana, sih?”
“Nadi jual pas lari dari Mama. Buat bekal.”
“Hah? Itu mahal. Kamu jual berapa?”
“Sejuta, Om.” Kenyo dengan wajah tak berdosa menghitung sisa uang yang ada di tas kecilnya. “Ini, sisa 500 ribuan sekian. Aku tuh, hemat, cermat dan bersahaja, Om. Apalagi sejak kenal sama, Suhu.”
Pak Imam terpana memandang wajah Kenyo yang berseri-seri seperti menang lotre. Sinting anak Rahmadi ini. Masalahnya ponsel milik gadis itu bukan sembarang android murah. iPhone.
“Di, wayahe lahiran Nadi, ora kelalen sire? Mpun bayar lunas opo durung nazar e? Bisa b**o jabang sire!”[1] bisik Pak Imam.
Rahmadi mau tak mau mendongak menahan tawa karena tak tahan dengan sindiran sahabatnya itu. Untung saja dirinya tidak tersedak tulang iga sapi.
“Sedanten sudah. Lagian, aku cuma nyumbang setengah. Yang nazar kakek neneknya,” ujarnya sama lirih.
“Ehem! Pak Imam sudah tahu belum, Bobby mau lompat ke Oil?”
Ari tiba-tiba menyela. Melihat keintiman dua pria tua itu ketika saling berbisik tanpa melibatkan dirinya membuatnya merasa terabaikan. Jempol Ari yang tadi mulai menari di atas keypad kemudian berhenti di tengah jalan. Dia lalu menghapus pesan setengah jadi itu. Bagaimana kalau sebenarnya Agusta sudah punya sebuah petunjuk. Kartu yang membuat Ari harus benar-benar kembali pada Opick? Tidak!
“Ohhh, tahu. Baru bisik-bisik, orang HRD belum tahu. Tawaran dari temannya yang di Abu Dhabi? Jaringan alumni katanya. Memang kamu mau nglamar juga, Nong?"
"Nggak. Ari tanya, Pak."
"Coba dulu. Kamu perlu suasana baru. Cocok Nong, itu Pangeran Arab masih ada yang lajang. Bisa itu diprospek. Atau mau saya carikan, yang dekat-dekat sini. Banyak stok.”
Pak Imam menaikkan kedua alisnya. Tangannya mekambaikan tisu ke kiri dan ke kanan. Seperti prajurit dengan panji-panji putih yang berarti menyerah. Hadew.
“Oh, Pak Imam, udah mau purna tugas, ya? Buat start up gih. Perusahaan rintisan aplikasi jodoh. Nolongi lajang, jomlo fisabillilah banyak pahala, lho, Pak.”
Semua tertawa mendengar apa yang Ari katakan, tak terkeculai Kenyo. Ari hanya sejenak terkekeh, kemudian mengeleng.
"Nong, saya gih masih muda. Sudah ditanya kapan purna tugas."
“Habisnya nggak nyambung. Bobby koar-koar di grup. Jadi saya tanya bapak sebagai bosnya. Gitu aja, sih.”
Sudah dua hari ternyata Ari dimasukkan kembali ke grup angkatan.
“Kayaknya nggak, deh. Jarang sih jumpa orang udah enak di plat merah terus pergi. Kecuali dia, noh!” tunjuknya pada Rahmadi.
“Sepertinya, Bobby minat tuh. Kebetulan ada senior sudah lumayan lama di Abu Dhabi. Bagian drilling atau Piping.”
“Perusahaan mana, senior kamu?” Rahmadi menjeda suapannya, mulai tertarik pembicaraan tentang lowongan pekerjaan yang dibicarakan Ari.
“Tahu, Pak Adi. Bentar—” Ari mengguliri percakapan di grup. “Abu Dhabi Resource Oil atau apa, ya
Sudah saya hapus ternyata perusahaan yang hire.”
“Piping Engineer? Jangan-jangan buat depak posisi kamu, Di? Kelamaan cuti.” Pak Imam tertawa yang membuat Ari sedikit terperangah.
“Eh, Bobby lingkungan, kok. Bukan teknik seperti bapak berdua. Mungkin gitu ambil kerjaan, piping?”
“Nggak bisa deh, kayaknya. Jun, Nares. Karena kerja-kerja piping ini membingungkan kalau sudah di aplikasikan ke kurikulum. Bisa masuk ke Teknik Mesin, bisa juga Teknik Sipil. Senior kamu itu, mungkin kuliah lagi. Lingkungan, 'kan?”
"Butul sekali. Lingkungan, sih."
"Siapa tahu ambil S2."
“Bisa jadi. Terus, dari ngurusi pipa air jadi ngurusi pipa minyak. Nyambung sih.” Ari terkekeh. “Kalau air bikin tenggelam, kalau oil bisa terpeleset ini! Spec-nya beda, ya, Pak?” Ari justru mengoda pilihan Rahmadi yang terpelanting di minyak.
Rahmadi tergelak. “Yah, kurang lebih sama. Kalau aplikasi di darat, ya, onshore pipelines, piping, untuk PDAM, perusahaan air kita itu, jaringan kabel, gas juga. Kalau di dalam laut offshore pipelines.”
“Sire di mananya, Di?”
“Offshore.”
“Beda duitnya, ya, Pak. Kalau di laut harus nyelam. Lebih krusial gitu.”
“Beda dikit. Kalau soal krusial, setiap job punya tingkat kesulitan sendiri-sendiri. Tapi, istilah orang pipeline ini prinsip kerjanya mudah: kalau kepanjangan ya dipotong, kependekkan, ya disambung,” tegas Rahmadi tanpa ekspresi berarti.
“Ngerti nggak, Ri, Nad?” Pak Imam terbahak.
Kenyo celingukan ketika namanya disebut. “Bodo!” ketusnya.
Ari menebalkan muka menghadapi otak berkarat pria-pria matang di depannya. Ngeres. “Tenang, Nad. Suhu yang transfer ilmunya, ntar. Itulah tugas Suhu.”
“Ya ampun, Di. Ilmu pipanisasi terbukti, ya, bikin Ari merah gini.”
“Ehmm!”
Ari langsung memotong kegilaan Imam Junaidi. Gayanya si bapak ganteng ini, tetap saja jauh dari kewarasan. Obrolan orang-orang pikun.
"Nong jangan marah. Becanda biar awet muda."
“Oh, Pak Adi selama ini menepi jauh, ke Abu Dhabi? Pantesan jauh dari Nadi.” Ari mencoba bertanya tentang pilihan Rahmadi yang menjauhkan pria itu dari putrinya.
“Iya, Jauh, ya, jadi buruhnya. Kebetulan saja cocok harganya.”
Suasana hening seketika. Deru kipas, desisan bibir, sendok yang beradu dengan mangkuk juga piring mendominasi tempat itu.
Satu sisi Rahmadi yang tenang itu seperti terbuka selapis demi selapis. Rahmadi mengucilkan diri di tempat yang jauh. Sedangkan posisinya dahulu sangat bagus. Perusahaan plat merah yang diidamkan banyak orang.
Kerja di perusahaan minyak memang prestise. Ari ingat beberapa senior akan disebut-sebut para dosen, saat kelar wisuda saja langsung dapat kerja di tempat itu. Sepertinya kasta tertinggi. Diikuti tambang, sawit lalu PNS LH. Justru yang tidak terdengar bunyinya di grup adalah yang terpelanting menjadi guru. Lebih lucu, tidak terdengar kabar ada anak lingkungan angkatannya, atau seniornya yang rela berseragam LSM lingkungan. Walhi atau Greenpeace. Entah para juniornya. Semboyan sahabat alam, bisa jadi terbalik, menjadi eksplorasi alam sebesar-besar kemampuan.
“Mungkin ini sedikit sensitif. Duitnya minyak banyak, incaran freshgrad, tetapi tempat lama, enggak kalah mentereng. Atau, Pak Adi udah pengalaman di piping onshore, sengaja nyari suasana baru, ya?”
“Relatif lah. Kalau itung-itungan banyak duitnya, yang punya saham jelas lebih tajir melintir lagi, Nares. Perusahaanku, ada kerja sama dengan perusahaan Rusia juga Indonesia. Mengincar kantong minyak di pesisir Aceh. Persada Bumi Resources, Inc. Itu, ada share milik keluarga suami kamu. I correct, your ex Taufik Hairul Aman.”
Ari menggigit sisi dalam pipinya. Dia membaca air muka Rahmadi yang mengeluarkan seringai mengejek. Mengejeknya kerena buta bisnis mantan suami dan keluarga besarnya.
Apa yang baru saja keluar dari mulut Rahmadi sekaligus membungkam Imam Juanidi yang secara masif mengumpan dirinya untuk mendekati janda berhias seperti Ari. Dia tahu kastanya. Meski perempuan tidak melulu luluh karena uang, tetapi dari kaca matanya, perempuan muda di depannya terlalu jauh. Mendengar nama mantannya saja membuat otak seketika panas. Lagak Ari yang sok bijak ala ustadzah itu membuat Rahmadi gerah dari dulu, bisa-bisanya jatuh di lahan basah juga.
Namun, ketika dihadapkan pada keharmonian bersama putrinya, tak dipungkiri itulah pancaran kemolekan sesungguhnya, sekaligus daya tarik yang sangat sayang untuk dilewatkan. Mengalahkan cantik. Karena, jujur, menimbang dari paras fisiknya, cantiknya Ari hanya pada kata manis, jauh bila dipadankan, dengan Erlita. Ari bukan jenis jelita tiada tara seperti Princess Disney. Bukan. Namun, apa sih yang dicari duda tua sepertinya, kalau bukan perempuan matang yang mampu mengurusi anaknya yang tengil itu.
Kalau bukan mantannya Opick, Ari sangat bisa dijadikan kandidat. Namun, apa Rahmadi butuh pasangan? Setelah kegagalannya dahulu, hidupnya yang tak baik-baik saja? Rahmadi masih mengamati gelagat Ari yang mulai salah tingkah sejak dia menyebut aset keluarga mantan suaminya.
“Dari semuanya, kita patut bersyukur. Ari sudi ambil berat urusan Nadi," ujar Pak Imam.
Rahmadi tetap melanjutkan makannya dalam diam. Apa yang dilakukan pria itu membuat Iman Junaidi kesal.
Meskipun tahu Nadi sebelas dua belas seperti Mama dan abahnya, Ari sudi mengurusi segala kerempongan yang ada.
"Ari, apa yang membuat kamu mau-maunya ikut ke sana ke mari dengan urusan Nadi? Kamu, kan rada, illfeel sama Rahmadi. Iya, Nad, mereka berdua dahulu seperti anjing dan kucing, dulu.”
Suara Pak Imam kembali merobek kesunyian. Pria itu tergelak besar berusaha mendinginkan suasana yang sedikit panas. Sangat tidak tahu terima kasih, si Rahmadi ini.
Rahmadi menggumam tak jelas.
“Tuan-tuan yang saya hormati,” helah Ari perlahan. “Ada hadist sahih yang saya tahu. Tetapi, saya lupa siapa perawinya.”
Pak Imam berdehem, Rahmadi terbatuk-batuk seketika.
“Mau dilanjut enggak? Kok, pada keselek biji salak gitu?”
“Hmmm ....” Kedua pria itu mengangguk tak ikhlas.
“Ada satu hal yang nilainya jauh lebih utama dari derajat puasa, salat, dan sedekah?” Ari menghela napas sebentar. “Yaitu, mendamaikan perselisihan. Karena karakter perselisihan itu membinasakan!”
Tadinya Rahmadi hampir mendenkus. Dalam hati dia bahkan berbisik, kan, kumat jiwa sok ustadzahnya. Namun, begitu mendengar apa yang meluncur dari bibir perempuan muda itu, tanpa dibuat-buat, jauh dari kesan mengurui, dia mulai sadar Ari bukan sosok yang beragama secara kolot. Yang sok dalam segala hal. Sok suci, sok berilmu, dan sok paling benar. Namun, Ari menyampaikan yang dia tahu, tanpa ingin disanjung secara berlebihan sebenarnya.
“Nareswari, terima kasih, ya, untuk semua. Bapak belum sempat ucapkan dari tadi pagi. Terima kasih untuk waktunya. Sudah menjaga, membantu Nadi melewati semuanya.”
“Alhamdulillah ….” Pak Imam tersenyum mengamini.
Ari mengangguk lalu meneguk minuman. “Sama-sama, Pak Adi. Panggil Ari saja, njih!”
“Aku lebih suka manggilnya Nares. Nareswari artinya permaisuri, ‘kan? Kok aku baru sadar nama depan kamu secantik itu.”
Ari mengangguk. Entah kenapa dia jadi tersipu-sipu, menegang secara bersamaan. Yah, Nareswari itu permaisuri. Selama ini, tidak ada orang yang menegaskan arti nama depannya.
“Halah, ngeles. Orangnya juga cantik. Dulu aja kamu enggak kedip liatnya, apalagi sekarang,” bisik Pak Imam terbahak.
Rahmadi menanggapi dengan senyum dikulum. Bagi Ari senyum pria tua itu kenapa begitu menganggunya, ya?
------------
1. Di, saat Nadi lahir kamu gak lupa? Nazarnya sudah dibayar lunas? Bisa b**o gini anakmu.