Siapa yang masih hobi maen games?
Selamat membaca, semoga berkenan.
-------------
Perjalanan mereka bertiga baru dimulai sepuluh menit yang lalu. Meninggalkan bola merah raksasa bergulir pada horizon barat. Mobil melaju dengan pelan, dan perdebatan sepertinya mengakrabi mereka akhir-akhir ini. Seperti hal remeh, siapa yang lebih layak ada di kursi depan, lebih tepatnya menjadi asisten sopir.
Lagi-lagi Ari harus mengalah sambil menghela napas. Yang ... yah, ini tidak akan lama, 'kan? Setelah sampai Jakarta urusannya adalah menjenguk Ende. Sampai saja kampung halamanya, urusannya adalah D'Jinggo juga mengorek apa yang Dimas sembunyikan darinya.
Pandangannya kini bertumpu pada sekotak kue brownis yang dihias cantik.
"Mbak, ini ada titipan."
Pihak kasir yang menyodorkan dua kotak kue ketika Ari mengekori Rahmadi saat mengurus pembayaran makan. Saat dua kotak itu sampai di tangan, ponselnya langsung bergetar. Pesan dari Kamila.
Mila
To:Ariuless
Patik tak berdaya, Kisanak. Satu meja dengan Paduka Imam Junaidi. Mending kungkum ke Laut Jawa, ketemu ikan hiu. Kirim salam aja, ya.
Ttd,
Kamila yang Tak Berkilau.
Ari terkekeh geli membacanya. Apalagi Kamila pernah bercerita terserempak Andri, di sebuah persimpangan. Yang menggelikan, bukan menyapa, Kamila cepat-cepat menurunkan kaca helm, lalu kabur menstater motor maticnya seperti dikejar debt colector. Pernah juga berjumpa dengan anak magang lain saat berbelanja di salah satu waralaba asal Negeri Jiran. Berusaha sembunyi, Kamila bahkan sampai menabrak tumpukan s**u kental manis kaleng saking gugupnya. Sangat berbeda dengan sosok yang dikenalnya belasan tahun silam.
Apalagi sekarang ketika mengetahui harus berhadap-hadapan dengan Imam Junaidi, pria matang yang pernah dia puja. Pria yang membuat persahabatan mereka naik turun. Retak meskipun kembali erat tentu sangat berbeda rasanya. Ari sudah memaafkan Kamila.
"Ri ... maaf, ya."
Saat itu Ari masih menerawang langit-langit rumah sakit. Rasa sakit di sekujur tubuhnya, tak seberapa sebanding rasa malu dan terhina. Kata maaf yang didengungkan Kamila, yang tak tahu untuk apa lafaz maaf itu. Maaf dan maaf hingga ke malam yang larut.
"Aku jumpa istri Pak Imam di toserba. Aku meminta nomer ponselnya juga."
Kamila adalah orang yang menelpon istri Imam Junaidi. Telepon dan pesan yang berujung kesemrawutan masa lalunya. Ari tahu, sebesar itu api cemburu bisa melalap sebuah persahabatan. Kamila baru menuturkannya, di malam ketika esoknya, Ari bergelar sebagai Nyonya Taufik Hairul Aman. Meskipun tak benar-benar lupa, memaafkan sahabat itu adalah pilihan terbaik. Bukan semata kesalahan Kamila. Ari yang lena mendapat perhatian lebih, lalu mendulang sebuah nestapa.
Seketika melihat sosok tegap Pak Imam, otaknya ligat berpikir satu hal. Sepertinya perlu sedikit keisengan Ari untuk mengingat romansa masa lalu itu. Ketika mengulurkan satu kotak, sekaligus nota dari Kamila, dia ingin melihat respon pria itu. Benar saja, ada riak terkejut, kemudian memerah seketika membaca pesan itu. Skor satu sama. Dari tadi pria tua itu asik mengacaunya.
Mobil yang mereka tumpangi bergerak pelan. Wajah pesisir Banten benar-benar berubah pasca tsunami. Kalau biasanya banyak warga metro yang berbondong-bondong menuju Banten untuk berlibur, di awal tahun ini justru banyak warga Banten keluar dengan tujuan daerah sekitar Jakarta atau kota penyangganya. Jalan tol yang menghala ke dalam kota tampak lengang, hanya didominasi truk tujuan pelabuhan. Sebaliknya pada lajur ke luar kota tampak padat merayap.
"Kenyo! Eh, Nad, mau brownis? Cinta Papa!"
"Hah! Ada, gitu?"
Ari menyodorkan sepotong. Lalu menoleh ke samping, "Pak Adi mau?"
"Mau. Tapi, gimana makannya. Saya lagi pegang kemudi. Kecuali ada yang nyuapin."
Ari mengernyit dengan jawaban itu. Ini godaan atau serangan jalur darat? Perasaan dahulu Rahmadi tidak pernah berbicara yang nyrempet-nyerempet. Istilah yang rawan diterjemahkan sebagai modus.
"Lagi macet. Makanya saya tawarkan. Ini product milik Kamila. Bapak masih ingat Kamila?"
"Nggak."
Rahmadi melirik Ari sekilas lalu kembali fokus pada jalanan yang seperti tumukan kardus.
Dia menyembunyikan riak malu itu, dan tidak berusaha merespons jawaban singkat Rahmadi. Ari malah mengalihkan pandangannya ke depan. Suasana kembali hening, suara gim dari ponselnya yang dimainkan Kenyo justru mendominasi.
Helaan berikutnya muncul ketika ponsel yang ada di tangan Kenyo bergetar akan panggilan masuk seseorang. Membuat gadis itu memberengut, lalu dengan tak rela memindah tangankan ponsel itu pada pemiliknya. Ari harus memberi lirikan tajam sekaligus deham pada Rahmadi untuk mengambil celah kosong itu. Jari Ari juga tidak tinggal diam. Beberapa kali dia mengetuk dasbor sampai pria itu menoleh ke depan, ke samping lalu menaikkan pandangannya pada cermin tengah.
"Apa? Kenapa?"
"Lihat Nadi."
Dengan mengedikkan bahu, Rahmadi memasang tampang b**o dalam seper sekian menit lalu berbisik, "kenapa sih nggak ngomong to the point!" Rahmadi menyodorkan ponselnya untuk diinvasi Kenyo.
Bahkan untuk hal yang sangat simple seperti itupun, Ari harus memberinya kode keras. Meski awalnya terlihat ragu, gadis itu menerima juga ponsel milik abahnya.
Kalau ponsel Ari setelah berpindah tangan pada Kenyo terdapat, gim Pac-Man, rasanya ponsel pria itu juga akan bernasib sama. Mungkin Kenyo merasa menjadi Pac-Man yang terjebak pada labirin yang menyesatkan. Dikejar-kejar hantu Blinky, Pinky dan teman-temannya.
Entah dari sekian gim yang serupa candu, dia memilih gim jadul itu.
Dahulu Ari juga meminatinya, sedikit. Gim bermakna buang waktu, dan membuat leher sakit, meski ada beberapa orang mendaulatnya sebagai release tention— obat kekacauan pikir akibat lelah bekerja atau belajar. Gim bisa me-release otak. Terserah. Namun, Ari merasa ini bukan masanya lagi baginya untuk menundukkan pandangan hanya untuk Pac-Man.
Godul bashor. Ya, benar sekali yang harus Ari lakukan adalah menundukkan pandangan pada pria di sampingnya. Hukumnya fardu ain.
"Paku-paku aku membutuhkan brownis, Cinta Papa."
Ari menoleh, jemari runcingnya menjejali mulut Kenyo yang mangap dengan potongan brownis.
Dalam bahasa gaul Jepang, paku- paku menggambarkan gertakan mulut yang terbuka dan tertutup. Maka itu, karakter sentral yang menyerupai pizza kecil yang diberi mulut tersebut diberi nama Pac-Man.
"Paku-paku perlu pil kekuatan!" teriak Kenyo.
Ari menguap tanda mulai bosan. Matanya terlihat sayu. Namun, ia tengah menunggu balasan pesan dari kakaknya.
"Paku-paku!" Kini Kenyo mulai menggerutu tak jelas.
"Makan sendiri, ah. Kek, hidupmu susah saja."
"Hidupmu tidak serumit hidupku, Su. Terjebak dalam labirin yang menyesatkan. Aku perlu menjiwai kesigapan Pac-Man lolos dari sergapan hantu."
Oke! Ari harus mengalah. Bersilat lidah demi Pac-Man yang wujudnya menggelikan itu akan menjadikan dirinya naik gila.
Pada dasarnya hal yang menyesatkan itu ada dalam alam pikiran masing-masing. Bukankah isi kepala kita juga serupa labirin yang pada setiap lorong dan tikungannya menyimpan potensi ledakan untuk diredam.
Apa yang sekarang bersarang di kepalanya serasa mau pecah. Semua pihak menuduhnya menjustifikasi keadaan. Wajar dia membela dirinya sendiri, itu murni bela diri apalagi ketika semua menyalahkannya. Sampai-sampai seorang Dadang berhasil membujuk kakak sulungnya. Apa tidak cukup, apa yang dia janjikan?
Serentetan nasihat yang baru saja menyapa gendang telingannya, lalu secara otomatis menstimulus labirin yang ada dalam kepala. Nasihat yang berduyun-duyun datang untuk menyesatkan.
Demi Allah, Aku sudah lebih dari dewasa, sudah tiga puluh tahun lebih, jerit Ari pilu memandangi ponselnya.
"Kenapa? Butek banget?"
Ari menatap sisi kiri pria di sampingnya yang masih khusuk dengan jalanan yang sedikit tersendat.
"Lihat jalan padet bawaanya butek."
Minggu ke dua setelah peristiwa yang meluluh lantahkan pesisir Banten masih membuat beberapa mobil lebih nyaman untuk keluar dari Banten menuju luar kota. Yah, industri pariwisata yang masih lumpuh, padahal saat normal apalagi musim perayaan seperti akhir dan awal tahun masehi, atau di ujung pekan seperti saat ini, baik pintu tol barat maupun timur Cilegon kendaraan untuk masuk ke daerah Anyer sudah mengular.
"Bohong. Bukan itu pastinya."
"Biasa, Pak. Entah maunya mereka apa sih?"
Rahmadi tersenyum, kerutan di sekitar matanya muncul. Pria itu melirik sekilas pada Ari yang memijat pangkal hidungnya. Beberapa kali menguap. Ketika macet kembali menghadang mobil mereka, lengannya langsung mengapai tuas dan seketika sandaran jok yang di duduki Ari rebah.
"Ehhh ...."
Hanya itu yang mampu Ari ucapkan untuk kekagetannya akan tindakan kilat Rahmadi.
"Lebih nyaman, 'kan? Cobalah tidur. Aku tahu, semalaman kamu nunggu abahnya Nadi datang. Ternyata yang ditunggu datangnya pagi-pagi."
Ari menegakkan kembali sandaran joknya. Menyembunyikan rasa jengah. Jengah, karena perhatian lebih yang tak seharusnya. Jengah akan senyum Rahmadi yang ... entahlah.
"Yah, Pak Adi baiknya enggak bisa diramal deh kek gempa. Ujuk-ujuk gitu."
"Haaa, bisaan. Kamu ambil berat keadaan Nadi dengan sangat baik. Melebihi perhatianku, padanya. Oh, ya banyak keluar duit kamu?" Rahmadi melihat Ari akan membuka mulut untuk membantah.
"Enggak juga."
"Stttt! Ya, aku tahu, kamu lebih dari cukup duit. Tapi, tolong jangan membuatku menjadi semacam lelaki b******k yang nggak hidupi anaknya."
Ari terjengit dengan istilah yang meluncur dari mulut pria itu. Melirik Kenyo yang masih menekuni ponsel.
"Setidaknya, can I to be a batter man. Figur ayah yang baik," imbuh Rahmadi tanpa menoleh sekalipun. Menatap jalanan dan kemacetan.
Ari tersenyum, mengingat sesuatu. Sesuatu yang tidak sengaja dia dengar.
"Kalau Pak Adi ngomongnya berirama gini, saya ingat pas nyanyi lagunya Robbie Williams, 'Loar, I'm doing all I can. To be a Better Man'. Ingat? Pas ulang tahun perusahaan, Bapak naik ke panggung diseret sama Pak Imam sama ... atau, siapa, ya?" Ari mengerjapkan mata mencoba mengingat-ingat. "Pak Direktur Produksi, ya, kalau tak salah."
Rahmadi hanya membalas dengan tawa kencang sampai gigi gingsulnya nampak. Ari bahkan tak sadar kalau pria di sampingnya ini punya gingsul di sebelah kiri, juga kerutan di ujung mata itu semakin nyata.
Rahmadi tidak habis pikir kenapa kejadian memalukan itu masih membekas pada ingatan perempuan muda di sampingnya. Bagaimana ini, seketika perasaannya seperti balon gas yang mengangkasa.
"Pstttt!"
Perempuan itu berdeham beberapa kali mencoba menghentikan ledakan tawa itu. Sambil matanya meliar ke arah cermin tengah, di mana pantulan Kenyo yang ternyata sudah terkantuk itu membuatnya menarik napas lega. Meski merasa pelik, kenapa perawan kencur itu mudah sekali terlelap akhir-akhir ini.
Ari kembali mengalihkan tatapannya pada pria yang kini sedang bersenandung lirih itu. Mungkin Rahmadi mulai merasa nyaman dengan kehadirannya. Mungkin?
"Pak Adi ternyata gingsul, ya? Saya, baru sadar. Mungkin karean gingsulnya jauh di belakang, ya?"
"Oh, kamu yang kurang perhatian sama saya selama ini." Mereka tertawa bersama. Lagi. Akan tetapi, Ari kemudian mendengkus kesal. "Kamu tahu nggak?"
"Enggak!" Ari melempar senyum manisnya. "Kok, Pak Adi jadi cerewet?"
"Dari pada ngantuk," ujar Rahmadi kalem. "Gini, ada satu mitos di India bahwa seorang anak gadis yang terlahir gingsul harus dinikahkan dengan hewan. Biasanya anjing atau kambing. Semacam tolak bala agar dia tak dimakan harimau atau bernasib buruk."
"Serius?" Ari sampai memiringkan duduknya.
"Ya, serius! Umur sembilan tahun gitu, upacaranya. Jadi, biar masa depannya terjamin ada upacara ritual nikahan itu. Nikah sama kambing."
"Pakai kalung bunga?" tanya Ari begitu berminat.
"Namanya tradisi Varmala, karangan bunga merupakan simbol lamaran pernikahan. Seorang gadis yang telah mencapai usia menikah dia akan mengikuti upacara Swayamvar. Dalam ini mempelainya kambing atau anjing."
"Kalau anak lelaki, enggak? Curang! Aturan Bapak kalau jadi orang India bakal dikawinkan sama kambing."
Kali ini Ari tak dapat menahan tawanya. Bayangan Rahmadi bersanding dengan seekor kambing, tak ketinggalan ronce bunga warna-warni menghiasi lehernya.
Rahmadi menanggapinya dengan tawa yang sama girangnya. Namun, pandangannya tetap fokus ke depan. Justru Ari yang matanya kembali meliar ke belakang. Dia tidak siap seandainya keakraban itu akan disalah artikan oleh Kenyo. Karena pada kenyataanya Ari dan Rahmadi, tidak baik-baik saja hubungannya di masa lalu. Hanya saja, sekarang sedikit cair.
________