Bab 41-Dua Berita

1496 Words
Judulnya tidak mewakili isi. Mbuh! Bingung saya .... Selamat membaca, semoga berkenan. --------------- Semua mobil berhenti, entah ada apa di depan sana. Jelasnya, kemacetan itu mengular sampai jauh. Banyak pemakai jalan tol meninggalkan kendaraannya, lalu duduk di rerumputan sepanjang tol. Saling bergerombol, mengobrol, ada juga yang termenung sambil menikmati nikotin di bibir. Ari mungkin sedikit kelewatan ketika iseng bertanya, soal, apakah Rahmadi piawai menggesek biola seperti halnya Kenyo. Pria itu tersenyum kemudian mengapai alat musik yang berada tak jauh dari tempat Kenyo tertidur. Ari berada di luar mobil, menyandarkan tubuh pada baja pembatas tol sambil bersedekap ketika Rahmadi mencoba memainkan lagu lawas. "Can’t help falling in love. Kenal lagu ini? Salah satu lagu lama dan not-nya yang saya ingat di luar kepala." "Saya nggak tahu yang mana satu. Tapi saya paham, Pak. Itu pasti sesuai dengan zamannya. Zamannya Pak Adi muda dulu." "Zaman, saya?" Rahmadi mendesis. Dia berupaya menahan tawa. Rupanya, setua itu dirinya di mata Ari. "Lha, mosok yo saya? Zaman saya itu sudah Agnes Mo, Rihanna, Pink, Justin Bieber, sama Maher Zain." "Oke! Saya mulai, nih." "Ini lagu populer, deh!" jerit Ari ketika biola mulai mengalun. "Sangat populer," bisik Rahmadi. Hanya beberapa lagu lawas yang mampu Rahmadi mainkan. Itu yang jadi alasan kenapa memilih lagu milik Elvis Presley. “Ish, ini saya pernah main, deh.” Ari mengerakan jarinya. Untungnya Ari ingat meski tak benar-benar hapal yang mana satu lagunya. Dia mangut-mangut juga saat Rahmadi mengatakan lagu itu popular. “Iya, saya waktu itu main pakai seruling. Pas masih SMP. Elvis Presley.” “Dapat nilai berapa?” “Tujuh! Itu juga ngulang tiga kali.” Ari membuat pengakuan. “Nama guru seni musiknya aja saya masih ingat. Pak Tyas Hantoro.” Rahmadi hanya tersenyum, tak melanjutkan pertanyaanya. Dia fokus dengan gesekan biolanya. Ari bahkan ingat nama lengkap guru seni musiknya. Antara gurunya menyebalkan atau terlalu menawan. Dua itu yang membuat seorang guru lekat dalam ingatan muridnya. Beberapa orang menoleh, sebagian ikut mendekat, posisi Rahmadi memang sediki tersembunyi. Awalnya Rahmadi duduk di kursi yang tadi diduduki Ari, dengan hanya membuka satu pintu, kaki menapak pada aspal. Mungkin merasa kurang selesa, hingga akhirnya dia memilih berdiri. Saking menghayatinya, tubuh pria itu terkadang mengayun ke depan, lalu melenting ke belakang sambil matanya terpejam. Ari terpukau. Dia pernah mengunjungi beberapa negara Eropa. Salah satunya kota Salzbrug, Austria yang tersohor sebagai kota musik. Di mana maestro musik dunia Mozert lahir. Dari biola, piano atau arkordeon sepertinya lazim dimainkan musisi jalanan. Beda dengan Indonesia yang malah dilarang. Dianggap menganggu ketertiban umum. Beberapa orang yang kebetulan tertarik terlihat mendekat, bertepuk tangan. Ada juga yang iseng merekam. Ketika ada teriakkan untuk meminta satu lagu lagi, Rahmadi hanya menyeringai, lalu menggelengkan kepala. Wajahnya langsung merah padam menahan malu. Ari ingat apa yang dahulu mereka dengungkan tentang Rahmadi. pembimbing yang berbelit soal ini dan itu. Kurang ramah, jarang tersenyum. Beda lagi versi Pak Imam. “Pokoknya, kamu mengingatkan Rahmadi akan seseorang yang ingin digampar dan dipeluk secara bersamaan,” ujar Imam Juanidi. "Digampar dan dipeluk secara bersamaan?" Kabag yang lainnya mengangguk setuju mengamini apa yang dikatakan Pak Imam, minus Pak Rendy yang hanya cengengesan. Saat itu Ari hanya cukup mengedikkan bahu, tidak memasukannya dalam hati. Bagi Ari, Rahmadi adalah si Monster Ijo. Semua tahukan, apa itu Monster ijo atau Buto Ijo? Legenda kuno yang ditiupkan oleh para orang tua pada kanak-kanak pada suatu ketika dahulu. Konon, sosok itu suka menculik anak gadis saat gerhana. Ari mendongak, menatap sepotong bulan yang tertutup awan yang berarak. Rasanya, julukan itu tak pantas lagi disematkan pada pria di hadapannya. “Saya dulu sering kejadian macet gini, Pak. Lima kilometer sebelum masuk pintu Simpang Gadog. Kalau tinggal satu atau dua kilometer, kita jalan bersama. Ramai-ramai meskipun tidak saling kenal. Jalan sampai Ciawi.” “Jadi, belum pernah lihat Cilegon di malam hari, ya? Eh, malam Minggu maksud saya?” Ari menggeleng. “Menikmati jalanan macet sepanjang: Tangerang, Kebon Jeruk, mah, iya.” Lagi-lagi, Ramadi menimpalinya dengan tawa. Membuat bulu kuduk Ari meremang. Seketika kata-kata dan seringai Pak Imam saat melepasnya sore tadi masih terbayang dengan sangat jernih. Sebelum berangkat tadi, pria itu bergelayut pada pintu depan di mana Ari duduk. Memberi wejangan ini itu seperti melepas anak gadisnya yang akan bermalam minggu bersama pacarnya. “Hati-hati, jangan buat lucu-lucuan. Kalau Rahmadi sudah tertawa lebar habis kamu, Nong! Dia itu, muka saja tampak amatir, sejatinya, pro!” bisiknya dengan mimik was-was yang dibuat-buat. Pro? Apa maksudnya pro? Mereka masuk kembali ke dalam mobil ketika orang-orang yang duduk-duduk di sepanjang pinggir tol mulai berdiri. Ari tenggelam dalam lamunanya sedangkan Rahmadi fokus pada antrian kendaraan yang masih membuat mobilnya hanya bergerak seakan siput. “Kenapa pertanyaan yang tadi belum dijawab?” Ari mengernyit heran, “Pertanyaan yang mana, Pak?” “Kamu disuruh balikan sama mantan?” tanya Rahmadi tanpa perlu menoleh. Ari terkejut sampai membuat ekspresi mendelik ketika kekepoan Rahmadi kembali muncul dibungkus tawa yang masih tersisa. “Ada nggak pihak-pihak yang melobi Pak Adi, supaya rujuk dengan Bu Erlita?” “Kok, jadi balik tanya ke saya? Erlita sudah punya kehidupan sendiri, begitupun dengan saya. Kita tetap baik, kok. Karena mau sampai kapanpun, hakikatnya, kita orang tua bagi Nadi.” “Sama, Pak! Meski, nggak plek-ketiplek kasusnya. Oh, enggak ding. Bapak, kan mencoba poligami dulu. Yah, meski gagal total, sih," ejek Ari puas hati. Skak mat! "Apa kamu bilang?" "Pak Adi praktisi poligami! Sayang gagal. Antara kurang beruntung atau fakir ilmu. Memang sih, prestise, tapi kalau balutannya nafsu saja, ya, gitu. Di kira, poligami gampang?” Ari menyeringai penuh kemenangan ketika berhasil menumpahkan isi hatinya. Buat apa coba, ingin tahu soal dirinya dan Opick. Meski di sudut hatinya, Ari masih menyimpan asa untuk bersama Opick. Namun, rasa jijik terkadang menguasai pikirannya. Wajah Rahmadi mengeras. “Nares, apa pendapatmu tentang poligami? Mungkin sedikit masukan dari yang lebih mafum sepertimu, cakrawala Pak Tua ini bisa sedikit terbuka.” Ari menghela napas panjang. Harusnya obrolan mereka untuk seratus kilometer lebih jarak yang akan mereka tempuh menuju ibukota adalah tentang Nadi alias so Kenyo. Bagaimana mendamaikan gadis itu dengan Erlita? Mengingat gadis itu sempat berniat kabur. Mencari jalan tengah. Bagaimana Kenyo ke depan, sekolahnya? Ari menjadi sasar lalu sesat di dalamnya. Percakapan tak berujung pangkal dengan Rahmadi yang kini membuahkan bahasan sensitif. Poligami. “Pak, ngomong-ngomong, Nadi itu sekolah? Maksud saya, umum atau home schooling?” Rahmadi menyeringai. Dia tahu itu umpan Ari yang enggan berdebat. Persoalan yang relatif membuat demam bagi perempuan. "Nggak usah lari. Saya cuma tanya pandangan kamu. Bukan ngajak kamu ke penghulu untuk berpoligami. Ya, saya yakin, kamu lebih mafum, dari diri ini.” Ari mengaruk kerudungnya. Siapa juga mau lari? “Saya jelas mengimani hal tersebut. Poligami termaktub dalam Al Quran. Bahkan saya sempat berpikir untuk itu, menjalankan sunnah Rosul yang itu tadi. Mengingat sebelum Opick tersandung masalah suap, perkawinan kami belum juga dikaruniai cahaya mata. Itu opsi, tetapi dia menolak. Bapak tahu apa jawabannya saat itu?” Rahmadi hanya memiringkan kepala untuk merespon. Lalu pandangannya kembali ke depan. Ari berdeham menunggu jawabannya. “Jangan suruh saya mikir berat. Lagi fokus nyetir, nih.” “Ibadah itu banyak. Ada apa dengan poligami? Mengapa ibadah satu itu begitu digemari, seakan menjadi sebuah keutamaan. Jalan menuju surga.” “Itu pendapat Opick. Pendapatmu?” “Awalnya saya tidak sependapat dengan Kang Opick. Maksud saya, iya banyak pilihan sunnah, ibadah yang bisa kita laksanakan. Saya terus mendesak, mungkin ini memang jalannya. Namun, dia bersikeras. Pendapat saya pun berubah. Saya setuju. Ada alternatif lain soal anak. Kelihatan kami belum maksimal ikhtiarnya. “Lagi pula, dari pada menggunakan legitimasi surat An Nisa ayat tiga, yaitu tentang poligami, sudah saatnya para suami fokus untuk beribadah jangka panjang dalam pernikahan monogami. Menjadikan pernikahannya ladang ibadah, bukan tindakan zalim pada istri. Kasus istri tua ngrundel, secara psikologis, kalah cantik, udah kendor onderdilnya. Intinya merasa enggak pede gitu. Itu jatuhnya sudah dzalim. "Niat awal poligami itu mulia, jadi malahan mudharat yang didapat. Bukankah pernikahan itu ibadah yang terpanjang? Dijalani sepanjang sisa hidup!” Ari memuntahkan argumen itu dengan sedikit gemetar. Argumen yang dia copas dari nasihat Opick. Dia hanya ingin menumpahkan pahitnya luka yang dibenamkan Opick. Kenapa? Apa yang sebenarnya membuat biduk yang mereka bangun karam begitu saja. Kesakitan itu begitu perih karena bahagianya yang direnggut paksa. Namun, sampai detik ini Ari belum menemukan sebuah alasan kuat untuk perpisahan mereka. Masih ada tanya besar. Opick tidak ingin berpoligami, tetapi kenapa justru berzina? Bukankah itu kontradiktif. Definisi zina sangat jelas menurut perawian empat mahzab. Perbuatan bersanggama antara laki-laki dan perempuan di luar ikatan pernikahan. Oke! Ari tidak nampak dengan mata kepala sendiri perbuatsn terkutuk dan b******k itu. Opick memilih selingkuh yang merupakan pintu dari zina. Meski banyak juga lelaki yang lebih tebal imannya dari Opick juga terjebak hal terkutuk itu. Ari mencubit tangannya berkali-kali ketika berita itu muncul di televisi nasional. Di hari yang sama dua berita memeranjatkan hidupnya. Pertama tertangkapnya Opick yang minta izin berobat tetapi digrebeg di sebuah hotel. Kedua, bayi mereka yang mulai tumbuh subur di rahimnya. Dua berita yang membuat dadanya berdentam-dentam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD