Konon katanya menulis itu adalah bagian dari release tention. Jadi, ada edisi curhatnya si Ari.
Selamat membaca, semoga berkenan.
----------
Setahun lalu, Ari kehilangan harapan, asanya yang baru setitik zarah. Meski dia terpaksa merahasikan semua, dari pria itu. Andai berita itu tak sampai di telingannya, tak akan sampai mengaburkan pandangannya? Namun semua sudah terjadi. Setiap berita payah itu diputar ulang, akan membuatnya menangis tanpa henti hingga nyala sebesar biji kacang polong yang tadinya bersemi itu kemudian luruh.
Penghianatan itu seberti ruam merah. Harusnya ....
Dulu banget, kamu minta aku mengirim surat ‘cinta’, biar kita merasakan atmosfir romantisme zaman sekolah. Pacaran, pakai surat-suratan, pakai sampul wangi berwarna pink. Norak sekali, ya?! Masih enggak percaya aku tuh, cinta mati, yah? Kan, aku bilang, aku tuh suci dari orog, enggak pernah pacaran. Ah, belum tua sudah pelupa.
Ingat nggak, apa nama akun friendster kita? Aku ketawa kenceng ini. Udah, ah, memorinya .…
Dua minggu yang lalu, Neng. Salah lagi …
Aku datang ke poli kandungan rumah sakit tempat kita periksa kesuburan. Embrio beku yang kita simpan dalam nitrogen cair, beberapa bulan sebelum kita benar-benar berjauhan.
Aku memutuskan untuk kembali mencoba. Memberanikan diri. Maaf, jika tanpa seizinmu. Ini, bagian dari kejutan.
Yah, sejujur, memang Ende yang memaksa, tetapi ini adalah ikhtiar. Jadi, sebelum ia (embrio beku itu) benar-benar hanya ceceran unfaedah, meski nyatanya dia adalah bukti cinta kita yang digaul dalam tabung akan aku upayakan hidupnya. Ya udah, aku balik FET (Frozen Embryo Transfer). Tanggal 18 September 2017 itu. Mungkin perjuangan kita dahulu belum maksimal, doanya kurang, sabarnya kurang.
Jadi, bismillahi tawakkaltu 'alallah. Dan dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Aamiin, Kang.
Aku mau cerita lagi, semoga ada, ibrahnya untuk kita. Bukan tentang para mama yang sedang program in vitro seperti aku. Hal ini lebih dari itu, kurasa.
Ada seorang perempuan, lebih tua tiga atau empat tahun dari aku. Jadi, dia seumuranmu. Yah, karena dia tanya umurku saat aku mengatakan sedang program bayi. Mereka pasien Poli Gigi. Dia dan putranya. Perempuan itu duduk bertopang dagu. Gaya duduk yang sangat kamu benci. Yah, seperti tiada harapan katamu. Perempuan itu memandangi anaknya yang sedang bermain dengan mobil-mobilan sambil berguling-guling di lantai. Senyumnya pelit sekali.
Ketika acara bermainnya mulai menggangu aktifitas pasien poli yang lain, perempuan itu beranjak menepuk bocah tersebut. Ketika jari-jari lentiknya bergerak seperti tarian Kacak, subhanallah, aku baru sadar, bocah itu ternyata seorang d*********s. Dia bisu tuli.
Perempuan itu menarik anaknya dekat kursi tempatku duduk. Bocah itu, umurnya enam tahun, dia tiba-tiba memegang perutku. Ibunya, perempuan yang suka duduk bertopang dagu itu, langsung menyilangkan tangan… isyarat itu tidak boleh dilakukan.
Perempuan itu mengatakan, anaknya mengalami kebocoran jantung saat usianya sepuluh hari. Bocah itu berobat di rumah sakit pusat bersama empat bayi lain yang mengalami kasus sama, kebocoran jantung dan hanya dia itu yang selamat hingga berusia enam tahun.
Dahulu di saat usia bocah itu tiga tahun, matanya mengalami kerabunan akibat katarak, lagi-lagi dia harus dioperasi. Aku tidak bisa membayangkan apa yang dilalui anak sekecil itu. Perempuan itu seorang ibu yang begitu kuat dan tabah.
Kenapa bocah difabel itu dan ibunya ada di poli gigi? Bocah itu mengalami caries parah. Gigi depannya habis hanya menyisakan akar, sedangkan gigi berikutnya sudah mulai tumbuh. Jadi kemungkinan operasi lagi. Kali ini bedah mulut.
Aku kepo, akhirnya bertanya, kenapa begitu bertubi-tubi? Ternyata bocah itu terpapar Virus Rubella.
Kamu tahu, perempuan yang selalu duduk bertopang dagu tersebut, dia, seorang janda. Em, bukan, dia, ditinggal suaminya menikah lagi. Bukan poligami. Ya, ditanggal gitu aja tanpa nafkah. Aku ngelap air mata ini.
Kamu harus siapkan sedekah terbaikmu ketika aku nanti menyodorkan nomor rekening perempuan itu.
Aku tidak dapat membayangkannya, bersama bocah itu, ada dua orang kakaknya. Dua orang gadis remaja. Aku semakin syok, perempuan itu, hanya seorang pedagang klontong. Adik laki-lakinya ikut menyokong biaya pengobatan bocah itu. Semoga Allah mudahkan rejeki mereka, juga adiknya nanti memilik pasangan yang pengertian. Aamiin….
Tiga minggu kemudian .…
Aku berjumpa dengan bocah itu. Lagi. Dia mengenaliku, langsung dadah-dadah. Dia juga bercerita sambil menujukkan foto hasil panoramic ronsen giginya. Bocah itu luar biasa, istimewa dengan keterbatasannya. Aku, jadi semangat.
Saat aku keluar dari ruangan Dokter Rasidin, aku tidak dapat menahan sebak, bibir ini bergetar, hanya kalimat toyib yang mampu aku langitkan sebagai tanda kesyukuran. Berdasarkan pemeriksaan, alhamdulillah, keterangan gambarnya 6W5D dan HCG 274. Kamu tahu artinya, anak kita sedang tumbuh.
Aku ingin mengabarkan padamu. Pada dunia.
Oh, ya, aku sempatkan menyapa bocah itu, kamu tahu siapa namanya?
Taufik Sholihin.
Dia kembali memegang perutku. “Taufik Hairul Aman, itu adalah ayah bayiku, Nak,” ucapku kala itu.
Ari berusaha cepat-cepat beristigfar. Laju air matanya yang tidak mampu ia bendung dengan sehelai tisu itu membuat bahunya naik turun menahan isak tangis. Ingatan yang menuntunnya pada prasangka jahat. Mengedor-gedor pintu langit, terus meratap, dan meratap. Semua sudah lewat.
Rahmadi menambah kecepatan mobilnya. Dia hanya terdiam dengan jawaban Ari. Meski tentu menggumpal tanya pada dirinya.
Kenapa Opick bisa menceraikan perempuan di sampingnya pada saat bersamaan, mampu memenuhi pundi-pundi hati perempuanya dengan kata-kata yang menenangkan? Tentang cinta. Tentang penolakannya untuk menduakan cinta. Lalu berita tentang kasus di hotel itu? Yah, dia membaca di sebuah portal berita sekilas tadi saat di Pondok Sate.
Rahmadi juga tidak akan membuka mulut pada perempuan yang kini memalingkan wajahnya, memandang deretan lampu yang berkejaran ke belakang.
Dia dan Erlita juga mengalami hal yang hampir sama, justru badai datang ketika kehadiran Nadi yang begitu mereka nanti selama tujuh tahun.
Setelah kelahiran Nadi, Erlita menjadi sangat insecure. Merasa dirinya tidak cantik, mencoba memisahkan dia dan adik perempuannya. Tuduhan yang paling pahit adalah mencurigainya selingkuh, karena Rahmadi punya gen p*****r. Erlita selalu mengulang kata-kata itu hampir setiap waktu. Kata-kata keramat yang menjadi tonggak di mana Rahmadi memandang Erlita serupa duri.
Anak p*****r! Anak p*****r!
Apakah benar, sebuah kenyataan tak terbantahkan, bahwa para wira mewarisi jiwa ibu mereka? Lalu, apa daya dirinya yang bukan siapapun. Meski yakin dirinya bukan pecundang, tetapi memang bukan jua seorang pahlawan. Ya, dia memang anak p*****r. Namun, bukankah setengah gennya adalah milik pria baik-baik, cerdas dan berdedikasi. Bapaknya, meski drop out dari ITB, tapi bekerja sebagai penyiar RRI Semarang sekaligus penulis lepas. Terkadang di sela siaran ayahnya itu mengesek biola. Lain waktu mendendangkan lagu merdu diiringi petikan ukelele. Asap rokok dan bunyi mesin tik adalah karibnya. Mungkin itu hal bodoh yang dipilih. Lalu, kanker paru-paru telah mencerabut asa pria tua itu.
Ibunya yang ayu itu hanya seorang penari. Meski pernah mentas di luar negeri atas undangan beberapa kedutaan, kematian seorang suami menjadikan sumber keuangannya menipis. Dia tidak bisa melakukan hal lain selain menari dan menari. Awalnya, mengajar tari pada anak-anak sekitar rumah dan sekolah, tetapi mereka mulai bosan dan beralih pada modern dance, seperti break dance atau bahkan pantomim.
Rahmadi benci, karena ibunya tidak siap dengan roda zaman yang mengilasnya. Ibunya tidak mangkal, bukan warga binaan yang berkeliaran di Bandungan yang sangat ikonik sebagai wisata esek-esek di pinggiran Semarang. Entah, apakah saat ini masih ada tempat itu?
Rahmadi ingat, ibunya tinggal bersama seorang berkebangsaan Belanda. Pria asing itu terlalu asing, untuk mengambil tahu masalah dan keuangan keluarga mereka. Rahmadi nekat berhijrah ke Jakarta saat usianya 16 tahun dan berniat membawa serta adiknya. Mimpinya sangat tinggi, bila kehidupannya sudah mapan, dia ingin ibunya benar-benar terlepas dari lelaki asing yang hanya memberi luka itu. Ya, dia membawa orang asing lain, lagi dan lagi, dan membiarkan mereka mengauli ibunya.
Anak p*****r!
Ketika Erlita mengucapkan itu sekali, Rahmadi masih memaafkan. Erlita mungkin sedang kalap yang berujung khilaf. Erlita terkena baby blues syndrom, dan dia berusaha bersabar. Namun, setelah putri mereka berusia tiga tahun, alasan apalagi, hingga kata itu kembali dia muntahkan. Berkali-kali. Untungnya, putri mereka masih hidup dengan semua kegilaan dirinya dan Erlita. Dia kehilangan adiknya, kemunculan si bocah magang itu, lalu ingatan akan Sintha timbul tenggelam. Dia sasar dalam kemarahan juga rasa rindu.
Rahmadi mendengkus.
Itu sudah sangat lama, tetapi bahangnya masih terasa, membuatnya menjauh dari putrinya karena kesepakatan konyol. Dia memang berhutang budi, berhutang gelar, berhutang nama yang gemerlap pada keluarga Erlita. Dia memang gila, ketika melemparkan berita pernikahannya dengan sahabat lamanya saat masih SMP. Seorang pramugari. Lebih konyol lagi, ucapan yang membuat Erlita terbelalak. Setelah sekian tahun pernikahannya dengan enteng Rahmadi mengatakan, hanya ada rasa sayang dan tanggung jawab. Menyayangi, itu sudah cukup. Tidak ada sebiji zarahpun cinta itu hadir.
Rahmadi tahu, Erlita tidak terima. Ego perempuan cantik itu terhempas dari ketinggian.
“Maaf.”
“Hmm …?”
“Had you sadness?” helah Rahmadi kasar. “I see sad and sadness. Maaf, ya, membuat matamu kelilipan.”
“Nggak nangis kok. Saya hanya mellow sedikit.” Ari menyeka sudut matanya dengan ujung kerudungnya.
“Aku yakin kamu bisa melaluinya. Ikuti kata hatimu,” helah Rahmadi memutus rasa bersalahnya.
Lagi-lagi Ari menyeka sudut matanya dengan ujung kerudungnya. “Tadi, kan, kita lucu-lucuan, Pak. Kok jadi gini, sih?”
“Katanya berdamai dengan diri sendiri itu paling sulit. Mau tisu atau sapu tangan?”
“Saya punya sendiri.”
Ari membenamkan wajahnya pada sapu tangannya.
Rahmadi tahu kalau Ari berusaha kuat untuk tidak menumpahkan emosinya. Perempuan yang berusaha tegar memang tampak mengemaskan.
“Sapu tangan kamu tadi sudah buat lap iler saat makan sate. Yakin nggak bau? Hah?”
“Pak Adi ini kenapa sih? Jum’at sudah lewat juga.” Ari memutar jari tengahnya dekat pelipis. “Mendadak sa—bleng, gini!”
“Udah selesai senda guraunya? Hmmm ....”
Rahmadi membeliakkan mata menatap cermin tengah. Tatapanya bertembung dengan mata anak gadisnya yang sekejap tadi memicing kemudian menutup lagi.
Ari menutup mulutnya. Apa yang dia khawatirkan mulai wujud.