"Mbak Ari?"
Seorang satpam rumah gedong tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Ari. Pria yang terlihat seumuran dengan si tamu yang bertandang hampir melwpasi jam sebelas malam itu. Dengan sedikit membungkukkan badan dia berusaha mengambil alih tas ransel milik Ari.
"Weh, enggak usah, Din. Enggak berat ini."
"Meskipun enggak berat, ya, pamali saya enggak bantu Mbak Ari. Udah, sini."
"Bapak sudah tidur?" tanyanya membahasakan Pak Dadang.
"Sepertinya belum, Mbak. Ruang kerjanya masih nyala."
Keduanya tidak melalui gerbang utama tetapi masuk lewat pintu kecil berhampiran pos satpam.
"Ini mobil ...." Ari mengamati mobil yang hanya terparkir di carport salah satu sisi rumah mertuanya yang luas itu.
"Ada, Mas Agusta. Lagi ngobrol sama Bapak."
"Oh ...."
Sesaat sebelum memutuskan akan menginap di mana, Ari sempat dilanda kebingungan. Rahmadi bersikeras mengantarnya sampai di depan pintu di mana dia akan tidur.
Sebenarnya Ari berniat menginap di rumah kakaknya di daerah Cawang. Mengingat jarak rumah mertuanya dan kakaknya sama-sama berhampiran rumah sakit Polri tempat Erlita dirawat. Sekali lagi hal itu menjadi semacam kewajiban Rahmadi untuk mengantarnya.
Namun, apa hendak dikata, kakaknya ternyata ada urusan keluarga di Tasikmalaya. Jadi di sinilah Ari berada. Depan gerbang rumah Dadang Amanjaya. Bukan tidak mampu menginap di hotel, hanya saja entah besok atau lusa dia pasti berjumpa juga dengan keluarga mertuanya. Karena Ende ingin berjumpa dengannya. Ari tidak siap menerima omelan dan segala nasihat yang membuat merah kupingnya.
"Terima kasih, Pak. Ini rumah mertua. Kalau rumah saya jauh di daerah Sentul."
"Saya nggak perlu masuk, 'kan?"
"Sepertinya tidak usah, Pak. Hampir jam sebelas malam ini."
"Baiklah. Terima kasih buat semua, ya. Sudah jahain Nadi seperti adik sendiri." Entah sudah kali keberapa Rahmadi mengucapkan terima kasih. Rasanya sejak selesai makan di warung sate. "Saya nggak mau lancang. Tapi, ini saya beranikan untuk kadih nasihat sama kamu. Percaya sama saya. Apa yang saya dapat karena memutuskan tali silaturahmi, semua adalah hal buruk. Jadi, silaturahmi itu paling utama, Nares."
"Iya, Pak. Saya turun, nih. Nadi ...."
Gadis sunti itu diam. Dia enggan menanggapi budi bicara Ari pasca menangkap basah sendang bersenda gurau penuh tawa bersama abahnya. Kenyo memalingkan muka. Wajahnya datar dengan tatapan galak meneroka rumah gedong yang ditunjuk Ari sebagai rumah mertuanya.
"Nad, Pak Adi, assalamualaikum, " bisik Ari tanpa menunggu respos Kenyo.
Hanya Rahmadi yang tuntas menjawab salam Ari. Sedangkan si Kenyo tetap berkutat dengan kebisuan. Namun, saat Ari sudah hampir pada pagar dan menoleh untuk sekedar melambai, mata keduanya saling bersitatap. Melengos adalah jalan ninja si Kenyo. Bahkan gadis itu langsung berpindah ke tempat duduk yang tadinya Ari duduki, tentu saja lewat sela kursi sambil berbicara entah apa.
Tidak lama kemudian mobil Rahmadi melesat meninggalkan Ari keseorangan dalam rongrongan udara panas Jakarta meskipun malam telah larut.
Ari wajib ternganga. Tadi pagi Kenyo masih pasang muka bete, sok ketakutan dan canggung dengan abahnya. Sekarang beda lagi. Dasar bocil labil, dengkus Ari kasar.
"Kenapa, Mbak? Kok, seperti ada beban berat gitu?"
"Eh, anu enggak, kok. Habis naik mobil jauh jadi penat."
Ari memukul dahinya. Karena dengkusanya yang begitu keras dan berulang kali hingga membuat Abidin satpam rumah mertuanya itu menaruh curiga.
"Syukurlah, Mbak Ari masih mau main ke sini. Sekarang sepi."
"Suruh itu Agusta buruan kawin," helah Ari tanpa sadar.
"Mbak Ari ada-ada saja. Mana saya berani nyuruh beliau."
"Badang kamu besar gitu." Ari justru merasa ringan ngobrol sambil jalan dengan Abidin. Sambil mancing-mancing siapa tahu ada hot news. "Kamu jaga sendiri, Din?"
"Iya, Mbak. Imron anaknya lagi kena demam berdarah jadi absen. Si Ades itu. Ingat, Mbak?"
"Ingat, lah, Din. Saya benar-benar enggak ke sini juga baru setahun. Syafakillah syifaan ajilan, syifaan la yughadiru ba'dahu saqaman buat si Ades."
"Iya, Mbak. Maaf."
"Enggak apa-apa. Saya tidur di ruang tidur tamu saja. Suruh, Mbok Nah siapkan kamarnya."
"Mbak, mana boleh begitu!" Sang satpam ternganga. "Kenapa nggak di kamar biasa yang di lantai dua? Kamar Mas Opick." Mereka baru saja hendak masuk ketika pintu terbuka dari dalam.
Dari dalam menjengah sosok Agusta dengan Pak Dadang.
"Neng, Ya Allah. Kenapa atuh nggak telepon, Papah?" Pak Dadang begitu sumeringah ketika berhadapan dengan menatunya. "Kamu tahu Ari mau ke sini?" tanyanya pada Agusta.
"Bukanya Bapak yang nyuruh waktu itu?" jawab pria itu sambil memandang Ari dengan tatapan sengit.
Kenapa pula matanya si Agusta sampai juling gitu? Siapa juga nantang mau mempertemukan dirinya dengan petempuan itu, batin Ari ikut geram.
"Eh, kalian kenapa kok jadi aneh. Agusta mendingan atuh tidur sini. Sudah malam."
"Mas Agusta mau malam mingguan, Pak. Namanya anak muda," seloroh Abidin.
"Oh, padahal sudah malam."
"Ada, acara nonton apa itu sambil tiduran. Red Velvet-velvet apa, ya?"
"Velvet room!" Agusta dan Ari menjawab bersamaan tentang nonton bioskop sambil tidur di kasur.
"Udah, ah, gaduhnya. Ayo masuk! Jangan ngobrol di depan pintu. Pamali halang rezeki masuk." Pak Dadang menggiring Agusta dan Ari masuk ke dalam rumah. Pria tua itu menyuruh keduanya duduk di ruang keluarga. Dia sendiri beranjak ke salah satu ruangan untuk membangunkan istrinya.
"Pah, nggak usah. Biar besok saja Ari masak sarapan sekaligus buat kejutan Mamah."
"Eh, gitu?" Langkah Pak Dadang terhenti. Pria itu terlihat ragu-ragu. "Nanti Mamah kamu ngambek kalau nggak dibangunkan. Ck, kalau ngambeknya lama bisa bertransformasi jadi marah. Ngeri, oi."
Ngambek sama marah bukannya kembar siam?
"Terserah Papah, deh." Ari, kan, cuma tamu, lanjutnya dalam hati.
Pria tua itu terkekeh geli melihat raut wajah Ari yang memelas. Namun, dia gagahkan diri menelusuri lorong menuju kamarnya. Lebih baik melihat sang menantu cemberut dari pada istrinya marah.
Ari duduk dengan sedikit gelisah. Seperti duduk di atas bantalan duri. Matanya meliar mengamati semua prabot dan panjangan. Matanya membola ketika melihat gambar yang lumayan besar tergantung pada sisi sebelah kanan ruang keluarga itu. Perempuan itu seketika bangkit dan merapatinya. Foto pernikahanya dengan Opick masih tergantung dengan anggun.
"Ya Allah. Cobaan apa lagi ini?" keluhnya hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Seharusnya sebagai orang yang mahfum agama lebih dari aku, kamu harusnya tetap tabah dan berhusnuzon dalam menghadapi situasi apa pun. Termasuk kondisi yang menyulitkan. Bahkan, Alquran pun menjelaskan bahwa sikap mengeluh tidaklah dibenarkan."
"Oh, begitu. Kamu sekarang ikut kajian, yang sedang trend, ya, Gus. Pinter bagi nasihat sekarang!"
"Sampaikan walau satu ayat, kan, gitu."
"Kami sudah bercerai, asal kamu ingat. Sudah ketok palu. Sudah tutup buku."
"Sudah terima sertifikat jandanya?"
Ari terhenyak. Perempuan itu sampai mengangkat tangannya. Jari telunjuknya menuding pada kelancangan mulut Agusta. Entahlah kenapa pria ini mendadak bersikap sengit padanya. Selama ini, Agusta begitu beratur budi bicaranya. Sangat menawan perangainya sebagai seorang adik kecil. Bukan Ari gila hormat, tetapi ada yang aneh dari sikap pria ini.
"Apa maksud kamu?"
"Nggak papa. Hati-hati saja. Nasihat aku, sih, nggak usah keburu nafsu soal menghadirkan orang baru dalam hidup kamu. Lihat, dong, gimana keluarga Hairul Aman memperlakukanmu!"
Ari mengembuskan napasnya pelan. Bagaimana ini? Dia benar-benar masuk kerangkeng emas. Bagaimana dirinya keluar tanpa ada gurat kecewa pada keluarga Hairul Aman?
"Kamu menguntitku, ya? Opick yang menyuruhmu?"
Agusta bungkam.
Ari mencoba mengingat ingat. Dia bahkan tidak pernah bermain mata meskipun telah resmi bercerai. Menjsdi perempuan lajang selama sepuluh bulan ini. Kecuali ....
"Neng ...."
Ari langsung menoleh ketika ada suara memanggilnya. Sang Mamah mertua yang tengah merapikan daster yang sepertinya dikenakan dengan tergesa-gesa. Itulah mamahnya Opick dengan tata krama nomor wahid yang pantang menemui tamu dengan baju tidur. Meskipun itu anaknya sendiri. Sangat tidak sopan menurut pelajaran etika.
"Assalamualaikum, Mah."
"Waalaikumussalam, Nak. Ayo, naik ke kamar. Mata kamu cekung gitu malahan ditahan di sini. Dasar para pria egois!"
Mata perempuan tua itu menyipit tetapi sarat intimidasi.
"Saha yang egois, Mah?"
"Papah sama Agusta lah. Eneng baru pulang dari daerah bencana. Aturan basa-basi sedikit langsung suruh istirahat. Kitu!"
"Dari pada debat sama Mamah atuh Papah milih menguras sumur pakai gelas aqua. Capeknya sama." Pak Dadang berucap dengan sedikit berbisik. "Itu Abidin, Mah, yang ngajarin."
"Karena wanita selalu bebar," sambung Agusta cengengesan.
Tanpa perlu mengindahkan kedua orang yang berdiri di tengah-tengah ruang keluarga sambil tertawa terbahak-bahak, Ari bersama mamahnya Opick langsung naik ke lantai dua rumah besar itu.
"Senangnya, Neng, kamu sudi datang ke sini. Mamah kangen pisan."
"Ari juga kangen, Mah."
"Benar kata Papah kalau Eneng sekarang kurus sekali." Sambil kedua tangan itu merangkumi pipi tirus Ari.
"Yang sedang ngtrend itu, Mah. Badan ceking. Menguruskan badan, supaya enak kalau cari baju."
"Ah, gitu ya. Tapi jangan kurus banget dong, Sayang."
"Iya, Mah."
Mamahnya Opick meraih handle pintu. Seketika kamar itu terang benderang. Kamar yang masih sama seperti setahun lalu. Bahkan foto pernikahannya yang terpajang di dinding lebih besar dari yang berada di ruang keluarga. Lagi-lagi Ari mendesah. Linglung dengan semuanya.
"Mamah akan tinggalkan kamu supaya kamu cepat bisa beristirahat. Namun, sebelum turun, saat ini Mamah ingin memelukmu erat. Sini-sini anak perempuan Mamah!"
Pemain tua yang masih jelita itu merangkul Ari erat sekali. Tubuh keduanya begitu rapat seakan tiada jarak tercipta barang satu ruas jari pun. Tangan tua itu beberapa kali naik turun mengusap punggung kurus Ari.
"Duh Gusti, kamu bener-bener kurus, Nak. Pagi nanti kamu ingin sarapan apa? Cepat katakan sama Mamah. Subuh nanti Mamah minta pembantu masak."
"Aduh Ari jadi ngerepotin, Mah."
"Apa, sih, Neng? Mamah kangen pokoknya."
"Apa saja lah, Mah. Janji enggak bikin gemuk," seloroh Ari.
"Kamu itu genuk dikit juga nggak apa-apa. Kamu cantik meskipun nambah lima kilo juga. Udah, ah, mandi sana habis itu tidur.
Ari hanya mengangguk sedikit tersipu malu.
Sepeninggal mertuanya, Ari kembali memeriksa setiap sudut kamarnya. Kamar ini hanya digunakan apabila dia menginap di rumah mertuanya. Meskipun diterima dengan tangan terbuka, Ari merasa lebih nyaman apabila hidup mandiri di rumahnya sendiri. Rumah yang dibangun Opick untuk dirinya.
Namun, untuk keluar dari rumah ini Opick telah berjanji pada kedua orang tuanya. Apabila mereka dikaruniai anak, maka Opick akan kembali di rumah ini. Nyatanya sampai usia pernikahan yang semakin tua mereka belum juga dikaruniai anak. Ketika akhirnya bercerai di sepuluh tahun usia pernikahannya haruanya tidak ada ikatan yang membelenggunya. Namun, inilah yang terjadi. Pelik tapi nyata. Dia tidak memberi keturunan pada keluarga priyayi ini, tetapi disanjung bagai ratu.
Malam semakin larut di luar sana tanpa memberi ruang pada binatang malam untuk berkeciap. Ari merebahkan diri pada kasur empuk itu. Matanya terpejam erat kerena diulit lelah tanpa peduli dirinya belum membasuh diri. Ari memang terlalu lelah jiwa dan raganya. Karena embusan pendingin udara yang lumayan rendah membuatnya segera larut dalam igauan mimpi.
--------
Semoga berkenan, ya. Sila tinggalkan pesan dan kesan. Boleh shere juga (ngarep) kalau ini, mah.