Istilah pillow talk mungkin baru-baru ini menjadi istilah yamg keren sebagai salah satu sesi mengurai masalah pasangan di atas tempat tidur sebelum atau setelah memadu kasih. Namun, bagi Ari dan Opick hal itu justru mereka lakukan sepanjang usia pernikahan keduanya. Minus saat Opick di penjara tentu saja.
Bukan melulu soal bagaimana cara saling memuaskan, tetapi cara untuk lebih dekat satu sama lain. Maklum saja keduanya menikah tanpa pacaran.
Sebenarnya Pak Dadang yang memulai semuanya. Pria pemilik Amanah Mulia itu memanggilnya menghadap setelah penempatan kerja amal di Lebak
Pak Dadang tidak cukup dengan memujinya setinggi gunung akan keikutsertaanya di lapangan yang dianggap begitu cakap berada di daerah terpencil. Lalu dengan terang-terangan pria itu membisikkan kata-kata penyemangat. Namun, kata-kata itu sampai di telinga Ari seakan petir di saing hari bolong.
“Awasi dia, ya, calon mantu. Next time biar dia ikut program-program berikutnya.”
“Saha, Pak? Abdi?” tanya Ari sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Opick anak saya. Dan kamu, calon mantu saya. Yah.”
Dadang terkekeh sambil menyelipkan sebuah ponsel keluaran terbaru. Ari memang hanya mampu membawa ponsel lawas hasil meminta belas kasihan kakak sulungnya. Pria paruh baya tersebut mengatakan sebagai hadiah, atau kalau merasa terlalu berlebihan, anggap sebagai properti yayasan. Padahal daerah terpencil di Lebak tidak mengijinkan sinyal menari-nari. Gadis itu meringis menerima barang mewah itu.
Ari menjadi gentar setiap bersitatap dengan Opick ketika dua kali pria itu sengaja berkunjung ke kantor Amanah Mulia. Masalahnya, dia ingat bagaimana perlakuan kejamnya saat berada di Lebak. Keunggulan Opick hanya pada kecakapan berkomunikasi dalam bahasa Sunda. Selebihnya sangat payah, lemesan, vitalitas Cap Keong.
Andai kata Ari tahu bahwa pria muda yang asik menguntitnya itu anak pemilik yayasan sekaligus pewaris beberapa perusahaan yang menjadi donatur tetap yang tengah menjalankan satu hukuman. Ari ingin menukar istilah Cap Keong dengan sesuatu yang lebih beradab dan macho. Kuda Liar, atau Badak Bercula Satu misalnya.
Sayangnya, Dadang tidak menceritakan dengan detail, kenapa hukuman itu sampai dijatuhkan. Ari juga enggan bertanya pada Opick. Seandainya rasa ingin tahunya lebih besar mungkin dia akan mundur. Entahlah ....
Lagi-lagi campur tangan Dadang yang membuat kebersamaan mereka dulu seakan alamiah. Lucunya, Ari terbius semuanya. Bahwa tidak ada yang diinginkan Opick selain Nareswari Tri Wulanti.
Apalagi ketika Ari dibawa menghadap Ende Hairul. Dia sudah tidak mungkin berundur. Pada kenyataannya, Opick tetaplah meteor yang menyilaukan dan dapat meledak kapan saja. Meteor yang pecahan debunya dapat membutakan mata, menghanguskan nalar yang bersarang pada tempurung kepalanya.
Hal paling lucu sebelum pernikahan mereka adalah, Ari baru tahu nama lengkap Opick ketika mengurus blangko pernikahan. Sangat menyedihkan. Pantas saja seorang Agusta yang menjadi ketua seminar enterpreuner mampu menghadirkan tokoh yang lumayan punya kapabilitas. Mereka bersaudara.
"Dapat salam dari Taufik Hairul Aman."
Ari pikir itu hanya guyonan karena setelah perdebatan soal murabbi, Agusta ikut raib. Di matanya Opick dan Taufik Hairul Aman itu berbeda packingnya. Pada waktu seminar itu, si Taufik itu terlihat cool sedangkan Opick, persis petasan banting.
Hal menggelikan kedua adalah nostalgia masa berpacaran. Mereka berdua sama-samat tidak pernah memiliki mantan pacar.
Jadi, Ari dan Opick menempuh enam bulan lamanya untuk saling terbuka hingga berani buka baju di hadapan pasangan. Waktu yang mereka tempuh untuk berani berseloroh dengan hal-hal yang membuat pipi merona merah. Sebelumnya yang mereka lakukan selama enam bulan kalau tidak berciuman, ya, hanya berpelukan sambil mengobrol ngalor ngidul tentang masa kecil juga cita-cita konyol yang belum terlaksana. Dan juga bernyanyi dengan suara fals.
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga
Selamat pagi Eneng
Selamat pagi Naresku
Mentari hari ini berseri indah
Terima kasih sayang
Terima kasih Ariku
Untuk tampil jelita bagi suamimu yang tampan ini
"Narsis!"
"Woi, harus dong. Jangankan narsis, musumi Eneng saja dapat pahala."
"Arswendo Atmowiloto bisa menuntut Kang Opick karena seenak jidat mengubah lagu Keluarga Cemara," ujarnya sok menasihati agar suaminya itu tidak berbicara dengan rated 18 plus.
"Beliau nggak akan marah, Neng. Saat Krisdayanti dengan album Menghitung Hari yang meledak hebat di pasaran, padahal syair itu diambil dari curahan hati Arswendo saat di penjara saja, doi fine aja, kok."
"Ah, dia di penjara karena penistaan bukan? Survei tentang siapa lebih populer itu?"
"Yah, betul sekali Eneng. Tetapi, kita stop ngomongin Om Wendo. Mendingan atuh bikin dedek bayi. Yuk!"
Tok! Tok! Tok!
"Mbak Ari hampir Subuh! Mau ikut jamaah di bawah?"
Guling yang Ari jadikan bantal melesat dan terlempar ke arah pintu.
"Astagfirullah!" Manis sekali setan memberinya khayalan dan mimpi. "Ya, Mbok Nah. Ari turun."
Kang, ikhlasin Ari. Biar Ari tenang, bisiknya pada foto dengan senyum lebar itu. Ari tahu dia salah datang kembali ke rumah ino. Kedatangannya kali ini hanya menuntunya pada kerinduan.
***
Ari tiba di rumah Ende dengan menumpang mobil Pak Dadang. Kedatanganya lumayan menyita perhatian banyak orang terutama keluarga besar Hairul Aman meskipun mereka datang lumayan pagi yaitu pukul enam pagi.
Ada acara sema'an. Sema'an adalah tradisi membaca, menyimak dan mendengarkan pembacaan Al Quran menjelaskan ayat yang dibaca secara terperinci, lugas, dan dapat dimengerti oleh semua yang hadir.
"Dengan cahaya Al Quran seraya kita semua berdoa kapada Allah subhanahu wa ta'ala agar kehidupan masyarakat Islam pada khususnya dan seluruh umat manusia pada umumnya dilimpahi rahmat dan keselamatan," ujar seorang kyai yang memimpin acara mengaji itu.
Tidak semua tamu ikut melaksankan sema'an dari awal sampai akhir. Karena durasi acaranya sendiri yang panjang, mereka pulang lebih awal.
Acara sema'an sendiri selesai ketika masuk waktu Asar. Setelah salat berjamaah, hampir keseluruhan tamu sudah beredar meninggalkan rumah mantan jendral masa orde baru itu. Menyisakan keluarga inti.
"Tumben elo nggak ngaji? Udah luntur, ya, hapalannya?" tanya Anuar sepupu Opick.
Ari memilih diam.
"Lupa, ding. Kalau baca pun nggak jelas gitu jatuhnya dosa. Ngaji kek orang kumur-kumur. Tersendat-sedat seperti oplet tua minta didorong."
Sekali lagi Ari enggan merespons. Kalau Anuar dilayani omonganya, dia akan nerocos seperti genteng bocor. Dahulu ketika Ari masih menjadi istri Opick ada saja cercaan yang pria itu hamburkan. Mengatainya orang udik. Opick memungutnya dari tepi jalan hingga menghina kemampuan Ari menghapal Al Quran yang tidak secepat bacaan para Ning atau santri lulusan pondok pesantren.
Emangnya dia anaknya Mbah Kyai? Memang orang awam tidak boleh duduk sebagai penghafal Quran? Aneh! Dia orang biasa. Mengkaji, menghafal, mentadaburi dan menjalankan apa yang termagtub dalam Quran adalah wajib sesuai kemampuan.
Bacaan Al Quran yang penting bukan pada speed-nya. Akan tetapi, bagaimana bacaan itu harus jelas, memelihara tajuwid dan tartil.
Ari meneruskan langkah menuju meja tempat hidangan disediakan. Dari masakan Sunda hingga empal gentong khas Cirebon ada. Ari melirik ayam teriyaki yang entah membuatnya terliur. Syukurlah ada makanan modern lainnya. Tadi pagi dirinya belum mengganjal perut kecuali makan oatmeal dengan irisan buah di rumah Pak Dadang yang membuatnya mendapat sesi ceramah panjang.
"Mbak ...."
Satu suara menyapanya takut-takut. Tanpa menoleh Ari meneruskan menyedok tiga centong nasi putih untuk memenuhi piringnya. Awalnya Ari hampir memilih beras merah, tetapi dia urungkan niatnya menginggat beras merah akan lebih banyak menghasilkan gas yang akan membuat perutnya lebih cepat kenyang.
"Mau makan?"
"Iya."
Lalu keduanya kembali terdiam. Meskipun bukan hanya mereka di ruangan yang menghadap taman itu, tetapi satu sama lain bahkan tidak akan merasa terganggu karena luasnya ruangan itu.
Ari memilih keluar ruangan lalu duduk di kursi beranda yang berhampiran taman. Sepoi angin sore setidaknya membuat perasaananya yang mengelegak karena ulah Anuar sedikit sejuk. Namun, belum juga gelas jus jeruknya dia letakkan perempuan itu mengekorinya lalu melabuhkan diri di samping Ari tanpa dipinta.
"Mau makan dulu atau kamu mau ngomong apa sama aku?"
"Mbak, anu. Yah, sambil makan nggak apa-apa."
"Oh, ya, aku lupa. Selamat, ya, kehamilannya." Ari menyuap sambil melirik sekilas pada perut perempuan di sampingnya yang memang mulai terlihat melendung. "Afwan, nggak bisa datang pas nikahan kalian."
"Terima kasih, Mb ...." Perempuan itu justru terisak saat mengucapkan sapaan bagi Ari dengan tidak tuntas.
"Kenapa harus nangis? Kesedak, lho."
Perempuan itu masih saja menangis. Wajahnya yang putih menjadi merah padam. Air matanya bercucuran membasahi pipi bahkan memancar bak air dari curuk pengantin saking derasnya.
"Terima kasih, pokoknya. Mbak Ari sudi maafin Mara. Masih mau duduk bersama aku."
Perempuan itu masih melanjutkan tangisnya. Ari mencoba mencerna apa maunya Amara. Apakah Agusta yang mengatakan bahwa dirinya sudah membuka pintu damai itu?
"Ntar, Anuar ngira aku bully kamu, ck! Cilaka dua belas, dong. Udah, dong, nangisnya."
"Dia nggak akan peduli, Mbak. Dia nggak peduli sama sekali dengan perasaan Mara."
Ari menatap langit-langit beranda yang berhias aneka bunga fuschia. Bunganya yang terayun-ayun berwarna merah putih itu seakan anting-anting biduan dangdut. Pada bagian ujung sebelah timur terdapat tanaman gantung geranium si ungu pengusir nyamuk kebun. Ari merasa bangga karena dia yang dahulu menata taman milik Ende.
"Dia peduli dengan bayi itu. Aku kenal Anuar, meskipun tidak sedekat mana, karena nggak perlu juga aku kenal makhluk seperti suamimu itu. Jadi, mau ngomong apa kamu?"
Amara menggelengkan kepalanya cepat. Dia berusaha menyangkal apa yang Ari ucapkan. Mara ingin Ari tahu betapa tersiksa dirinya selama ini. Selama setahun ini, dia mencoba berdamai dengan nasib buruk yang menghantuinya sejak menjadi menantu keluarga kaya tersebut. Tidak seindah bayangan.Tidak semanis madu budidaya di villa milik keluarga Hairul Aman di Puncak.
"Andai kata kehamilanmu adalah setahun lalu, aku rela menarik peletuk pistol dan meledakkan kepalamu. Percayalah aku mampu melakukannya," dengkus Ari sok gahar.
"Mbak, itulah aku ingin berjumpa sejak dahulu. Untuk meluruskan semua kesalahpahaman itu. Semua yang aku tahu."
"Kesalahpahaman? Hufff ! Bismillah, ayo makan, biar sehat."
Ari menggeser duduknya lantas kembali fokus dengan nasi dan ayam teriyaki yang kini terasa hambar rasanya. Ayam teriaki adalah menu saat seminar enterpreuner yang menjumpakan Ari dengan sosok Taufik pertama kali. Saat itu, dia memasukan kiritik dan saran kepada pihak penyelenggara soal porsi nasi teriyaki yang sangat sedikit. Hanya tiga suapan besar.
[Pemateri oke banget, alhamdulillah mata on terus selama enam jam. Tetapi, maaf konsumsinya membuat perut para peserta yang notabene mahasiswa miskin meronta-ronta ngajak demo! please, ya]
"Mbak Ari harus percaya sama apa yang Mara katakan."
"Dalam sahun ini, aku jijik tahu lihat kamu, dengar nama kamu."
"Ya, karena kesalahfahaman itu. Mara yakin, karena itu yang didoktrin di kepala Mbak sebagai sebuah kebenaran. "
Ari meletakkan sendoknya. "Mari bicara soal kebenaran itu. Meski akan terasa sakit, aku siap mendengarnya sekarang ini."
----------
Terima kasih sudah membaca Mbak Nareswari. Garing bener.
Ada yang ingin quiz? Boleh, sila tinggalkan jejak. Jangan malu-malu. Luv.