Ari meletakkan sendoknya. "Mari bicara soal kebenaran itu. Meski akan terasa sakit, aku siap mendengarnya sekarang ini."
Amara menelan ludah. Makanan yang dia ambil hanya untuk basa-basi mendekati Ari masih belum tersentuh satu butir pun. Meskipun sudah menyiapkan nyali seperti singa betina, toh, hati Amara kembali diliputi ragu.
"Jadi, apa?"
"Saya. Aku." Amara menghela napasnya yang mulai tersengal. Bagaimana dia akan memulai cerita. "Tidak terjadi apa-apa antara saya dan Mas Opick."
Akhirnya satu ayat pembuka terluah juga. Amara terus merapalkan doa agar mampu melanjutkan bercerita.
"Astagfirullah. Kamu tahu makanan basi itu bahaya! Dulu kamu juga bilang gitu. Nggak ada apa-apa. Nggak terjadi apa-apa. Sekarang itu lagi. Basi, tau nggak!"
Ari sontak berdiri. Sepoi angin di beranda yang dia harapkan mampu mendinginkan kepalanya justru menjadi angin puyuh setelah kedatangan Amara.
Amara Khairunisa. Konon seorang artis. Namun, namanya tidak terkenal dan tidak beken sama sekali. Bahkan belum ada yang menuliskan profilnya di wikipedia. Ari juga tidak tahu perempuan itu memulai debut sebagai apa. Perkenalan keduanya terjadi enam tahun lalu saat acara gathering keluarga di daerah lereng Gunung Lawu. Peresmian The D'Jinggo Agrotourism hadiah dari Ende Hairul pada pernikahan Ari dan Opick yang memasuki usia lima tahun.
D'Jinggo jauh dari ibukota juga Sentul tempat tinggal mereka. Ende Hairul memang terkesan dengan Gunung Lawu yang banyak menyimpan misteri itu. Dahulu, Ende Hairul pernah bertugas di Pangdam Brawijaya, salah kebiasaanya adalah naik gunung di salah satu petilasan Prabu Brawijaya V di lereng Gunung Lawu. Itulah alasanya membeli tanah di sana.
Amara cukup lama menjalin cinta dengan Anuar Prabu. Nama lengkapnya Ari tidak hafal saking panjangnya. Entah kenapa hubungan mereka lama sekali baru diresmikan. Pasca kejadian geger di hotel di mana Opick ditemukan bersama perempuan haram jadah. Ya, haram jadah itu adalah Amara, pacar Anuar. Narasi yang berkembang di semua media adalah telah terjadi percintaan panas melibatkan ketiganya. Threeshome. Opick diam mengamini semua. Jadi ....
"Mas Opick datang karena undangan Anuar. Saya tidak pernah tahu."
"Itu juga basi. Tidak ada yang baru," bidas Ari sengit.
"Itu adalah yang pertama bagi saya, Mbak."
Ari yang tengah menenggak sisa jus jeruk langsung tersedak mendengar apa yang dikatakan Amara.
"Ka—kamu, yakin nggak bohong? Subhanallah. Lima tahun, lho? Lepas perawan dan kena cekup?" Ari melirik ke kiri dan kanan lalu mengusap bibirnya dari sisa jus. "Terus, apa yang membuat kamu tergiur membuka antara dua pu-pu?"
"Dia mau nikahin saya. Konon katanya, kejadian Mbak Ari dan Mas Opick tidak boleh terulang. Garis keturunan Hairul Aman harus ada."
Ari mengerutkan dahinya. Dia merasa pelik dengan cerita Amara. Anuar adalah cucu laki-laki satu-satunya dari kakak perempuan Ende Hairul Aman. Tiada darah Hairul Aman sama sekali.
Sedangkan Agusta adalah anak dari adik lelakinya yang kabur ke luar negeri, tepatnya Jerman. Bukan kabur sebenarnya karena keberangkatan sang adik saat itu karena sponsor ship atau bea siswa sebuah partai paling besar masa Orde Lama. Sayangnya partai yang terlibat salah satu peristiwa kelam di Indonesia itu akhirnya dibekukan dan dianggap terlarang pada masa Orde Baru. Karena larangan itu banyak mahasiswa yang dikirimkan ke Rusia, Belanda, dan Jerman tidak bisa kembali ke tanah air karena tuduhan terlibat partai yang telah dilarang oleh pemerintah dan terancam bui.
Ende Hairul tidak ingin karir militernya kandas apabila keberadaan adik bungsunya diketahui pemerintah. Jadi, dia memilih menghapus nama Hasan Nur Aman dari daftar keluarganya.
Ende Hairul baru menelusuri keberadaan adiknya pasca reformasi setelah pemerintah membebaskan para tapol dan napol terkait Peristiwa 65. Saat itu Hasan tinggal di Humbrug dan memiliki seorang anak yang masih remaja buah pernikahannya dengan seorang perempuan asal Cekoslowakia. Istri Hasan sudah meninggal lama dan ketika penawaran untuk memboyong keluarga kecil itu ditolak mentah-mentah olehnya. Tumpah darahnya adalah Jerman bukan Indonesia.
Hasan hanya berpesan agar saat dia mati dikuburkan di dekat pusara istrinya. Tahun 2001 di usianya yang ke 57 tahun, Hasan meninggal dunia karena lever. Tahun itu juga yang menjadi awal kehidupan baru Agusta yang dipaksa pulang ke Indonesia. Di usianya yang baru 12 tahun dia menjadi seorang paman bagi keponakan yang usianya jauh di atasnya. Anuar yang serba sok beserta kakak-kakaknya. Sekaligus Opick yang labil.
"Kamu, cantik-cantik, kok, oneng, sih. Innalillahi," ujar Ari menahan geram. "Terus?"
"Namanya juga cinta. Saya manut saja, Mbak. Sungguh, Mara nggak tahu soal kedatangan Mas Opick. Dan satu fakta lagi, saat beliau masuk kamar karena, ya, saya juga gugup saat Nuar teriak masuk aja pintu nggak dikunci. Mas Opick nganga pas lihat kita gituan. Kek, orang kena prank. Nganga gimana, shock gitu. Pas, itulah ada petugas menyergap."
Ari berdiri lalu berjalan ke arah taman. Perempuan itu mendongak pada suasana langit Jakarta yang mulai merah. Semakin malam akan semakin merah. Ari menyadarinya kemarin malam ketika baru berada di Jakarta. Dia mengakui semburat merah langit Jakarta memang sangat terang. Entah fenomena apa, yang jelas bukan dari cahaya bulan karena purnama telah lewat sepekan lebih. Matahari apa lagi. Hanya saja saat itu beberapa tempat didapati hujan rinai. Bisa jadi air hujan yang turun itu membiaskan lampu hingga membuat langit Jakarta bersimbah warna merah.
"Hotel kami itu deluxe, lho, Mbak. Bukan hotel ece-ece. Ada balkon pribadi, ruang tamu, foyer yang itu semua nggak disebutin di berita. Ende nggak ingin tuduhan atas Mas Opick jadi semakin berat."
"Karena Opick bilang ke petugas kalau dia sengaja datang. Dia yang menyewa tempat laknat itu?"
Amara mengangguk cepat.
Benar. Jika keadaan hotel itu dibeberkan pada masyarakat entah bagaimana keluarga Hairul Aman harus menghadapi cemoohan. Belum selesai kasusnya. Kasus yang sempat membuat Opick dititipkan di Rutan Gunung Sindur agar jera. Jadi setelah kejadian itu, di mana Opick ditempatkan Ari bahkan tidak pernah mengambil tahu.
Ari memejamkan mata. Meskipun Amara mengaku tidak terjadi apapun, kenapa masih ada ganjalan. Bahkan ganjalan itu seakan secara terus menerus menerobos pertahanannya, menyebabkan tekanan di paru-paru dan d**a meningkat sehingga d**a terasa sesak. Saluran napasnya menyempit seakan dirinya pesakitan yang memiliki penyakit bawaan akibat serangan asma.
"Apakah Ende tahu soal ini?"
Amara lagi-lagi mengangguk. "Itulah keluarga Hairul Aman mati-matian mencegah Mbak Ari bercerai dari Mas Opick."
"Memang kita sudah nggak cocok satu sama lainnya, kok."
"Bohong! Mbak Ari jangan membohongi diri sendiri."
Perempuan itu mengelus perutnya. Dia bersandar untuk mendapat udara lebih. Pandanganya jauh pada hijau dedaunan di taman yang mulai menghitam dibayangi petang yang terus berlari menuju rembang malam.
"Saya tahu soal bayi itu."
Mata Ari membola dengan kesaksian yang baru saja Amara katakan. Harusnya perihal bayinya hanya Ende, Dokter dan Ari sendiri yang tahu.
"Kenapa kamu mengatakan semua ini? Bagaimana dengan Anuar?"
"Dia nggak sayang Mara, Mbak. Semua hal manis yang kami layari bersama itu palsu. Dia—"
"Mara! Mara!" laung suara berat laksana kucing garong keluar dari gorong-gorong.
"Aku ngilang dulu.Tuh, bojomu udah nyalak aja. Nggak punya sopan kek di hutan."
Ari menyambar piring keramik bekas makannya lalu berjalan ke samping. Dari sana ada pintu lain yang menghubungkan dengan ruangan tempat ia mengambil hidangan tadi. Masih banyak yang ingin dia tahu. Namun, Anuar tidak akan mengizinkan Ari sekadar mengorek keterangan hal yang sebenarnya terjadi.
Ya Allah ada apa ini? batin Ari semakin di kungkung gundah.
Perempuan itu hampir terpekik ketika melihat tangan Anuar menarik rambut Amara kasar. b*****h sekali pria yang berbuat kasar pada seorang perempuan hamil.
"Lo, budeg, ya? Dipanggil bukannya nyahut malahan bengong. Kesambet baru tau rasa!"
"Lagi makan, Hon. Kamu sudah makan?"
"Ck! Kalau dipanggil nyaut. Kalau nggak nyaut itu nggak sopan, Mara! Paham!"
"Aku lagi lihat itu, Hon. Langit Jakarta merah banget," tunjuk Amara pada langit yang lebih merah dari satu jam yang lalu.
Satu jam di mana dia akhirnya mampu cerita apa yang telah terjadi setahun lalu antara Anuar, Opick, dan dirinya. Peristiwa yang membuat kesehatan Ende semakin memburuk. Kejadian yang membuat Ari keguguran bayinya yang bahkan dirahasiakan dari Opick. Kejadian yang membuat Ari menggugat cerai Opick.
Kejadian itu memang payah. Akan tetapi, tidak bagi Anuar. Pria itu mendapatkan apa maunya. Apabila kuku tangannya yang sudah mencengkram erat, dia akan enggan melepasnya.
"B aja! Lo lihat Nares?"
"Tadi, sih, lihat pas ambil makan. Pas, Mara mendekat, dia bergegas pergi," bohong Amara.
"Beneran?"
"Ngapai aku bohong, sih, Hon."
Amara mengelus perutnya yang mulai terlihat buncit. Untung saja peristiwa setahun lalu tidak membuatnya hamil. Sepertinya ancaman Ari benar-benar akan terjadi jika saat itu Amara kedapatan hamil sedangkan berita simpang siur di luar sana mengaitkan kasusnya dengan nama Opick yang terlibat.
Kepalanya akan diledakkan dengan pistol revolver kaliber 38. Ari memiliki lisensi menembak hasil didikan Opick. Semua yang didapat perempuan itu terlihat keren.
"Ini gelas siapa? Kenapa ada dua gelas di sini?"
"Itu gelas—"
"Jangan sekali-kali ngobrol sama Nares apalagi Agusta. Paham!"
"Iya, Hon."
Mata Anuar mendelik ketika seseorang keluar dari pintu sambil satu tangannya ada di dalam saku celana sedangkan yang sebelah membawa piring kecil berisi irisan buah.
"Padahal gua udah bawa buah buat Mara."
"Woi, lo nggak lihat bentar lagi Magrib. Sono pergi ke Musala. Azan sana!" Usir Anuar ketika melihat kemunculan Agusta.
"Siyap, keponakanku."
"Genjik! Sialan!"
"Ck! Ck! Pamali misuh-misuh pas Magrib. Tuh, kasihan anak lo gerak-gerak."
Benar saja, perut Amara terlihat bergerak. Tentu saja membuat perempuan itu takjub sekaligus sedih. Bayinya bergerak ketika sang ayah misuh.
Genjik! Genjik!
------------------------
Terima kasih sudah membaca cerita Jejak Hati. Agak berat, ya?
Part ini sedikit demi sedikit terbuka, ya, kenapa waktu itu Mbak Ari langsung minta cerai. Tetapi, alasan dari pihak Mas Opick belum jelas. Kenawhy dia berbuat gitu? Iya-iya aja pas dicekup.
Kenawhy?
Luv!