Bab 46-Rasa yang Masih Sama

1977 Words
"Wilujeng tepang tahun, Kang Opick anu kasep!" Opick tentu saja tercenung dengan keberadaan mantan istrinya. Ralat. Keberadaan Ari. Dia langsung berdiri, meskipun sosok yang melaungkan ayat nan merdu itu justru duduk tanpa menunggu untuk dipersilakan. Opick hanya tak menjangka di antara keriuhan itu muncul wajah yang begitu dirinduinya. Ari duduk di depannya, setelah kedua orang tua, juga beberapa orang dekatnya memilih menepi. Keduanya hanya terdiam sambil berbagi desahan. Pria itu tak segera menjawab ucapan selamat ulang tahun yang Ari ucapkan dengan bumbu gombalan. Dia masih terlampau takjub. Kata-kata semanis madu itu jauh sekali dengan kepribadian seorang Nareswari. Biasanya, Ari akan melontarkan nasihat, mengutip petuah para bijak pandai tentang esensi peringatan hari lahir. Sejatinya tak ada awal tahun atau akhir tahun. Yang ada adalah dengan bertambahnya hari yang dilalui, maka berkuranglah usia itu sendiri. Ajal yang semakin dekat. Lalu apa amalan yang sudah diperbuat? Hampir setiap tahun itu yang didengungkan Ari ketika mengalami pertambahan usia. Saat sosok cantik itu masih menjadi istrinya. "Aku hanya ingin pulang. Menghitung hari untuk pulang. Bertemu kamu dan menuntaskan rindu ini." Kalimat magis itu terluah dari bibir Opick tanpa memutus pandangannya pada Ari. Masih perempuannya yang membuat dadanya berdentam tak karuan. Bibir Ari berkedut. Meskipun luahan hati Opick sedemikian manisnya, justru di dalam sanubarinya meraung karena kesakitan tak terperi. "Masih bolehkan Akang peluk, Neng?" Ari melengkungkan senyum. Dia segera teringat apa yang Amara ucapkan. Andai kata boleh mengundurkan waktu pasti mereka masih bersama. Andai .... Tangannya mendorong lembut sebuah hadiah. Mengangsurkan satu kotak makan dengan reben berwarna kuning gading. "Maaf, Ari buka aktris sinetron yang main drama televisi. Tidak ada skenario dalam hidupku. Peluk cium dengan sosok yang bukan mahrom, apapun imbalannya." Opick terpekur. Dia akur dengan penolakan Ari. Pandangannya tertuju pada kotak makan itu. Di sampingnya jemari kurus Ari yang berwarna hampir senanda dengan warna reben itu memanggil untuk diremas. Opick sedikit ragu, hanya melekapkan jari besarnya di atas meja, saling beradu dengan ujung jari Ari. "Kulit, Neng ... terlihat pucat?" "Justru terlihat sedikit hitam. Ari jadi relawan di pesisir Banten hampir sepuluh hari ini." Ari menyodorkan kotak makan itu. "Mungkin, Akang akan merasa lebih baik bila membukanya. Meskipun ini bukan sesuatu yang wah sebagai hadiah. Saat perjalanan pulang, aku teringat Akang sangat menyukainya." Tanpa dipinta dua kali, Opick mengurai reben itu, lalu membuka tutupnya. "Pasung? Dari ...." Ada lima biji kue pasung. Opick meraihnya satu. Dia memakan langsung dari bungkusnya dengan memencet bagian bawah. Matanya terpejam ketika ujung lidahnya menjamah gurih dan kenyal lapisan pertama berupa sagu dan santan diikuti serbuan rasa manis dari tepung yang diadon dengan gula aren. "Neng, membuatnya sendiri, 'kan?" tebak Opick. Meraih satu lagi. "Rasanya, persis yang pernah kita makan saat di kereta, ya? Makan, Neng?" Ari mengangguk. Perempuan itu memberi tahu bahwa dia sudah kenyang hanya dengan tatapannya. Ari yang mengamati gerakan bibir Opick memagut pasung itu. Ari tahu rasanya enak. Dia sudah merasakan pasung itu meski hanya satu biji. Membuatnya semirip mungkin, baik bungkus maupun rasanya. Dia hanya membuatnya sedikit. Setengahnya dia berikan pada penjaga rumah dan satpam komplek. Namun, saat melihat geraman itu tercetus dengan bertubi-tubi, batin Ari tersanjung. "Neng, pulang ke rumah kita?" soalan Opick itu sedikit menganggu. Rumah kita? Suatu malam, Ari pernah memandang rumah besar di depannya tanpa berkedip sedikitpun. Bibirnya ternganga, lalu pria yang ada di sampingnya terkekeh geli sebelum membenamkan sebuah kecupan di pelipisnya. "Sesuai pesanamu, Neng." Rumah yang pernah menampung seluruh gelora asmaranya. Namun, rumah itu juga merobohkan jasad kosong Ari. Sebuah kedukaan di mana dia selesai dengan semua hal yang berkaitan dengan si kacang polong. Bukan kacang polong. Yang benar segumpal darahnya luruh. Embrio yang sedang berusaha melekat pada dinding rahimnya untuk menjadi janin usia dua belas minggu. Melepaskan ekornya, mulai membentuk mata, hidung, mulut. Apakah dia akan semanis Ari atau setampan Opick. "Qadarullah wa maa syaa a fa'ala," lirih Ari berulang kali. Ini adalah takdir Allah. Ari melangkah pelan dengan pandangan mengabur. Dia memilih berputar, lalu duduk bersimpuh pada sebuah pusara kecil yang Ende gali sendiri untuk si piut. "Assalamualaikum. Mama datang ...." Sedu-sedannya dalam kepiluan. Harusnya dia memilih menepi di hotel setelah berpamitan dari rumah Ende kemarin. Ari belum sempat memulihkan diri setelah perjalanan dari Banten. Namun, perangkat di otaknya saling tak singkron. Menyeret langkahnya sampai ke rumah itu. Bohlam lampu berwarna putih itu menyuluh langkah Ari sampai undakan di depan pintu berwarna hitam. Tidak ada yang istimewa dari pintu kayu jati itu. Tidak ada ukiran rumit. Sesederhana apapun, itulah wajah sebuah rumah. Wajah Opick dan dirinya. Masih sama seperti malam itu saat dia pertama datang. "Bukan rumah kita. Rumah Akang, lebih tepatnya." Ari menduga Opick masih ditempatkan di Gunung Sindur, tentu saja akan sangat sulit berjumpa dengan pria itu. Berbicara dengan terpidana yang dibatasi dinding kaca. Berbicara juga menggunakan sarana telepon. Dia meminta Agusta mengurus jadwalnya, dan mengatakan itu bisa kapan saja. Aneh sekali. Ternyata Opick telah dipindahkan di Rutan Guntur. Jadi Ari sedikit kecele waktu pulang diam-diam ke rumah mereka di Sentul. Asumsinya Sentul lebih dekat dengan Sindur. Ari memukul kepalanya berulang. Nafsu sekali dia ingin berjumpa Opick, memasak makanan kegemarannya sampai dia lupa sejatinya apa yang dia lakukan itu justru seperti membuka pintu hatinya lebar-lebar. Bahwa rasa itu masih sama. "Neng! Ulah gitu." Opick tidak harus berteriak lantang dengan mengatakan, pantang baginya meminta apa yang sudah menjadi milik perempuannya. Seperti menjilat ludahnya sendiri. Opick meremas rambutnya yang sedikit panjang, hampir mencecah leher. Tatapannya yang tadi lembut akibat kenikmatan sesaat yang Ari tawarkan lewat kue pasung, seketika sirna. Pria itu mendengkus, pandanganya kini berubah tajam seakan sebilah parang yang keluar dari warangkanya. "Itu rumah kamu!" "Terima kasih, Kang." Ari memalingkan mukanya menghindari tatapan Opick yang menikam. Pandangannya membentur tembok berwarna putih, lalu pada penghuni lapas lain yang mencuri pandang pada mereka berdua. "Akang enggak suka menjilat ludah sendiri, Neng. Kecuali, untuk memintamu kembali. Apapun akan aku lakukan." Ari hampir tersedak ludahnya sendiri. Dia menarik kedua tangannya yang terkepal di atas meja. Terlambat, Opick sigap meraihnya dengan cepat. Mencekal pergelangan tangannya. "Tolong lepas, Kang! Ini benar-benar tak pantas. Jangan buat Ari enggan menatap Akang sebagai sahabat lagi. Aku memintanya dengan baik-baik." Opick tidak jua melepas tangan Ari, tetapi sedikit merenggangkan genggamannya. Jari Opick justru memilin cincing mungil di jari manis itu. Sentuhan yang menerbangkan lamunan mereka berdua pada masa lalu. "Cincin pertunangan dan kawin kita di mana?" Opick akhirnya meletakkan tangan Ari ke atas meja. Pelan, sangat pelan. "Ibuk yang simpan. Beliau ingin Ari cepat melangkah ke hadapan, berpaling dari masa lalu yang mengenaskan. Move on kata, Ibuk." "Begitu mengenaskan, ya?" Ari tertunduk. Sebenarnya, dia tidak tahu. Lagi-lagi kilasan apa yang dikatakan Amara berlompatan di alam pikirnya. Tidak terjadi apa-apa antara saya dan Mas Opick. Mas Opick datang atas undangan Anuar. Selama ini Ari menganggap ujian hidupnya hanya soal ketiadaan anak. Hidup tanpa anak dan ditanya pasal anak sudah begitu membuat hatinya hancur bagai dilindas truk. Lalu Opick harus berurusan dengan hukum. Pria itu tampak tenang dari awal menjalani masa tahanan. Resiko orang bisnis katanya saat itu berusaha membesarkan hari Ari. Mendapat proyek itu tidak mudah, selain nama baik, ada harga yang harus dibayar. Meskipun selama ini terbiasa hidup mewah di istana sebagai pangeran. Kini hidup di ruangan sel berukuran dua kali dua setengah meter. Tidur di atas dipan beton yang disekat pendek dengan penturas. Ruangan itu tanpa ventilasi, hanya teralis besi. Pergantian udaranya hanya oleh kipas angin yang berputar. Ari sempat miris melihatnya, apakah Opick sanggup menjalani sisa hukumannya. "Hidup Ari akan lebih baik setelah kembali bergaul dengan orang biasa. Asalnya Ari memang orang biasa, 'kan?" Ari tidak tahu juga kenapa lidahnya lentur berkata seperti itu. "Neng pikir, Akang belum insaf?" "Kita sama-sama tahu. Akang ada di sini dengan segala fasiltas yang minim. Setidaknya, Akang akan menjadi manusia yang lebih baik ke depannya. Jangan mencoba menambah dosa dengan menyuap sipir untuk sebuah kemudahan. Itu pesanku, Kang." Air mata itu menghambur juga tanpa mau berkompromi. Opick berputar, merengkuh perempuannya dalam pelukan yang mendamaikan. Ari tahu ini salah dan harusnya tak boleh menyambut kehangatan dekapan yang Opick tawarkan. Namun, raganya begitu merindui, batinnya kacau balau. Ari mundur, mengambil jarak atas kedekatannya dengan Opick ketika banyak mata mulai memperhatikan mereka berdua. Namun, lagi-lagi pria itu tak serta merta melepasnya. Justru kembali mengengam jemarinya. Mengangkat sejajar d**a. "Cincin ini, kamu beli saat kita di Rangkas Bitung, 'kan? Cincin yang mungkin akan datang menolongmu suatu hari nanti. Itu yang kamu bilang dulu." Ari memang sempat membeli sebuah cincin di toko emas dekat Pasar Rangkas Bitung. Saat mereka akan kembali ke Jakarta. Opick sempat keheranan, tetapi akur dengan alasan gadis itu. Konon, honor pertama di Amanah Mulia. Opick mengangsurkan uang seratus ribu, hibah katanya. Dia sendiri hanya membeli sate bandeng juga kue pasung untuk teman perjalanan ke Jakarta. Opick meraba permukaan benda berwana kuning itu. "Neng, Akang ingat tentang cincin ini." "Akang, tak beraniat menagih hutang, 'kan? Opick menggeleng. Lalu tersenyum. Senyum yang membuat Ari menundukkan pandangannya dalam kegalauan. Senyum pria itu senantiasa putih, tulus, cemerlang, laksana kejora di pagi hari. "Cincin ini memang bukan cincin kawin, tetapi mengikat cerita kita. Segala kenangan kita." Opick menunduk mengecup jari manis Ari, di mana tempat cincin mungil itu melilit. Tentu jiwa Ari kembali bergolak seakan ditampar ombak besar. Dia berusaha menepisnya. Namun, bukannya bergeser, Opick justru menyambar bibir Ari yang tergagap oleh tindakan gesit Opick. "Rasanya masih sama, Neng," desah Opick seakan diliputi kabut rindu. Jejak cinta itu masih memasung hati mereka berdua. "Ini enggak pantas. Ini dosa, Kang!" Ari menyumpahi hatinya yang rawan. Semuanya berawal dari niatan untuk memuaskan beberapa pihak salah satunya kakak sulung juga mertuanya yang terus menjadikan huru-hara agar Ari mau melihat keadaan Opick di lapas saat ulang tahunnya yang ke 36. Kesehatan Opick memang tidak seberapa bagus. Dari hasil tes darah yang jauh-jauh disodorkan Agusta. Triglirisida tinggi, LDL tinggi HDL sangat rendah. Itu artinya kolesterol jahat sedang berusaha menumpuk disaluran arteri Opick. Penyumbatan pembuluh darah arteri bisa meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung. Ditambah mogok makan, gerd naik. Game over! Bagus, 'kan? Namun, sisa kasih yang seakan plak di lambung kapal itu masih menempel kuat bercokol di hati Ari. Saat orang-orang itu meninggalkan dirinya hanya berdua dengan Opick. Kedua insan itu seperti dilempar pada satu dasa warsa lampau saat Opick pertama kali kepincut Ari yang hitam manis mendekati dekil. Beberapa jerawat yang menghiasi mukanya yang sedikit berminyak karena terlalu lama berada di lapangan, seketika itu kerinduan itu tumpah ruah. "Dinu kiwari ngancik nu bihari, seuja ayeuna sampeureun jaga.'' (1) Ari mengerang ketika Opick coba mengutip tulisan yang terpampang pada Tapas Lawang Salapan Dasakreta ikon Kota Bogor. "Maksudmu apa, Kang? Akang jangan sok filosofis, tetapi nggak tahu makna sebenarnya apa." "Versi Akang, ikhtiar hari ini adalah untuk esok yang lebih baik," sengih Opick yakin. "Katampi pisan hartosna!" ( 2) ujar Ari sarkas. "Tentu saja. Setiap orang harus punya goal. Meski jasadnya terpasung di penjara sempit." Sekali lagi Opick meremas jemari Ari. Kalimat penutup itu membuat dadanya bergemuruh. Ada apa dengan semua ini? Antara benci, malu dan mendamba bergolak dalam d**a. Mereka berdua masih manusia yang diliputi nafsu, kerinduan yang coba mereka pendam, mungkin akan tumpah menyeret mereka dalam kubangan dosa. Setan memang hobi membakar menyan supaya pasangan bukan mahram ini mabuk kepayang. Apalagi diperkuat cerita si Amara, tambah linglung Ari. Hatinya terbolak-balik oleh senyuman Opick. "Terakhir kalinya sebelum Ari pamit. Akang cukup mengangguk jika itu benar dan menggeleng jika itu salah." Ari menghela napasnya pelan. "Anuar menyimpan rahasia besar Akang? Iya, kan?" __________ 1. Apa yang dilakukan hari ini adalah warisan masa lalu. Apa yang terjadi saat ini adalah warisan untuk generasi berikutnya. 2. Cocok sekali artinya! -------------- Saya suka lagu ini pas ngetik; Lewat Semesta milik Randy Pangalilla. Cukup mewakili isi hati ngunu. Adegan Ari ngerspon si Kang Opick jangan digeneralisir, ya. Kok hijaban kek gitu? Di sini saya menuliskan sosok Ari yang labil yang masih cinta mati sama mantan. Setan mah bisa aja bakar menyan supaya pasangan bucin dan bukan mahrom ini mabuk kepayang. Penggemar abahnya Kenyo tenang, kalem dulu, ya. Ketjup jauh ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD