Bab 47-Bezuk

1732 Words
Opick divonis penjara lima tahun dan denda 250 juta subsider masa kurungan. Saat kejadian tertangkap basah di hotel karena memalsukan izin ke luar penjara dengan alasan berobat, pria itu sudah menempuh masa tahanannya selama tiga tahun lebih. Opick memang kooperatif, tetapi bukan tidak bertingkah sama sekali selama di penjara. Termasuk kasus bilik asmara yang melibatkan suami seorang artis senior itu. Opick juga terlibat karena selain ikut iuran untuk memperbaiki fasilitas kamar khusus tersebut. Ari sendiri lebih nyaman berjumpa suaminya di sana. Sekali lagi meskipun bilik asmara, tidak melulu hal m***m yang mereka lakukan. Terkadang hanya berbaring sambil berpelukan dengan cumbuan kecil. Ngobrol ngalor ngidul tentang dunia luar. Hal itu sangat tidak nyaman dilakukan di tempat terbuka dan dilihat sesama keluarga nara pidana.Jadi, Ari sudah biasa keluar masuk penjara untuk sekadar menengok atau bahkan melayani kebutuhan batin Opick. Pelanggaran level tiga itu yang dianggap mencoreng citra pengawasan Kementrian Hukum dan Ham itu lah yang membuat Opick dititipkan di Gunung Sindur. Lebih mudah mengawasinya konon. Di Gunung Sindur akses untuk menemui napi sangat terbatas. Padahal banyak tahanan kasus korupsi juga melakukan hal nista, tetapi tidak ada yang dipindah ke Gunung Sindur. Setelah tiga bulan Opick dikembalikan lagi ke Sukamiskin. Lalu kejadian paling j*****m itu terjadi mencerabut segala kepercayaan Ari yang pada awalnya begitu kokoh. Kepercayaanya akan kesetiaan Opick rontok seperti sebuah lukisan puzzel yang jatuh dari ketinggian. Namun, setelah acara sema'an dan pembicaraan empat matanya dengan Amara, puzzel yang telah terkecai itu satu persatu mulai tersusun kembali dengan indah. Ari dengan telaten mumunguti kepingan kenangan indahnya dan menepis semua hal buruk itu. Lebih banyak hal manis yang dia arungi bersama Opick. Bersama dengan itu sebait doanya dilangitkan untuk sebuah kebaikan. Bisakah jodoh mengaitkan mereka kembali? "Sudah sampai." Suara Agusta memecah lamunan Ari. Di hadapanya kini bangunan rumah sakit milik Bhayangkara itu menjulang mengalu-alukan dirinya masuk. "Terima kasih, ya. Aturan kamu nggak usah ngantarku. Aku tahu betapa sibuknya Tuan Agusta." "Karena ada hal yang gua urus di sekitar sini. Jangan merasa sungkan. Bukan gua yang baik hati mengantar lo. Berterima kasihlah pada sopirnya Pak Dadang." "Sungkan, sih, nggak. Hanya saja —terima kasih, Pak Sopir. Jasamu kan ku kenang selalu ...." Sopir keluarga Dadang Amanjaya tersenyum ringkas. Sudah biasa mendengar kalimat sarkas dari mantan istri anak majikannya itu. Ari bergegas turun dari mobil. Mobil itu bahkan hanya berada di luar pagar utama. Tidak jadi masalah. Tujuannya ke tempat ini sekadar silaturahmi atau bisa dibilang basa-basi. Tidak mungkin melewatkan menengok keadaan Nyonya Erlita. "Gua tahu setelah ini lo akan kabur. Jadi, gua ingatkan jangan lupa akhir bulan ini rapat pemegang saham." "Bagaimana dengan permintaanku. Aku butuh jawaban itu secepatnya. Lo gue lo gua. Nggak sopan sama orang tua!" "Apa, orang tua? Nggsk salah?" Agusta justru mendengkus sambil menyarangkan jari kelingkingnya masuk ke kuping. Bukankah dia adalah paman dari Opick. Ngawur! Memang saat kuliah angkatan Nareswari lebih tinggi. "Ingat, ya. Saya senior lah." "Woke, Seniorita. Eh, Madam. Tidak ada rahasia apa-apa. Opick melakukanya karena enggan melihat lo tertekan. Itu saja." "Kenapa harus dengan hal yang menjijikkan itu? Kenapa Amara bilang Anuar menjebaknya? Aku bahkan hampir mati dibuatnya." Anakku bahkan mati karena peristiwa itu. Apakah dia patut memberi tahu Opick agar pria itu menyesal seumur hidupnya? Batin Ari ingin mengumpat. "Setiap orang punya rahasia, Nareswari. Rahasia Opick terkait diri lo. Demi Allah, Opick melakukannya agar lo tetap aman dan nyaman." "Ck! Udah, deh." "Lo ada hubungan apa dengan pria itu?" "Penguntit! Apa kamu juga lapor sama Opick?" "Belum. Lihat saja nanti." "Woi, mendingan buruan sana nyari istri kamu. Biar jiwa kepomu itu nggak meronta-ronta. Bergejolak kek Gunung Merapi." "Gusti! Belum juga setahun kita nggak ketemu. Jadi miring gini lo. Kurang sajen apa kurang belaian? Huh?" Ari bergegas meninggalkan Agusta. Tidak ada untungnya berdebat dengan seorang mata-mata. Aneh juga Agusta menjadi sosok yang lantang tanpa sopan santun. Seperti saat pertama dahulu mereka saling kenal. Masa bodoh. Bergegas langkah Ari menyusuri lobi rumah sakit Bhayangkara. Dia tidak tahu apakah korban tsunami yang dirujuk ke rumah sakit ini dirawat terpisah atau menjadi satu dengan pasien umum. Jalan terbaik mungkin menelpon Rahmadi. Akan tetapi .... Perempuan dengan gamis warna coklat tua beraksen sulur coklat muda itu akhirnya memilih mengorak langkah menuju meja informasi. Erlita Puspasari dirawat di sebuah ruangan VIP. Jadi, bukan ruangan umum. Seorang perempuan pertengahan 60 an menyambut Ari. Perempuan tua yang menurut Ari masih terlihat trendy dengan keudung yang melengkung tinggi seperti bukit paralayang. Gaya berkerudung yang mengingatkan Ari pada artis keroncong Hetty Koes Endang. Salah satu penyanyi lawas keegemaran ibunya. Ari sering mendengar Nyonya Suryati menyenandungkannya, mengajak bernyanyi bersama. Namun, Ari bukan generasi penikmat musik keroncong yang menurutnya membuat menguap, mengantuk dan mendengkur. Bahkan ketika dia mendapat tugas untuk mengepel lantai saat masih belia musik itu tetap membuatnya berulang kali menguap. Ari lebih rela membenturkan kepala ke dinding mengikuti irama musik. Setidaknya itu membuat semua baik-baik saja dari pada menjauh dan ibunya mengatakan dia tidak cinta produk-produk Indonesia. Berdiri bulu romaku. Ah ... Begitulah sang ibu biasa bersenandung. Selain perempuan yang Ari duga adalah ibunda dari Erlita di sana juga ada seorang lelaki sepuh yang menyambutnya dengan anggukan dan langsung mempersilahkanya duduk. Lelaki itu duduk di salah satu sofa sambil membaca koran. Beberapa kali tangannya berusaha membetulkan kaca mata tebalnya. "Silakan duduk, Nak—?" "Saya Nareswari, Ibu. Bapak. Saya relawan yang membersamai Nadi pasca tsunami." "Ya Allah. Ini, relawan yang itu, Pah. Nolongin Nadi." Ibunda dari Erlita mengeser duduknya pada Ari. Tangan tua itu merengkuh tubuhnya seakan tanpa jarak. Seakan sudah bergitu lama saling kenal. Tangan tua itu naik turun mengusap punggung Ari, membuat gejolak rindunya pada sang ibu ikut melambung. "Syukur alhamdulillah, Nak Nares bisa menemukan dan menjaga cucu kami," ucap sang bapak tua itu terlihat bungah. "Saya Asmadi, kakeknya Nadi." Ari kembali menangkupkan tangan di depan d**a setelah ibunda dari Erlita melerai pelukannya. Masih dengan mengenggam jemarinya, hingga tangan tua itu ikut terangkat. "Nggak nyangka, ya, relawan yang nolong Nadi cantik banget. Sudah gitu nggak sombong," puji Nyonya Asmadi yang ditimpali tawa oleh sang suami. Rupanya Pak Asmadi setuju dengan apa yang diucapkan istrinya. "Ibu bisa saja." Ari merona malu. Pujian itu membuat kepalanya membesar sebesar balon. Kalau tidak ada khimar yang membalut kepalanya bisa balon itu menjelma menjadi balon udara hanya tinggal memasang keranjang di bawahnya lalu terbang mengangkasa. "Jadi kedatangan saya ini, yang pertama tentu untuk ingin menjalin tali silaturahmi, Bapak dan Ibu." Kedua orang tua itu mengangguk penuh seri di wajahnya. "Yang ke dua, saya ingin membezuk Nyonya Erlita. Ibundanya Dek Nadi." Hati-hati Ari meluahlan maksud kedatanganya. Dia maju mundur untuk membubuhkan identitas lainnya sebagai anak magang yang mengenal Rahmadi. Ari takut justru pengakuannya akan membuat suasana menjadi muram atau tidak selesa. Nyonya Asmadi menoleh pada putrinya yang terbaring memejam mata rapat-rapat. Perempuan tua itu mendesahkan napasnya pelan. "Kami patut bersyukur. Nyawa Erlita selamat meskipun kakinya mengalami farktur. Cedera bagian tulang kering." Ari menganguk. Belum berniat mendekati sosok yang terbaring tenang di atas ranjang putih rumah sakit. Pada pandangannya perempuan yang terbaring diam itu masih secantik yang dia ingat. Cantik sekali meskipun saat itu terlihat bengis secara bersamaan. "Pah, Rahmadi sama Nadi ke mana, ya? Ada tamu, mbokya ditelepon sana." Jangan-jangan! jerit Ari dalam hati. Lebih baik dirinya tidak terserempak dua makhluk itu. Entahlah. Teringat respons terakhir Nadi tiga hari lampau yang teramat sangat sadis. Levelnya diatas Afgan. Di atas Bon Cabe level End Max. Sadis banget. Sedangkan Rahmadi, tidak berjumpa juga tidak masalah. "Katanya nyari makan. Entah ke mana nyari makannya." "Tidak perlu repot-repot, Bapak Ibu," ucap Ari penuh basa-basi. Tujuan utama jelas, agar kedua makhluk itu tidak perlu cepat-cepat pulang ketika mengetahui keberadaanya di ruangan tempat Erlita dirawat. "Kalau Nadi, ya, mesti tau kalau Nak Nares ada di sini. Sudah susah payah datang. Eh, ngomong-ngomong, Nak Nares rumahnya dekat sini?" "Saya Sentul, Bu. Bogor. " "Lumayan jauh juga. Saya mikirnya malahan Jakarta. Sekitar Kramat Jati sini." Perempuan itu mengusap sisi kiri kerudungnya. Merapikan apa yang sudah rapi. Apa Ari harus bilang kalau rumah mertuanya hanya sekitar delapan menit dari rumah sakit ditempuh dengan kendaraan roda empat? Tidak perlu rasanya. Kecuali, dirinya ditanya sudah menikah atau belum. "Nadi itu sedikit pembangkang. Pasti lelah ngurusi dia, ya?" "Nggak kok, Bu." "Nggak apa-apa, Nak. Saya tahu memang cucu kami itu sedikit mrengkel. Ya, Pah, ya?" "Huum. Syukur, ada yang tahan sama kelakuan dia. Nah, waktu Rahmadi—abahnya si Nadi dapat telepon dari temannya waktu kerja di Cilegon itu bahwa Nadi sudah ketemu, baik, sehat bukan main leganya. Maklum, bapak dan anak sudah lama tidak berjumpa." "Nak Nares sempat berjumpa menantu kami?" Mulai masuk pada cerita sensitif ini, pikir Ari. "Iya, Bapak Ibu. Saya sempat ketemu Bapak Rahmadi." "Iya. Nadi itu anak broken. Abah sama mamanya sudah pisah," imbuh Nyonya Asmadi. Suara perempuan tua itu begitu lirih. "Namun, ketika melihat bagaimana telatennya Rahmadi ngurusin Erlita, kami ingin mereka guyup lagi. Mbangun nikah. Rujuk gitu, Nak." "Mah! Kok, ngobrolnya jadi ke mana-mana. Nggak enak sama Nak Nares." Pak Asmadi melihat rona merah yang makin tebal menghiasi kulit wajah Ari yang putih. Sedikit pucat sisa penat akibat akrivitas di pesisir Banten agaknya. "Eh, maaf, lho, Nak Nares. Saya suka keceplosan. Tapi, hal baik yang saya inginkan buat mamanya Nadi. Insya Allah diijabah sama yang di atas." "Aamiin, Bu." Ari merekahkan bibirnya meski dengan sedikit sulit. Entahlah, kenapa bibirnya sulit sekali untuk merekah sempurna. Ada apa Nareswari? Kamu gundah Rahmadi CLBK dengan Erlita? Satu suara dalam sudut hatinya bersenandung lirih. Membisikkan kata-kata tidak senonoh. Apa pentingnya pria tua itu hingga dia harus diliputi perasaan berkecamuk tidak jelas. "Maaf sebelumnya. Bukan maksud kepo. Nak Nareswari sudah berkeluarga?" "Sampun, Ibu. Sudah." "Yo pasti sudah. Cantik gitu, Mah." "Bapak dan Ibu bisa saja." Ari melirik pergelangan tangannya. Tidak terasa sudah satu jam dia berada di kamar rawat Erlita. Perempuan itu memandang pada tubuh Erlita yang masih saja diam. "Bapak Ibu, karena sudah lumayan lama saya di sini, saya ingin memohon diri." "Waduh, sudah sejam rupanya." Ari berdiri diikuti Bapak dan Ibu Asmadi. Keduanya mengekori Ari yang melangkah mendekati tempat Erlita terbaring. Bu Erlita kamu tetap cantik seperti belasan tahun lampau, bisik Ari. "Terima kasih, Nak Nares." "Iya, Ibu Bapak." Sekali lagi Ari menoleh sebelum pergi. Kakinya berundur dua langkah ketika melihat mata Erlita bergerak pelan. Sedikit gemetar dan gugup melingkupi hati. Mata itu memakunya setelah benar-benar terbuka. Tiada pergerakan berarti seperti sebuah keterkejutan dan itu melegakan Ari. "Saya pamit. Assalamualaikum." Klik! Ari menutup pintu ruangan tempat Erlita di rawat dengan perasaan berdebar. Ya Allah, apa Nyonya Erlita mengenalinya? "Nares!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD