Bab 48-Emisi Nokturnal

1554 Words
“Kita berdua sudah cukup …,” desis prianya. “Tapi, Kang ….” “Jangan dengarkan orang tua itu, Neng!” bisik pria itu selembut bayu pagi. Dari setiap desah lisannya penuh tekanan. Di sela bisikan itu sang pria memberi gigitan kecil di pipi Ari, membuat ceruk terdalam jiwa perempuan itu porak poranda dihantam gelombang pasang bernama hasrat. Mereka memadu kasih, berbaring pada ribaan mega-mega memandang birunya langit dalam rengkuhan sayap asmara. Keduanya mengembara sampai puncak nirwana. Tiba-tiba kilat yang amat menyilaukan datang diiringi dentuman keras, lalu pria itu hilang ditelan gumpalan awan berwarna kelabu. Errr ... errr ... errr. Ponselnya berputar di atas nakas. Ari tak hirau dengan benda itu. Ia belum sepenuhnya pulih dari kengeriaan yang memabukkan sebentar tadi. Ari berusaha bangkit dari tempat tidurnya dalam keadaan porak poranda, tetapi gagal. Dengan kelopak mata yang masih setengah terpejam, berjumpa buram peraduan yang sangat dia kenali. Kamarnya di D’jinggo. Napas Ari hampir putus ditelan desahannya sendiri. Bagaimana mungkin si b******k itu semakin membelenggu hatiku, batinnya. Pria itu menyentuhnya dalam ceruk terdalam hidupnya, membuat tubuh lemah mendamba. "Huwallahu, allahu rabbi, la syarika lahu. Ya Allah Tuhanku, tiada sekutu bagi-Mu." Ari mendesah mengatur napasnya. Tangannya mengusap dahinya yang berkerut dalam. "Itu tadi setan, ‘kah? batinnya kembali dilanda gundah. Itulah kenapa Ari enggan bersemu muka dengan Opick. Dia merasa kotor, selalu membayangkan pria itu. Dia belum memastikan, apakah ini normal. Ari tidak punya referensi selain Tuan Sok Tau bernama ‘Google’. Untuk sekedar berbagi dengan sesama perempuan, dia ragu. Apakah mimpinya normal? Kalau Nyonya Suryati tahu, pasti Ari akan segera diseret ke pelaminan dengan entah siapa saja asal itu pria yang mampu naik bumbungan rumah sekadar membetulkan genteng bocor. Entah Ari siap atau tidak. Untung dirinya sedang menyepi di D’Jinggo. Suaranya saat terpuaskan tidak termaafkan lagi. Suaranya melolong ampai-sampai membungkam siulan unggas malam. Ari sebenarnya ada niatan, menemui seorang ahli medis, yang mungkin akan lebih melegakan dan membantu mengatasi mimpinya. Namun, dia masih ragu. Tidak siap jika hal yang beberapa kali membangunkan dirinya dari tidur nyenyak adalah suatu kelainan. Ari yang berhijab rapi, pada kenyataanya seorang nymphomania. Pikirannya terus berulang pada hal tak senonoh itu. Satu hal yang tidak diinginkan. Sebuah obsesi untuk melakukan hubungan seksual. Arghhh …. Lagi-lagi sleepgasm. Terbangun, di tengah puncak kenikmatan yang intens. Lagi-lagi pria yang memacunya adalah, si b******k Opick. Pria itu merecoki hidupnya lewat mimpi basah yang memalukan. Dalam mimpinya pria itu tampan sekali seperti biasa. Pertanyaanya, apakah wajar perempuan mimpi basah? Ari yang tadi sempat bangkit, kini kembali terkapar di atas ranjang. Apakah sleepgasm masuk kategori mimpi buruk? Mimpi itu, bisa saja bisikan hati karena merindukan Opick. Atau merindukan seorang pasangan. Bisa juga hanya sebuah bisikan setan. Setan dalam wujud Pangeran Negeri Dongeng. Atau, bisa saja, karena kabar gembira dari Allah. Mungkinkah kabar gembira itu, dirinya mengangguk setuju atas permintaan itu. Rujuk. Kalimat itu begitu mengakrabi dirinya. Ari mengelengkan kepala, mengusir andaian itu. Berandai-andai itu juga bagian dari bisikan setan. Siapa yang harus mendengar rintihannya? Mimpi buruknya. Bukankah ada larangan untuk menceritakannya aib ini, pada orang lain? Ari menatap langit-langit kamarnya. Plafon yang didesain dari anyaman buluh bambu wulung yang diplitur. Dia sendiri yang menghimpun para pengerajin musiman dari tetangga desanya untuk mendesain dan memasangnya. Saat tidak ada peluang kerja di sawah, atau musim paceklik para buruh tani banyak yang beralih profesi menjadi pekerja bangunan, sedangkan para orang tua lebih memilih menganyam gedeg atau tabak. Bambu Wulung yang punya warna dan daya lentur tinggi jadi primadona. D’Jinggo juga menyediakan kelas menganyam bagi pengunjung yang memilih berkemah untuk mengisi liburan. Untuk menyelamatkan salah satu warisan nenek moyang, dia menawarkan kelas menganyam. Hasilnya, lumayan memicu minat pada kalangan muda juga warga emas yang ingin mencari kesibukan. Pengunjung yang tinggal lama di perkemahan kebanyakannya dari luar kota. Orang-orang yang merindukan alam dan kesunyian. Libur sekolah adalah puncak hunian D’Jinggo penuh. Dahulu kamar ini adalah salah satu tempat favoritnya bila pulang kampung. Tentu, bertumpuk pula kenangan yang sudah dia kecapi bersama Opick. Mengecapi madu cinta. Awalnya, D’Jinggo hanyalah villa yang diberikan sebagai hadiah ulang tahun pernikahannya. Di tahun kelima, yang menurut sebagian orang, adalah tahun rawan. Menurut rumus juga, pada tahun ke lima chemistry pasangan memudar, dophamin menyusut, lalu hubungan menjadi tawar. Mungkin itu hanya hipotesis, rasanya Ari baik-baik saja saat itu. Ari dan Opick seperti dua sisi mata uang. Bagaimana mungkin mereka bisa terpisahkan? Ya Tuhan. Dia harus segera keluar dari kamar, atau hal lebih buruk akan merajai pikirannya. Di tahun ini saja dia telah mengalami emisi nocturnal sebanyak tiga kali. Mimpi yang selama dia menikahpun, rasanya belum pernah terjadi. Tentu saja, dia hampir tak terpisahkan dengan Opick. Matanya yang masih berair berusaha melihat jam di atas nakas. Pukul satu dini hari. Meraih selimut yang sudah tercampak ke lantai, sekaligus menyambar sprai yang juga kusut, sekusut keadaanya. Dengan terseok-seok dia melangkah sambil menyeret apapun yang ada di atas peraduannya. Ari membenam kedua benda itu ke dalam mesin cuci, seakan apa yang terjadi barusan akan segera enyah oleh kombinasi air dan sabun. Dengan langkah gontai masih berbalut piyama yang terkapai-kapai karena kancingnya terbuka oleh tangan nakalnya sendiri, Ari menuju pancuran, meludah ke kiri tiga kali, lalu membiarkan air dingin mencumbui tubuhnya yang dibekap gigil. Selesai saja dengan pelampiasannya, Ari mengambil air wudu, menghampar sajadah. Siapa lagi yang dapat mendengar jeritan hatinya selain, Sang Khalik. Ya Allah, penuhkan cawan hati ini dengan cahaya Rabbani-Mu yang tak pernah malap. Lama Ari tunduk, dalam munajat panjang. Saat kembali mendekati nakas, saat dia akan meraih buku Riyadhush Salihat. Buku yang sudah dibelinya beberapa tahun lampau, tetapi belum selembarpun dia tadaburi isinya. Kebiasaan buruknya, membeli lalu menumpuk buku. Sebagian sempat dibuka tetapi tidak selesai dibaca. Did not finish, istilahnya. Memulai tetapi tak selesai. Ari kembali menutup buku dengan sambul hard cover tersebut, ketika matanya kini justru kembali teralihkan pada ponsel yang berkedip hijau. Dia meraih benda itu, ada sebelas panggilan, juga dua pesan. Dari Rahmadi. Ari mengeser notifikasi itu. Panggilan terakhir bahkan baru saja. Lima belas menit yang lalu. Pantaskah dia langsung menghubungi balik panggilan dini hari itu? Adakah hal yang penting? Ari menggengam ponselnya, meletakkan di dagu. Dia mondar-mandir bahkan melupakan akan apa yang tadi menyebabkannya terbangun. Ada apa gerangan Pak Tua ini? Sejak peristiwa terpergok Kenyo dalam perjalanan ke Cilegon-Jakarta, hubungannya dengan bapak dan anak itu memang mengalami surut yang tidak tahu kapan akan kembali pasang. Meski sebelum pulang, Ari menyempatkan diri menjenguk Erlita hanya berbekal pencariannya pada bagian informasi rumah sakit. Di ruangan tempat Erlita dirawat hanya ada kedua orang tuanya.Rahmadi dan Kenyo sendiri tidak tampak batang hidungnya. Ari memperkenalkan diri sebagai relawan yang berkesempatan mengenal Nadi saat di pengungsian. Janda Rahmadi itu tidak tampak mengenalinya sama sekali. Mungkin? Karena Erlita sedang dalam pengaruh obat, jadi wajar kalau Ari merasa lega. Setidaknya satu dari banyak hal yang menganjal hatinya lupus juga. Jadi ada apa, ketika hampir satu bulan ini, pria itu menghubunginya di tengah malam buta. Di saat dia juga sudah mengabaikan semuanya. Banyak hal yang perlu Ari susun menurut skala prioritas. Adanya Kenyo dan Rahmadi yang sebentar masuk dalam hidupnya itu, rasanya hanya sebuah siklus yang biasa. Bertemu kemudian berpisah. Mungkin suatu saat akan bersua lagi. Mungkin juga tidak akan ada pertemuan lagi sampai ajal menjemput. Itulah lumrah hidup. Ada yang hanya berteman di bangku kuliah atau sekolah. Ada yang berdesakan di dalam bis kota tanpa sempat menitip nomer penyerta. Segala istilah pertemuan itu rahasia Illahi. Perjalanan tiap perjodohan nasib itu sudah digariskan. Justru perjumpaan di depan kamar itu menandai akhir semuanya. Rahmadi yang hanya sempat menyapannya sambil lalu. "Nares!" "Pak Adi." Ari meringis karena melepas desahan begitu keras setelah berhasil menutup pintu rawat inap Erlita. "Mumpung di Jakarta saya sempatkan diri menengok Ibu Erlita.' "Terima kasih, ya." Keduanya diam. Berdiri dalam jarak lima petak lantai keramik rumah sakit yang berwarna kelabu itu. "Kenyo. Eh, maksud saya, Nadi mana, Pak?" "Dia tadi di belakangku. Dia —" "Enggan bersemuka dengan saya?" "Ya, bukan gitu Nares. Sorry kalau sifatnya labil dan jutek gitu. Dia perlu waktu." Rahmadi menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ari memperhatikan dengan saksama pria matang di hadapannya. Penampilan Rahmadi tampak segar karena potongan rambut barunya. Jambang yang kemarin tampak membayang di wajahnya kini terlihat bersih. Berbeda dengan Opick yang seumur kebersaman mereka tidak pernah bercukur sampai bersih. Opick sengaja memelihara jambang. Bagi Ari jambang menjadi bagian dari wajah kaum Adam yang membuatnya terlihat lebih jantan dan gagah. Sunnah rasul juga. Kenapa jadi melantur, Nareswari! Plak! "Eh, enggak pa-pa, kok." Keduanya tampak saling tidak nyaman. Seperti berdiri di atas ujung duri. "Oh, ya sudah kalau begitu, saya pamit, Pak. Sampai jumpa. Bye." "Bye. Ari lebih dahulu memutus segala rasa tidak nyaman itu. Perempuan itu menaikkan tangannya dengan sedikit anggukan. Bibirnya melafaz salam perpisahan. Salam terakhir Ya, itu saja. It is endgame! The idea that a particular potential romantic couple is meant to be together. Ari pernah mendengar istilah itu entah di mana. Akhir dari permainan. Dan gagasan bahwa mereka adalah calon pasangan romantis seperti godaan Pak Imam rasanya sangat jauh. Asyik sekali hidup Rahmadi dengan istri, mantan istri dan mantan bocah magang yang datang mengerumuninya. Errr ... errrr ... errr. Suara ponsel yang bergesekan dengan nakas mengembalikan Ari pada lamunan sebulan lampau. Ragu Ari mengapai benda persegi bergambar apel bekas gigitan nenek sihir itu. Ada apa Rahmadi menelponnya? Lagi-lagi segala andaian berputar di minda Ari. ------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD