Errr ... errrr ... errr.
Suara ponsel yang bergesekkan dengan nakas mengembalikan Ari pada lamunan sebulan lampau. Ragu Ari mengapai benda persegi bergambar apel bekas gigitan nenek sihir itu.
Ada apa Rahmadi menelponnya?
Keraguan itu tentu ada musababnya. Mereka bertiga bukan benar-benar putus silaturahmi sebenarnya. Ari memang bimbang, dengan apa yang berlaku. Setelah perpisahan itu, sesekali ponselnya berdering tersambung dengan milik Rahmadi, tetapi tidak ada basa-basi dari talian yang sudah diangkat. Ari hanya mendengar suara gesekan biola yang patah tersendat.
Beberapa hari kemudian, Rahmadi mengatakan, “Nares, itu tadi Nadi.”
Iya, hanya itu yang dikatakan pria itu seakan mewakili putrinya yang mendadak bisu. Bukan lewat telepon tetapi hanya sebuah pesan singkat.
Kejadian itu berulang. Kenyo menghubunginya lewat ponsel abahnya, tetapi enggan untuk sekadar melontarkan kata. Sasar berkecamuk dalam minda Ari, bagaimana membuka hati perawan sunti itu? Apakah perlu pisau scalpel?
Namun, untuk apa juga dia menuntut Kenyo mencairkan hatinya. Tidak ada alasan munasabah selain, perjumpaan di pengungsaian. Ari memandang ponselnya yang berangsur padam, lalu jarinya dengan sedikit pamrih menekannya kibor ponselnya pelan. Seperti memijat seorang bayi mungil.
Ari [Ada apa, Pak?]
Ari mengalah. Merespon dengan mengirimkan pesan singkat. Rasanya itu cukup sebanding dan terlihat sopan.Tak elok rasanya mengabaikan begitu saja pesan seorang yang lebih tua, 'kan?
Hampir lima menit dia menunggu. Lima menit yang terasa seperti lima tahun. Ketika akhirnya ponselnya berkedip dan berdering Ari langsung menyambarnya, tetapi tidak segera mengangkatnya. Dia takut terlihat antusias. Pada hitungan ke sepuluh Ari mengangkat ponselnya tanpa tanpa ragu.
“Ya, Pak?”
“Nares, syukurlah. Sebelumnya, aku minta maaf. Ini memang sudah tengah malam. Masalahnya, Nadi, dia mau bicara sama kamu. Hanya kamu yang dia mau!” tegas Rahmadi.
“Bicara?” Ari merasa aneh saja, biasanya Kenyo sendiri menghubunginya, meski tiada kata yang terluahkan. “Gerangan, Nadinya kenapa, Pak?”
Ari melepas mukenanya, hawa dingin pegunungan langsung menyergap, membuatnya mendesis menahan dingin, tetapi mencoba tidak dia endahkan. Untuk mengusir dingin Ari mengaduk lemari kecil dekat ranjangnya, mencari-cari kaos kaki.
“Nadi, mengurung diri di kamar mandi. Dari jam sepuluh tadi.”
Ari kembali mengerutkan dahi. Apakah mereka tidak bersama Erlita? Yah, secara tidak langsung saat Ari menjenguk Erlita, jelas sekali ada sebuah sinyal dari orang tua perempuan itu untuk mengaitkan kembali jalinan kasih antara keduanya, demi kebaikan semua. Demi putri mereka. Bagi Ari, itu bukan urusannya, tetapi yang jadi pertanyaan, Rahmadi mau poligami lagi? Lalu, istri dia?
Ari jadi membayangkan sosok perempuan lemah lembut itu. Perempuan yang menjadi istrinya benar-benar harus berhati seluas samudra. Karena menurut cerita dari mulut ke mulut, Erlita sangat dominan. Perempuan yang dominan mana bisa berbagi suami.
Apa pedulimu, Nareswari. Kepo! Sisi hatinya mengejek sifat ingin tahunya.
“Jadi, Nadi masih di kamar mandi sampai sekarang ini?” Ari menghitung mundur. Saat ini hampir pukul satu. Setengah dua bahkan. “Coba, bagi ponselnya sama Nadi.”
Terdengar langkah kaki lalu suara ketukan pintu. Suara Rahmadi yang mencoba memanggil anak gadisnya samar terdengar.
“Nad, ini Suhu Nares, nih. Buka dong, sayang!”
Terdengar suara kerenyet daun pintu yang terkuak pelan. Si Kenyo hanya menguak sedikit, mungkin hanya cukup untuk memindahkan ponsel abahnya.
“Nad? Ada apa?” pekik Ari tak sabaran.
Tiada suara yang menyahut selain gemericik air yang sepertinya dibiarkan dari kran yang terbuka. Mungkin saja si Kenyo tengah melakukan ritual berendam untuk membuang daki kulit yang setebal satu jengkal. Ari mulai mengira dengan hitung mundur dalam hati. Pada hitungan ke lima, terdengar helaan napas si Kenyo.
“Aku … aku, berdarah, Suhu.”
Berdarah?
"Berdarah kenapa? Terkena pisau dapur? Belati? Kujang? Cundrik? Katana? Kenapa?
"Suhu, kok gitu ...."
Ari meremas rambut panjangnya. Menariknya dengan satu tangannya sendiri hingga dia rebah di atas ranjang. Meskipun dia tahu di ujung sana, Kenyo tidak akan merespon keterkejutannya.
“Kenapa kamu nggak tanya sama mamamu?”
“Aku ikut, Abah. Sekarang di Abu Dhabi.”
Ari mengangguk. Di mana istri Rahmadi berada?
“Maksud Suhu, emmm … bininya Abah Rahmadi? Ibuk sambung. Nggak nolongin kamu yang sedang berdarah?”
Ibu tiri hanya suka kepada ayahku saja. Argh! Ari ingin menyanyi lagu khasidah.
Perempuan itu sambil menyisir rambutnya yang masih setengah basah dengan jari kini berguling-guling di atas ranjang. Ia mencoba mengkalkulasi jarak Abu Dhabi dengan D’jinggo.
Jauh sekaleee!
Sejauh itu, dan dia juga yang dicari. Memang Ari situs tanya jawab Halodoc? Rahmadi dan anaknya apakah mengidap sindrom tantrum? Mengesalkan!
“Like pee. Memang gitu, ya?” rintih Kenyo seakan anak kucing yang kedinginan.
Ari memegang jidatnya, menepuk beberapa kali. “Yah, memang gitu. Like pee. Seperti orang pipis, tapi merah. Terus, ‘Mama Sambung’ kamu, di mana, Nadi sayang? Hemmm, aku pingin ngamuk ini?”
“Kamu udah nggak sayang aku lagi?”
“Heh? Suka-suka bahasakan aku seenaknya. Bagi ponselnya sama abahmu!”
Dengan langkah tertatih berusaha mengapit pangkal pahanya, Kenyo menguak pintu. “Abah, Suhu wants to talk with you.”
Rahmadi yang tengah menempelkan telingannya pada daun pintu, sedikit tergagap ketika ketahuan menguping. Sejak tadi hanya suara air yang terdengar.
“Nares, ini saya ....”
“Nadi is getting her first menstruation. Nadi 15 tahun, menstruasi sedikit lambat, tetapi nggak lambat banget juga, sih. Jangan khawatir, bawa bertenan. Nadi tidak memerlukan transfusi, kok. Pak Adi cari pembalut. Jam berapa sih waktu Abu Dhabi?”
“Setengah sebelas. Jakarta is three hours ahead of Abu Dhabi.”
“Saya di Jawa, Bapak?"
"Jakarta memanglah berada di pulau Jawa. Siapa bilang Jakarta ada di Kalimantan."
Masih sempat Rahmadi mendebat dalam keadaan serba kalang kabut. Kurang rujak cingur orang tua satu itu.
"D’jinggo ini jauh dari Jakardah, Pae. Ini Kemuning, Gunung Lawu. Duh, Tukang Insinyur satu ini, nol soal geografi, ya!”
“Nares. Serius, nih, aku kudu gimana?”
Rahmadi pitam, kesal karena nada mengejek Ari disertai tawa yang seketika terdengar merdu. Ingin rasanya dia mengigit hidung perempuan itu seadanya mereka tidak terpisah jarak ribuan kilometer.
Ya Tuhan, kenapa otaknya konslet seketika mendengar suara perempuan itu?
Ari antara ingin marah, sekaligus meneruskan tawa secara bersamaan. Apakah kurang pengalaman pria yang sudah faham hal ikhwal perempuan itu. Bahkan pernah berpoligami juga. Kenapa untuk menangani remaja puber yang tengah menstruasi saja kelimpungan.
“Beli pembalut dulu, sana!” sergah Ari tanpa basa-basi. “Terserah Pak Adi mau cari yang tipe gimana. Reguler, Super MAXI, Safe Night, Relex Night with Wings. Soalnya, Nadi kalau tidur lasak. Pak ....”
“Hmmm. Ini aku lagi jalan mau beli, ini.”
Rahmadi hanya garuk-garuk kepala ketika mengetuk toilet untuk sekedar berpamitan dengan putrinya untuk mencari pembalut yang direkomendasikan Ari.
“Mamanya Nadi ke mana, sih, Pak? Maksud Ari, ‘Mama sambung’?” tanya Ari sedikit mendesak. “Emmm … maksud saya, madunya Bu Erlita, mana? Jangan bilang, yang Bapak bilang waktu itu. Ini mobil patner saya. Remember? Itu, artinya Pak Adi ini buka cabang Abu Dhabi dan Jakarta. Atau ….”
“Nggak usahlah kepo, Nares.”
“Bukan kepo. Ngapain saya kepo. Kek saya kurang kerjaan aja. Terus yang mobil patner itu, pacar? Kalau teman pasti beda, dong, ngomongnya. Udah tua, mbok ya sadar diri, Pak e,” imbuh Ari.
“Emang boleh gitu pacaran? Bukankah pacaran itu mendekati zina.
Wa la taqrabuz-zina. Atau kamu sudah berubah haluan? Kalau iya, mau kamu jadi pacarku? Hmmm ....”
“Bapak lagi sesat pikir, ya? Ari sekadar ngingetin, Bapak!”
“Iya, lagi sesat pikir, kenapa? Takut? Kamu takut naksir aku yang duda ini?”
Ari terbatuk di ujung taliannya. “Duda? Eh?"
"Kenapa? Terkejut?"
"Berarti kita saman nih, Pak. Google.”
Ari yang sejak tadi gegoleran di atas ranjang empuknya sampai terduduk saking terkejutnya. Rahmadi duda. Weh-weh, patutlah nadanya terkadang sumbang, sering terdengar ganjen mendekati sifat sahabat karibnya si Pak Imam Junaidi.
“Google itu apa? Googel mesin pencarian?”
“Golongan orang single, Pak?”
“Ais, kamu itu ….”
Ari menepuk mulutnya yang lancang. Kenapa hatinya tergerak menggoda Rahmadi. Entahlah. Bukan saja nyengir, kini Ari mulai tertawa.
"Doa Nadi diijabah Allah, itu. Doa Bapak dan Ibu Asmadi juga. Saya juga turut gembira jika Pak Adi rujuk dengan Ibu Erlita."
"Hah, apa kamu bilang?"
"Rujuk. Mbangun nikah kalau orang Jawa bilang."
Rahmadi meraup wajahnya. Dia kebingungan. Maksudnya apa dengan dia rujuk dengan Erlita? Tidak ada satu patah kata pun dari mertuanya soal itu. Lalu, Nadi, adakah putrinya itu yang dalam diam mengharapkan dirinya kembali pada mamanya.
"Nares aku tutup, ya. Terima kasih banyak," bisik Rahmadi lirih. Terdengar helaan napas yang begitu menyesakkan.
"Iya, Pak. Eh, jangan lupa pembalut sama obat nyeri. Sesetengah perempuan nyeri jika datang bulan. Oh, oke. Selamat pagi."
"Yah, selamat pagi waktu Indonesia, Nares."